
Rumah sakit.
"Berani banget si Kevin itu datang lagi?" Komentar Panji sewaktu kuceritakan tentang malam itu.
"Dan dia terang-terang nyari Claire Kak" Sahutku sambil mencuci tangan.
"Apa kita lapor polisi saja ya?" Usul Panji.
Seketika tanganku berhenti bergerak. Lapor polisi adalah solusi yang tepat. Orang semacam Kevin memang harus diamankan agar tidak meresahkan.
"Benar juga Kak" Jawabku.
Tetapi kemudian aku ingat, kala itu, Claire melarang keras lapor polisi bahkan saat dia babak belur karena dihajar habis-habisan oleh Kevin. Alasannya jelas, urusan akan semakin panjang. Masuk akal juga. Dengan melapor pada polisi maka dia harus bolak balik ke kantor polisi dan harus memberikan bukti yang valid, jika tidak ada bukti yang valid, maka pihak pelapor dianggap mencemarkan nama baik. Senjata makan tuan. Alasan tepat kedua adaah cinta. Cinta buta membuatnya tidak mampu menghukum kekasihnya.
"Em....nggak usah deh Kak" Kataku akhirnya padahal Panji sudah melepas mantel putihnya berencana akan berangkat ke kantor polisi terdekat.
"Kenapa?" Tentu saja Panji penasaran.
"Aku pikir ...itu bukan urusan kita dan...kurasa salah kalau kita bertindak tanpa persetujuan Clare" Jawabku.
"Claire tidak lapor polisi karena takut. Masak iya sebagai temannya kita diam saja? Apalagi dia sekamar dengan kamu, itu juga membahayakan kamu sendiri. Bagaimana jika Kevin datang mencoba melukai Claire dan secara kebetulan kamu ada di situ, dan kamu ikut jadi korban?"
Sejenak kupikir kekhawatirannya terlalu lebay. Tapi ada benarnya juga. Tapi kembali lagi, tidak tepat jika tidak ada persetujuan dari claire.
"Okelah...setidaknya lapor satpam di apartemen kamu ya" Kata Panji akhirnya.
***
Beberapa hari Claire tidak kembali ke kamar. Katanya dia masih menginap di rumah orang tuanya dan menikmati liburan beberapa harinya di sana. Aku lega karena dia berada di tempat yang aman. Tapi bagaimana dengan aku. Bagaimana jika Kevin mencari Claire dan karena tidak menemukan Claire, ia kesal lalu... Ah jantungku bergidik membayangkan hal mengerikan itu.
Pagi ini kuliah selesai lebih awal karena materi hampir selesai. Tapi bukan berati waktuku luang hari ini. Sebaliknya, materi yang tinggal sedikit menyisakan tugas seabrek. Ada beberapa tugas penelitian, ada beberapa lagi tentang kasus sebuah penyakit. Dan semuanya diberi waktu kirang dari seminggu. Maka aku berniat ke laboratorium besar di kampus untuk mencari laporan penelitian mahasiswa sebelumnya.
Langkahku terhenti ketika tahu Kevin bersandar di sebuah tiang sedang menyulut rokok. Dia pasti sedang menunggu Claire. Dia juga pasti tidak tahu bahwa Claire libur beberapa hari. Sebelum dia menyadari keberadaanku, aku seger berbalik arah dan hendak meninggalkan tempat mencari jalan lain.
"Hey....wait....wait...." Kudengar Kevin berteriak dan kurasa dia meneriakiku.
Aku terus berjalan bahkan kupercepat jalanku berpura-pura tidak mendengar dan berlagak jika yang diteriaki Kevin itu bukan aku.
"Hey....Rose!!" Kevin kembali berteriak.
Darimana dia tahu namaku? Sejauh itu dia mencari tahu tentang Claire dan orang-orang di sekitarnya.
"Maaf saya sedang sibuk" Kataku sambil berjalan cepat.
"Oke, sebentar saja" Bujuknya.
Lama-lama aku tidak enak dilihat orang, seakan Kevin adalah pacar yang sedang membujukku. Karena itu akupun berhenti.
"Kamu tahu dimana Claire?"
Sudah kuduga itu yang akan ia tanyakan. Aku kembali berjalan sebagai tanda penolakan dan Kevin kembali mencoba menahanku.
"Wait...wait...jadi...dia menghilang beberapa hari ini. Di rumah nggak ada, di apartemen pun tidak ada. Kami sekeluarga sedang bingung mencari dia" Kata Kevin.
"Sorry, saya tidak tahu dimana Claire. Dan saya peringatkan anda, jangan ganggu Claire lagi. Sudah cukup anda menyakiti Claire dan sekarang biarkan dia hidup dengan bebas. Putuskan dia" Kataku tegas.
Kevin tampak berkerut dahi. Sepertinya dia bingung dengan ucapanku atau masih mencerna kata-kataku.
"Anda seharusnya melindungi pacar anda bukan malah membuat dia babak belur. Saya sudah berencana akan melaporkan ini pada polisi atas tindak kekerasan yang anda lakukan pada Claire, pacar anda sendiri" Aku emosi, aku marah dengan lelaki yang pengecut seperti itu.
"Pacar?" Tanya Kevin.
Kenapa dia bertanya? Atau jangan-jangan dia berlagak amnesia dengan status itu.
"Wait...anda bilang Claire pacar saya?" Tanya Kevin lagi dan aku mengangguk.
"Oh, dia bilang begitu? Oh anda salah. Claire itu adik saya, dia sedang sakit dan dia harus menjalani terapi psikologis. Sudah satu bulan dia mangkir dari terapi malahan dia menghilang seperti ini. Anda mau bertanggung jawab?"
Aku shock mendengar penjelasan dari Kevin. Terapi psikologis yang artinya sedikit atau banyak Claire mengalami gangguan jiwa. Benarkah itu? Pantas saja dia menatapku setajam itu waktu masih belum saling mengenal. Tapi tunggu. Siapa yang benar dan siapa yang berbohong aku pun tidak tahu. Maka sebaiknya aku tidak percaya begitu saja.
"Baik, jika memang benar kalian bersaudara, kenapa anda pukul Claire sampai berdarah? Sampai lebam?" Aku bertanya dengan tegas.
"Anda sudah gila? Claire itu adik saya, mana mungkin saya tega memukul dia, ku bahkan tidak pernah berkata kasar sedikitpun sama dia. Aku sangat menyayangi Claire, jika tidak aku tidak akan mencari dia seperti ini"
Aku terdiam. Aku benar-benar buta. Aku tidak tahu yang mana yang harus kupercaya.
"Wait...anda bilang Claire berdarah? Lebam?" Tanya Kevin.
Aku mengangguk. Kevin kemudian menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Tampak ia merasa gagal dengan sesuatu.
"Kabari aku jika anda menemukan Claire" Kata Kevin sambil menuliskan sebuah nomor hape untukku.
Kuterima secarik kertas bertuliskan deretan angka itu dengan ragu-ragu. Dan setelah itu Kevin berlalu.
"Oh ya, saya tidak pernah melukai Claire, sebaliknya, dia yang selalu melukai dirinya sendiri, dan juga orang lain" Kata Kevin sebelum pergi.
Aku termenung. Hari ini adalah hari yang mencengangkan. Siapa sebenarnya yang aku lindungi itu. Apakah benar Claire seperti itu. Jika iya maka aku telah berbuat tidak adil pada Claire. Seharusnya doa berad di lingkungan yang aman. Aku justru menyembunyikan dia. Jika dia tidak di rumah orang tuanya lalu dimana?
Do tengah kebingunganku, hapeku berbunyi. Rebecca menghubungiku.
"Hai Re!" Sapaku.
"Hai Rose. Aku sudah di apartemen nih. Sudah masuk kamar pula" Katanya.
"Oh ya? Aku kangen banget lo. Eh tapi bagaimana kamu bisa masuk?"
"Teman kamu yang bukakan pintu. Selamat ya kamu dapat teman semanis dia" Kata Rebecca.
Claire ada di apartemen?
Saya tidak pernah melukai dia, sebaliknya dia melukai dirinya sendiri juga orang lain
Oh tidak.
***