
Lampu kerlap kerlip seakan-akan bintang yang terpasang rapi di seluruh area luar cafe ini. Para remaja berkumpul dengan dandanan tak biasa. Seakan akan ini pemilihan putri Indonesia. Karangan bunga dengan ucapan selamat pun berjajar di seluruh pagar.
"Ckckck...sumpah bagus banget" Komentar Dinda.
"Kamu kayak gak pernah ke pesta aja" Celutukku sambil tertawa.
"Emang enggak. Kalau nggak ada kamu nih, aku gak bakalan ke pesta kayak gini" Dinda berkata dengan polosnya.
"Oh ya? Kenapa?"
"Nggak ada temennya, udah gitu aja"
Ya ya aku mulai ingat, Dinda memang tidak pandai bergaul. Dia nyaris tak punya teman di sekolah. Jika saja aku tak masuk ke SMP Insan Mulia atau aku tak sekelas dengannya, dia akan tetap menjadi Dinda yang tak punya teman, yang selalu duduk paling belakang dan dengan nilai tertinggi tujuh koma nol.
Sebenarnya kami sama. Aku juga datang seorang diri di SMP itu. Aku beruntung bertemu Dinda yang dengan cepat mampu beradaptasi denganku, begitu pun sebaliknya. Kami duduk berdua mencicipi makanan menu cafe ini. Kami menikmatinya, sekaligus mendengarkan live music yang disiapkan untuk acara ini. Dan kabarnya live music ini akan dihadirkan setiap Sabtu dan Minggu, setidaknya begitu kata pembawa acara.
"Baik semuanya, terima kasih telah hadir malam ini dalam grand opening cafe Mbak Clara. Semoga cafe ini semakin sukses ke depannya ya" Begitu seorang pembawa acara memulai acara inti.
Kami berdua tidak begitu tertarik mendengarkan acara inti. Kami hanya menikmati malam ini bersama. Lebih tepatnya, numpang nongkrong gratis. Bagaimana tidak, kami tidak begitu akrab dengan anak-anak yang lain meskipun saling kenal. Tidak ada yang perlu kami lakukan bersama. Jadilah kami hanya berdua, ngobrol-ngobrol ringan, sambil cekikikan sendiri. Sementara master of ceremony sedang mengumumkan banyak hal yang tentunya berkaitan dengan keunggulan cafe ini.
Diam-diam mataku menyapu seluruh area. Alu ingin menemukan Rania meski dari kejauhan. Dengan melihatnya saja aku sudah senang. Aku pun tak ingin dia datang menghampiriku, karena mungkin justru akan menyakiti satu sama lain. Biarlah aku melihatnya dari sini saja.
"Ya, selamat malam semuanya" Suara Rania alias Clara.
Aku tertegun. Aku mendengar suaranya dari microfon. Dia menyapa seluruh undangan yang hadir malam ini. Tahukah dia, aku berada di antara para hadirin di sini.
"Baik sekarang akan jami umumkan pemenang grand prize kita malam ini ya" Sekarang berganti suara Nyonya Hamdani.
Kami masih tak peduli meskipun mendengar. Karena kami yakin, semua ini sudah disetting. Para pemenang sudah ditentukan dari awal. Sebab yang menang adalah mereka-mereka yang dekat dengan Clara. Jadi tidak akan mungkin salah satu dari kami mendapat doorprise arau semacamnya.
"4...5...0...2" Suara pembawa acara menyebutkan angka pemenang grand prize.
Seluruh hadirin dibuat bungkam demi melihat siapa yang maju ke depan untuk menerima hadiah utama.
"Kami ulangi ya..4..5...0...2"
Dan masih belum ada yang maju. Siapa yang tak mau menerima hadiah? Yang benar saja. Biar aku yang terima kalau anda tak mau. Sesekali aku berceloteh begitu dengan Dinda.Beberapa kali pembawa acara mengulang nomer itu namun tak ada yang maju untuk menerimanya.
"Em...jadi nomer ini yang punya undangan warna silver" Kata Mamanya Clara.
"Sita!!...Sita!!..." Nyonya Hamdani memanggilku.
Aku menoleh dan dia melambaikan tangannya padaku. Lambaian tangannya memintaku untuk naik ke atas panggung.
"Sini!!" Ulangnya.
Aku dan Dinda saling pandang. Mungkin dia bingung mengapa memanggilku dengan nama berbeda. Pada akhirnya aku memenuhi panggilan Nyonya Hamdani. Perlahan aku berjalan ke arah di mana Clara dan Mamanya berada.
"Kami dapat undangan silver lan? Coba di lihat siapa tahu itu nomer di undangan kamu" Kata Nyonya Hamdani begitu aku sampai padanya.
Kubuka perlahan undangan itu. Kubolak balik mencari di mana nomernya. Dan benar saja, di pojok sebelah kiri tertera nomer itu, 4502.
"Nah!! Itu dia, kamu menang grand prize!!" Kata Nyonya Hamdani.
Sontak pembawa acara berteriak mengumumkan pemenangnya dengan seru. Seketika music berbunyi menyambut hadiah yang didatangkan untukku. Suara riuh tepuk tangan penonton turut menambah ramainya situasi. Dua orang perempuan berseragam membawa hadiah untukku. Sebuah kotak yang masih dibalut kain merah. Saat dibuka isinya sebuah kotak kecil. Dan, sebuah handphone merk terbaru menjadi hadiah utama malam ini. Pasti banyak yang iri dengan apa yang kuterima ini.
"Clara, kamu yang kasihkan dong..ini kan event kamu" Bisik Nyonya Hamdani pada putrinya yang samar-samar kudengar.
Dengan langkah pelan ia menghampiriku dan memberikan hadiah itu padaku. Sesaat kami saling pandang. Meski hanya beberapa detik tapi mata kami saling berbicara. Aku tahu dia berada pada situasi tengah. Antara senang dan takut. Antara marah dan sayang. Antara rindu dan cemburu. Dia tak sepenuhnya ingin lepas dariku. Dia masih menyimpan rindu itu meski hanya secuil dari seluruh perasaannya.
"Terima kasih ya...Clara" Kataku dengan senyum yang tulus. Aku benar-benar berterima kasih padanya. Bukan hanya untuk hape itu, tapi juga untuk kerelaannya membiarkan aku datang di acara ini. Jika tidak, dia pasti sudah meminta satpam untuk mengusirku. Aku berterima kasih atas sorot matanya yang baik padaku. Aku berterima kasih atas kesediaannya memandangku meski hanya beberapa detik. Aku berterima kasih atas senyumnya meski berpura-pura.
"Selamat ya...Sita" Nyonya Hamdani memelukku. Aku masih belum paham mengapa dia baik padaku padahal aku bukan teman baik putrinya, aku juga tidak pernah terlihat bersama putrinya.
"By the way, jam tangan kamu bagus banget lo" Tiba-tiba saja Nyonya Hamdani membahas jam tangan yang kupakai.
"Oh ini brand Kevin Chow Tante, dari Jepang" Kataku dengan percaya diri.
"Oh iya, Tante hapal kalau itu. Ori kan ya?"
"Hehe insya Allah iya Tante"
Tentang jam tangan itu. Aku tidak membelinya, uang darimana aku?. Papa juga tidak berani membelikan semahal brand Kevin Chow. Semua orang tahu bagaimana reaksi Mama nantinya jika Papa memberikanku barang itu.
Jam tangan itu pemberian Papanya Dinda sewaktu berkunjung ke Jepang terkait bisnis. Jam tangan itu adalah ungkapan terima kasih karena aku membantu Dinda sehingga bisa mempunyai nilai di atas standar. Jan tangan itu pun kembar. Hanya berbeda warna sedikit. Aku dan Dinda memakainya bersama. Sama-sama basic black, namun punyaku ada motif warna pink keunguan, sedang punya Dinda motif warna dusty pink. Setidaknya dengan jam tangan itu sedikit terangkatlah martabatku malam ini.
***