
"Kita lapor polisi saja ya Neng" Akta petugas keamanan.
"Ya Pak, tolong ya Pak" Jawabku.
Aku kembali ke rumah sakit. Untuk dapat ke rumah sakit aku harus mencari bus atau angkot di jalan raya. Dan untuk ke sana aku harus berjalan kaki keluar perumahan. Sesampainya di luar gerbang, kondisi gelap karena lampu lan sebagian mati.
Aku berjalan terus menuju halte. Di perjalanan itulah aku merasa sedang dibuntuti. Ada beberapa orang yang selalu berada di belakangku. Setiap alu menoleh mereka sedang mengobrol. Salah satunya sedang menelepon. Ah mungkin pokiranku terlalu negatif.
Tak berapa lama sebuah mobil berhenti. Keluar dari mobil itu, sekitar lima orang. Semuanya laki-laki. Mereka menghampiriku dan menyeretku ke dalam mobil. Badannya terlalu kekar hingga aku tak bisa meronta. Satu diantaranya membungkam mulutku agar tidak bisa berteriak. Mereka pasti orang suruhan. Cengkeramannya begitu kiat sampai tanganku kesakitan. Sekuat apapun aku meronta tetap tidak bisa melepaskan diri. Mereka terlalu kiat untuk dilawan. Sebuah karung kemudian menutupi kepalaku. Fix aku tidak bisa melihat keadaan. Kemudian semua gelap.
***
Pelan-pelan kubuka mataku. Samar-samar di pandangan, semakin jelas, semakin jelas. Kulihat pemandangan yang serba berantakan. Kotak-kotak besar, jerami, besi-besi berserakan. Aku hendak bergerak tetapi tidak bisa. Baru kusadari bahwa kedua tanganku diikat di belakang. Masih untung mulutku tidak dibungkam. Di mana aku sekarang?
Ruangan ini remang-remang. Hanya ada bola lampu kecil yang menerangi. Ventilasi udara hanyalah lubang kecil sekitar 6 cm. Bau busuk menyengat seperti air kencing tikus. Aku melihat sekeliling mencari sesuatu yang bisa kupakai untuk memotong tali yang mengikat tanganku.
Aku sedang disandera. Ngeri menyadari kenyataan ini. Siapa yang melakukan ini. Papaku, bagaimana keadaannya. Aku harus menunggui Papa di rumah sakit. Tapi aku malah mengalami hal semacam ini. Ada sebuah meja lipat uang sudah rusak. Salah satu sisinya bahkan sudah jebol. Dari jebolan itu ada sisi yang tajam. Kugunakan sisi itu untuk memotong tali.
Pertama-tama aku berbalik badan. Lalu kugosokkan tali yang mengikat tanganku pada sisi tajam sebuah meja. Ah, sisi itu mengenai kulitku. Perih rasanya. Aku berhati-hati menggosokkan tali. Cukup lama aku berusaha akhirnya tali itu terputus. Pergelangan tanganku berdarah. Pantas saja rasanya perih sekali. Aku mencari celah yang mungkin bisa kugunakan untuk melarikan diri. Tida ada yang kutemukan selain ventilasi kecil di sebelah atas.
Pahaku bergetar. Aku hampir lupa, aku membawa hape dan masih aktif. Alanta menelepon tetapi tidak terangkat. Mungkin dia menelepon saat aku masih tak sadarkan diri. Ada SMS dari Alanta.
Ros, rumah kami dijaga polisi. Ada apa?
Aku segera menelepon Alanta. Aku harap dia bisa menemukan posisiku. Sebab aki sendiri tidak tahu di mana aku sekarang.
"Alan....aku diculik...aku nggak tahu di mana kami bisa bantu aku gak....."
Tut...tut...hapeku padam. Ah, bateraiku habis. Alanta menelepon balik pun tidak akan bisa tersambung. Oh, aku menangis. Aku takut. Aku panik. Untuk apa aku disandera begini. Aku takut jika aku akan dibunuh. Pikiranku tak karuan. Aku duduk tersungkur. Kubenamkan wajahku pada kedua lututku. Aku menangis sesenggukan memikirkan nasibku. Selalu ada saja yang terjadi padaku.
Ah aku tidak bisa begini. Aku harus berpikir jernih. Menangis tidak akan menyelamatkanku dari sini. Aku harus berusaha sendiri. Aku sedang mencari-cari sesuatu. Siapa tahu diantara tumpukan barang yang sudah tak terpakai ini ada sesuatu yang masih bisa kugunakan.
Grek..grek...pintu akan segera dibuka. Aku berpura-pura tertidur. Tak lupa kedua tanganku kusembunyikan di belakang punggung. Tujuannya agar mereka mengira tanganku masih terikat.
"Cepat foto!! Big Bos sudah nungguin" Kata seseorang.
Sesaat kemudian kilatan cahaya menerpa wajahku. Mereka mengambil gambarku dengan sebuah kamera.
"Ckckc....cantik banget ni bocah. Sayang gak dandan ya!" Kata salah seorang.
"Hush...ini milik Big Bos. Jangan macem-macem" Kata yang lain.
"Eh berapa harga?" Yang lain ikut berbicara.
"Ratusan bro"
"Masih perawan makanya mahal"
"Alah cewek remaja jaman sekarang sudah banyak yang gak perawan"
"Yang ini perawan!!"
"Emaknya sendiri yang bilang, dan menjamin keperawanan dia"
"Ngomong apa sih kalian? Sudah...sudah...tugas kita cuma fotoin saja. Jangan aneh-aneh. Sudah balik!!"
Dan kemudian terdengar langkah kaki, dan pintu tertutup. Aku merenung. Dari mereka lah aku tahu, aku dijual, oleh Mama. Begitu tega dia melakukan ini. Foto yang mereka ambil entah akan diberikan siapa. Yang jelas foto itu sebagai transaksi antara pembeli dengan Big Bos yang disebutkan tadi.
Leherku tercekat, lidahku kelu. Bisa-bisanya Ibu asuhku menjualku untuk dijadikan budak pemuas nafsu. Ya, tentu saja aku akan dijadikan wanita penghibur, apalagi. Aku harus melarikan diri. Harus.
Aku segera mencari-cari sesuatu. Cukup lama aku mencari akhirnya kutemukan. Sebuah besi panjang yang ujungnya cukup runcing. Kugunakan besi itu untuk mencongkel pintu. Beberapa kali aku mencoba tetapi gagal. Dan aku tidak menyerah begitu saja. Aku mencari besi serupa. Setelah kudapatkan, aku mencoba mencongkel kembali.
Brakk...pintu terbuka. Aku segera lari mencari jalan keluar. Namun aku tidak boleh gegabah. Satu saja mendengar langkah kakiku, maka aku akan dikepung. Dan usahaku melarikan diri akan gagal. Sementara itu aku menahan sakit di lenganku akibat goresan sisi meja yang tajam.
Aku mendengar suara langkah kaki. Aku berhenti dan bersembunyi. Aku bersembunyi di balik tumpukan kayu. Aku dibuat terkejut sekali lagi oleh pemandangan yang tampak di depanku. Suara langkah kaki itu adalah milik Silvi. Dia mengenakan piyama dan sedang membawa segelas air putih. Alu terkejut hingga mundur dan menabrak kayu kecil sehingga menimbulkan suara.
"Siapa itu?" Tanya Silvi setengah berteriak.
Aku tidak bisa menyembunyikan tubuhku kembali. Silvi mendapatkanku. Sama sepertiku, Silvi pun terkejut dengan keberadaanku.
"Rosa?? Kamu ngapain di sini?" Tanya Silvi.
"Silvi...aku..."
"Kamu mau mencuri??"
Aku menggeleng kuat.
"Itu lengan kamu kenapa?" Tanya Silvi lagi.
"Silvi, aku mohon bantu aku keluar dari sini. Please!!" Aku memohon.
Silvi tampak bingung dengan apa yang terjadi di sini. Menurutku ini adalah rumah Silvi. Pertanyaannya, kenapa aku bisa sampai di sini. Siapa yang melakukan ini? Apakah...oh jangan-jangan...
Silvi mengangguk dan menggandeng tanganku. Silvi membawaku melalui pintu belakang. Di belakang rumah itu masih ada kebun yang cukup rimbun, juga beberapa taman yang cukup penuh dengan tanaman.
"Nanti di belakang ada pintu lagi. Gak ada kuncinya. Cuma pakek kayu aja. Kamu bisa lewat situ" Kata Silvi.
Sampai di tengah taman Silvi mengantarku. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam. Aku membungkuk sambil berjalan agar tidak ketahuan. Aku sudah mencapai pintu yang dimaksud Silvi. Aku membukanya. Namun sial bagiku. Di depan pintu itu ada dua penjaga. Aku ketahuan. Aku berbalik badan dan berlari sejauh mungkin..penjaga itu mengejarku tentu saja.
"Berhenti!!!" Teriak penjaga.
Dor...dor...mereka menembakkan peluru ke langit. Sontak semua yang tertidur di rumah itu terbangun. Aku yakin Silvi juga terbangun. Aku tak peduli. Aku masih berlari menyelamatkan diri meskipun nafasku sudah tersengal-sengal.
Wiuwiuwiuwiuuwiuuuu
Terdengar suara sirine mobil polisi. Polisi datang. Entah siapa yang memanggil. Aku masih berlari dan berlari, mencari celah untuk melarikan diri.
***