
Malam begitu pekat meski rembulan bersinar cukup terang. Kurasa pohon-pohon yang menjulang tinggi menutupi sinarnya. Jalanan menjadi terang bukan karena rembulan, tapi cahaya lampo mobil jip yang tengah mengejarku dari kejauhan.
"Tolooong...." Aku tahu kemungkinan besar tidak ada yang mendengarku, tapi biarlah aku berusaha.
Ah, aku tersungkur seperti sedang didorong oleh seseorang, tapi tak ada siapapun kecuali mobil jip yang suaranya sudah tak karuan sedang mengejarku. Aneh, mobil itu sudah berasap dan seperti hampir mogok, tapi masih bisa mengejarku meski lambat. Mobil itu semakin dekat. Bahkan cahaya lampunya menyilaukan mataku.
"Kena juga!!" Suara Jacob yang diikuti dengan suara pintu dibanting.
Dari arah sepuluh meter kira-kira dia berjalan mendekatiku dengan langkah penuh kemenangan. Sementara aku masih berada di atas tanah karena tersungkur. Bahkan aku bisa merasakan sikut yang perih karena berbenturan dengan aspal.
"Ayo..." Jacob menyeret tanganku sehingga memaksa tubuhku untuk berdiri meski sakit.
Dia begitu kasar. Tampaknya benar dia sangat marah karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaannya. Terlebih karena aku berusaha melarikan diri.
"Om sakit Om...jangan Om .." Aku mengeluh.
Tapi dia sengaja tidak mendengarkan ucapanku. Dia tetap menggelandang tanganku dan memaksaku masuk dalam mobil. Jrett...pintu ditutup dengan keras. Jadilah aku terkurung kembali di dalam mobil jip.
Tampak Jacob sedang menelepon seseorang. Tak lama kemudian ada batu melayang tepat di depan mobil. Tidak begitu besar, kira-kira sekepal tangan. Tentu saja Jacob terkejut. Ia mengambil batu itu dan matanya menyapu ke segala arah. Pluk. Satu batu lagi terlempar. Ada orang lain di sekitar sini aku yakin. Di saat Jacob sedang celingak celinguk mencari arah batu itu, aku sesegera mungkin meloncat keluar dari mobil. Jacob tidak menyadari, ia sibuk mencari pelaku si pelempar batu.
Kemudian dari arah depan muncullah motor melaju kencang. Motor itu melewati kami sambil melempar batu.
"Kurang ajar!!" Begitu suara yang kudengar dari mulut Jacob.
Motor itu berputar kembali dan berhenti tepat di depanku. Saat itu Jacob sedang mengambil sesuatu di mobil, kurasa senjata tajam.
"Ayo!!" Kata si pengendara motor.
Aku masih melihat siapa pengendara itu. Aku pernah melihatnya tapi aku lipa siapa dia.
"Cepat!!" Katanya mengulangi
Aku segera naik ke atas motor dan motor segera melaju lebih kencang lagi. Beberapa kali kudengar Jacob menembakkan senjata tajam. Aku sungguh takut saat itu. Bagaimana jika aku tertembak? Beberapa kali pula aku menunduk seperti adegan yang kulihat di televisi.
Jacob tentu saja tidak tinggal diam. Ia mengejarku dengan mobil jip yang sudah ringsek mesinnya itu. Motor yang kunaiki melaju lebih kencang dari mobil jip. Dan secara tiba-tiba motor itu berhenti mendadak. Dua motor dan dua orang sudah menunggu di depan. Aku turun tanpa diperintah.
"Segera cabut, kita dikejar" Kata orang yang memboncengku.
Cowok di depan kami membuka helmnya. Dia tersenyum. Alanta. Oh aku lemas. Dia hampir saja terlambat. Ah aku baru ingat mereka adalah teman-teman Alanta yang dulu pernah menolongku pada peristiwa serupa.
"Lo berdua cabut, gue yang hadepin" Kata Alanta.
"Lan...serius? Ni cewek lu!" Kata temannya yang memboncengku.
"Gak papa, lu bawa cewek gue pergi biar aman, gue akan buat perhitungan sama orang-orang itu"
Suara mobil ringsek yang ditumpangi Jacob terdengar mendekat. Tidak ada waktu untuk berdebat, teman Alanta menyuruhku untuk segera naik. Aku naik begitu saja meski hatiku bimbang. Motor melaju meninggalkan Alanta sendirian. Sekian menit berjalan barulah aku sadar. Aku meninggalkan seseorang dalam bahaya. Apalagi setelah menolongku. Kenapa dia tidak ikut pergi bersama? Apa yang ada di pikirannya? Jika saja kami kabur bersama semua akan aman bukan? Dasar gila.
"Stop...stop...berhenti!! Kita harus balik!" Kataku.
"Lu gila ya? Gak denger tadi Alanta ngomong apa? Kita harus cari aman" Kata teman Alanta.
"Gak bisa. Lu tega biarin temen lu dalam bahaya?" Kilahku.
"Kalo Alanta udah mutusin berarti dia udah perhitungkan resikonya. Ayok, naik" Katanya.
"Siapa yang bisa prediksi dia selamat atau nggak? Dia sendirian lo. Ngadepin Jacob yang notabene nya mafia. Kita balik. Yuk!" Ajakku.
"Kalau kita balik sia-sia dong isaha kita buat selametin lu. Lagian polisi sedang menuju ke sana!"
"Rosa...Rosa... Bahaya Ros! Alanta bisa marah nanti!" Katak keduanya bersahutan.
Aku tak peduli aku terus berjalan menembus kegelapan seperti tidak takut mati padahal dengan gelapnya malam saja sudah membuatku bergidik.
"Oke. Naik" Kata teman Alanta akhirnya.
Motor melaju kembali ke lokasi awal di mana Alanta berhenti untuk membuat perhitungan dengan Jacob. Cukup jauh jaraknya karena motor melaju sangat kencang. Ketika kami sampai di lokasi sudah tidak sama seperti tadi. Benar kata teman Alanta, polisi sudah berdatangan. Dua mobil polisi, beberapa motor gede polisi dan satu mobil medis. Kapan mereka sampai, aku bahkan tidak melewati iring-iringan polisi sama sekali.
"Alanta!!!....Alanta!!!" Aku berteriak mencari keberadaan Alanta.
"Maaf jangan melampaui batas..berbahaya" Kata seorang polisi.
Tak lama kemudian atas perintah polisi itu, seorang polwan berlari ke arahku dan mencegahku melewati batas yang dibuat oleh polisi.
"Teman saya di mana Bu? Tadi dia di sini...ya ..di sini kira-kira. Itu...itu motornya" Kutunjuk motor yang di pakai Alanta yang terparkir tak jauh dari posisiku.
"Tenang dulu polisi sedang mengejar mereka. Mereka masuk ke dalam jurang. Polisi sedang mengepungnya" Jawab Polwan.
"Sial. Kenapa tadi gak ikut kabur aja sih" Kata salah satu teman Alanta.
Aku terduduk lemas. Alanta sedang bergelut dengan seorang mafia di dalam jurang sana. Meski polisi sudah bertindak tapi siapa yang menjamin Alanta akan kembali dengan selamat. Bodohnya aku. Seharusnya aku mencegah dia mencegat Jacob. Dia bahkan tidak tahu siapa yang ia hadapi.
Aku duduk lesu ditemani polwan dan dua teman Alanta yang sedari tadi membantu Alanta. Mulutku tak hentinya merapalkan doa sebisaku. Seorang polisi datang menghampiri kami.
"Siapa tadi yang melapor?" Tanya polisi.
"Alanta Pak, yang sedang turun ke jurang"
"Hape siapa ini?"
"Saya Pak" Ujarku.
"Ditemukan di sekitar sini"
Aku masih tidak habis pikir. Bukankah hapeku awalnya ada di mobil yang membawaku. Apakah mereka kemudian membuangnya atau bagaimana. Yang jelas hape itu ditemukan di semak-semak daerah sini. Dan sekarang hape itu pecah sebagian. Fix sudah tidak bisa digunakan. Jadi mungkin Alanta melacak keberadaanku dari hape ini. Maka dia cepat tahu posisiku di sekitar sini.
"Bagaimana dengan teman kami?" Aku bertanya penuh harap.
"Masih kami cari"
Lemas dadaku mendengar jawaban itu.
"Apa saudara tahu siapa pelaku tersebut?" Tanya polisi.
"Jacob"
"Saudara mengenalnya sebelumnya?"
"Tidak kenal, hanya aku tahu dia mafia. Pelaku dibalik kasus yang pernah menimpa saya sebelumnya. Nama saya Rosa. Bapak bisa cek identitas saya"
"Baik"
Cukup lama kami menunggu akhirnya polisi kembali. Aku segera berdiri dan mendekat memastikan Alanta kembali dengan selamat.
***