
Kulihat Papa dipindahkan dari ruang ICCU. Menurtku masa kritisnya sudah terlewati. Syukurlah. Diam-diam aku mengikuti dari jauh supaya aku tahu di ruang mana Papa dipindahkan. Beberapa saat kemudian Mama keluar dengan membawa sejumlah berkas yang menurutku adalah hasil pemeriksaan. Saat itulah aku tak mau membuang waktu. Aku menyelinap ke dalam ruang dimana Papa dirawat. Di sana masih ada suster yang memasang ini itu.
"Suster, bagaimana Papa saya?" Tanyaku ragu-ragu.
"Oh, masa kritisnya sudah lewat, Papanya sudah sadar tapi sekarang masih tidur pulas, belum sadar sepenuhnya. Yang sabar ya, Papanya didoakan terus" Jelas Suster.
Mendengar penuturan suster aku sedikit lega. Setidaknya Papa masih tertolong. Masalah sembuh total hanya masalah waktu. Dengan perawatan yang baik Papa pasti cepat sembuh. Aku duduk di sampingnya. Kupegang tangannya. Ada beberapa luka di sana. Perawat sudah memberinya salep warna hijau. Kuperhatikan wajahnya yang tertutup rapat. Pahlawanku kini terluka. Dia bahkan tak bisa meronta.
"Rosa, ngapain kamu di sini? Minggir" Tiba-tiba saja Mama datang mengagetkanku. Dia tidak sendirian. Dia bersama keluarga besarnya. Ada Nenek, Kakek, dan perempuan yang sangat kukenal. Bulik Farida. Dia turut hadir di sini. Dan laki-laki kekar di sampingnya tentulah suaminya yang bekerja sebagai polisi.
Di saat mereka mengerumuni Papa, saat itulah Bulik Farida mengajakku keluar ruangan. Sudah lama sekali sejak kami meninggalkan rumah Nenek. Aku merindukannya. Kami hanya berjumpa beberapa hari namun pertemuan itu memberikan kesan yang luar biasa.
"Kamu nggak papa?" Tanya Bulik pertama kali.
Aku menggeleng.
"Bagaimana lukanya?"
"Dua jahitan Bulik"
"Makan yang cukup, istirahat yang cukup, jangan banyak mikir"
Aku mengangguk.
"Ini nomer telepon Bulik, hubungi Bulik kalau kamu butuh teman" Kata Bulik sambil menyodorkan selembar kertas kecil bertuliskan deretan angka. Mendapatkan nomer itu bagaikan mendapat angin segar untukku. Setidaknya suatu ketika kami masih memungkinkan untuk bertemu atau sekedar memberi kabar.
"Bulik ... Semua ini salahku...seandainya aku tidak meminta Om Har untuk datang ke sekolah, semua ini tidak akan terjadi" Kataku mengiba.
Sesedih-sedihnya aku, aku masih ingat bahwa Mama memperkenalkanku sebagai keponakannya kepada keluarga besarnya. Aku tidak ingin menambah keruwetan ini menjadi lebih rumit lagi.
"Memangnya ada urusan apa Om Har ke sekolah kamu?"
"Ambil rapor Bulik"
"Kalau begitu sudah menjadi tanggung jawabnya"
"Tapi..."
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Orang yang percaya Tuhan tidak akan pernah menyalahkan siapapun, meski itu dirinya sendiri. Belajar dari kesalahan boleh, tapi tidak dengan menyalahkan diri sendiri. Dirimu adalah bagian dari rencana Tuhan. Apa yang terjadi pada dirimu adalah bagian dari garis yang sudah Tuhan buat untukmu"
Angin berhembus serasa merontokkan semua gundah dan manik-manik kegelisahan yang mengganjal di benakku. Rasanya seperti sedang dibersihkan. Ringan. Ringan sekali pundakku ini. Seakan seluruh beban di pundakku diangkat semua.
Aku tidak menyangka hari ini akan bertemu dengannya lagi. Sosok yang teduh yang setiap kali memikirkannya membuat diriku seakan terlahir kembali. Berapa lama kah dia akan berada di sini? Aku ingin menghabiskan waktu dengannya.
"Kenapa anak itu masih ikut kamu? Dimana orang tuanya? Suruh mereka pulang. Kamu punya anak kecil. Kamu harus fokus sama anakmu. Biar dia diurus orang tuanya sendiri" Kudengar Nenek berkata demikian sewaktu aku hendak masuk ke ruangan Papa lagi.
Seolah mengerti perasaanku, Bulik kembali membawaku keluar ruangan.
"Kamu tahu, orang menjadi hancur, bukan karena perkataan orang lain. Tapi karena pikirannya sendiri. Apakah dia mempercayai omongan orang atau fokus dengan dirinya sendiri. Jika terlalu hanyut dalam omongan orang, maka kehancuran semakin dekat dengannya"
Kami sampai di ruanganku. Aku bersiap tidur di ranjang saat Bulik memintakan teh hangat untukku.
"Ada seorang ayah sedang bepergian dengan anaknya. Sang anak naik unta sedangkan ayahnya menuntun di bawahnya. Di tengah jalan ada orang yang berkomentar. Anak yang durhaka, masak ayahnya suruh nuntun unta, sementara anaknya enak enakan naik ke atas unta. Si ayah mikir, lalu sang anak diturunkan, si ayah naik ke atas unta agar terlihat sia anak menghormati ayahnya. Di tengah jalan ada lagi yang berkomentar. Bapak nggak tahu diri, masak anaknya suruh jalan kaki sementara dia malah enak naik unta. Sang ayah mikir lagi. Lalu karena bingung mereka berjalan keduanya. Ada saja yang berkomentar. Punya unta kok gak dinaikin, goblok banget. Lalu keduanya naik ke atas unta. Masih saja ada yang berkomentar. Kok nggak kasihan sama untanya. Unta sekecil itu dinaikin dua orang. Mereka berdua turun, dan memanggul si unta. Apakah semua beres? Tidak, justru ada yang berkomentar. Orang kok gobloknya gak ketulungan. Masak unta dipanggul. Artinya apa? Apapun yang kita lakukan akan selalu ada yang menganggap negatif. Menuruti omongan semua orang tidak akan mungkin cukup kita lakukan. Gak akan ada habisnya. Kita seharusnya lebih percaya dengan diri kita sendiri. Karena kita yang tahu apa yang kita butuhkan, bukan orang lain"
***
Kudengar Papa sudah membuka mata. Bahkan dia sudah bisa berkomunikasi dengan tamu yang menjenguk. Aku tahu kedatanganku tidak akan menjadikan suasana menjadi baik. Justru akan semakin kacau. Tapi anak mana yang tidak ingin melihat kondisi orang tuanya. Apalagi setelah tahu orang tuanya sudah membuka mata untuk pertama kali.
Aku memberanikan diri mengunjungi Papa. Biar saja. Aku sangat nekad. Tapi aku juga harus pandai-pandai melihat keadaan. Aku harus memastikan Mama keluar ruangan dan tidak kembali dalam waktu relatif lama. Aku memantau dari kejauhan. Di sana memang ada tamu. Aku akan menunggu sampai tamu itu pulang. Dan sampai Mama keluar ruangan.
Aku tidak sabar. Aku memutuskan untuk mengintip dari kejauhan. Aku berharap Papa memanggilku. Tidakkah ia merindukanku? Aku nekad mengintip dari kaca jendela. Ada sekita lima orang di dalam termasuk Mama. Aku baru tahu bahwa tamu yang mengunjungi Papa adalah atasannya, Pak Hamdani. Dan perempuan di sampingnya itu pastilah Nyonya Hamdani. Tapi di mana Clara? Apakah dia tidak ikut menjenguk Papa?
Di saat mataku menyapu seluruh ruangan, saat itulah tiba-tiba saja Nyonya Hamdani melihatku. Aku segera berbalik dan segera menyingkir. Kuharap dia tidak mengejarku. Kuharap dia berpikir sedang salah lihat. Kupercepat langkahku yang sedikit pincang karena sakit. Sampai suara itu memanggilku.
"Sita" Pasti itu Nyonya Hamdani karena hanya dia yang memanggilku begitu.
Aku tidak bisa mengelak lagi. Sudah terlambat.
"Oh tidak, Rosa" Nyonya Hamdani mengulangi.
Aku terkejut. Aku gugup. Pada akhirnya Nyonya Hamdani tahu siapa aku. Nyonya Hamdani menghampiriku. Dan sekarang kami benar-benar berhadapan. Nyonya Hamdani tersenyum padaku, dan...plakk!! Dia menamparku seenak maunya sendiri.
"Beraninya kamu menipu aku! Pertama kamu mengakui dirimu sebagai teman sekelas anak saya, padahal waktu itu kalian berbeda sekolah. Kedua, kamu mengakui namamu sebagai Sita, setelah kamu tahu aku tidak suka anakku berhubungan denganmu. Kenapa? Kenapa kamu mesti pindah sekolah di sekolahnya Clara?? Kamu ingin membongkar siapa Clara ha??"
Aku menggeleng kuat namun Nyonya Hamdani tak semudah itu percaya padaku.
"Dari awal saya sudah curiga waktu kalian ngobrol di depan sekolah. Kamu pikir saya diam saja. Kamu pikir untuk apa saya kasih hape itu ke kamu? Semua sudah saya rencanakan. Dan ternyata benar dugaan saya. Kamu adalah Rosa. Teman masa kecil anak saya"
Oh, jadi undangan silver itu, doorprize itu, sudah disetting sedemikian rupa hanya untuk menemukanku. Pantas saja, semua terjadi serba kebetulan.
"Jangan dekati anak saya, atau saya akan berbuat lebih dari ini. Jangan menghubungi anak saya lagi. Anggap kalian tidak pernah kenal. Jika sampai terbongkar masa lalu Clara. Kamu orang pertama yang akan menanggung akibatnya"
Seseorang memakai jaz hitam datang menghampiri Nyonya Hamdani dan membisikkan sesuatu.
"Baik, bilang sama suami saya, saya nunggu di depan" Kata Nyonya Hamdani sebelum pergi meninggalkanku.
Mataku mengekor ke arah Nyonya Hamdani pergi. Dai kulihat dia berhenti menemui seorang laki-laki. Aku terperangah karena laki-laki yang menemuinya pernah kulihat sebelumnya. Badannya kekar, kulitnya putih dan sedikit berewokan. Dia memakai kacamata hitam gelap. Aku berusaha mengingat sesuatu sebelum seseorang mengagetkanku.
"Rosa!!" Dinda tiba-tiba saja ada di depanku dan memelukku.
***