My Name Is Rose

My Name Is Rose
Telepon dari Tanah Air



"Da...darimana kamu tahu aku...di...."


"Kamu tidak di Singapore...kamu pergi ke belahan dunia yang lain" Suaranya bergetar. Tampak ia sedang menahan sesuatu. Menahan segala gejolak dari dalam dadanya yang tak mampu ia keluarkan. Ia menahan perasaan campur aduk yang tak mampu ia tampakkan sewaktu-waktu. Suaranya bergetar. Suara seseorang yang kecewa.


"A...aku....aku minta....maaf" Aku pun tak mampu berbicara lancar.


"Kok bisa sih Ros..." Kudengar suaranya bergetar seperti sedang menahan tangis. Ah, kurasa dia sudah menangis.


"A...aku...aku..."


"Kamu gak papa? Gak ada yang terluka? Aku dengar beritanya. Aku ngikutin. Kamu aman?"


Aku tidak bisa menahan lagi. Aku menangis meski tanpa suara. Kurasa diapun begitu. Jadi berita tentang mahasiswa yang terlibat dalam peristiwa pembunuhan di Jerman itu sampai ke telingannya.


"Kamu baik-baik saja kan?" Dia mengulangi.


"I....iya"


"Aku tidak akan bertanya kenapa kamu bohong padaku. Mendengar berita bahwa kamu aman sudah membuatku lebih baik sekarang"


"Alanta"


Bagaimana aku bisa melupakan orang setulus itu? Katakan, adakah cara yang paling tepat untuk melupakannya? Jika memang ada, katakan.


Hatiku bergetar menutup telepon darinya. Rasanya seluruh tubuhku mendadak hangat dan darahku seakan mendidih. Meski hanya beberapa menit rasanya mampu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. Seolah aku memiliki harapan baru. Seakan-akan harapan itu masih ada. Aku berharap masih memiliki kesempatan bersamanya kembali entah bagaimana jalannya.


***


Seminggu setelah pemakaman Rebecca, semua tampak tidak biasa lagi. Kamarku dipindah atas saran psikolog rumah sakit. Trauma berat pasti akan menimpaku lebih lama jika aku masih di kamar yang lama. Kamar itu sekarang dikosongkan sampai waktu yang belum ditentukan oleh pihak pengelola. Aku tinggal sendiri. Kudengar Claire menjalani terapi dengan status sebagai tahanan. Bagaimanapun ia telah bersalah, maka ia harus menjalani hukuman.


Namun berita tentang Claire hilang lebih cepat tertimpa oleh berita bencana di belahan Jerman lainnya. Tentu saja, karena keluarga Claire orang terpandang. Mereka tak mungkin tinggal diam dengan apa yang terjadi pada putrinya. Mereka mungkin membayar mahal stasiun televisi agar tidak menayangkan berita tentang anaknya. Bisa jadi.


Alanta menelepon kembali sebulan kemudian melalui kedutaan. Entah dengan hipnotis apa yang ia pakai, mau-maunya kedutaan menyampaikan telepon untukku. Yah, anak ketua yayasan pasti punya channel lah.


"Banyak ahal yang ingin aku ceritakan..." Katanya.


"Hm"


"Aku sudah bisa jalan. Lari pun aku sanggup. Tapi tak lebih dari lima belas menit"


"Bagus..."


Percayalah, aku tak mampu berkata-kata. Aku tidak ingin berbicara. Aku ingin mendengarkan dan terus mendengarkan. Itu sudah membuatku senang.


"Aku sudah lulus"


"Oya?"


"Tahu kenapa aku lulus lebih cepat?"


"Kenapa?"


"Aku bekerja keras, agar bisa cepat lulus, aku segera nyusul ke sana"


"Kemana?"


"Ke tempat kamu berada"


Aku diam. Aku berkaca-kaca. Tapi bagaimana dengan keluarganya. Apakah mungkin Bundanya menyetujui rencananya? Lalu bagaimana denganku? Apakah aku akan dipindahkan lagi? Atau mereka akan berusaha memisahkan lagi?


"Kamu masih berapa lama lagi?" Dia bertanya.


"Jalurku kedokteran, tentu lebih panjang perjalanannya"


"Bagus. Kamu tunggu aku di sana ya"


"Alan"


"Ya?"


"Kamu serius?"


Aku tersenyum.


Kami bercerita banyak hal. Tentang Rebecca, tentang Claire, tentang kesehatannya dan masih banyak lagi. Tak kurang dari dua jam aku mengobrol. Rasanya dua jam belum cukup untuk melepas kerinduan selama hampir lima tahun ini. Tapi aku harus ingat bahwa waktuku tak banyak. Aku sedang koas sekarang. Aku harus punya banyak persiapan untuk itu. Sama seperti Alanta, aku ingin cepat lulus.


***


"Hari ini nilai koas keluar, kamu sudah siap?" Tanya Panji suatu siang.


"Siap gak siap lah Kak" Jawabku.


Hari ini terakhir kami semua koas di rumah sakit ini, kecuali Panji. Ia bukan lagi koas, tapi residen. Ia melanjutkan pendidikan dokter spesialis bedah. Karena itu ia sekarang berstatus sebagai dokter residen di rumah sakit ini. Berkat lobian dari dia juga aku bisa koas di sini. Rumah sakit terdekat dari tempat tinggalku. Cukup lima belas menit waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke rumah sakit.


"Rosa Nirwasita" Panggil dokter.


Giliranku masuk ke ruang dokter pembimbing. Ini kali pertama aku masuk ke ruangan pribadinya. Ruangan ini simpel namun elegan. Hawa dingin yang menyembur dari AC seketika membangkitkan bulu kudukku. Aku gugup. Padahal hasil nilai koas bukanlah ketentuan hidup dan mati. Tak seperti hasil pemeriksaan laboratorium. Tapi tetap saja aku gugup.


"Saya salut, meskipun anda melewati banyak sekali cobaan, anda bisa menyelesaikan tugas anda. Namun, ada beberapa catatan dari saya. Silahkan dipelajari" Kata dosen pembimbing dalam bahasa Jerman


"Thank you Sir" Jawabku.


Terlalu ragu-ragu, kurang memaksimalkan waktu dan kurang tegas mengambil keputusan. Itu catatan dari dosen pembimbing. Tak apa. Aku masih harus banyak belajar lagi.


Saat aku keluar ruangan, Panji masih berdiri di sana. Kupikir dia sudah kembali bekerja, nyatanya dia masih menungguku. Tapi ah, tidak juga. Dia sedang memandang hapenya dengan dahi berkerut. Sepertinya terjadi sesuatu. Ia mungkin menerima kabar yang kurang enak.


"Kak....Kak Panji" Panggilku.


Rupanya panggilan dariku membuatnya terkejut. Ia lantas segera menutupi emosinya dengan senyum yang dibuat-buat.


"Ada apa sih? Ada sesuatu?" Aku iseng bertanya.


"Oh nggak. Biasa aja. Tugas dadakan" Jawabnya


Aku tahu tidak sesederhana itu. Tapi bisa jadi juga. Sekarang dia menempuh pendidikan spesialis, tentu sangat rumit tugas-tugasnya.


"Gimana gimana?" Tanya Panji.


"Aman. Alhamdulillah lulus"


"Oke Alhamdulillah. Oh, gimana kalo kita rayain ini?"


"Rayain gimana?"


"Kamu traktir aku, tapi aku yang tentuin tempatnya"


Traktir? Itu tak masalah. Tapi tentang tempat yang ia tentukan. Aku sanksi dia memilih tempat yang mahal. Seharusnya dia tahu bagaimana keuanganku. Huft.


"Emmm, oke" Jawabku akhirnya.


Oh, aku salah kira. Tempat yang dimaksud Panji adalah warung-warung kecil yang berlokasi dekat bendungan yang membendung aliran sungai Isar. Yah, kurasa uangku cukup untuk mentraktir dia di sini.


"Rumania Sharmale" Panji memesan makanan.


Alu belum pernah memakan itu. Aku bukan tipe anak yang suka mencoba kuliner. Mungkin sekarang aku harus mulai mencoba. Lima tahun di Jerman makanan tetap nasi, telur ceplok, sambel korek, ah aku tertawa sendiri dengan kehidupanku.


"Sebenarnya ..tadi itu ..bukan tugas sih" Katanya sambil menunggu pesanan jadi.


"Oh, trus?"


"Keluargaku memintaku untuk segera pulang ke Indonesia" Katanya dengan eskpresi sedikit kecewa.


"Tapi mereka tahu kan kalo Kakak lanjut ke spesialis?"


"Tahu sih, tapi..."


"Kenapa?"


Panji menerima makanan yang kami pesan. Oh ternyata Sharmale itu semacam sayur yabg diisi dengan daging dan bumbu. Kalau di Indonesia biasanya ada di restoran Jepang atau Korea. Kami melupakan pembahasan sebelumnya. Kami menikmati lezatnya sharmale khas Jerman, sambil mendengarkan alunan musik alami yang tercipta dari percikan sungai Isar.


***