Love Struggle

Love Struggle
Chapter 43



🌻Tersenyumlah dalam segala hal meski hatimu saat ini sedang hancur, karena kamu itu kuat jangan biarkan orang lain menindasmu saat kamu sedang hancur🌻


.


.


.


.


Setelah berbincang agak lama Bianca segera pamit pulang ke mansion. Ia di antar oleh supir om Arya karena tante Sisil tidak mau Bianca pulang dengan taksi.


Sampainya di mansion Bianca segera masuk ke dalam dan melihat Valeria yang sedang bersantai di ruang keluarga.


Bianca melihat Valeria dengan pandangan sinis tapi tidak di pedulikan oleh Valeria.


Bi Susi dan para pelayan yang baru pertama kali melihat wajah asli Bianca kaget bukan main. Mereka tak menyangka jika di balik wajah polos Bianca selama ini ternyata ada wajah rubah bermuka dua.


"Pantes aja nona muda ngak mau nerima nona Bianca jadi putri kedua keluarga kusumo. Wong orangnya sombong kayak gitu" ucap pelayan A.


"Selama ini kita udah di tipu dengan wajah sok polos nona Bianca ternyata aslinya siluman rubah" ucap pelayan B.


"Huus! Jangan pada ngegosip entar di dengar sama nyonya bisa berabe kita" tegur pelayan C.


Ketiganya segera beranjak pergi dari sana dan melanjutkan pekerjaan mereka. Tanpa mereka sadari ternyata Bianca dan Valeria mendengar ucapan ketiganya.


"Loe dengar sendiri kan yang mereka bilang? Kalau loe itu cewek siluman rubah" bisik Valeria di telinga Bianca.


Bianca menatap Valeria dengan tatapan kesal dan benci, melihat hal itu Valeria malah menatapnya dengan senyum sinis lalu beranjak pergi.


"Oh ya kapan loe mau ngaku ke ibu" ucap Valeria berbalik kembali menghadap Bianca.


"Secepatnya gue bakal beritahu ibu"


"Oke gue tunggu"


"Heemmm"


Bianca melihat kepergian Valeria dengan senyuman sinis.


Tunggu aja ampe kucing punya tanduk karena gue ampe kapanpun ngak akan pernah ngaku ke ibu loe itu, batin Bianca tersenyum licik.


Di dalam kamar Valeria membuang napasnya dengan kasar. Pasalnya ia sangat tidak menyukai situasi saat ini di dalam mansion.


"Kapan semuanya berakhir? Gue ngak mau keluarga gue kayak gini" gumam Valeria dengan sedih.


Tak lama hpnya berbunyi ada panggilan video dari Bagas. Dengan cepat Valeria segera menjawab panggilan kangmasnya itu.


^^^"Kangmas" ucap Valeria dengan senang.^^^


"Kamu apa kabar dek?" tanya Bagas sambil tersenyum manis dari seberang.


^^^"Baik kangmas. Kangmas apa kabar disana? Udah punya pacar belum?" tanya Valeria sambil terkekeh.^^^


"Punya dong nih lagi telfonan sama pacar gue"


^^^"Isshh.....kangmas tuh bercanda mulu" ucap Valeria dengan kesal.^^^


"Hehehehe! Adek kan tau kangmas disini itu buat kuliah bukan pacaran. Lagian ngak ada yang kangmas suka disini"


^^^"Oh gitu ya kangmas"^^^


"Kamu lagi sedih ya dek?" tanya Bagas saat melihat tatapan mata sang adik yang ada kesedihan.


^^^"Ngak kok kangmas Valeria ngak lagi sedih"^^^


"Beneran! Kamu ngak lagi bohongkan sama kangmas"


^^^"Benar kangmas"^^^


"Hemmm! Jika ada sesuatu segera beritahu kangmas" ucap Bagas dengan tegas.


^^^"Siap kangmas" ucap Valeria sambil terkekeh.^^^


"Bentar lagi kangmas akan pulang kamu jaga diri ya selama kangmas ngak ada"


^^^"Jadi kangmas udah mau selesai kuliahnya"^^^


"Iya dek kangmas udah kangen ngumpul bareng sama keluarga kita lagi" ucap Bagas sambil tersenyum manis.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Deg.........


Jantung Valeria berdetak dengan kencang saat mendengar kata keluarga. Ia melihat Bagas dengan tatapan sedih karena harus mengingat keadaan keluarganya sekarang.


Apa yang akan kangmas lakuin jika tahu saat ini keluarga kita ngak seperti dulu lagi, batin Valeria.


Bagas melihat Valeria dengan saksama dan ia bisa menebak jika ada sesuatu yang sedang terjadi.


Apa yang loe sembunyikan dari kangmas dek, batin Bagas penuh tanda tanya.


"Valeria"


^^^"Eehhh! Iya kangmas" ucap Valeria yang kaget dari lamunannya.^^^


"Jujur sama kangmas! Apa yang adek sembunyikan dari kangmas?" tanya Bagas sambil menatap tajam Valeria.


^^^"Ngak ada kok mas"^^^


"Valeria Anastasia Kusumo" ucap Bagas penuh penekanan.


^^^"Akhir-akhir ini Valeria sering mimpi hal yang sama terus kangmas" ucap Valeria memilih bercerita tentang mimpinya.^^^


"Mimpi apa dek?" tanya Bagas.


^^^"Valeria mimpi kalau tubuh Valeria penuh luka dan darah kangmas. Lalu ada 3 orang berdiri di sana tapi wajah mereka itu di tutup dengan kain gitu kangmas. Ketiganya berdiri mengelilingi Valeria sambil memukul Valeria dengan tongkat bisbol"^^^


Bagas bingung mendengar cerita Valeria pasalnya ia seperti mendengar cerita yang benar-benar terjadi. Ia diam tidak menggubris ucapan Valeria yang sedang bertanya dari tadi.


^^^"Kangmas" teriak Valeria dengan kencang.^^^


"Aduh dek kuping kangmas bisa budek nih" ucap Bagas yang kaget mendengar teriakan Valeria dari seberang.


^^^"Yah lagian kangmas orang manggil dari tadi diam aja"^^^


"Maaf adekku yang paling cantik tadi itu kangmas lagi mikir cerita mimpi adek"


^^^"Hemmm! Menurut kangmas apa artinya"^^^


"Kangmas ngak tahu dek. Coba kamu tanya sama eyang putri atau ibu mungkin mereka tahu"


^^^"Iya kangmas"^^^


"Ya sudah kamu ingat jaga diri disana ya dek"


^^^"Kangmas juga ya jaga diri di sana dan jangan lupa makan"^^^


"Siap adek ku sayang"


^^^"Bye kangmas"^^^


"Bye dek"


Valeria lalu mematikan panggilannya lebih dulu. Valeria beranjak ke balkon dan duduk di kursi balkon sambil melihat langit yang berwarna jingga keemasan.


"Semoga mimpi gue ngak jadi kenyataan" ucap Valeria dengan perasaan khawatir.


3 Bulan kemudian


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa sudah 3 bulan berlalu. Selama itu juga Valeria terus saja bertanya kepada Bianca kapan ia akan jujur kepada Arinta.


Bianca sering kali beralasan tiap kali Valeria bertanya. Karena tak tahan dengan janji Bianca ia berencana akan mengungkapkan semuanya setelah ujian nasional.


~ Taman Kota ~


"Gue ngajak loe ke sini karena gue ngak mau ada satu orang pun yang dengar pembicaraan kita" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Loe mau nanya kapan gue bakal jujur ke ibukan" ucap Bianca dengan ketus.


"Tebakan yang benar"


"Setelah ujian akhir nasional gue bakal ungkapin semuanya"


"Gue ngak yakin sama ucapan loe"


"Kali ini gue ngak bakal ingkar janji gue lagi"


"Hemmm! Kenapa ngak sekarang aja"


"Gue tahu saat gue ngaku otomatis gue bakal di usir dari mansion. Gue hanya minta setelah habis ujian biar saat gue diusir gue udah menyelesaikan ujian gue yang terakhir"


Valeria diam mendengar ucapan Bianca yang ada benarnya juga. Ia tidak memikirkan konsekuensi yang akan di dapat oleh Bianca saat mengaku.


Ibu dan ayah bukan orang yang mudah memaafkan jadi ucapan Bianca ada benar juga, batin Valeria.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Bianca tersenyum penuh arti dalam hatinya melihat Valeria yang termakan ucapannya. Ia memang berencana akan mengaku setelah ujian berakhir tapi bukan tentang dirinya melainkan Valeria.


Nikmati waktu loe di mansion saat ini Valeria karena bentar lagi loe bakal ngak tinggal di sana lagi, batin Bianca sambil tersenyum licik.


Bianca dan tante Sisil sudah menyiapkan rencana mereka serapi mungkin. Mereka berencana akan menjalankan rencananya setelah ujian akhir nasional.


"Oke gue pegang ucapan loe barusan" ucap Valeria dengan suara tegas.


"Iya Val"


Keduanya lalu pergi meninggalkan taman kota. Tanpa keduanya sadari ternyata Rian mendengar semua ucapan mereka.


Rahasia apa yang di sembunyikan oleh Bianca dan kenapa wajah Bianca ngak sepolos seperti biasa, batin Rian dengan bingung.


Ia yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh keduanya. Bahkan selama ini Rian selalu mendapati adanya tatapan permusuhan dari keduanya saat bertatap muka di sekolah.


"Apa Bianca orang yang ada di balik kejadian gue sama Valeria waktu itu" gumam Rian.


Rian berencana akan bertanya langsung kepada Valeria di sekolah besok.


Ia sangat penasaran kenapa dulu Valeria membalas pesannya seperti membalas perasaannya tapi saat bertemu malah sebaliknya.


Rian lalu beranjak pergi dari sana dengan segala pemikirannya. Di dalam mobil Rian terus menatap foto Valeria yang waktu itu ia ambil diam-diam.


"Perasaan gue ke loe ngak akan pernah berubah Val" gumam Rian dengan suara sangat pelan.


~ Arinta Butik ~


Saat ini Arinta sedang memeriksa laporan butiknya dari bagian keuangan dan produksi. Tak lama pintunya di buka dengan sangat kuat dari luar.


"Maaf nyonya tapi anda tidak bisa masuk tanpa seijin nyonya Arinta" ucap Ana dengan tegas.


"Tutup mulutmu asisten rendahan aku ini hanya punya urusan dengan nyonyamu bukan dengan kamu" bentak Arum Sata.


Ya ia adalah istri dari Agung Sata sekaligus ibu dari Sari mantan sahabat Valeria. Arinta menatap tajam keduanya yang sudah menganggu waktunya.


"Apa anda tidak punya sopan santun nyonya Sata" tegur Arinta dengan suara tegas.


"Asisten anda yang sudah melarang saya untuk masuk padahal saya niatnya datang baik-baik" ucap Arum dengan ketus.


"Ana" ucap Arinta penuh penekanan.


"Maaf nyonya tapi nyonya Sata marah karena di suruh menunggu lebih dulu sebelum masuk" ucap Ana.


"Nyonya Sata saya benar-benar merasa kasihan dengan anda karena seorang nyonya terhormat tidak mempunyai etiket sopan santun yang baik" ucap Arinta dengan sinis.


"Kamu" tunjuk Arum dengan wajah merah padam karena emosi.


"Apa yang saya bilang memang faktanya nyonya Sata" ucap Arinta dengan santai.


"Anda Keterlaluan sekali nyonya Kusumo, jadi begini perlakuan anda kepada tamu" ucap Arum dengan sinis.


Hahahaha.............


Arinta tertawa mendengar ucapan Arum Sata barusan. Ia lalu beranjak dari kursinya dan berdiri tepat di depan Arum dengan tatapan datar dan tajam.


"Asal anda tahu nyonya Arum. Saya memperlakukan tamu saya seperti raja jika tamu saya itu datang dengan sopan dan tahu menghargai orang lain" ucap Arinta dengan tegas.


Mata Arum melotot tajam mendengar ucapan Arinta barusan. Pasalnya semua kata-kata Arinta menunjuk pada dia yang datang dengan menerobos paksa ke dalam.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Jika anda sudah selesai pintu keluarnya di sana, karena saya masih punya pekerjaan penting saat ini" ucap Arinta sambil menunjuk pintu keluar.


Wajah Arum semakin merah padam karena sangat emosi dengan perlakuan Arinta. Ia lalu mengambil paper bag dan melemparnya ke Arinta.


"Anda jangan keterlaluan kepada nyonya Arinta" bentak Ana dengan emosi.


"Ana aku bisa menghendel ini semua" ucap Arinta menahan Ana yang akan menarik paksa Arum keluar.


"Tapi nyonya"


"Ana" ucap Arinta dengan suara tegas.


"Baik nyonya" ucap Ana dengan patuh.


"Nyonya Arum apa maksud semua ini" ucap Arinta dengan wibawa.


"Apa ini yang anda namakan limited dengan pakaian yang anda jual menggunakan kain berkualitas rendah tapi di jual dengan harga tinggi" bentak Arum.


Arinta bingung dengan ucapan Arum barusan. Ia lalu mengambil baju dres yang ada dalam paper bag tadi dan melihatnya.


Memang betul ini rancangannya tapi kain yang di pakai dres itu bukan kain yang di pakai di tim produksi mereka.


"Dari mana anda membeli dres ini nyonya Sata?" tanya Arinta.


"Ya dari website penjualan kalianlah masa saya beli di pasar" ucap Arum dengan sinis.


"Maaf tapi mungkin ada kesalahan di sini akan kami cek dulu" ucap Arinta.


"Saya ngak mau tahu ya. Pokoknya saya minta uang saya di kembalikan bikin kesal aja jual pakaian yang ngak bermerek mana kualitasnya sangat buruk" ucap Arum dengan ketus.


"Baik akan kami kembalikan setelah kami melakukan pengecekan dan anda tenang saja jika ini kesalahan kami maka uang anda akan di kembalikan utuh" ucap Arinta dengan tegas.


"Bagus deh kalau begitu" ucap Arum dengan sinis.


Ia lalu beranjak pergi tanpa memperdulikan tatapan Arinta dan Ana yang melihatnya. Ana melihat Arum dengan tidak suka karena Arum Sata adalah klien mereka yang pertama kali datang dengan tidak tahu malu.


"Kumpulkan tim produksi sekarang" ucap Arinta dengan suara tinggi.


"Baik nyonya" ucap Ana dengan cepat.


Ia tahu sang nyonya saat ini sangat emosi tapi masih bisa di tahan. Pasalnya baru kali ini ada komplain dari pelanggan mereka kepada pakaian yang mereka jual.


"Sepertinya ada yang mau main-main sama bisnis aku" gumam Arinta sambil tersenyum sinis.


Arinta lalu mengambil hpnya dan mengirim pesan kepada suaminya. Ia tahu Budi akan menyelidikinya karena Arum adalah istri dari klien sang suami.


Budi membaca pesan sang isti dengan kening berkerut. Pasalnya baru kali ini Arinta meminta bantuannya untuk menyelidiki kliennya itu.


Tanpa Arinta tahu jika Agung Sata tidak lagi menjadi klien Budi karena masalah Valeria waktu itu. Meskipun begitu Budi tetap menyuruh Dion untuk menyelidiki permintaan sang istri.


"Aku akan membantu kamu memecahkan masalah ini sayang" gumam Budi dengan pelan.


❄❄❄❄❄


To be continue..............


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀