
π»Pendidikan memang tidak menjadikan sukses tapi tanpa pendidikan kehidupan ini akan menjadi lebih sulitπ»
.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Valeria bersama dengan Ares sudah menuju ke bandar udara Soekarna Hatta. Sebelum pergi Valeria sudah memberitahu pak Dev tentang kepergiannya untuk di sampaikan ke Bryan dan menunda pembicaraannya dengan Riki.
Tepat pukul 05:00 pagi Valeria dan Ares sudah tiba di landasan pribadi milik Valeria. Hanya keduanya saja yang pergi ke Kamboja tanpa di dampingi pengawal Valeria seperti biasanya.
"Ares 10 menit lagi kita berangkat" ucap Valeria setelah sudah berada di dalam jet.
"Baik nyonya"
Valeria lalu masuk ke kamarnya meninggalkan Ares di luar. Pramugari yang bertugas di dalam jet Valeria segera menyiapkan makanan untuk keduanya.
Sedari tadi kedua pramugari terus mencuri pandang kepada Ares karena perawakannya yang gagah dan mata merahnya yang menarik perhatian.
Tanpa mereka sadari Ares melirik keduanya dan mencari informasi pribadi mereka lewat sensor internet di matanya.
Ares adalah robot yang di ciptakan Valeria untuk melindunginya dari musuh di mana pun berada. Meski penampilan luarnya seperti manusia pada umumnya tapi siapa sangka dia adalah robot pintar dengan kemiripan seperti manusia.
Tak lama pilot segera meminta ijin ke menara kontrol untuk lepas landas. Di dalam kamar Valeria duduk sambil melihat pemandangan awan di luar dengan pikiran berkecamuk tentang masalah pribadinya.
"Hidup gue sekarang sebatang kara saja" gumam Valeria dengan perasaan hancur.
~ Mansion Valeria ~
Bryan kaget bukan main mendengar ucapan pak Dev tentang kepergian Valeria pagi-pagi tadi. Saat bangun ia pikir Valeria masih berada di apartemen tapi ternyata tidak.
"Valeria pergi kemana pak Dev?" tanya Bryan dengan penasaran.
"Saya tidak tahu tuan. Tadi pagi nyonya hanya mengirim pesan jika selama beberapa hari nyonya akan pergi ke luar negeri tuan" ucap pak Dev sambil mengingat pesan Valeria.
"Heemmm! Baiklah pak Dev terima kasih atas informasinya"
"Sama-sama tuan. Apa tuan mau sarapan sekarang?" tanya pak Dev dengan sopan.
"Iya tolong di siapkan pak Dev dan bawa ke balkon lantai dua"
"Baik tuan"
Pak Dev segera menyuruh pelayan untuk menyiapkan sarapan buat Bryan di balkon lantai dua. Bryan lalu mengambil hpnya dan menghubungi Valeria tapi nomornya tidak aktif.
"Apa Valeria pergi sama Raksa ya" gumam Bryan dengan penasaran.
Bryan segera menelpon Raksa untuk menanyakan hal tersebut. Pada dering ke lima barulah panggilannya di jawab oleh Raksa dari markas.
"Halo" ucap Raksa dengan napas ngos-ngosan.
^^^"Loe kenapa?" tanya Bryan to the point^^^
"Salam dulu ke apa bocah. Bukan asal nanya aja loe" ucap Raksa dengan ketus dari seberang.
^^^"Terserah"^^^
"Ya elah nih bocah minta di tabok ya"
^^^"Apa lu pergi sama Valeria?" tanya Bryan tak menggubris ucapan Raksa barusan.^^^
"Emang master kemana?" tanya Raksa balik.
^^^"Loe lagi dimana?" tanya Bryan tak menggubris pertanyaan Raksa lagi.^^^
"Di markas sama anak buah yang lain"
^^^"Pengawal yang biasa mengawal Valeria di sana juga"^^^
"Iya semuanya lagi berlatih bareng gue di markas"
^^^"Heemmmm"^^^
Bryan langsung mematikan panggilannya sepihak karena tahu Valeria pergi tak di kawal. Ia sangat penasaran kemana Valeria pergi dan dengan siapa tapi tak ada yang bisa menjawab pertanyaannya saat ini.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bryan segera sarapan dan akan pergi ke markas untuk berlatih menembak.
Sedangkan di paviliun belakang dari semalam Riki bingung harus bagaimana mengatakan tentang dia yang akan kuliah di London.
"Kakak ngapain?" tanya Rani dengan wajah bingung melihat Riki yang berdiri bengong di depan kulkas.
Hah.........
Riki seketika tersadar dari lamunannya saat Rani bertanya. Karena terus berpikir ia tak konsen sehingga berdiri di depan kulkas tak tahu harus berbuat apa.
"Kakak ngapain bengong pagi-pagi sih"
"Ngak kenapa-napa"
"Kalian berdua sudah sarapan?" tanya ibu Salma yang baru saja masuk.
"Belum bu" ucap keduanya serentak.
"Ya sudah ayok kita sarapan ini tadi koki di mansion ngasih makanan buat kita karena ngak ada yang makan" ucap bu Salma.
"Emang Bryan sama master ngak ada di mansion bu?" tanya Riki.
"Nyonya lagi keluar negeri kalau tuan Bryan lagi sarapan di balkon lantai dua"
"Kapan perginya bu"
"Subuh tadi kata pak Dev"
"Nyonya kaya banget ya bu. Bisa jalan-jalan ke luar negeri terus" ucap Rani dengan decak kagum.
"Kan namanya pengusaha sukses nak jadi pasti itu udah biasa buat nyonya" ucap ibu Salma sambil mengambil makanan buat kedua anaknya.
"Rani jadi pengen ke luar negeri bu"
"Suatu saat pasti kamu bakal ke sana nak"
"Iya bu"
"Riki kamu mau lauk apa nak?" tanya bu Salma.
"Aku ayam goreng sama sayur aja bu"
Ketiganya lalu sarapan di selingi canda tawa di meja makan selesai sarapan Rani segera pamit ke sekolah. Tinggallah Riki dan bu Salma yang masih di meja makan.
"Bu ada yang mau aku omongin" ucap Riki.
"Mau ngomong apa nak?" tanya bu Salma penasaran karena melihat wajah Riki yang sangat serius.
"Aku akan kuliah bareng master dan Bryan bu"
"Yang benar kamu Riki?" tanya bu Salma dengan senang.
"Iya bu. Tapi" ucap Riki dengan gugup.
"Tapi kenapa nak? apa ada masalah?" tanya bu Salma dengan cemas.
"Ngak ada masalah bu. Hanya kuliahnya itu di London bu"
"London" ucap bu Salma dengan kaget.
Ia bingung harus menjawab apa pasalnya ia sangat bahagia karena anaknya bisa kuliah tapi ia tak menyangka akan berpisah dengan anaknya.
Riki yang melihat wajah murung sang ibu sudah bisa menebaknya kalau ibunya tak mengijinkan ia kuliah di luar negeri.
"Riki bakal beritahu master kalau aku nolak buat kuliah di sana bu" ucap Riki sambil menggenggam kedua tangan ibunya.
"Riki ngak tahu bu"
"Apa karena ibu dan adikmu?" tanya bu Salma to the point.
Riki diam tak berkata apa-apa karena memang jawabannya iya. Ia tak bisa meninggalkan kedua orang yang paling dicintainya.
Melihat sang anak yang diam bu Salma sudah bisa menebak kalau anaknya tak akan kuliah di luar negeri karena mereka.
"Pergilah nak" ucap bu Salma dengan tatapan lembut.
"Bu" ucap Riki dengan mata berkaca-kaca.
"Raihlah masa depanmu selagi ada kesempatan nak. Ibu sama adik kamu akan selalu dukung kamu di sini.............hiks hiks hiks" ucap bu Salma tak kuasa menahan tangisnya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Riki segera memeluk sang ibu dan ikut menangis bersama. Bu Salma memang tak ingin berpisah dengan anaknya tapi ia tak boleh egois demi masa depan sang anak agar lebih baik dari kehidupan mereka saat ini.
"Ibu mau kamu pergi kuliah di London nak tapi ingat semua ajaran ibu dan jangan lupa dekatkan dirimu dengan sang pencipta ya nak" nasehat bu Salma dengan bijak.
"Riki bakal ingat semua nasihat ibu dan almarhum ayah bu"
"Iya nak"
Riki akhirnya lega karena sudah memberitahu keinginannya tentang kuliah. Ia bertekad akan mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik dari sekarang.
~ Bandar Udara Internasional Phnom Penh~
Setelah 3 jam 30 menit akhirnya jet pribadi Valeria tiba di bandar udara internasional Phnom Penh di Kamboja. Kedatangan Valeria kali ini tidak ada pengawalan seperti biasanya ia hanya di temani oleh Ares orang kepercayaannya.
"Dimana dia?" tanya Valeria saat masuk ke dalam mobil bersama Ares.
"Dia berada di rumah sewaannya di Poipet nyonya" ucap Ares.
"Siapkan semuanya. Sore nanti kita berburu" ucap Valeria sambil tersenyum smirk.
"Baik nyonya"
Keduanya lalu pergi ke hotel terdekat sebelum berangkat ke kota Poipet. Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat Valeria dan Ares saat ini sudah berada di Poipet.
Poipet adalah perkampungan diantara perbatasan Kamboja dan Thailand dan tak ada pemandangan atau bangunan yang bisa di jadikan objek wisata. Hanya ada bangunan kasino untuk tempat perjudian terbesar.
"Are you ready Ares" (apa kamu siapa Ares) ucap Valeria sambil tersenyum menyeringai.
"I'm ready" (aku siap)
~ Deluxe Casino ~
Saat ini Valeria dan Ares sudah berada di dalam kasino terbesar di kota Poipet yaitu Deluxe kasino. Keduanya saat ini tengah berbaur dengan para penjudi kelas kakap di lantai VIP khusus orang yang berkantong tebal dan memiliki kartu VIP.
Sebelum kesini Valeria sudah meretas sistem keamanan kasino dan tak lupa membuat kartu keanggotaan VIP. Keduanya dengan gampang masuk ke dalam kasino berkat kartu VIP yang dibuat oleh Valeria.
"Berikan data pribadi bajingan itu" ucap Valeria dengan sinis.
Ares lalu memberikan iPad berisi data tentang orang yang di cari Valeria. Tak lama senyum menyeringai muncul di bibirnya melihat mangsanya tepat berada di depannya sedang ikut bermain taruhan.
"Welcome to the hell Ringo Putra" gumam Valeria dengan senyum sinis melihat Ringo orang di balik kehancurannya waktu di hotel 2 tahun lalu.
"Bunuh dia nyonya"
"Belum waktunya Ares. Kita harus bermain dulu dengan buruan kita"
"Baik nyonya"
"Bawa dia ke lorong samping dalam 10 menit lagi Ares" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.
"Baik nyonya"
Valeria diam melihat apa yang akan di lakukan oleh Ares kepada Ringo. Ia sangat penasaran dengan latihan yang ia berikan dalam chip milik Ares untuk otaknya.
Sesuai ucapannya 10 menit kemudian Ares berhasil membawa Ringo ke lorong samping. Ternyata Ares memakai akal licik mengatakan kepada Ringo tentang kelemahannya yaitu anak yang ia sembunyikan dari mantan istrinya.
Ringo kaget bukan main saat Ares mengatakan tentang anaknya yang ia sembunyikan di dalam rumah bawah tanah miliknya. Hanya ia dan ibu kandungnya yang tahu dimana keberadaan anaknya tak ada seorang pun yang tahu akan hal ini.
Valeria segera beranjak ke lorong samping mengikuti Ares dan Ringo yang sudah lebih dulu tiba disana. Sampai disana ia melihat Ares yang sedang memukul Ringo karena tadi Ringo ingin berontak.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Well well well lihat siapa ini?" ucap Valeria dengan sinis.
"Loe" ucap Ringo dengan kaget melihat Valeria.
"Gue berasa kayak hantu aja bisa bikin loe ampe kaget" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Kenapa loe bisa ada di sini?" tanya Ringo dengan wajah memucat.
"Menurut loe kenapa gue bisa ada di sini" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.
Glek.........
Ringo menelan salivanya dengan susah melihat tatapan Valeria yang seperti siap menghunus pedang. Tubuhnya memucat dan gemetaran melihat Valeria yang sudah berhasil menemukannya.
"Gue pengen habisi nyawa orang yang udah jebak gue di hotel Rain" ucap Valeria dengan emosi.
"Itu bukan salah gue. Gue cuman di bayar sama mereka"
"Karena loe udah berani bermain-main dengan hidup gue jadi gue bakal bermain juga dengan hidup anak loe" bentak Valeria.
"Berengsek loe! Jangan pernah loe sentuh anak gue!" teriak Ringo dengan emosi.
"Ares bawa dia ke markas dan masukan dia ke kandang bayi-bayi gue"
"Baik nyonya" ucap Ares.
Valeria segera berlalu karena ia sudah berhasil menangkap Ringo selanjutnya ia akan bermain-main sedikit dengan Ringo sebelum mengungkapkan semua kebenaran selama ini.
~ Butik Arinta ~
Saat ini Arinta sedang memarahi karyawan-karyawannya di ruang meeting karena lagi-lagi mereka gagal menaikan omset produk terbaru Arinta. Entah kenapa selama 2 tahun terakhir semua desain yang di keluarkan oleh Arinta tak menarik di pasaran.
"Kenapa kerja kalian seperti ini hah!! Apa kalian sudah bosan bekerja di sini!" bentak Arinta dengan suara tinggi.
"Maaf nyonya tapi desain yang nyonya keluarkan kali ini tak sesuai dengan trend sekarang nyonya" ucap Suci kepala tim pemasaran.
"Kalau begitu cari cara dong biar semua produk kita laku di luar" ucap Arinta dengan suara tinggi.
"Tapi nyonya" ucap Suci yang langsung di potong Arinta.
"Saya ngak mau tahu pokoknya produk terbaru kita harus habis terjual di pasaran" bentak Arinta dengan suara tinggi.
"Baik nyonya" ucap semuanya dengan serentak.
"Satu hal lagi saya tidak menerima kegagalan di sini" ucap Arinta dengan emosi.
"Kami akan berusaha semaksimal nyonya" ucap Suci mewakili semuanya.
"Meeting selesai kalian semua bisa bubar"
"Baik nyonya"
Semuanya segera keluar dari ruang meeting meninggalkan Arinta dan Hani. Arinta lalu menyuruh Hani untuk meninggalkannya sendiri karena ia sangat pusing saat ini.
"Kenapa semuanya bisa kacau seperti ini sih? Apa desain aku tidak menarik lagi seperti dulu?" gumam Arinta sambil memijit keningnya yang sakit.
Arinta ingat jika semua desainnya selama ini selalu di koreksi oleh Valeria jika ada kekurangan atau desainnya kurang menarik. Tapi selama 2 tahun terakhir Arinta sangat kepikiran karena desain-desainnya selalu tak laku di pasaran.
"Kamu di mana nak? Ibu menyesal sudah ngusir kamu waktu itu" ucap Arinta dengan sedih.
βββββ
To be continue............
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat like, vote, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€