
"Kamu tahu seberapa bahagianya aku setelah memiliki Clara? Rasanya hidupku berguna kembali. Untuk pertama kalinya aku merasa memiliki tujuan hidup. Begitupun dengan Mas Hamdani"
Nyonya Hamdani memainkan cangkir di tangannya karena mengingat masa lalu.
"Lalu semuanya berubah setelah kamu muncul. Aku sudah mulai curiga waktu dia sering telepon malam-malam. Tadinya kupikir anakku mulai jatuh cinta atau bahkan punya pacar, nyatanya....seseorang di masa lalu muncul setelah semuanya kupikir aman" Kembali Nyonya Hamdani menatap keluar.
"Jadi itu sebabnya, baik Nyonya maupun Clara, membenciku terlalu dalam?"
"Ya" Nyonya Hamdani menahan nafas.
"Sampai berupaya membunuh?" Aku bertanya lebih tegas lagi.
"Jaga mulut kamu Rosa. Dengan memanggilmu secara khusus bukan berarti kamu bebas merendahkan kami. Kami orang terhormat tidak akan melakukan hal serendah itu"
"Oya? Apa Nyonya tidak percaya dengan rekaman yang ditunjukkan Dinda itu?"
Nyonya Hamdani tersenyum lalu meneguk minumannya.
"Itu kecelakaan. Bukan upaya pembunuhan. Itulah yang ingin saya bahas hari ini" Katanya tenang tak seperti beberapa menit lalu.
"Apa yang Nyonya mau dariku?"
"Aku percaya, kalian, kamu dan Clara, memiliki ikatan yang kuat meski berbalut dalam kebencian. Karena itu, kurasa kamu akan bersedia mencabut laporan itu"
"Laporan? Laporan apa Nyonya?"
"Ada dua. Yang pertama, dugaan bunuh diri. Keluarga Mas Hamdani tidak boleh tahu bahwa Clara berupaya bunuh diri karena itu akan memalukan nama baik keluarga. Yang kedua, upaya pembunuhan di Bogor. Aku ingin kamu mencabut laporannya"
"Laporan? Nyonya, saya tidak melaporkan itu ke polisi. Saya bahkan tidak melakukan apa-apa. Hidup saya sudah rumit, untuk apa saya membuat rumit lagi dengan melaporkan sesuatu yang sudah terjadi dua tahun lalu?"
"Bukan kamu. Alanta yang melaporkannya. Bujuklah Alanta untuk mencabut laporan itu" Pinta Nyonya Hamdani.
"Alanta itu orangnya keras. Sejak lama dia ingin menghukum Clara atas perbuatannya tapi belum punya bukti yang cukup. Sekarang dia sudah melangkah, sulit untuk menghentikannya"
Nyonya Hamdani terkejut. Beberapa saat dia menatapku dengan pandangan kosong. Dahinya berkerut. Namun setelah itu dia kembali bernegosiasi. Aku bahkan tidak tahu jika Alanta melapor pada polisi.
"Tolong Rosa, Clara sudah menderita...dia kehilangan sebagian wajahnya yang cantik. Butuh waktu lama untuk memulihkannya. Jadi maafkanlah dia. Anggap saja dia sudah mendapatkan hukumannya" Kali ini Nyonya Hamdani memelas.
Sesaat kemudian dia berlutut di hadapanku. Seseorang yang memiliki jabatan tinggi dengan kekuasaan tak terbatas, berlutut di hadapan seorang gadis biasa yang tak jelas asal usulnya. Rasanya tidak adil bukan? Setidaknya beliau pasti berpikir demikian.
"Dengan satu syarat...." Kataku akhirnya.
Mendengar kalimatku, Nyonya Hamdani berdiri dan menatapku sekali lagi.
"Katakan...."
"Akui perbuatan Nyonya tiga tahun silam" Kataku datar.
"Per...perbuatan apa maksud kamu?" Beliau tampak bingung.
"Nyonya menyuruh orang menabrak kami sampai Papa lumpuh dan dipecat dari perusahaan yang suami Nyonya pimpin" Kataku tegas.
"Apa? Menabrak....ah kamu jangan mengada-ngada, kenapa saya melakukan itu? Ini gak logis" Nyonya Hamdani berkilah namun sangat terlihat ia sedang menutupi masalah itu.
"Hah....apa kalau ngobrol berarti itu suruhan saya? Ada ada saja..." Dia tertawa sinis.
"Baik jika Nyonya tidak mengakui, kita lupakan saja negosiasi ini" Kataku sambil mengambil tas selempangku di atas sofa.
"Oke..oke...saya .... Saya mengaku.....tapi tujuan saya bukan untuk mencelakai, tapi hanya untuk membuat dia dipecat dari perusahaan. Minimal performa nya menurun. Ayolah Ros, itu sudah lama dan Papa kamu juga sudah meninggal bukan?"
"Akui itu di depan polisi" Kataku sambil melangkahkan kaki keluar, namun buru-buru Nyonya Hamdani mencegahku.
"Tunggu...tunggu...ide gila macam apa itu Ros? Mengaku di depan polisi sama aja dengan polisi memeriksa Clara, kalau keluarga Mas Hamdani tahu, bisa mati saya"
Baru kali ini aku melihat Nyonya Hamdani panik seperti ini.
"Terserah Nyonya. Clara yang diperiksa polisi atau Nyonya yang diperiksa?"
"Saya nggak nyangka kamu setega itu Ros" Komentarnya.
Prangggggggg
Untuk pertama kalinya aku berani sama orang tua. Satu gelas dalam ruangan ini kubanting hingga pecah. Aku tak kuasa menahan amarah. Aku marah. Jelas. Karena artinya dia mengakui bahwa dialah penyebab kematian Papa. Bagaimana aku tidak marah menyadari kenyataan seperti itu. Hidupku terpuruk sejak itu, satu-satunya keluarga yang kupinya pun ia renggut.
"Anda bilang apa Nyonya? Tega? Tanya hati nurani Nyonya sendiri. Kenapa Nyonya tega menyuruh orang mencelakai Papa saya. Dia lumpuh saja sudah merenggut ekonomi keluarga kami, aku yang masih remaja harus bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarga setengah hari, dan setengahnya lagi mengurus seorang ayah yang lumpuh!!!"
Nafasku tersengal sengal menahan tangis. Sementara Nyonya Hamdani terkejut dengan perilakuku yabg beringasan hari ini.
"Tak berhenti di situ, Nyonya justru membuat saya kehilangan pekerjaan hanya karena saya satu sekolah dengan putri Nyonya. Setelah saya keluarpun saya masih menjadi incaran Nyonya dan anak Nyonya itu. Sampai dia mendorongku ke jurang pun anda katakan kecelakaan???"
Satu lagi barang kulempar namun bukan barang pecah belah. Hanya semacam vas dari kayu namun suaranya mampu memekakkan telinga.
"Dan kenapa Nyonya memisahkan dua saudara yang sudah berjanji untuk selalu bersama? Dan Nyonya telah membuat salah satunya menjadi monster yang mengerikan. Nyonya mendidik dia dengan tuntutan yang tak sanggup ia gapai, dan ia pun menggunakan cara-cara yang licik demi memenuhi tuntutan keluarga kalian!!!! Seharusnya aku yang berada di posisi itu!!! Aku anak nakal yang Nyonya lihat itu, akulah yang hendak Nyonya adopsi tapi hanya karena aku mengompol anda beralih pada seorang anak yang duduk dengan manis, namun ternyata dia tidak mampu menjadi anak yang mengagumkan"
"Aaakhhhh!!!!" Nyonya Hamdani berteriak.
Untung saja ini ruangan kedap suara. Jika tidak, karyawan yang lain pasti akan masuk dan memastikan apa yang terjadi. Dan mereka akan melihat ruangan yang berantakan oleh gelas yang pecah.
"Sudah cukup....cukup Rosa!!" Nyonya Hamdani menangis pilu.
"Rania anak yang lemah. Dia selalu berlindung di balik punggungku setiap kali menghadapi masalah. Dengan memiliki anda, aku merasa tenang, dia memiliki sandaran yang jauh lebih kuat dariku... Tentu dia lebih memilih menjadi bagian dari keluarga kaya daripada harus di sisiku selamanya..."
Nyonya Hamdani masih menangis dengan menunduk dan bersimpuh di lantai.
"Kamu benar....seharusnya kami yang kuadopsi waktu itu. Seharusnya kamu yang duduk di kursi ini setiap saat, seharusnya kamu.....tapi Clara sudah menyandang nama Hamdani, apapun yang terjadi, aku harus menerimanya" Ucapnya lirih.
"Terima kasih telah merawat saudaraku sampai detik ini"
"Aku akan melakukan apapun yang kamu minta asal tidak mencoreng nama baik keluargaku, aku mohon..." Nyonya Hamdani memelas.
Memang masih banyak cara untuk menebus kesalahan, namun tidak dengan serta merta memaafkan. Tentu dia harus menerima konsekuensi yang pantas.
***