
π»Diam adalah cara terbaik untuk hidup dalam keteganganπ»
.
.
.
.
Yorla berlari ke arah ketiganya dengan antusias sudah tak sabar ingin memeluk Mikhail. Sedangkan Valeria dan Mikhail menatap Yorla dengan wajah datar dan dingin.
"Stop disitu banci sialan" hardik Thomas dengan wajah kesal melihat tingkah Yorla yang seperti cacing kepanasan.
"Isshhhhh.........kamu menyebalkan brother in law" dengus Yorla sambil mencebik bibirnya dengan kesal.
"Daddy" panggil Mikhail.
"Kenapa son?" tanya Thomas dengan suara lembut menatap putranya.
Mikhail tersenyum menyeringai sambil menatap Yorla dan kembali menatap daddynya. Melihat senyuman sang anak Thomas ikut tersenyum menyeringai mengetahui maksud putranya itu.
"Kamu boleh mendekat banci jadi-jadian" ucap Thomas sambil tersenyum menyeringai.
"Yang benar? Kamu tidak merencanakan sesuatu kan brother in law?" tanya Yorla dengan mata memicing.
"Ckk!! Kamu terlalu banyak berpikir sialan" ketus Thomas dengan kesal.
Meski merasa ragu tapi tetap saja Yorla berjalan mendekati ke arah mereka sambil berpikir apa yang sebenarnya direncanakan oleh Thomas.
Dilihat dari senyum sialan itu sepertinya ada yang ngak beres, batin Yorla dengan curiga.
Mikhail mengerutkan keningnya membaca pikiran aunty Yorla karena tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan olehnya.
"Jangan terlalu dipikirkan son" bisik Valeria yang tahu arti tatapan sang anak.
"Oke mom"
"Pangeran tampan aunty! Aunty kangen" pekik Yorla dengan wajah berbinar.
"Where is my present aunty?" (mana hadiahku tante) tanya Mikhail dengan suara dingin.
"Kamu mau hadiah apa pangeran aunty?" tanya Yorla dengan cepat.
"Aku mau vila seperti punya daddy tapi harus di Hawai aunty" ucap Mikhail dengan santai.
"Apa" teriak Yorla dengan kaget.
Thomas mengulum senyum geli melihat wajah terkejut Yorla. Ia sudah tahu permintaan anaknya itu tidak akan jauh dari hal-hal yang berbau kemewahan.
"Bilang harus ada dalam 3 hari boy" bisik Thomas.
"Aku mau dalam 3 hari hadiahku harus sudah ada aunty" ucap Mikhail.
"Bagaimana bisa kamu menentukannya pangeran? Aunty mana punya uang segitu banyak" ucap Yorla dengan wajah memelas.
"Tidak punya uang ya! Apa gue musti tunjukkan saldo loe di bank Swiss dan aset-aset loe di Paris?" tanya Valeria sambil tersenyum smirk.
"Sister" ucap Yorla dengan mata melotot.
"Aku tidak mau tahu aunty pokoknya aku mau hadiahku dalam 3 hari. Kalau tidak aku tidak mau kenal aunty lagi" ketus Mikhail.
"Bagus son" Thomas terkekeh melihat wajah Yorla yang menatapnya dengan kesal.
Yorla mengerucut bibirnya mencebik karena lagi-lagi ia tidak bisa menolak permintaan Mikhail. Saat ia menatap ke arah panggung ia langsung mendapat polotan tajam dari Bryan yang menyuruhnya untuk tak membuat kacau acara pertunangannya.
Tak berselang lama Xavier datang di temani oleh Albert yang juga di undang oleh Bryan.
Ketiganya mengobrol membahas perihal penyerangan yang dialami Thomas kemarin. Valeria yang merasa capek memilih duduk di meja yang sudah disiapkan bersama Yorla, Mikhail, dan Ares.
"Mommy" panggil Mikhail.
"Kenapa son?" tanya Valeria dengan suara lembut.
"Aku merasa ada yang mengawasi kita sedari tadi mom"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Sejak kapan son?"tanya Valeria dengan tatapan tajam.
"Setelah turun dari panggung mommy"
Valeria menatap Ares dengan tatapan dingin sambil memberi isyarat lewat kepalanya untuk mencari tahu siapa yang berani mengawasi mereka dari tadi.
"Kenapa sister?" tanya Yorla dengan suara gemulai.
^^^"Awasi semua tamu. Jika ada yang mencurigakan langsung bereskan" ucap Valeria lewat earpiece yang ia pakai di telinganya.^^^
"Baik master" ucap semua anggota Black Shadow yang bertugas malam ini di hotel XCX.
"Siapa sister?" tanya Yorla dengan wajah panik.
"Gue ngak tahu. Tenangkan diri loe jangan sampai loe panik dan buat orang itu menyadari kalau kita tahu dia sedang mengawasi kita!" bentak Valeria dengan tatapan dingin.
"Oke sister"
Valeria mendudukkan putranya di pangkuannya karena dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada putranya.
Apa lagi mereka belum tahu siapa yang menjadi sasaran musuh mereka kali ini dan juga identitas mereka belum di ketahui.
"Mommy tunduk" pinta Mikhail menatap sang mommy ingin memberitahu sesuatu.
Valeria menunduk membuat Mikhail dengan mudah berbisik kepadanya. Matanya seketika berkilat tajam mendengar bisikan putranya.
Glek..............
Yorla menelan salivanya dengan susah melihat tatapan mata Valeria yang seperti ingin membunuh seseorang saat ini. Aura di sekitar mereka seketika berubah menjadi mencekam membuat bulu kuduknya berdiri.
"Tangkap wanita tua di arah jam 1 Ares. Dia pakai baju merah maroon ala bangsawan Inggris" ucap Valeria dengan rahang mengeras.
"Baik nyonya" ucap Ares lewat earpiece.
Thomas yang merasakan aura di sekitarnya berubah segera menoleh ke belakang. Ia dengan jelas melihat wajah istrinya yang menghitam tanda ia sangat emosi saat ini.
"Bos sepertinya ada yang tidak beres sama istriku" ucap Thomas segera berlalu tak menunggu balasan Xavier dan Albert.
Aura apa ini kenapa terasa sangat mencekam, batin Xavier dengan penasaran.
Tidak mungkin aura ini dari Valeria, batin Albert bergidik ngeri.
Tubuh keduanya seketika tidak bisa digerakkan seakan ada yang mengikat kaki mereka di bawah. Xavier menangkap lirikan Valeria barusan yang menatapnya langsung ke mata seolah sedang memberi peringatan untuk tak ikut campur.
"Honey apa yang terjadi?" tanya Thomas duduk di samping istrinya.
"Bawa anak kita kembali ke penthouse dan tunggu aku disana" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Kenapa? Memangnya kamu mau kemana honey? Apa ada sesuatu yang terjadi honey?" tanya Thomas beruntun.
"Nyawa kamu dan anak kita dalam bahaya saat ini honey dan jangan membantah ucapanku" hardik Valeria dengan mata berkilat tajam.
"Remember i'm your husband honey" (ingat aku suamimu sayang) tegas Thomas tak ingin dibantah.
"Jangan memancing emosiku sekarang honey. Kita tidak ada waktu untuk berdebat sekarang" lirih Valeria dengan tatapan membunuh.
"Apa yang kamu rencanakan honey?" tanya Thomas seakan tahu ada yang direncanakan istrinya.
"Nyonya wanita tua itu sudah diamankan Rehan" lapor Ares yang baru saja datang.
Thomas mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ares barusan. Dan siapa perempuan tua yang mereka maksud itu.
"Honey" ucap Thomas dengan tatapan tajam.
"Kita ke rooftop nanti aku jelaskan honey" ucap Valeria sambil mengecup pipi suaminya untuk tidak marah.
Sebelum pergi Valeria menatap Bryan memberi isyarat jika mereka akan pergi mengurus beberapa penyusup barusan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bryan mengangguk kepala tanda mengerti dan mengatakan untuk berhati-hati tanpa mengeluarkan suara hanya gerakan bibirnya saja.
"Loe ikut gue" tunjuk Valeria ke Yorla.
"Oke sister" ucap Yorla dengan patuh.
Mereka segera beranjak pergi ke rooftop hotel di ikuti oleh Xavier dan Albert juga yang akan pulang kembali ke mansion mereka menggunakan helikopter Xavier.
"Katakan honey" pinta Thomas dengan cepat saat mereka sudah berada dalam helikopter.
"Ada yang ingin bunuh kamu dan anak kita di pesta tadi. Beruntung Mikhail peka dan beritahu aku jika ada yang mengawasi kita saat turun dari panggung" papar Valeria menjelaskan.
"Apa" ucap Thomas dengan kaget.
"Wanita tua yang dibilang Ares tadi ingin membunuhmu beberapa menit yang lalu. Beruntung Mikhail cepat mengetahuinya sebelum dia memberi perintah ke sniper yang ia sewa" tambah Valeria lagi.
"Jadi tadi itu ada yang ingin bunuh brother in law dan Mikhail ya sister?" tanya Yorla.
"Heemmm" deham Valeria.
"Siapa mereka honey?" tanya Thomas.
"Orang yang sama dengan yang menyerang kita kemarin" jawab Valeria.
"Fu*k! Beraninya mereka ingin bunuh anakku" maki Thomas dengan emosi.
"Malam ini jaga anak kita honey karena ada beberapa orang yang akan menyerang ke penthouse. Aku akan membereskan yang lainnya yang ingin menyerang perusahaan bersamaan" ucap Valeria menjelaskan.
"Aku ikut denganmu honey"
"Apa kamu gila honey! Lalu bagaimana anak kita!" bentak Valeria dengan suara tinggi.
"Mommy" lirih Mikhail yang terbangun dari tidurnya mendengar bentakan Valeria.
"Ayok tidur lagi son" bujuk Thomas sambil mengelus punggung sang anak.
~ Kingdom Apartment ~
Sampainya di penthouse Valeria masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai dan nyaman.
"Aku tidak setuju kamu ke sana sendiri honey" bantah Thomas tak setuju setelah menidurkan anaknya di kamar.
"Kita tidak punya pilihan honey. Banyak yang akan terluka jika kita harus berada di satu tempat diwaktu yang bersamaan honey" ucap Valeria sambil mengelus rahang suaminya dengan lembut.
"Tapi aku takut kamu kenapa-napa dengan calon anak kedua kita honey" Thomas menatap istrinya dengan khawatir dan cemas.
"Aku akan baik-baik saja honey. Percayalah!"
"Honey" lirih Thomas dengan mata sendu.
"Jaga anak kita disini dan jangan keluar sampai aku pulang honey. Apa pun yang terjadi jangan sampai kamu pergi keluar dari apartemen ini honey karena penjagaan di sekitar sini sudah aku perketat dan tidak bisa sembarang orang masuk" tegas Valeria dengan tatapan tajam.
"Tapi aku khawatir sama kamu honey"
"Jangan khawatir aku akan baik-baik saja honey" ucap Valeria menenangkan suaminya.
"Kamu harus berjanji tidak boleh ada satu luka di tubuhmu honey dan kamu harus kembali dengan selamat apapun yang terjadi" pinta Thomas.
"Aku berjanji honey"
Cup...............
Thomas mencium bibir istrinya dengan rakus menyalurkan semua perasaan di dalam hatinya. Meski ia sangat takut sesuatu yang buruk terjadi kepada istrinya tapi ia akan coba percaya kepada Valeria.
"Jaga dirimu honey. Ingat aku dan putra kita menunggumu disini" tegas Thomas sambil mencium keningnya dengan lembut.
"Pasti honey. Kamu juga ingat jangan berani keluar dari apartemen ini apapun yang terjadi honey"
"Heeemmm"
Valeria segera pergi dari sana bersama Rehan dan lainnya sedangkan Ares ia menyuruhnya untuk menjaga kedua orang yang ia cintai di penthouse.
Entah kenapa saat sampai di depan pintu penthouse perasaannya tak tenang seperti ada sesuatu yang akan terjadi tapi dengan cepat ia tepis.
Ingat semua larangan gue tadi honey jangan sampai loe langgar, batin Valeria.
βββββ
To be continue................