My Name Is Rose

My Name Is Rose
Kantor Polisi



"Tempatnya agak sempit gak papa ya Pa?"


Papa mengangguk. Kemampuannya berbicara masih sangat buruk. Dia hanya mampu memberi isyarat. Sengaja aku membawa Papa ke tempat lain, untuk menjauhkannya dari keluarga besar Mama. Sebenarnya dokter belum memperbolehkan Papa pulang karena kondisinya belum stabil. Tapi dengan berbagai konsultasi akhirnya Papa diperbolehkan pulang. Ini ada tujuannya, supaya Mama maupun keluarganya tidak bisa menemukan Papa.


"Rosa berangkat dulu Pa" Kucium tangannya yang lemas di pangkuannya.


Alanta sudah menunggu di depan. Kami akan ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Aku dengar, Om Banu belum ditemukan. Ada dugaan dia kabur ke luar negeri. Aku juga tidak bertemu dengannya malam itu. Hanya anak buahnya yang berinteraksi denganku.


Di kantor polisi, ada beberapa perempuan remaja sedang duduk di sofa. Sebagian sedang tertidur dan sebagian lagi menelepon seseorang. Sorang polisi membawaku ke sebuah meja. Alanta turut serta menemaniku.


"Selain saudara Rosa, ternyata ada belasan remaja yang juga menjadi korban" Kata seorang polisi


"Jadi Pak Banu itu seorang mucikari atau bagaimana Pak?" Tanya Alanta.


"Lebih dari itu. Dia seorang mafia. Trafficking, peredaran narkoba, penjualan aset negara, itu yang kami kantongi"


Jadi gadis-gadis itu adalah korban trafficking. Ini masih belasan yang ketahuan. Busa jadi sebelum-sebelumnya ada korban lain yang tidak diketahui dan sudah berhasil diperdagangkan.


"Jadi kami apresiasi keberanian saudara Rosa untuk segera menghubungi temannya, dan saudara Alanta yang segera melapor sehingga kami bisa melacak lokasi dan saudara membantu kami ke TKP langsung. Tapi saya ingatkan lain kali jangan ikut ke TKP karena itu berbahaya"


"Lalu bagaimana dengan cewek-cewek itu Pak?" Tanyaku.


"Mereka akan segera kami pulangkan. Kami masih menyelidiki kemungkinan ada korban lain di markas mereka yang lain, saya ingatkan lagi, saudara berdua hati-hati , karena tersangka belum ditangkap sampai sekarang"


Sesaat setelah itu banyak wartawan yang datang untuk meliput berita ini. Berita penggerebekan villa Om Banu dan markas di tepi danau itu sudah sampai ke stasiun televisi swasta. Banyak orang yang menonton berita itu. Wartawan masih terus mencari berita tentang ini. Apalagi mengetahui korban yaitu aku ada di sini.


"Ada wartawan, sebaiknya kita jangan menghindar kita hadapi wartawan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat" Kata Polisi.


Kami menghadapi wartawan dengan didampingi polisi demi mengurai kerumunan. Dan disaat seperti itu Alanta menggenggam erat tanganku seakan tidak ingin aku lepas darinya tenggelam oleh kerumunan wartawan. Berada di sampingnya membuatku merasa aman terlindungi.Tentu saja wajah kami nantinya akan memenuhi berita televisi maupun surat kabar.


"Nanti akan kami jadwalkan untuk konferensi pers ya. Sekarang biarkan adik-adik ini istirahat dulu"


Setelah mendapat kepastian begitu wartawan pun bubar. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 Wib, sudah cukup malam. Alanta hendak mengantarku pulang namun harus terhenti karena kehadiran seseorang.


"Bunda" Panggil Alanta.


Ketua Yayasan rupanya melihat berita yang beredar, beliau ke kantor polisi karena meyakini anaknya bakal sering ke sini.


"Bagaimana keadaan kamu Rosa?" Tanya Bunda Alanta.


"Baik Bu, Alhamdulillah" Jawabku.


"Syukurlah kalau begitu, Alanta, kita pulang ya sudah malam"


"Tapi Bun... Rosa..." Alanta berusaha menolah.


"Biar dipesankan taksi"


Alanta tidak bisa menolak. Mereka pun pulang. Jujur saja aku tidak enak dengan Ketua Yayasan karena telah melibatkan Alanta dalam urusanku. Sampai Alanta bertaruh nyawa demi menyelamatkanku, sampai diapun harus bolak balik ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.


Di saat yang bersamaan aku melihat Silvi bersama seorang perempuan. Kupikir di adalah Ibunya. Mereka berjalan melewatiku. Sejenak Silvi melirikku, tetapi hanya beberapa detik. Marahkah dia denganku?


Silvi dan perempuan yang kuyakini adalah Ibunya itu datang untuk memberikan keterangan. Aku berharap masalah ini tidak menyeret Silvi. Dia anak yang baik. Dia telah menolongku beberapa kali. Kuharap Tuhan menolongnya juga dari masalah ini.


"Mama" Panggilku.


"Sudah kuduga kamu di sini. Papa dimana? Di rumah sakit mana?" Tanya Mama ketus.


"Mama masih peduli dengan Papa?" Aku balik bertanya.


"Jangan kurang ajar ya. Aku ini istrinya. Kamu siapa? Kamu bukan siapa-siapa. Apa di rawat di rumah sakit mana?"


Belum sempat aku menjawab, seseorang datang menghampiri kami.


"Arini" panggilnya.


Kau tahu siapa yang datang? Perempuan yang kuyakini adalah Ibunya Silvi. Mama menoleh dan mimik wajahnya menunjukkan keterkejutan.


"Masih berani menampakkan muka?" Kata Ibunya Silvi.


"Maaf siapa ya?"


"Saya istrinya Banu. Kaget kamu??"


Mama semakin terkejut. Tepat seperti dugaanku. Dia adalah istirnya Om Banu, Ibunya Silvi. Dia cantik dan elegan. Meski menurutku memnag Mama lebih cantik.


"Di mana suami saya? Kamu pasti tahu dia di mana sekarang" Kata Ibunya Silvi dengan marah.


"Kenapa tanya saya? Situ kan istrinya?" Jawab Mama dengan baerani.


Plakkk....Ibunya Silvi menampar Mama. Seara spontan aku memanggilnya Mama dan menolongnya.


"Mama?" Silvi bergumam.


"Perempuan kotor!!! Kamu perempuan simpanan suami saya. Saya bisa tuntut kamu dengan laporan perzinahan. Kurang ajar!!" Ibunya silvi tampak marah.


Ya, perempuan mana yang tidak marah jika suaminya main serong dengan wanita lain. Meski suaminya juga punya andil kesalahan, tetaplah dia marah ketika bertemu selingkuhan suaminya.


Mereka kemudian berlalu tanpa mengucapkan apa-apa. Aku tahu Ibunya Silvi sedang berusaha menahan amarahnya. Dia tidak ingin menambah beban hidupnya setelah suaminya ditetapkan sebagai buronan.


Yang membuatku kasihan adalah, nasib Silvi. Bagaimana dia sekolah nantinya. Apakah dia tidak akan dibully? Berita ini tentu sudah menyebar ke segala penjuru. Silvi tidak mungkin bisa membungkam satu persatu awak media.


"Dimana Mas Har??" Mama menangis.


Dalam hati kecilnya masih menyimpan rasa cinta untuk suaminya. Meski tak dipungkiri bahwa dia nyaman berada di sisi Om Banu, laki-laki yang mampu memenuhi kebutuhan fisik Mama.


"Papa di tempat yang aman. Jangan khawatirkan dia. Biarkan Papa menenangkan diri" Kataku lirih.


Mama tersungkur sambil menangis. Aku hanya berdiri mematung melihatnya. Aku tidak bisa menebaknya. Perilaku Mama begitu sulit diprediksi. Kemarin dia menggulingkan Papa dan tak berupaya menolongnya, sekarang dia memperlihatkan betapa dia takut kehilangan suaminya.


Aku membiarkannya meratapi nasib yang dia ciptakan sendiri. Aku tidak ingin merasa kasihan. Orang seperti dia akan memanfaatkan rasa kasihanku. Teringat bagaimana dia membawa kabur uang yang kami kumpulkan untuk pengobatan Papa. Hari ini entah apa yang dia pikirkan, dia justru mencari Papa seperti kebakaran jenggot. Bukankah dia akan semakin ringan jika tidak ada Papa. Bukankah dia mengakui terang-terangan bahwa dia siap bercerai?


***