
Hari ketiga di Bintang Harapan.
"Anak-anak, Adi masuk nggak?" Tanya Guru di depan pintu.
"Masuk Bu!!" Jawab salah seorang murid.
"Ada apa Bu?" Yang bernama Adi kemudian mendekat pada guru.
"Di, kipas kantor macet lagi, kamu bisa benerin gak?"
"Oke Bu saya coba"
Adi yang masih SMA memperbaiki kipas angin? Aku tak habis pikir. Darimana dia memperoleh keterampilan itu.
"Adi itu anaknya tukang servis. Servis kulkas, kipas angin, kompor, mesin cuci, apa aja. Si Adi itu sudah belajar servis dari SMP" Kata siswi di sampingku yang tampaknya merasakan kebingunganku.
"Mau cobain gak, gratis untuk hari ini, besok udah bayar ya. Gak mahal dua ribuan aja kok" Seorang siswi datang membawa kotak besar berisi kue.
Anak-anak yang lain mengerubungi kue itu. Mereka antusias untuk melihat apa saja yang ada di dalam kotak besar itu. Suasana riuh kembali mengisi kelas ini. Beberapa jenis kue ada di dalam kotak itu. Masing-masing mencicipi. Hanya aku yang duduk manis melihat pemandangan yang sama sekali berbeda.
"Nih, cobain, kasih penilaian ke Eni, mumpung gratis" Seorang siswi memberikan satu kue padaku. Tampaknya dia berpikir bahwa aku masih malu untuk ikut mengerubungi anak yang bernama Eni itu.
Kue berbentuk segitiga seperti pizza. Ada toping sosis dan keju di atasnya. Lengkap dnegan mayones. Rasanya enak. Tidak kalah dengan pizza yang ada di Pandan Resto. Di sini dijual dua ribu perak, di Pandan Resto dibandrol dua puluh ribu rupiah. Perbedaan yang sangat jauh.
"Ah niii tanya anak baru niii...gimana enak gak?" Anak yang bernama Eni.
"Hmmm enak banget.... Ini beneran kalo dijual dua ribuan?" Tanyaku sambil mengunyah.
"Emang kalo menurut lo laku berapa?"
"Di tempat aku sih dua puluh ribu"
"Hahaha.... Waduh, di sini kalo dijual segitu kagak ada yang beli coy" Kelakar Eni.
Benar juga. Lingkungan di sekolah ini sangat berbeda dengan kehidupanku dulu. Pizza mini dengan harga dua ribu sudah balik modal. Di Pandan resto dijual dengan harga dua puluh ribu per potong dan masih saja laku. Jika pembeli melihat harga di sini, akankah mereka mau memborong pizza milik Eni?
Bu Guru masuk ke dalam kelas membuat semua murid yang berisik kembali ke bangku masing-masing. Sebelum memulai pelajaran, Bu Guru berdiri di depan tempat di salah satu bangku siswa. Raut mukanya menunjukkan sebuah kesedihan, penyesalan, menyayangkan sesuatu atau semacamnya. Sesekali beliau mengelap kacamatanya.
"Anak-anak....hari ini ibu mendengar kabar tidak enak" Kata Guru mengawali.
Kami semua menunggu lanjutannya.
"Anisa, sudah dua minggu tidak masuk. Ternyata.....kemarin sore dia menikah"
"Ha???" Beberapa Siswi tampak terkejut.
"Ibu harap ini kali terakhir ada siswi yang menikah sebelum lulus sekolah" Kata Guru dengan nada kecewa.
Hamil di luar nikah. Pasti itu yang terjadi. Sekolah ini bukan hanya fasilitasnya yang kurang, ketertibannya kurang, minim prestasi, tapi juga minim attitude. Buktinya ada siswi uang menikah di usia yang sangat belia, jika tidak karena hamil di luar nikah, rasanya tidak mungkin.
"Baik, mari kita mulai pelajaran hari ini"
Belum selesai Guru berkata, ada suara telepon dari tas beliau. Dengan terpaksa beliau mengangkat telepon sambil keluar kelas. Dan saat itulah, siswi yang duduk di belakangku menangis sesenggukan. Namanya Bella.
"Bel...kenapa Bel? Kamu sakit?" Kata siswi di sampingnya.
Bella menggeleng.
"Ini semua salahku, Anisa menikah karena aku" Katanya sesenggukan.
"Waktu itu dia curhat ke aku, dia gak bisa masak, gak bisa jahit, gak bisa komputer, gak bisa jualan, trus aku bilang aja ke dia, lu nikah sana sama juragan empang, lu kagak punya keterampilan. Lu gak bisa kerja. Nikah aja ama orang kaya. Akhirnya dia nikah beneran" Jawab Bella.
"Bel, dengerin ya, belum tentu dia nikah karena kepancing omongan kamu. Bisa aja emang orang tuanya maunya dia nikah dini" Aku mencoba menenangkan.
"Aku gak sedih karena dia nikah padahal belum lulus sekolah..."
"La trus?"
"Aku sedih, harusnya aku yang nikah sama tuh juragan empang. Huhuhu...."
Aku menyeringai. Bagaimana bisa seorang remaja berpikiran begitu. Banyak remaja yabg takut dinikahkan oleh orang tuanya. Ini justru kepengen bahkan iri melihat temannya menikah pada saat masih kelas 2 SMA.
Teman sebangkuku memahami bagaimana pemikiranku mendengar jawaban Bella itu
"Sorry ya Ros, Bella emang gitu. Cita-cita nikah sama orang kaya. Maka begitu ada temen yang nikah duluan, apalagi sama orang yang duitnya banyak, dia kayak gitu" Katanya.
Aku tersenyum.
"Beda banget ya sama sekolah kamu dulu?" Dia bertanya lagi.
"Oh nggak....eh...iya .gak papa kok cuma kaget aja"
Bel istirahat berbunyi. Seperti yang telah kuceritakan di awal, anak-anak di sekolah ini jarang ke kantin. Rata-rata membawa bekal dari rumah. Seorang siswi yang duduk di bangku paling belakang mendekatiku.
"Ros, aku perhatikan kamu gak pernah bawa bekal. Belum mateng ya?" Tanya siswi itu.
"Eh...iya, aku..gak bisa masak cepet" Jawabku.
"Lah, Nyak lu kagak masak?" Tanya dia lagi.
"Ehm, aku nggak tinggal sama orang tua.aku tinggal di kost" Jawabku.
"Oh, begitu. Ya udah makan sama aku mau? Ini nasi goreng bikinan Babe gue, enak deh cobain" Katanya.
"Hm...gitu ya. Yang ditawarin cuma anak baru!!" Sahut Bella.
"Ya elah, lu idah sering gue kasih gratisan. Nih anak baru belum pernah nyobain" Jawab siswi itu.
Begitulah, aku mencoba beberapa sendok nasi goreng milik anak itu. Dan memang benar. Nasi gorengnya enak, bumbunya pas dan ditambah toping bawang goreng yang crispy. Aku salut dengan semua anak di sini. Mereka memiliki orang tua dengan beragam keahlian masing-masing. Keterampilan yang dimiliki para wali murid tidak diragukan lagi. Hanya saja keterampilan itu tidak terjamah para investor. Jika saja para pengusaha tahu di sini ada sumber daya potensial, tentu akan direkrut, dan produk yang dihasilkan menjadi mahal dari dua ribuan menjadi dua puluh ribuan.
"Eh..eh..gaesss dengerin deh...aku mau cerita" Eni, si penjual pizza sekonyong-konyong masuk ke dalam kelas dengan nafas terengah-engah.
"Apaan sih" Sahut seorang siswa.
"Yang cowok gak usah denger gak papa. Yang cewek wajib denger" Lanjutnya.
"Iya apaan?" Tanya seorang siswi yang duduk di bangku paling depan.
"Tapi aku habis dari toilet, ada anak baru. Ganteng banget!!!" Eni mulai ginjal-ginjal.
"Sekelas sama kita?" Tanya Bella.
"Nah itu, sayangnya enggak. Dia udah kelas tiga" Jawab Eni.
Kupikir ada apa, ternyata hanya masalah cowok. Saat aku akan masuk ke sekolah ini, mungkin mereka juga seperti itu. Mungkin anak cowoknya yang ginjal-ginjal seperti Eni tadi. Yah, begitu banyak pengalaman baru yang kudapat dari sekolah ini. Peristiwa yang jarang terjadi di First.
***