My Name Is Rose

My Name Is Rose
Rumah Alanta



Hari ini menjadi hari yang mendebarkan. Aku kini berada di depan gerbang rumah Alanta. Rumah yang layak kusebut istana. Rumah dengan pagar yang tinggi, gerbang yang rapi dan lantai atas yang setengah terlihat dari luar.


"Sudah siap?" Tanya Alanta.


Laki-laki yang membawaku kemari ini juga layak kusebut pangeran. Malam ini dia memakai jaz warna abu-abu namun masih terlihat mode remajanya. Dengan membawa mobil sendiri, serasa sempurna di mataku.


Aku mengangguk, dia kemudian menggenggam tanganku erat. Dia tahu aku gugup setengah mati. Tanganku dingin bak habis masuk ke freezer. Semakin dia tahu aku gugup, semakin dia menggenggam erat tanganku. Kami masuk ke gerbang bersama. Ada beberapa mobil terparkir di halaman. Apakah ini semua mobilnya?Masuk ke dalam rumah, kami disuguhkan oleh nuansa modern rumah ini. Lukisan, guci, bahkan foto keluarga terpampang dengan mewah.


Ada suara ramai di belakang. Siapa yang ada di sana. Seperti ada acara. Oh aku lupa, di sini sedang ada syukuran kecil-kecilan. Untuk itulah aku diundang ke rumah ini. Kami memasuki ruang tengah. Mereka tida di ruang tengah ini. Ruang tengah berisi sofa-sofa besar nuansa cokelat muda. Lengkap dengan televisi ukuran besar dan beberapa pernak pernik menghiasi ruangan. Di pojok ruangan ada etalase tinggi berisi piala-piala. Aku yakin itu milik cowok di sampingku ini.


Kami kemudian menuju ruang belakang melalui pintu samping. Di sanalah rupanya ada beberapa orang yang suaranya sampai di ruang tamu depan.


"Nah itu anaknya datang" Kata salah seorang yang aku belum kenal.


Bu Mariana kemudian menyambut kedatangan kami dan mempersilahkan kai bergabung. Kulihat sekeliling yang tampaknya orang-orang kaya semua. Satu diantaranya membuatku terkejut bahkan membuatku tak nyaman. Nyonya Hamdani. Oh, aku hampir melupakannya. Hubungan keluarga Alanta dengan Nyonya Hamdani memang dekat sejak lama. Jadi acara seperti ini tentu dihadiri pula olehnya.


"Ayo silahkan" Kata Bu Mariana.


Semua tamu menyalami Alanta dan bercipika cipiki dengannya.


"Selamat ulang tahun ya Alan!" Kata mereka.


Ulang tahun? Alanta ulang tahun? Bagaimana aku bisa lupa ulang tahun orang yang kuanggap spesial? Bagaimana aku bisa mengaku menjadi orang yang paling tahu tentang pacarku sampai hari ulang tahun saja aku tidak tahu. Jadi siapa aku ini?


Mereka menarik tangan Alanta untuk berbaur dengan mereka. Sementara aku, jika seorang asisten rumah tangga tidak mempersilahkanku untuk duduk, mungkin aku sudah kabur.


"Kadi spesial dari Tante untuk Alanta yang ganteng" Kata salah seorang yang aku tidak kenal.


"Alan maaf ya Om Gun belum bisa datang tapi dia nitip sesuatu buat kamu" Kata salah seorang yang lain.


"Tiket swiss Tante? Wah makasih banget ya Tante" Jawab Alanta.


"Hai...Alanta" Suara seorag perempuan yang familiar. Aku menoleh, dan ternyata benar, Clara. Dia hadir di sini.


"Selamat ulang tahun ya" Kata Clara. Sesekali dia melirikku untuk menunjukkan kedekatannya dengan Alanta. Aku hanya bisa memalingkan muka mencoba menutupi rasa sakitku.


Clara memberikan kado kecil. Alanta membukanya. Sebuah arloji mahal warna biru berkilau. Alanta melirikku. Aku tahu dia sedang memastikan aku baik-baik saja.


"Makasih ya" Jawab Alanta.


"Ya ampun serasi banget kalian ini..." Komentar salah seorang tamu untuk Alanta dan Clara.


"Ah Tante bisa aja" Jawab Clara malu-malu.


"Mohon doanya...mereka ini nanti yang kita gadang-gadang nerusin First" Kata Nyonya Hamdani.


Aku tidak kuat. Aku hendak beranjak pergi namun Alanta dengan sigap meraih tanganku. Dia memintaku untuk bersabar. Aku tahu itu. Baiklah. Aku akan bertahan demi dia.


"Eh...ini siapa?" Yang lain bertanya.


"Jeng...kenapa Alanta bawa cewek?" Bisik seorang tamu pada Bu Mariana.


"Oh saya yang undang, Alanta yang minta" Jawab Bu Mariana juga dengan berbisik.


Namun rupanya jawaban Alanta yang begitu tegas tidak terlalu diterima oleh para tamu. Mereka tampaknya berada di pihak Clara. Tentu saja.


"Eh Alan...Ayah tidak bisa pulang, tiketnya tercancel karena kesalahan sistem" Kata Bu Mariana.


"Its okay Bun, nggak papa. Kapan bisa pulang katanya?"


"Lusa mungkin"


"Oke"


"Oh mari ibu-ibu kita nikmati makan seadanya ya" Kata Bu Mariana.


Kami semua menikmati hidangan di meja. Aku duduk di samping Alanta. Sementara Bu Mariana berada di ujung, dan Nyonya Hamdani beserta Clara berada di samping Bu Mariana.


"Eh..Rosa...kamu tinggal di mana? Boleh dong kapan-kapan ganti kita main ke rumah kamu" Kata Nyonya Hamdani yang kuyakini adalah pertanyaan jebakan.


"Di perumahan candra kirana Tante...silahkan kalau Tante mau main" Jawabku tegas.


"Oh bukannya..rumah itu sudah dijual ya kemarin saya lewat sana" Sela Nyonya Hamdani.


"Oh ya, kok Tante tahu?"


Nyonya Hamdani terkejut terjebak oleh pertanyaannya sendiri. Ia pun menunduk dan menjawab seadanya.


"Eh...Rosa ini dulu teman sekelasku di First Ma...tapi nggak tahu kenapa dia akhirnya pindah sekolah" Kata Clara menutupi kesalahan Mamanya.


"Oh ya"


"Kenapa pindah? Gak sayang? Sulit lo masuk First" Komentar salah seorang tamu.


"Iya Tante soalnya saya..." Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku dicurangi untuk memukul mundur Clara dan Mamanya, tapi aku kemudian teringat bahwa Bu Mariana ada di tengah-tengah kami.


"Saya cari yang dekat dengan rumah Tante" Jawabku akhirnya.


"Rosa ini bukan asli Jakarta Tante...dia asli Kediri kan ya di kawasan stadion" Kata Clara.


Begitu mengatakan hal itu, aku meliriknya, aku tahu dia mengarahkan pada masa laluku bahwa aku adalah anak panti. Dia lupa asal usulnya yang sama persis denganku.


"Iya Tante, tempat kami sebelahan" Kataku.


Mendengar kata itu tentu saja beberapa orang yang hadir menghentikan aktifitasnya selama beberapa detik. Dug..Clara menggedorkan garpu di atas meja namun tidka terlalu keras. Kulihat raut wajahnya yang marah. Seharusnya dia tahu siapa yang memulai ini. Nyonya Hamdani dengan sigap memegang lengan putrinya dengan lembut untuk menenangkan.


"Oh ini kuenya sudah datang...Ibu-ibu kita tiup lilin dulu ya" Kata Bu Mariana.


Semua hadirin berdiri untuk bersiap tiup lilin. Di saat seperti itu, Nyonya Hamdani merapatkan Clara pada Alanta disambut dengan dukungan dari para tamu lainnya. Saat itulah aku ijin ke toilet padahal aku sedang mencari tempat yang sepi.


Aku menangis. Tak kusangka aku dihadirkan di sini hanya untuk menerima perlakuan dari Nyonya Hamdani dan putrinya yang begitu tak menyenangkan. Aku menunduk. Kubenamkan wajahku diantar dua kakiku. Sayup-sayup kudengar suara lagu ulang tahun mereka nyanyikan dengan serampangan. Aku tidka ikut serta di sana. Untuk apa, toh kehadiranku tidak begitu mereka terima. Tempatku buka di sana. Sungguh aku tidak bisa me jadi bagian dari mereka


***