
"Hai Ros!!" Tiba-tiba saja Juwi berada di depan rumahku.
"Hey....kok tahu rumahku?" Tanyaku penasaran.
"Agak sulit sih nyarinya. Tapi akhirnya nemu juga" Katanya sambil berdiri menyambut kedatanganku yang masih berseragam.
Kusuguhkan es teh di kulkas untuknya. Surprise akhirnya dia datang ke rumah. Aku baru beberapa hari dekat dengannya karena memergoki dia menaruh sesuatu di meja Afrizal.
"Wah tau aja kalo aku haus banget" Katanya.
"Gimana kabar kantor?" Tanyaku iseng.
"Heboh"
"Soal?"
"Kamu nggak nyangka kan kalo peristiwa Afrizal berantem di kafe direkam orang?"
"Ha?"
"Sekarang nyebar di kantor. Apalagi Afrizal gak masuk kantor beberapa hari, semua karyawan bebas bicarain itu"
Sudah kuduga peristiwa malam itu cepat atau lambat pasti akan sampai ke telinga teman-teman kantor. Tapi aku tidak menyangka jika mereka akan melihat peristiwa itu secara detail melalui video. Yang jadi pertanyaan, apakah wajahku tampak di video itu? Apakah bakal menyebar pula bahwa aku berada di sana waktu itu? Bagaimana jika menyebar ke sekolah, atau bahkan para tetanggaku melihat video itu?
"Apa aja yang ada di video itu?" Tanyaku takut.
"Cuma beberapa detik, Afrizal berantem sama .....yang anaknya Pak Ibrahim itu"
"Trus?" Aku mengejar jawaban untuk memastikan posisiku.
"Ada ceweknya sih..."
"Oya?"
Juwi kemudian menatapku lekat. Matanya hampir tak berkedip menatapku, seakan mencari sesuatu di mataku. Juwi mendekat dan setengah berbisik.
"Apa cewek itu kamu? Postur tubuhnya mirip sekali dengan kamu" Katanya lirih.
Aku tidak tahu apa efeknya jika aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi rasanya tak baik juga jika aku berbohong.
"Iya" Jawabku lirih.
Juwi mundur beberapa langkah, ia tersenyum dalam menunduk. Lalu ia kembali mengangkat wajahnya.
"Sekarang aku ngerti, kenapa Afrizal cuek-cuek aja sama setiap makanan yang kutaruh di mejanya" Katanya.
"Juwi...bukankah sudah kujelaskan soal...."
"Yah, its okey. Aku pun jadi tahu alasan yang sebenarnya kamu keluar dari kantor"
Aku mengangguk.
"Tidak mungkin aku bekerja sama dengan orang yang bersengketa denganku. Bagaimana aku bisa menatap wajah Mas Rizal setelah peristiwa itu bukan?"
Juwi mengangguk-angguk. Aku bersyukur dia begitu dewasa. Dia hampir meraih gelar sarjana. Sekitar dua tiga bulan lagi katanya. Usianya sudah cukup matang untuk menghadapi hal semacam ini. Gejolak dalam percintaan itu sudah biasa. Maka hanya irang dewasa lah uang mampu mengendalikannya.
***
Aku terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Apa artinya mimpi itu. Aku tahu bahwa mimpi hanyalah penghias tidur, tapi adakalanya mimpi merupakan suatu pertanda. Apalagi jika mimpi itu mengganggu pikiran
Hampir satu minggu aku tidak bekerja. Aku tidak ingin melewatkan waktu hanya dengan tidur. Usiaku masih usia produktif, maka aku harus beraktivitas. Aku sedang membuat resume saat pintuku diketuk. Siapa lagi? Dinda? Juwi? Atau malah Afrizal?
"Vania!!"
Untuk apa dia datang? Darimana dia tahu runahku? Hari ini dia tampil lebih baik dari sebelumnya. Dengan kacamatanya itu, dia terlihat cerdas. Dia mengajakku keluar untuk bicara.
Sebuah kafe tak jauh dari tempat tinggalku. Aku yang menentukan tempatnya. Kupandang lekat perempuan remaja di hadapanku. Tak bisa kubayangkan betapa berat beban yang dipikulnya. Usia belasan tahun sudah memiliki seorang putera, tanpa seorang suami. Bagaimana dia akan membesarkan anaknya. Bagaimana fia akan menjawab segala pertanyaan anak kecil tentang sosok ayah yang tidak ia miliki. Bagaimana ia menjelaskan itu semua.
"Aku pernah berpikir...untuk menggugurkan kandunganku" Katanya dengan mata berkaca-kaca.
Vania menyeruput jus jambu di depannya, lalu melanjutkan.
"Lalu Alanta datang memberikan harapan. Lucu...saat itu aku sudah berada di dukun aborsi. Dia bilang ke dukun itu, kalau dia suamiku. Hehehe...kamu bisa bayangkan bagaimana ekspresinya waktu itu" Vania terkekeh sementara aku tak bergeming. Bagaimana aku bisa tertawa di tengah angin yang berbolak balik di dalam hatiku.
"Tapi dia berkata benar. Janin di rahimku tidak bersalah, tapi ibunya lah yang bersalah, membiarkan tubuhnya disentuh orang yang tidak berhak sama sekali. Tapi andaikan dia tahu bagaimana tak berdayanya aku waktu itu, akankah dia memutuskanku secara sepihak?" Vania menitikkan air mata.
Aku menyeruput kopi susu yang kupesan. Hari ini aku ingin meminum yang panas untuk mengurangi pening di kepala.
"Van...apa kamu tahu, ayah dari Ananta?" Tanyaku menjurus pada inti.
Mendengar pertanyaanku, dia terkejut. Terlihat jelas dari matanya yang terbelalak. Dia lalu menyedot minumannya fan mengangguk pelan.
"Alanta tahu?"
"Tahu, tapi belum pernah bertemu"
"Sorry Van, kenapa kamu gak nikah aja sama Ayahnya Ananta?" Tanyaku ragu. Aku takut pertanyaanku menyinggung perasaannya.
"Oh hehehe...gimana aku mau nikah, setelah dia tahu aku hamil, dia justru pindah ke luar negeri. Kalau saja di masih di Indonesia Alanta pasti sudah membunuhnya"
Sejenak suasana sunyi tanpa ada yang berbicara. Kami berpikir satu sama lain. Ketika rambut kami diterpa oleh gerakan angin, di situlah kami menelisik satu sama lain. Aku sedang menelaah seperti apa perempuan di depanku ini. Aku yakin diapun melakukan hal yang sama. Dilihat dari pakaian yang ia kenakan, aku yakin dia bukan anak orang sembarangan. Dia pasti kaya raya. Setara lah dengan Alanta.
"Van, kamu ngajak aku ketemu, bukan untuk ngobrol aja kan?" Tebakku.
"Waw, benar kata Rico. Kamu cerdas" Komentarnya.
Vania memperbaiki posisi duduknya sebelum ia meneruskan.
"Rosa...kita sama-sama perempuan dan aku yakin kamu bisa berempati dengan apa yang aku alami"
Aku mendengarkan dengan penuh rasa penasaran. Vania kemudian meraih tanganku.
" Alanta pernah bilang, kalau dia tidak akan pernah ninggalin aku tapi ternyata, setelah tahu aku hamil dia putusin aku. Karena itu, kasihani aku Ros, lepaskan Alanta, tolong bujuk Alanta buat nikahin aku, kasihani anakku, dia butuh kasih sayang seorang ayah. Dan aku butuh seorang suami agar kami bisa memberikan akta lahir untuk Ananta. kasihani aku Ros!!" Vania sesenggukan di hadapanku. Ia benamkan wajahnya di atas meja.
Oh Tuhan. Bagaimana aku akan memenuhi permintaan Vania, sedang aku sendiri begitu mencintai pria yang sama. Aku tak menyangka jika Alanta memiliki masa lalu yang mengikatnya. Lantas bagaimana dia bisa menjalin hubungan denganku.
Angin kembali berhembus menerpa tubuh kami. Kicauan burung dalam sangkar yang sengaja dipajang oleh pemilik kafe seakan memberikan komentar untuk kami. Seakan burung itu tahu bahwa ada dua wanita yang mencintai satu pria yang sama. Dua wanita yang sama-sama tak ingin melepaskan pria itu. Andai Alanta tahu, siapa yang akan ia pilih?
***