
π»Tersenyumlah walau kamu sedang hancur dan jangan biarkan musuhmu tahu kalau kamu sedang terpurukπ»
.
.
.
.
Bugh..........bugh.........bugh..........bugh.......
Entah sudah berapa pukulan yang Bryan dan lainnya dapat. Valeria terus memukul anak buahnya dengan brutal karena mereka terus saja salah saat berlatih.
"Segini saja kemampuan kalian" bentak Valeria dengan suara tinggi.
"Maaf master" ucap mereka semua serentak.
"Yang pemula pisahkan diri dengan yang sudah bisa bela diri" bentak Valeria.
"Baik master"
Bryan bergabung bersama dengan yang sudah bisa bela diri sebanyak 20 orang. Valeria lalu memberi isyarat kepada pemula untuk sedikit bergeser karena ia akan memberi pelatihan khusus bagi yang sudah bisa.
Bukan tanpa alasan Valeria turun tangan langsung melatih mereka karena ia ingin lihat kemampuan bela diri mereka. Valeria juga sudah memiliki rencana tersendiri untuk kelompok yang baru saja ia bentuk.
"Kalian lawan gue" ucap Valeria melihat Bryan dan 20 anak buahnya dengan tatapan tajam.
"Valeria apa maksud loe?" tanya Bryan dengan kaget.
"Tunggu apa lagi hah!!! Apa loe semua tuli" bentak Valeria.
"Maaf master tapi kami tidak berani melawan master" ucap Agung salah satu anak buah Valeria.
"Baiklah kalau itu keinginan kalian" ucap Valeria sambil tersenyum smirk.
Bryan yang melihat senyum Valeria bisa menebak kalau sebentar lagi ada sesuatu yang akan terjadi. Belum juga 3 menit semua anak buah Valeria yang berjumlah 49 orang kaget bukan main.
Valeria dengan cepat memukul 20 orang secepat kilat membuat mereka tercengang melihat kecepatan Valeria yang seakan menghilang dan muncul dengan cepat di depan mereka.
Arrrgghhhh...........
Teriak 20 orang anak buah Valeria bersahutan karena tubuh mereka di pukul kuat oleh Valeria. Bryan yang tak menduga Valeria akan secepat itu tak bisa menghindar dari pukulannya.
Bugh...........
Bryan terpental ke belakang karena tendangan Valeria tepat di perutnya. Ia meringis merasakan sakit yang luar bisa menjalar di area perutnya.
Belum juga hilang keterkejutan mereka karena aksi Valeria mereka kembali lagi berteriak kesakitan karena tendangan dan pukulan Valeria.
"Rule number one dalam perkelahian" (peraturan nomor satu) ucap Valeria sambil mengangkat jari telunjuk.
Semua anak buahnya diam dan mendengar apa yang akan di ucapkan Valeria. Raksa yang baru selesai menjalankan tugasnya kaget bukan main melihat teman-temannya yang merintih kesakitan di lantai.
Apa yang terjadi disini, batin Raksa dengan bingung.
"Jangan pernah lengah dan anggap remeh lawanmu" ucap Valeria dengan suara lantang.
Valeria diam melihat wajah satu-satu anak buahnya ia tidak ingin ada pengkhianat di dalam kelompoknya. Ekor matanya melirik Raksa yang berdiri tak jauh dari mereka sambil tercengang melihat teman-temannya.
Wush............cring...........
Semuanya kaget melihat Valeria yang sudah berada di depan Raksa. Tak hanya itu mereka lebih kaget lagi melihat Raksa yang dengan cepat menahan gerakan pisau Valeria yang hendak menggores wajahnya dengan pisaunya.
"Insting yang bagus" ucap Valeria sambil terkekeh.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Raksa kaget bukan main tiba-tiba saja Valeria muncul di depannya dan langsung menyerangnya. Dengan instingnya ia dengan cepat mengambil pisau lipat yang sering ia bawa untuk menangkis serangan Valeria.
Bugh.......bugh...........bugh..............
3 pukulan di perut, pundak, dan kakinya dengan cepat membuat tubuh Raksa terjatuh di lantai.
Memang tadi ia bisa dengan cepat menangkis serangan Valeria tapi karena tak konsen Valeria dengan cepat melumpuhkannya.
"Jangan pernah lengah sedikit pun saat sedang bertarung" ucap Valeria dengan tatapan tajam.
Semuanya diam tidak ada yang berbicara dan mendengar ucapan Valeria sekaligus praktek langsung. Dengan cepat mereka bisa mengerti apa yang di sampaikan oleh Valeria.
"Paham"
"Paham master" ucap semuanya serentak.
"Rule number two!! Dibunuh atau membunuh" (peraturan nomor dua) ucap Valeria dengan suara dingin dan aura mengintimidasi.
Semua yang berada di sana bergidik ngeri merasakan aura yang keluar dari tubuh Valeria. Suasana yang tadinya hangat berubah menjadi mencekam seperti berada di lautan es yang sangat dingin.
Seluruh tubuh mereka seperti di tarik ke dasar lautan dingin sehingga tidak bisa di gerakkan. Bahkan napas mereka tercekat di tenggorokan dan tidak bisa menghirup oksigen lagi.
Aura yang sangat mengerikan, batin Raksa.
Tubuh gue ngak bisa gerak bahkan napas gue kayak di tahan di tenggorokan, batin Bryan.
Apa yang terjadi kenapa tubuh gue kayak di tikam seribu pedang, batin Agung.
Valeria tersenyum sinis melihat semua anak buahnya yang seketika berdiri dengan tubuh kaku. Ia tahu apa yang mereka rasakan saat ini tak lama Valeria memilih mengontrol emosinya agar tidak membuat mereka ketakutan.
Meski sebenarnya tanpa aura intimidasi Valeria mereka semua sudah bergidik ngeri melihat Valeria. Karena tatapan matanya yang tajam seperti pedang dan wajah datarnya yang membuat siapa saja engan untuk berdekatan dengan Valeria.
"Jangan pernah lupakan dua peraturan penting itu" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik master" ucap semuanya serentak.
"Pergi" ucap Valeria dengan singkat.
Semuanya segera berlalu pergi meninggalkan Valeria, Bryan, dan Raksa di sana. Valeria lalu duduk di kursinya dan melihat kedua orang di depannya dengan tatapan datar dan dingin.
Valeria sebenarnya tahu Bryan sangat membenci Raksa karena Raksa adalah orang yang sering memukul Bryan dulu. Tatapan keduanya saling menatap dengan permusuhan.
"Kalian bisa saling membunuh disini" ucap Valeria dengan wajah datar.
"Maaf master" ucap Raksa.
"Maaf Val" ucap Bryan.
"Raksa bukan orang dari tempat pel****an bahkan dia ngak ada sangkut paut dengan itu" ucap Valeria mengagetkan Bryan.
Bryan melihat Valeria dengan mata melotot mendengar ucapan Valeria barusan. Bukan tanpa alasan Valeria merekrut Raksa untuk menjadi anak buahnya karena disini ia tak ada sangkut paut dengan masa lalu Bryan.
"Jadi" ucap Bryan dengan kaget.
"Heeemmm! Dia hanya preman pasar yang kebetulan liat loe sekarat di pasar" ucap Valeria seakan tahu pikiran Bryan.
Bryan melihat Raksa dengan tatapan lebih hangat karena baru mengetahui kebenaran kalau Raksa tak terlibat dengan masa lalunya. Raksa yang umurnya lebih tua dari keduanya menatap Bryan dengan bingung.
"Pergilah" ucap Valeria.
"Baik master, Val" ucap keduanya dengan serentak.
"Gue benci loe semua" gumam Valeria dengan suara bergetar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria lalu berjalan menuju samsak tinju dan melampiaskan emosinya di samsak. Ia terus memukul samsak dengan kuat sambil mengingat semua perlakuan kedua orang tuanya dan kejadian sewaktu ia di usir dari mansion.
~ Mansion Kusumo ~
Bagas saat ini baru saja selesai berlatih di ruang gym di lantai 3 dan saat sampai di lantai satu ia berpapasan dengan Bianca yang baru saja pulang dari sekolah.
Tatapan permusuhan dan tajam dari Bagas membuat Bianca mengurungkan niatnya untuk menyapa Bagas.
Bagas yang mengingat rekaman cctv Bianca dan Valeria waktu itu menghentikan langkahnya untuk ke dapur. Bagas segera berdiri di depan Bianca menghentikan langkah Bianca yang akan ke kamarnya.
"Uhmmm.........kang...mas" ucap Bianca dengan gugup.
"Panggil gue tuan muda karena gue bukan kangmas loe" ucap Bagas dengan suara dingin tak lupa tatapan matanya yang tajam.
"T...u...an mu...da" ucap Bianca dengan bibir bergetar karena emosi.
Ia mengepal kedua tangannya merasa sangat emosi saat Bagas menyuruhnya memanggilnya tuan muda.
Padahal mereka berdua adalah saudara sedarah meski berbeda ibu tapi kenyataannya mereka memiliki darah Kusumo dalam tubuh mereka.
"Gue tahu loe ada sangkut pautnya dengan kejadian adik gue! Jadi gue cuma mau bilang mulai sekarang berhati-hatilah" ucap Bagas sambil tersenyum sinis.
Deg...........
Tubuh Bianca menegang mendengar ucapan Bagas barusan dan tak menyangka Bagas bisa berbicara seperti itu.
Beruntung Bianca sedang menunduk jadi Bagas tak bisa melihat wajah terkejutnya dengan cepat Bianca merubah ekspresi wajahnya agar Bagas tak curiga.
"Maksud tuan muda apa? Gue ngak ada hubungan dengan permasalahan Valeria?" tanya Bianca dengan wajah bingung.
"Ckk! Jangan loe kira gue bisa termakan wajah palsu loe itu" ucap Bagas dengan ketus.
"Hiks hiks....... tuan muda.........hiks hiks.........kenapa nuduh Bianca kayak gitu.......hiks hiks" ucap Bianca sambil menangis.
Bagas tersenyum sinis melihat drama Bianca yang menangis di depannya ia tahu itu hanya pura-pura saja karena sang ibu sedang menuju ke sini.
Kita lihat aja apa sandiwara loe bisa buat ibu marahin gue, batin Bagas sambil tersenyum penuh arti.
"Nak ada apa ini?" tanya Arinta yang baru saja pulang dari butik dan melihat Bianca menangis.
"Tanya aja sama putri tercintamu bu" ucap Bagas dengan suara dingin dan tatapan benci.
Hati Arinta sakit melihat tatapan sang anak yang memandangnya dengan benci. Ibu mana yang tak sakit hati melihat sang buah hati yang menatapnya dengan permusuhan seperti musuh.
"Bagas" ucap Arinta dengan mata berkaca-kaca.
Bagas membuang muka ke samping karena tak kuasa melihat tatapan sang ibu. Meski sang ibu salah tapi hati kecilnya sangat rapuh melihat ibu yang melahirkannya menatap Bagas dengan mata berkaca-kaca.
Bagas memilih pergi dari sana karena tak sanggup melihat tatapan sang ibu. Memang ia akui ibunya sudah sangat salah tapi Bagas tak semudah itu memaafkan meski itu ibunya sendiri.
"Kalau sampai terbukti loe ada di balik ini semua gue pastikan saat itu juga loe bakal nyusul ibu loe yang p*****r itu" bisik Bagas di telinga Bianca.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bianca menatap Bagas dengan tajam saat mendengar nama sang ibu di hina. Rasa marah dan sakit hati membuat Bianca seakan ingin memukul Bagas tapi ia tahan karena ada Arinta di sampingnya.
Gue bersumpah akan hancurkan loe dan keluarga loe, batin Bianca dengan emosi.
Bianca lalu bergegas pergi meninggalkan Arinta yang masih menatap Bagas dengan tatapan sedih. Hatinya sakit melihat sang anak yang seakan menjauhinya.
"Maafkan ibu nak! Ibu salah...........hiks hiks" gumam Arinta sambil menangis.
Arinta segera pergi karena tak sanggup menahan air matanya yang akan tumpah.
Bi Susi yang melihat ketiganya dari tadi menangis dalam diam ia sudah lama mengabdi ke keluarga Kusumo dan tahu bagaimana kehidupan keluarga ini.
Semoga keluarga ini kembali bersatu, batin bi Susi penuh harap.
~ Markas Valeria ~
Saat ini Bryan dan Raksa sedang berada ada ruang kesehatan meski belum ada dokter atau perawat yang bertugas di markas tapi semua obat-obatan di sini sangat lengkap.
Bryan dan lainnya sedang mengobati luka mereka dengan di bantu anggota lainnya yang tadi tidak kena pukulan Valeria.
Bryan meringis saat perut dan bahunya di beri salep lebam yang sudah berubah menjadi biru kehitaman.
"Iishhh........pukulan master sangat kuat" ucap Agung sambil meringis saat luka di wajahnya di beri obat.
"Ini belum seberapa kalian akan melihat wujud asli master suatu saat nanti" ucap Raksa yang mengingat pertemuannya pertama kali dengan Valeria.
"Apa maksud loe?" tanya Bryan dengan penasaran.
"He bocah sopan dikit napa! Gini-gini gue lebih tua dari loe!" hardik Raksa dengan ketus.
"Kalau gue ngak mau loe mau ngapain" balas Bryan tak kalah ketus.
"Awas aja loe jangan sampai gue pukul loe di sini"
"Coba aja" ucap Bryan sambil tersenyum remeh.
Raksa yang melihat hal itu ingin memukul Bryan tapi ia urungkan karena saat ini tubuhnya sangat sakit akibat pukulan Valeria tadi. Meski hanya 3 pukulan saja tapi itu sangat kuat dan sangat menyakitkan sampai sekarang.
"Ada yang mau omongin sama loe" ucap Bryan dengan wajah serius.
"Kita ke depan" ucap Raksa sambil berlalu pergi dengan langkah pelan.
Bryan lalu berdiri dan mengikuti Raksa dari belakang dan di sinilah keduanya berdiri sambil menatap bintang di langit. Hanya ada keheningan saja tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut keduanya.
"Apa yang mau loe bicarakan?" tanya Raksa setelah melihat Bryan hanya diam.
"Loe bukan anak buah madam Gres kan"
"Ckk! Sampai mati pun gue ngak sudi jadi anak buah wanita tua itu!" ucap Raksa dengan ketus.
"Kenapa loe ngak bilang kalau loe bukan bagian dari mereka"
"Karena loe ngak tanya bocah! Bukannya waktu loe sadar loe hanya diam ngak berbicara sama gue dan anak buah gue" ucap Raksa dengan ketus.
Bryan diam dan mengingat kejadian setelah ia sadar waktu melarikan diri dari tempat madam Gres. Saat itu Bryan sudah tidak sanggup lagi harus jadi pemuas nafsu dari tante-tante yang haus kepuasaan karena tak puas dengan suami mereka.
"Sorry" ucap Bryan dengan tulus.
"Gue udah maafin loe! Gue tahu ngak mudah jadi loe waktu itu dan asal loe tahu gue juga pernah kayak loe tapi gue putusin untuk berhenti" ucap Raksa dengan serius.
"Terima kasih" ucap Bryan sambil tersenyum hangat melihat Raksa.
"It's okay bukannya sekarang kita adalah saudara" ucap Raksa sambil menepuk pundak Bryan.
βββββ
To be continue.............
Hay guys jangan lupa tinggalkan jejak kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€