My Name Is Rose

My Name Is Rose
Pekerjaan Baru



Siang itu tak begitu terik. Ketika bel sudah berbunyi semua anak menghambur keluar. Tak ada yang masih mengulur waktu dengan mengobrol. Sebagian besar memilih untuk cepat pulang..mereka sedang bergelut dengan waktu. Waktu seakan mengejar mereka untuk menyelesaikan misi-misi mereka setiap harinya. Mereka memburu waktu untuk membantu orang tua masing-masing demi asap yang mengepul di dapur.


Sepertinya hanya aku yang tidak diburu waktu. Jelas, aku sudah kehilangan pekerjaanku untuk yang kedua kali. Meski aku masih memiliki tabungan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan, tapi aku tidak bisa berdiam diri begitu saja. Aku butuh pekerjaan. Aku butuh penghasilan.


Dalam waktu singkat sekolah ini sudah sepi. Hanya ada beberapa anak yang minat mengikuti kegiatan ekstra. Aku berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Jalanku santai karena memang tidak terburu oleh waktu.


Kulihat Pak Arif, satpam sekolah sedang mengobrol dengan seseorang yang familiar. Ah aku tak yakin itu dia. Alu mendekat pelan untuk memastikan siapa orang yang sedang bersama Pak Arif itu. Dia berdiri seketika saat menyadari kehadiranku. Yang benar saja. Dia berada di sini saat ini.


"Alan!" Panggilku dengan heran.


"Hai..." Sapanya.


"Kamu kok di sini?"


"Kamu kok lama banget keluarnya, teman-teman kamu sudah keluar semua tadi"


"Eh malah balik nanya. Kan udah aku bilang kamu gak usah pulang..." Aku ngegas.


"Anu Ros...."


"Apa? Kamu pikir aku gak bisa nyelesaikan masalahku sendiri di sini sampek kamu harus pulang?"


"Itu...."


"Apa? Mau ngomong apa? Dibilangin kamu itu fokus belajar. Fokus. Jangan mikirin pacar mulu"


"Rosa!!" Tiba-tiba saja Bu Mariana muncul dari arah belakang Alanta.


"Oh...Bu Mariana" Aku segera mendekat dan mencium tangannya seperti seorang murid kepada gurunya, karena memang beliau sampai kapanpun adalah guruku.


"Kebetulan Alanta ada libur tiga hari, ya sudah Ibu suruh pulang saja sebentar bantu-bantu" Kata beliau.


"Oh iya Bu" Jawabku salah tingkah.


"Nah itu maksudku tadi" Sahut Alanta.


Mendengar itu Bu Mariana tertawa ringan.


"Oke Rosa ada waktu? Kita makan siang bareng ya" Katanya.


Aku mengangguk.


"Baik, yuk!!"


Saat Bu Mariana berbalik, aku menepuk lengan Alanta dengan gemas. Ia meringis kesakitan namun hanya pura-pura. Malu rasanya setelah marah-marah begitu ternyata justru diajak makan siang.


Kami masuk mobil bersama. Aku duduk di belakang bersama Alanta, sedang Bu Mariana duduk di depan bersama sopir. Mobil melaju perlahan. Ini kali pertama aku satu mobil dengan Bu Mariana. Grogi rasanya berada di posisi ini. Sekaligus senang dan bahagia. Sesekali Alanta mencuri kesempatan meraih tanganku, itu yang membuatku sedikit gugup. Sepertinya tidak apa-apa jika Bu Mariana memergoki kami berpegangan tangan. Tapi ah, aku malu jika itu terjadi.


Sampai di rumah makan Bu Mariana memesankan makanan untuk kami. Aku tak berani memilih meski sudah ditawari. Hanya kami bertiga di meja ini. Sopir menunggu di parkiran.


"Setelah ini kita ke tempat kerjamu yang baru ya" Kata Bu Mariana.


Aku hanya mengangguk penuh tanya. Tempat kerja baru? Apakah Bu Mariana tahu kalau aku sedang mencari lowongan? Atau beliau tahu aku dipecat untuk kedua kalinya? Apakah Alanta cerita?


"Kamu sejak kapan kerja Rosa?" Tanya beliau lagi.


"Bagus, pengalamanmu pasti banyak. Saya senang dengan anak yang mandiri, yang tidak menggantungkan duit orang tua" Lanjutnya.


Aku menunduk malu.


"Oh ya, saya dengar Papa kamu dulu karyawan dengan pangkat cukup bagus di perusahaan milik Pak Hamdani"


"Betul Bu"


"Katanya Papa kamu itu orang yang gesit, trengginas kalo orang jawa bilang. Pantas kamu juga sama gesitnya dengan Papa kamu. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya bukan" Puji Bu Mariana.


Yah, mungkin beliau belum tahu kalau aku bukan anak kandung dari Papa. Atau mungkin beliau tidak pernah mendengar ketika para ibu-ibu membicarakanku sebagai anak pungut ketika masih sekolah di First.


Selesai makan siang mereka membawaku ke sebuah tempat yang nantinya aku bekerja di sana. Tak kusangka Bu Mariana turun tangan langsung untuk mencarikanku pekerjaan.


"Selamat siang Bu" Para karyawan memberi salam pada kami, khususnya Bu Mariana.


"Siang...Afrizal mana?" Tanya Bu Mariana.


"Ada, saya panggilkan dulu Bu" Jawab salah satu karyawan.


Aku masih belum paham siapa Afrizal yang dimaksud. Dalam beberapa menit seorang pria muda datang menemui kami. Dia mencium tangan Bu Mariana, dan dibalas pelukan ringan olehnya. Hal yang sama dilakukannya pada Alanta. Mereka berpelukan ringan sambil menepuk pundak satu sama lain.


"Ini yang Tante maksud, kenalin, ini Rosa" Bu Mariana memperkenalkanku.


Kami berjabat tangan. Pria itu memandangku lekat beberapa detik, namun kemudian ia alihkan pandangannya ke arah lain.


"Ini Afrizal keponakan Ayahnya Alanta. Dia yang mengurus kantor ini. Ini adalah perusahaan finansial. Ya...semacam koperasi simpan pinjam lah. Kantor ini didirikan oleh Ayahnya Alanta begitu kami pindah ke Jakarta" Jelas beliau


"Oke, gimana kalo langsung saya tunjukkan kursinya" Tawar Afrizal, dan semua setuju.


Dia membawaku ke bagian depan kantor. Semacam resepsionis menurutku.


"Jadi kursi kamu di sini, tugas kamu melayani proses pengajuan pinjaman. Kamu jangan khawatir, ada tim khusus yang akan survey di lapangan, tugas kamu hanya pendataan saja. Mudah bukan?" Jelas Afrizal.


"Tapi bisa model shift kan Zal?" Tanya Bi Mariana.


"Oh bisa Tante, karyawan yang ada di sini memang rata-rata pemuda yang masih menuntut ilmu. Karena memang itu kan tujuan awal kantor ini didirikan oleh Om Ibra" Jawab Afrizal.


Bu Mariana tersenyum puas.


"Oke..trus mulai kapan Rosa bisa kerja?" Tanya Bu Mariana lagi.


"Besok sudah bisa mulai" Jawab Afrizal.


Harus dengan apa lagi aku membalas kebaikan mereka. Alanta dan Ibunya. Aku kehilangan pekerjaan, mereka yang mencarikan gantinya dan sepertinya jauh lebih baik dari pekerjaanku sebelumnya. Itulah cara kerja Tuhan, mencabut sesuatu dari hambaNya tetapi menggantinya dengan yang lebih baik. Setelah berbasa basi cukup lama kamipun berpamitan.


"Bang, titip ya, cewek gue ini" Bisik Alanta pada Afrizal.


Mendengar itu sesaat Afrizal tercengang, namun kemudian keduanya tertawa renyah. Sebelum meninggalkan tempat kulihat keduanya berpelukan erat seakan lama tak bertemu. Sekali lagi kulihat Afrizal memandangku. Aku segera menunduk malu. Pandangan itu sama sekali berbeda. Ah, mungkin hanya perasaanku saja, kami baru saja bertemu, mungkin saja kami masih canggung, masih dalam tahap adaptasi. Sehingga apapun yang kami lakukan akan terasa tak biasa.


Mobil melaju meninggalkan kantor. Aku harus bersiap. Esok hari aku akan bekerja kembali sepulang sekolah. Meskipun kantor ini lebih jauh jaraknya dari sekolah, tapi rasanya jauh lebih ringan dari kerjaan sebelumnya. Wah, jadi orang kantoran aku sekarang. Berpakaian rapi, berdasi, bersepatu high heel. Wah, tak bisa kubayangkan penampilanku akan jauh berbeda dari sebelumnya. Semoga saja aku cepat beradaptasi dengan lingkungan.


***