
"Baik kami akan mengumumkan lima besar yang akan berlaga di podium panas!!" Kata pembawa acara.
Rizal terlihat gugup. Sementara Bella begitu kesal dengan sikap Rizal yang membuat kami down. Jujur aku juga tidak yakin apakah aku bisa membawa sekolah kami pada jajaran pemenang. Pasalnya, duku di First, satu tim bekerja secara maksimal karena semuanya mampu. Tapi untuk kali ini, hanya aku yang bekerja, sedang Bella dan Rizal hanya membantu sekedarnya. Bukan karena mereka tidak mau,. Tapi kemampuan yang terbatas.
"SMAN 34 Jakarta!!"
Nama yang dipanggil bersorak kegirangan karena masuk babak 5 besar. Beberapa nama sudah dipanggil, tapi nama sekolah kami belum. Atau bahkan mungkin tidak dipanggil. Kulirik Alanta di kejauhan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menguatkanku dengan senyumannya. Ah, aku tidak ingin mengecewakan pacarku yang sudah membantu dengan maksimal. Aku harus semangat.
"Dan yang terakhir ...SMA Bintang Harapan!!"
"Huuuuu!!!!" Bella meloncat kegirangan. Begitupun Rizal uang semula pesimis kini ikut berjingkrak bersama Bella. Kulihat kembali kekasihku yang berdiri dengan gagahnya di depan sana. Dia mengacungkan jempol dengan bangganya. Laki-laki itu begitu sempurna.
"Ros, kita sudah masuk babak lima besar. Kamu gak perlu terlalu ngoyo lagi, degan lima besar aja kita semua sudah seneng. Kepala sekolah juga pasti sudah seneng banget. Jadi kamu gak perlu khawatir kalo kita kalah" Kata Bella.
Aku tersenyum dengan memegang tangan Bella. Aku tahu ini adalah prestasi terbesar SMA Bintang Harapan. Tapi bagi seorang Rosa dan pelatih Alanta, kami kurang puas. Alanta masih berdiri dengan setia di ujung sana. Kami menempati podium masing-masing.
"Kita masuk ke babak lima besar. Di babak ini kami akan menggunakan sistem gugur setelah 10 soal"
Babak lima besar dimulai. Masing-masing diberi kesempatan menjawab 3 pertanyaan, namun jika tidak mampu menjawab akan dilempar ke kelompok lain.
"45 derajat" Clara menjawab dan dibenarkan oleh pembawa acara.
Tampaknya Clara memang benar-benar siap dengan lomba ini. Para pendukungnya bahkan membawa pom pom cheers untuk memberi dukungan. Lomba semakin seru ketika berada di pertanyaan ke sembilan. Sebab satu pertanyaan lagi akan menentukan siapa yang masuk ke babak final.
"180" Clara menjawab.
Aneh, dia menjawab soal dengan begitu cepat dan aku tidak melihat dia menghitung sedikitpun. Mana mungkin soal serumit itu bisa dihitung dengan angan-angan.
"Luar biasa dengan demikian yang masuk ke babak final adalah SMA First Internasional School, SMA Al Irsyad dan SMA Bintang Harapan!!" Kata pembawa acara.
Bella dan Rizal berteriak saking senangnya. Rizal tak lagi pesimis seperti sebelumnya. Panitia masih mempersiapkan sesi selanjutnya. Sementara itu kami diperbolehkan untuk break sejenak. Kesempatan ke toilet untuk cuci muka dan buang air.
Tiga besar. Aku telah membawa sekolahku sampai ke titik ini. Bukankah ini sudah terlampau hebat. Tapi aku tidak akan puas begitu saja. Jika aku bisa meraih posisi teratas, kenapa harus menyerah di posisi ketiga. Kupejamkan mataku. Tergambar jelas mimpiku semalam. Sebuah tangan mengelus kepalaku. Tangan yang lembut dan penuh kasih sayang. Itu tangan Ibuku. Begitulah aku mengasumsikan mimpiku. Dia sedang mendukungku. Dia bangga padaku andai dia ada di hadapanku.
Aku keluar dari toilet dan kulihat Bu Yuni berdiri dengan seseorang. Mereka tampak berbicara serius. Aku segera berbalik badan dan pura-pura tidak tahu. Beliau adalah guru yang idak menyukaiku dan cenderung membenciku. Lebih baik aku tidak bertatap muka dengannya. Aku memilih jalan lain untuk kembali ke ruangan.
Babak final dimulai. Kami tak lagi memiliki kesempatan menjawab khusus seperti babak sebelumnya. Pada babak ini seluruhnya adalah rebutan.
"67" Aku menjawab dan betul. Seluruh penonton bersorak sorai memberi dukungan.
"105" Clara menjawab dan sama betul.
Perlombaan semakin memanas karena kami besahut-sahutan dalam menjawab. Ibarat pertandingan bulu tangkis, kami saling menangkis dan tak ada satupun yang jatuh.
"Sebuah pohon berdiri tegak membentuk bayangan...." Pembawa acara membacakan soal
"720 cm" Clara menjawab bahkan sebelum soal selesai dibacakan. Kapan dia menghitung?
"Seru sekali babak final kita kali ini. Untuk sementara scor masih beda tipis dan masih berada di posisi teratas First Internasional School. Untuk itu kita break sejenak"
Aku segera keluar ruangan. Ada yang tidak beres. Aku memberi kode pada Alanta agar segera mengikutiku. Begitu dia sampai padaku aku memeriksa keadaan supaya tidak satu lun yabg mendengar perbincangan kami.
"Lan...ada yang aneh gak menurut lo?"
"Clara, setahuku dia gak sejenius itu"
"Betul. Tadi waktu break, aku lihat Bu Yuni ngobrol sama panitia"
"Kamu yakin itu panitia?"
"Ckck...masih aja pakek cara-cara gak bener" Gumam Alanta.
"Kayaknya kita gak bisa menang deh"
"Sssttt jangan ngomong gitu..." Alanta menggenggam tanganku untuk menguatkanku.
"Udah sana masuk. Positif thinking saja. Banyak penonton yang akan ikut menjuri kok. Mereka pasti bisa menilai" Lanjutnya.
Babak final kembali berjalan. Clara begitu percaya diri dan aku semakin mengkerut. Namun sekali lagi, aku tidak ingin mengecewakan Alanta. Berjuang sampai titik terendah pun akan kulakukan.
"Sebuah tangki dengan volume....."
"187,5" Clara menjawab.
"Wow ...bahkan soal belum selesai sudah terjawab, namun sayang jawabannya salah. Kelompok lain?"
"185,7" Aku menjawab.
"Benar!!"
Aku melirik Alanta, dia tersenyum dan mengangguk. Pasti dia yang melakukannya.
"Soal berikutnya... Rumah kaca yang akan dibangun di atas sebidang tanah ...."
"61 meter" Clara menjawab namun kali ini ia seolah menghitung terlebih dulu.
"Sayang sekali kurang tepat"
"16 meter" Jawabku.
"Benar!!"
Clara semakin cemberut karena perhitungannya salah. Beberapa kali kulihat tangannya gemetar. Dia pun saling pandang dengan kedua temannya dalam satu tim.
" Sebuah toko memberikan diskon sebesar 7 persen...."
"12500" Clara kembali menjawab.
"Mohon tunggu sebentar...jawabnnya salah"
Lagi-lagi soal belum selesai dibacakan tetapi Clara sudah menjawab"
"21.500" Bella kali ini yang menjawab namun dengan hasil hitunganku.
"Benar sekali"
Semua penonton ramai bersorak karena pertanyaan yang baru saja diberikan adalah soal terakhir. Teman-temanku dari Bintang Harapan bahkan bersiul tanda sebuah kemenangan. Aku menang. Aku melawan dia yabg membenciku. Aku melawan dia yang kubenci sekaligus disayangi.
"Selamat kepada SMA Bintang Harapan. Sebuah babak baru di dunia pendidikan. Untuk pertama kalinya First Internasional School mundur satu langkah menjadi juara dua!!" Teriak pembawa acara.
Bella bahkan meneteskan air mata bahagianya. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia memenangkan sebuah lomba. Apalagi lomba yang bergengsi seperti ini. Rombongan siswa First berbondong-bondong keluar ruangan dengan lemas. Sementara teman-temanku dari Bintang Harapan bersiap menghambur ke arah kami
Alanta mendekatiku. Dia memegang kepalaku. Jantungku berdegup kencang menatap matanya. Akhirnya aku menang.
***