My Name Is Rose

My Name Is Rose
Citra Anak Panti



"Jadi perempuan memang harus prigel, harus terampil" Kata Nenek waktu aku menyuguhkan teh hangat untuknya.


Aku memang sengaja mendekatinya untuk mengambil hatinya, agar suatu ketika menerimaku jika Mama terpaksa mengakui siapa aku sebenarnya.


"Sudah busa masan apa kamu?" Tanya Nenek.


"Telur ceplok, mie instan, sambel korek bisa Nek" Jawabku dengan percaya diri.


"Bagus pinter, dulu Nenek seusia kamu sudah bisa masak nasi goreng, sayur bening, sambal terasi" Kata Nenek.


Aku bahagia mendengarnya. Jadi beginilah rasanya dipuji oleh seorang nenek.vpernah aku dengar, seorang anak akan lebih disayang oleh kakek neneknya ketimbang orang tuanya. Andai nenek di depanku ini adalah nenek kandungku. Andai aku terlahir sebagai Monica.


"Satu lagi, kamu juga harus paham, harus tahu diri, harus tahu batas. Di sini, kamu numpang di rumah Tante Rini ( Mama ), jadi juga harus pengertian. Bantu-bantu pekerjaan rumah, bantu Mbak Yanti, bantu jagain Monica. Paham?" Lanjut Nenek.


Baru saja aku merasakan bahagia atas pujiannya. Kini dia seperti menghempaskanku ke dasar bumi. Dia mengingatkanku siapa jati diriku. Ya, aku memang hanya menumpang di rumah ini. Aku bukan siapa-siapa kecuali secarik kertas yang menggeser sedikit identitasku.


"Iya Nek" Jawabku lirih.


Mama datang, membuatku menahan air mata yang hampir saja jatuh. Ia membawa sebotol susu untuk Monica. Diambilnya Monica dari pangkuan Nenek.


"Monica mau dikasih susu kaleng?" Tanya Nenek sedikit marah.


"Bukan Bu, ini susu ASI saya, dipompa dan di masukkan botol" Jawab Mama tenang.


"Ada-ada saja jaman sekarang ini" Kilah Nenek.


Aku pun tidak paham. Bagaimana bisa air susu ibu dipompa dan dimasukkan botol. Kalau begitu kenapa tidak ada yang menjual air susu ibu botolan. Tak berapa lama muncullah Papa di antara kami dengan senyumnya yang tulus. Papa senang melihat kami bersama.


"Ya to Har, apa Ibu bilang. Bismillah. Usaha, kerja keras. Ndak perlu ngambil anak dari panti asuhan. Kenapa to Ibu selalu melarang adopsi anak dari panti, karena asal usulnya ndak jelas. Kebanyakan, anak yang dibuang ke panti, pasti bukan anak yang diinginkan. Mungkin karena hasil hubungan gelap, atau hubungan tidak direstui. Atau bahkan hasil perkosaan. Yang seperti itu, tidak berkah. Malah akan berdampak buruk pada kehidupan kalian. Paham?" Kata Nenek.


Papa menunduk. Aku tahu, dia tidak enak padaku. Dia begitu menjaga perasaanku. Apakah memang seburuk itu citra seorang anak panti. Anak buangan. Anak haram. Anak yang tidak diharapkan. Lalu aku? Benarkah aku juga anak buangan? Apakah aku hasil perkosaan? Ataukah hasil hubungan gelap. Mengapa tidak ada yang berpikir bahwa semua itu bukan salah seorang anak. Kami tidak memilih dilahirkan dai benih mereka. Kami tidak memilih nasib seperti ini. Semua itu adalah dosa mereka, bukan dosa kami. Tidak adakah yang berpikir demikian.


"Bune, yang lain sudah siap" Kata Paman, salah satu tamu.


"Oh, iya" Jawab Nenek.


Hari ini mereka akan pulang ke Semarang. Mereka akan naik kereta siang. Papa yang akan mengantar mereka ke stasiun. Selama beberapa hari mereka menginap di sini, aku sudah berusaha cukup keras mendekati Nenek. Sejauh ini semua baik-baik saja. Mereka baik padaku yang dianggap sebagai keponakan Papa. Entah bagaimana nanti jika mereka tahu yang sebenarnya.


Aku ke dapur sebentar untuk minum. Dan saat aku akan kembali ke ruang tamu, aku mendengar Nenek berbicara dengan Mama di kamarnya. Tunggu sebentar, kurasa tadi mereka berbicara di ruang tamu bersama yang lain, kenapa sekarang berbicara di kamar. Tentu ada sesuatu yang penting. Aku menguping. Hal yang sering kulakukan saat masih di panti.


"Disimpan baik-baik" Samar-samar kudengar suara Nenek.


"Matur suwun Bu" Ucap Mama.


Sepertinya Nenek memberikan sesuatu pada Mama. Entah apa. Menurutku sesuatu yang sangat berharga, sehingga Nenek harus mencari tempat yang aman untuk memberikannya pada Mama. Kenapa? Agar tidak ada yang tahu? Apakah sangat rahasia? Apakah uang? Perhiasan? Atau apa.


Kreek..pintu dibuka dari dalam. Aku segera mengambil sapu berpura-pura menyapu ruang tengah. Nenek melihatku dengan senyum puas. Inilah yang Nenek harapkan, agar aku membantu meringankan beban Mama. Ingat, menurutnya aku menumpang di rumah ini. Padahal sesungguhnya, kedudukanku sama persis dengan Monica. Syukurlah Nenek tidak curiga.


Di dalam mobil, Nenek sama sekali tidak membicarakan perihal pemberiannya pada Mama. Berarti benar itu rahasia. Sepanjang perjalanan ke stasiun hanya membicarakan hal-hal kecil. Lucunya Monica, indahnya pegunungan Malang, dinginnya udara Batu dan sebagainya. Tak satupun obrolan mengarah pada peristiwa tadi.


Di stasiun.


"Matur suwun Bapak, Ibu, Mas, Mbakyu.." Kata Papa sebelum para tamu kami masuk ke dalam kereta.


"Nanti kalau sudah libur, ajak ke Semarang, disowankan ke keluarga besar" Kata Kakek.


"Insya Allah Pak..." Jawab Papa.


Lalu Kakek dan Papa berpelukan. Kakek menepuk pundak Papa ringan.


"Ingat pesan Ibu, jaga istrimu, dan anakmu dengan baik" Pesan Nenek.


Papa mengangguk. Nenek mendekatiku dan mengelus rambutku. Dadaku berdesir. Dari awal bertemu dan berbaur selama beberapa hari, ini kali pertama aku seperti ini. Bahagia, terharu, semua bercampur menjadi satu. Seakan aku lupa bagaimana dia mencerca anak panti dengan semaunya sendiri. Tapi toh, dia tidak menyadari ada anak panti didekatnya saat itu.


Jauh dalam lubuk hatiku, aku yakin Nenek adalah orang yang baik dan penyayang. Dia hanya tidak tahu bagaimana kehidupan kami di panti. Dia hidup di jaman dimana panti asuhan adalah tempat yang mengenaskan. Tempat dimana anak-anak dibuang. Anak-anak yang tidak diakui keberadaanya diterima dengan baik di panti dengan segala keterbatasan panti. Padahal sejatinya, panti di bawah naungan pemerintah. Panti asuhan menerima banyak bantuan setiap bulannya. Kami diurus dengan baik, mulai dari makanan yang diawasi gizinya, pakaian, biaya pendidikan, semua terjamin dengan baik.


Kami bahkan memiliki tabungan masa depan masing-masing yang jumlahnya tidak sedikit. Jika sudah usia dua puluh tahun atau sudah keluar dari panti, tabungan itu bisa diambil. Tabunganku, kemana ya. Dulu saat aku ikut Papa Hartono, aku lupa mengurusnya. Atau mungkin, sudah diambil Papa? Kok aku tidak tahu?


Ah, seandainya Nenek mengerti, kami anak-anak yang sedang dibersihkan dari dosa orang tua kami. Seandainya mereka tahu, kami sedang diukir dengan masa depan yang cerah, kami tidak berdosa. Kami tidak mengukir dosa kami sendiri. Orang tua kami yang melukisnya pada diri kami. Kami tidak berdosa.


Nenek, datanglah kapan-kapan. Akan kutunjukkan padamu siapa kami yang sebenarnya.