
π»Jika kamu bisa bermimpi kamu pasti bisa mencapainyaπ»
.
.
.
.
Budi yang melihat kondisi putrinya terbaring lemah di atas brankar juga ikut menangis dalam diam. Air matanya mengalir tak sanggup melihat putrinya seperti itu.
Arinta menangis histeris melihat Valeria yang koma dengan wajah sangat pucat di atas brankar. Thomas yang mendengar suara tangisan dari luar segera mempercepat mandinya.
Ia memakai bathrobe tak mengeringkan rambutnya dan bergegas keluar melihat siapa yang berani masuk ke kamar istrinya dan juga menangis.
"Berengsek! Apa kalian tidak.." bentak Thomas dengan suara tinggi tapi seketika ia terdiam.
Ia terdiam melihat orang yang barusan ia bentak ternyata adalah mertuanya sendiri. Arinta dan Budi yang sedang menangis seketika menghentikan tangisan mereka mendengar bentakan dari belakang mereka.
"Ayah mertua, ibu mertua" ucap Thomas dengan malu.
Ia merasa sangat malu menatap keduanya karena sudah membentak mereka barusan. Budi dan Arinta sendiri menjadi kikuk melihat Thomas tak tahu harus berbuat apa.
"Uhhmmm......dimana Mikhail?" tanya Budi sengaja mencairkan suasana yang tegang.
"Dia sedang ke mall ayah mertua"
"Thomas apa yang terjadi dengan Valeria?" tanya Arinta sambil menatap Valeria dengan sedih.
Thomas lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Valeria dan juga penculikan Mikhail. Tak lupa ia juga memberitahukan tentang kematian Ares saat mereka menyelamatkan Mikhail waktu itu.
Hiks..........hiks........hiks.......hiks........
Arinta menangis sambil memeluk putrinya dengan erat mendengar cerita Thomas barusan. Budi yang mendengar cerita Thomas juga ikut menangis tak menyangka putrinya akan mengalami hal seperti itu.
Keduanya berpikir jika Valeria pendarahan karena ledakan itu sebab Thomas tak menceritakan tentang jati diri sang istri yang sebenarnya.
Bisa jantungan mertua aku jika tahu jati diri istriku, batin Thomas.
"Dimana bayi kalian?" tanya Budi yang baru sadar belum melihat cucu mereka.
"Ah! Benar Thomas! Dimana cucuku?" tanya Arinta yang juga baru menyadari hal itu.
"Putriku disana" tunjuk Thomas ke arah inkubator yang tak jauh dari brankar Valeria.
Budi dan Arinta segera bergegas menuju inkubator yang ditunjuk Thomas. Keduanya menangis melihat bayi mungil yang sangat cantik sedang tertidur lelap.
"Dia seperti Valeria waktu kecil mas" ucap Arinta.
"Iya sayang. Hanya rambut dan hidungnya seperti Thomas selebih itu dia seperti jiplakan putri kita" ucap Budi meneliti wajah cucu ketiganya.
"Siapa nama cucuku Thomas?" tanya Budi.
"Aku belum memberinya nama. Aku menunggu istriku bangun baru aku memberinya nama" ucap Thomas dengan sedih.
Suasana kembali menjadi hening tak ada yang berbicara karena mereka juga sangat sedih melihat Valeria yang masih koma pasca melahirkan.
"Ayah yakin Valeria akan sadar secepatnya" ucap Budi sambil menepuk pundak Thomas.
"Iya nak. Jangan pernah berhenti berharap dan berdoa agar istrimu cepat bangun dari komanya" tambah Arinta sambil memeluk Thomas.
"Iya bu" ucap Thomas sambil membalas pelukan Arinta.
Thomas menutup mata merasakan pelukan hangat dari ibu mertuanya yang tak pernah ia rasakan selama ini.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Baru kali ini ia bisa merasakan pelukan seorang ibu selama hidupnya. Air mata Thomas menetes tak kuat menahan tangis karena pelukan hangat Arinta.
Arinta yang tahu Thomas menangis dalam diam menepuk pundaknya seakan berkata kalau semua akan baik-baik saja.
"DADDY" teriak Mikhail mengagetkan ketiganya yang berada di dalam sana.
Thomas melepas pelukannya dan menghapus air matanya mendengar suara putranya. Mikhail berjalan masuk dengan angkuh meski umurnya baru 3 tahun lebih.
Sedangkan di belakangnya ada Rehan dan Kevin yang masuk sambil menenteng banyak paper bag di kedua tangan mereka.
Melihat wajah kesal Kevin ia sudah bisa menebak kalau anaknya pasti membuat ulah saat di mall. Kevin menatapnya dengan kesal sambil menggerutu.
"Mikhail" panggil Arinta sambil tersenyum manis.
Mikhail menghentikan langkahnya sambil menatap kakek dan neneknya dengan wajah dingin dan datar. Melihat hal itu entah kenapa keduanya merasa kalau Mikhail tak menyukai kehadiran mereka.
"Son" panggil Thomas dengan suara lembut.
Mendengar panggilan sang daddy ia segera berjalan ke arah Thomas yang langsung digendong Thomas. Putranya itu memeluk Thomas dengan manja tak ingin dilepas.
"Ayo salim sama grandpa dan grandma" ucap Thomas.
Mikhail menggelengkan kepalanya tak mau menyalami keduanya. Melihat hal itu Thomas mengerutkan keningnya karena tahu putranya tak pernah seperti ini saat kedatangan kakek dan neneknya.
"Ada apa..........heemm?" tanya Thomas sambil berbisik.
"I don't like them daddy. They're make mommy sad" (aku tidak menyukai mereka papa. Mereka sudah membuat mama sedih) bisik Mikhail dengan suara dingin.
Thomas menjauhkan kepala putranya dari lehernya dan menatapnya dengan tajam. Tatapan matanya bertanya mengenai ucapan sang anak barusan.
"Son! Mereka orang tua mommy" tegas Thomas.
"I know dad" (aku tahu papa) jawab Mikhail dengan santai.
"Hormati mereka son. Biar bagaimana pun mereka orang tua mommy kamu dan kamu harus menghormati mereka" papar Thomas dengan tatapan tajam.
"MIKHAIL!" bentak Thomas dengan emosi.
Bukannya takut tapi Mikhail malah berbalik menatap daddynya dengan tajam. Aura di sekitar mereka seketika berubah menjadi sangat mencekam dan dingin.
"Thomas jangan paksa Mikhail" ucap Budi.
Thomas diam sambil menatap anaknya dan tak lama ia memicing melihat iris mata putranya yang berubah warna sesekali.
Deg.............
Jantungnya berdetak dengan cepat melihat hal tersebut karena tahu arti dari perubahan warna mata putranya.
"Kontrol emosimu son" ucap Thomas mengalah mengikuti keinginan putranya.
"Ckk!!" decak Mikhail dengan sinis.
"Daddy minta maaf sudah memaksamu son" ucap Thomas dengan suara lembut.
"Heeemmm" deham Mikhail kembali memeluk leher Thomas.
Thomas mengelus punggung putranya dengan lembut membuat Kevin yang sedari tadi diam dan melihatnya berdecak kagum.
Kamu sudah banyak berubah dude dan aku senang kamu sangat menyayangi keluarga kecilmu, batin Thomas dengan haru.
Thomas lalu membawa putranya ke kamar mandi untuk dimandikan sebelum makan malam. Sedangkan Arinta dan Budi memilih tetap di rumah sakit karena baru saja datang.
Kevin yang tak punya jadwal lagi menyuruh Rehan memesan makanan buat mereka semua agar mereka makan bersama di kamar rawat Valeria.
"Kamu makan saja nak biar ibu yang suapi Mikhail" ucap Arinta.
"Tidak usah bu. Biar aku saja karena Mikhail tak ingin diurus oleh siapapun selain aku, istriku, dan Ares bu" tolak Thomas dengan halus.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Arinta tak berkata apa-apa dan membiarkan Thomas kembali menyuapi Mikhail. Beruntung Mikhail tidak terlalu berulah saat makan jadi ia tidak kesusahan.
"Dude kamu harus menganti uangku" ucap Kevin setelah selesai makan.
"Uang?" tanya Thomas dengan alis sebelah terangkat.
"Hari ini putramu sudah menghabiskan ratusan juta dolarku" ketus Kevin dengan kesal.
"Memang apa saja yang kalian beli?" tanya Thomas tak kaget lagi.
Kevin dengan cepat mengeluarkan semua belanjaan milik Mikhail dari mainan, laptop, sampai teleskop dan semua itu limited edition.
"Son" ucap Thomas sambil menatap tajam putranya meminta penjelasan
"Itu merek terbaru daddy" ucap Mikhail sambil memakan anggur hijau kesukaannya.
"Daddy tahu tapi teleskop itu bukannya sebelum ulang tahunmu kamu baru membelinya dengan merek yang sama" ucap Thomas dengan mata memicing.
"Heemmm! Tapi itu di kastil dan aku butuhnya sekarang daddy" ucap Mikhail dengan santai.
"Bocah setan kamu sudah punya kenapa beli" hardik Kevin dengan mata melotot.
"Memangnya ada masalah uncle?" tanya Mikhail dengan wajah polos.
"Harganya setara dengan 1 lamborghini terbaru bocah" pekik Kevin dengan kesal.
"Aku tahu uncle" jawab Mikhail dengan santai.
Phew.............
Kevin membuang napasnya dengan kasar menahan emosi melihat Mikhail yang sudah mempermainkannya.
"Sudahlah Kevin anggap saja itu hadiah buat putraku" ucap Thomas sambil tersenyum mengejek.
"Hadiah kamu bilang? Itu bukan murah dude" dengus Kevin dengan kesal.
"Masih mending kamu belinya teleskop buat putraku dibandingkan Yorla"
"Apa yang diberikan banci jadi-jadian itu ke setan kecil kamu?" tanya Kevin dengan penasaran.
"Satu villa mewah di Hawai seperti punyaku di Swiss" jawab Thomas.
"APA" teriak Kevin dengan suara kencang.
"Kevin" desis Thomas saat mendengar gumam putrinya di dalam inkubator.
"Hehehehe........sorry dude aku tadi kaget" ucap Kevin sambil terkekeh dan mengangkat kedua jarinya tanda peace.
"Heemmmm"
Kevin menggelengkan kepalanya menatap Mikhail tak habis pikir dengan permintaannya. Baru kecil saja dia sudah terbiasa dengan barang mewah apa lagi besar nanti.
Arinta yang sedari tadi menatap cucu pertamanya merasa sedih karena ia tak bisa memeluk atau mencium Mikhail seperti biasa.
Padahal selama ini cucunya baik-baik saja dan tidak menolak saat ingin memeluknya saat mereka berkunjung.
Apa salah eyang cucuku, batin Arinta dengan sedih.
Mikhail mengerutkan keningnya menatap Arinta saat membaca pikirannya tapi tak ia mengerti. Itu adalah bahasa yang sering diucapkan oleh pengawal sang mommy dan lainnya.
"Menyebalkan" gumam Mikhail dengan kesal.
βββββ
To be continue...............