
Brakk...
Mama menutup pintu kamar Papa dengan keras. Dia melihatku dnegan tatapan sinis. Lalu dia berlalu menuju kamarnya sendiri. Apakah mereka baru saja bertengkar? Dan dari balik korden ruang tengah, Monica keluar dengan ekspresi takut. Aku segera menghampirinya dan memeluknya untuk menenangkan hatinya. Dia mulai menangis di pelukanku.
"Monica mau main hape?" Tanyaku padanya.
Dia mengangguk "main ular" Katanya.
Kuserahkan hapeku padanya agar dia terhibur. Lalu aku masuk ke kamar Papa. Kulihat dia duduk di atas kursi rodanya sambil memandang jauh ke jendela. Dia diam terpaku di sana.
"Papa" Panggilku lirih.
Papa terlihat sedang menghapus air matanya dengan lengan kanannya. Suaranya pun tampak serak-serak basah. Aku mendekatinya. Memeluknya dari belakang. Papa tidak mengatakan apa-apa. Dia sedang menata lisannya agar mampu berbicara dengan tenang tanpa ada bekas tangisan sedikitpun. Tapi aku tahu dia baru saja menangis.
"Pa...akhir-akhir ini Mama pulang larut malam Pa... Dia bahkan tidak istirahat siang. Tiap pulang juga mesti bawakan persediaan isi kulkas. Mama benar-benar bekerja banting tulang" Aku berusaha mencairkan suasana.
"Hmmmm ya" Papa hanya berkomentar begitu.
"Kita harus paham, dia begitu lelah bekerja Pa"
Kali ini Papa diam.
"Papa jangan terlalu mengambil hati...jika Mama mungkin mengucapkan kalimat yang nyakitin Papa...Mama hanya capek Pa..."
"Ya.....Papa akan berusaha"
"Yang pasti, dia lakukan ini demi keluarga kita ...demi Papa...."
Papa kembali menitikkan air matanya. Sebagai seorang laki-laki tentu harag dirinya tercoreng ketika harus pihak istri yang bekerja. Tapi bagaimanapun ini adalah bukti cinta seorang istri pada suaminya. Jika tidak ada lagi rasa cinta, Mama pasti audah meninggalkan Papa sejak lama. Kemarin dia sempat menghilang, dan kini kembali. Berarti dia menyadari cintanya pada suaminya. Aku yakin itu.
"Maaf...Papa....belum bisa membahagiakan keluarga Papa" Katanya terbata-bata.
"Papa sudah berusaha...semua ini bukan kemauan Papa....Tuhan sedang menguji kesabaran kita"
Semua yang kukatakan sungguh hanya menghibur Papa. Aku pun merasakan perubahan drastis dalam diri Mama. Setiap malam dia pulang larut. Yang kukatakan dia selalu membawa isi kulkas, aku berbohong. Yang benar, semua kebutuhan dapur aku yang beli. Mama hanya kadang-kadang saja memberi uang belanja. Dia bahkan tidak terlalu peduli dengan Monica sebagai anak kandungnya. Entah apa yang dia lakukan di luar sana. Apakah dia benar-benar bekerja atau hanya sebagai kedok. Jika dia tidak bekerja, lalu apa yang dia lakukan. Dan jika dia bekerja, kenapa kami tidak menikmati hasilnya.
Greek ..klonteng... pagar depan rumah kembali terbuka. Mama pulang, seperti biasa dia pulang larut. Tapi kali ini cukup keterlaluan. Dia pulang sekitar jam dua malam. Apa yang dia lakukan. Pikiranku tak karuan. Benarkah dia bekerja sebagai model, atau justru sebagai kupu-kupu malam?
Aku segera turun menyambutnya. Lampu di ruang tamu masih padam saat aku sampai di sana. Belum sempat aku menyalakan lampu, Mama sudah masuk karena dia juga membawa kunci rumah. Tak seperti biasa, Mama berjalan sempoyongan. Apakah dia sakit? Sesekali dia menyibakkan rambutnya yang merumpun di wajahnya. Mama menyalakan lampu saat aku masih memperhatikan langkahnya. Dan begitu lampu menyala, Mama terkejut melihatku ada di sana.
"Hah!! Rosa!! Ngapain kamu di sini? Belum tidur kamu?" Tanya Mama.
"Rosa nggak bis tidur Ma, Rosa nungguin Mama..."
"Oh ya, ini uang belanja...dicukup-cukupin. cari duit susah" Setelah bicara begitu barulah dia berlalu ke kamarnya tanpa menanyakan di mana putri kesayangannya.
Brakkkk ada suara benda jatuh dari dalam kamar Mama. Aku segera berlari menuju arah suara. Benar saja. Sebuah gantungan baju terjatuh karena mungkin Mama menyenggolnya. Bukan itu yang mengejutkanku. Yang membuatku terkejut adalah tubuh Mama yang ikut terjatuh di tepi kasur. Tubuhnya bersandar pada ranjang. Aku segera menolongnya. Uh, ada bau yang menyeruak dari dalam mulutnya. Bau apa itu?. Itukah yang namanya alkohol? Apakah Mama mabuk sehingga dia berjalan tidak normal? Mama mabuk?
***
"Suara apa tadi malam Ros? Mama pulang jam berapa?" Tiba-tiba saja Papa bertanya seperti ini saat aku membantunya ganti baju atasan.
"Tikus Pa... Nabrak tiang baju dari kamar Mama" Aku mencoba menjawab sewajar mungkin dan setenang mungkin agar Papa tidak curiga. Saat ini aku harus benar-benar menjaga hati Papa. Jangan sampai dia berpikir keras, jangan sampai juga dia bersedih. Karena itu akan melemahkan tubuhnya.
"Mama belum bangun?"
"Belum Pa. Kecapekan mungkin"
"Pasti pulang larut lagi ya"
"Pekerjaannya banyak Pa. Gak di sekitar sini saja. Tapi pindah-pindah. Makanya sampai larut"
Papa terdiam. Aku tahu dia tidak seratus persen percaya omonganku. Tapi aku tak peduli itu. Aku berharap dia berpikir dan kemudian memilih mempercayaiku.
"Ros!! Ada air panas gak? Buatin kopi dong" Suara Mama dari luar.
Aku segera keluar memenuhi permintaannya. Semalam dia memberikan uang belanja yang lebih banyak dari sebelumnya. Uang itu akan kugunakan untuk biaya terapi Papa. Jadi hari ini, aku tidka ingin berdebat dengan Mama. Aku hanya perlu membuatkannya kopi hitam panas dengan sedikit cremer.
"Gak malu kamu nyuruh anak kecil buatin kopi? Seharusnya kamu uang ngurus dia bukan sebaliknya" Kata Papa tiba-tiba.
Tak kusangka saat aku keluar untuk membuatkan kopi Mama, Papa justru keluar untuk membelaku. Mendengar kalimat Papa, tentu saja Mama marah.
"Ngomong apa barusan kamu Mas? Malu? Kamu sendiri gimana? Gak malu numpang hidup sama perempuan? Gak malu terus-terusan duduk di kursi roda sambil perintah ini dan itu?" Sahut Mama.
"Kamu nggak berubah Rin.... "
"Bukankah kamu sendiri yang bilang. Keluarga kita harus saling bantu. Wajar dong, aku yang kerja, Rosa yang beresin rumah, kamu tugasnya apa? Makan tidur aja bangga"
Tentu saja darah Papa mendidih mendengar ucapan Mama. Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan? Mereka pasti akan bertengkar lagi. Ayolah, sepagi ini? Pikirkanlah tentang Monica.
"Trus mau kamu apa??!!!" Papa meninggikan suaranya.
"Mau aku?? Kamu tanya mau aku??? Ada dua pilihan... Kamu ceraikan aku, atau kamu keluar dari rumah ini bersama Rosa!!"
Rasanya seperti tersengat listrik. Seluruh tubuhku bergetar. Mama mengucapkan kata cerai. Mama akhirnya meminta satu hal yang paling buruk dalam pernikahan mereka. Apakah semua ini karena aku? Apakah aku penyebab mereka seperti ini. Sungguh aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika memang semua bersumber dariku. Aku lemas. Aku tersungkur di dapur. Aku merasa memikul beban yang amat berat sampai tubuhku tak sanggup menahannya. Oh Mama, Papa, pikirkanlah setidaknya untuk Monica.