My Name Is Rose

My Name Is Rose
Di Depan Mading



Masih di depan mading. Kupandangi foto yang ditempel oleh Alanta. Masihkah aku pantas menyandang gelar siswa berprestasi jika menjadi yang terbaik di satu kelas saja tidak mampu. Angin berhembus menggoyangkan rambutku. Angin panas yang membuat gerah seluruh tubuh, serasa panas sampai ke dalam dada.


"Udah ngerti sekarang?" Entah kapan datangnya, tiba-tiba saja Rania sudah di hadapanku.


"Rania"


"Sudah aku bilang, kalau kamu masih berada di lingkaranku, artinya kamu siap untuk perang denganku" Lanjutnya.


"Sampai sejauh ini?"


"Sekolah ini sudah ada di genggaman tanganku. Semua bisa kuatur. Aku tidak akan biarkan kamu dengan nyamannya seolah di sini. Jadi jika kamu mau aman, pindah sekolah dari sini"


"Termasuk bocoran soal seleksi? Atau mungkin bocoran jawaban?"


Rania tertawa terkekeh.


"Sadarlah Ros, kamu terlalu naif untuk hal semacam ini. Jangan buang buang waktu. Pergi saja dari sini"


Aku pun ikut tertawa terkekeh.


"Jangan senang dulu Rania, kamu baru melewati satu kelas saja. Masih ada banyak kelas yang harus kamu taklukkan untuk menjadi tiga teratas untuk mewakili sekolah ini di Olimpiade nanti"


"Sudah kubilang sekolah ini berada ditanganku sekarang. Akan sama persis dengan seleksi kita hari ini"


"Apa puasnya menang karena jalur tol" Aku berbisik.


"Aku peringatkan sekali lagi, keluar dari sekolah ini"


"Ran...Ran...yang benar saja, untuk masuk ke sini butuh banyak pertimbangan. Mana mungkin aku melepas begitu saja. Lagipula aku tidak akan mengecewakan orang yang membawaku kemari"


"Siapa? Siapa yang membawamu kemari??" Rani tampak terkejut. Mungkin dia baru tahu bahwa aku sampai masuk ke sekolah ini karena orang dalam. Bukan karena murni seleksi.


"Ini" Aku menunjuk ke mading. Di sana ada tulisan Alanta. Sebab Alanta termasuk anggota Osis yang berpengaruh.


Rani mendekat pada mading. Dia mencermati arah yang kutunjuk. Beberapa saat kemudian dia berbalik dan mendorongku. Aku terjatuh. Pantatku terasa sakit karena benturan. Aku tak menyangka, kupikir peristiwa penyiraman waktu itu di toilet adalah hal terbesar yang terkejam yang berani dia lakukan padaku. Rupanya dia pun tega mendorongku hingga jatuh.


"Apa hubunganmu dengan Alanta???" Rania marah entah kenapa.


"Kenapa? Hubunganku dengan Alanta tidak ada hubungannya denganmu"


"Ada!!" Rania tampak geram. Dahinya berkerut, matanya berkaca-kaca seolah ada kesedihan yang mendalam di pikirannya.


"Alanta itu milikku!!! Kamu mau rebut dia juga dariku ha??"


"Kamu juga akrab dengannya?"


" Tentu saja. Alanta adalah milikku. Keluarga kami dekat. Sudah sejak lama orang tua kami menjalin hubungan"


"Maksudnya?"


"Gak ngerti juga!! Kami akan dijodohkan!! Kami akan menikah nanti"


Sungguh rasanya jantungku seperti sedang dicabik-cabik. Dijodohkan? Masak iya ada orang dijodohkan sejak kecil seperti ini. Kudengar hal tersebut hanya ada di jaman Siti Nurbaya. Alanta bukan siapa-siapa. Tapi rasanya aku akan kehilangan seseorang. Leherku tercekat. Sakit.


"Alanta tidak bilang ke aku"


"Kamu deketin dia karena tahu dia anak ketua yayasan? Biar kamu dengan mudah masuk sekolah ini tanpa tes?" Tanya Rania.


"Ketua? Yayasan?"


"Jangan pura-pura begi deh!!"


"Sekarang ngerti kan??"


Rania kemudian berlalu. Baru saja beberapa langkah, Rania berpapasan dengan Dinda. Dinda tampak berlari ke arahku. Hampir saja. Hampir saja Dinda melihat peristiwa tadi. Dia datang di waktu yang benar. Setelah semua selesai.


"Ros, ngomong apa dia?" Dinda mengkhawatirkanku.


"Nggak, cuma pamer aja kalo dia menang" Jawabku berbohong.


"Heran deh, koo bisa ya. Pasti dia les privat. Atau les di bimbel yang mahal. Atau mungkin yang bimbing dia itu Bu Yuni langsung makanya dia tahu kisi-kisi soal yang mau keluar. Oh atau jangan-jangan Bu Yuni yang kasih soalnya ke dia?"


Tak kusangka Dinda berpikir hingga sejauh itu. Pemikiran kami sama. Aku juga curiga bahwa Bu Yuni sendiri yang membocorkan soal plus jawabannya. Apapun itu, aku menarik kesimpulan bahwa aku tidak perlu percaya pada siapapun. Aku harus mengandalkan kemampuanku sendiri. Banyak guru yang tak terduga menjadi dalang dari segala peristiwa di sini. Aku harus bertahan. Aku harus kuat.


Alanta mengantarku ke tempat kerja. Anehnya, aku selalu mau jika dia menawariku tebengan. Aku tidka menduga sama sekali bahwa dia adalah milik orang lain. Tapi kenapa dia masih saja menghampiriku. Persahabatan kami tidak harus sejauh ini. Dia tidak harus bersamaku mengesampingkan calon istrinya kelak.


"Kok diem terus sih dari tadi" Kata Alanta.


"Oh ehm..iya" Jawabku gelagapan.


"Ada apa soh? Laper ya, makan dulu?"


"Nggak...ehm ada yang mau aku tanyakan"


Alanta memandangku serius. Kami berhenti tak jauh dari oultet. Sengaja aku minta berhenti di situ karena tempatnya sepi dan rindang.


"Tadi ada yang bilang ke aku, kamu itu...putra dari Ketua Yayasan First. Apa benar?" Aku bertanya dengan ragu.


"Iya...ada masalah?"


"Jadi kamu manfaatkan posisi kamu untuk masukkan aku ke First?"


"Bukan memanfaatkan tapi...aku berupaya untuk..."


"Sama saja Alan...kamu manfaatkan posisiku kamu padahal itu menyalahi aturan. Harusnya aku tidak bisa masuk tapi kamu gunakan posisi kamu untuk masukkan aku kesana. Bukannya itu curang?"


"Ya nggak dong.... Aku bantu kamu dapetin beasiswa karena memang kamu pantas"


"Pantas apanya. Lihat deh satu kelas aja gak bisa aku kalahin. Aku gak bisa lo jadi kandidat olimpiade. Aku kalah. Itu artinya aku gak pantes"


"Ha? Kamu kalah? Kok bisa?"


"Udah jangan keluar jalur. Pembahasan kita ada pada kamu menyalahgunakan posisi kamu sebagai anak pemilik sekolah untuk memasukkan temannya ke sekolah itu dan itu menyalahi aturan"


"Oke oke...aku akui aku salah. Aku minta maaf, sekarang kamu kerja, ini udah telat"


Alanta membalikkan badanku dan mendorong pelan. Tapi kemudian aku menampik. Aku kembali berbalik badan ke arahnya dan masih memandangnya dengan pandangan kecewa.


"Gak sesederhana itu dong Alanta..."


"Aku kan udah minta maaf Rosa"


"Aku sekarang serba gak enak Alan. Orang akan berpikir kalau aku memanfaatkan kamu, meskipun kamu sukarela melakukannya"


"Kenapa kau mesti memikirkan pandangan orang? Apa uang orang tahu tentang kamu? Gak ada ngaruhnya di hidup kamu. Lagipula Rosa, aku gak akan menyalahi aturan kalau kamu nurut dari awal"


Aku tidak bisa menjawab. Dia pun benar. Andai saja aku tidak mengulur waktu dari awal, dia tidak akan melanggar aturan. Tapi kenapa? Aku tidak minta dia membantuku. Aku tidak menghendaki masuk ke First dari awal. Aku hanya ingin fokus kerja. Kemudian dia datang untuk mendorongku agar mau bersekolah lagi.


Aku terdiam. Aku termenung.


***