My Name Is Rose

My Name Is Rose
Hari Yang Tak Biasa



Suatu pagi di SMP Insan Mulia. Semua tampak seperti biasa. Tidak ada yang riuh seperti tempo hari saat undangan biru menyebar. Anak-anak membaca bukunya bahkan sebelum bel berbunyi, itu pun pemandangan yang kulihat setiap hari. Hanya saja, Dinda belum hadir. mungkin masih di jalan.


Kubuka bubur ayam yang dibawakan Bik Sul. Aku benar-benar tertolong olehnya. Hanya saja dia tidak pernah membuatkanku nasi goreng di pagi hari. Alasannya karena nasi goreng akan membuat mata mengantuk. Ah, mitos dari mana itu. Tak apa. Bik Sul sudah tua, sudah pasti banyak pengalamannya. Siapa tahu teori itu benar. Apapun itu, aku ribuan kali berterima kasih padanya yang selalu memperhatikan kebutuhan kami sekeluarga, meski hanya dalam hati.


Rak lama berselang, Dinda akhirnya datang. Tapi kali ini berbeda. Biasanya dia akan segera mencicipi bekal yang kubawa. Kali ini tidak. Dia hanya melihatku sekilas lalu segera duduk di bangkunya yang berjajar dengan bangkuku.


"Din, bubur ayam, enak lo" Kutawarkan bekalku seperti biasa.


Dia bahkan tidak menyahut sama sekali. Tentu saja pikiranku bertanya-tanya. Ada apa dengan Dinda pagi ini. Dinda lantas mengambil bukunya dan membaca seperti yang lain. Baiklah. Aku tidak akan memperkeruh suasana. Mungkin dia sedang bete dari rumah. Orang tuanya menuntut banyak padanya sebagai anak tunggal. Mungkin karena itu dia begini sekarang.


Bahkan sampai bel istirahat berbunyi dia masih sewot. Apakah berat masalahnya pagi ini dengan orang tuanya?


"Din.....Dinda...tungguin!!" Teriakku memanggilnya saat berjalan menuju kantin. Dia meninggalkanku begitu saja. Biasanya kami selalu bersama ke kantin. Jadi jelas dia marah denganku, bukan dengan orang tuanya. Ada apa? Kenapa? Sampai pulang pun masih seperti itu. Oke baiklah. Aku harus luruskan masalah kami. Aku tahu dia mungkin salah paham dengan sesuatu.


"Dinda tunggu Din" Aku menarik tangannya sewaktu keluar kelas.


Dengan terpaksa dia berhenti dan terpaksa pula melihatku.


"Apa?" Dinda bertanya dengan nada ketus.


"Kamu marah sama aku?" Tanyaku.


"Kamu ngejar aku cuma buat tanya itu?"


"Oke, aku minta maaf jika memang kamu begini karena marah sama aku"


"Minta maaf buat apa?"


Kali ini aku tidak bisa menjawab. Sebab aku tidak tahu dimana salahku. Apakah tentang malam pesta itu. Atau tentang hadiah utama di pesta itu. Atau apa?


"Aku pikir kita beneran jadi sahabat yang nggak umpet-umpetan" Dinda berbicara setelah beberapa saat kami diam.


"Mana jam tangan dari Papaku" Tiba-tiba saja Dinda berbicara begitu.


"Ha?"


"Kamu nggak mikir jam tangan itu beneran dikasihkan buat kamu kan? Itu hanya untuk couple an pesta. Mana??"


Sungguh aku tidak menyangka akan semalu ini. Aku benar-benar mengira itu memang untukku. Ternyata hanya asesoris pinjaman. Dengan suka rela aku melepas jam tangan itu dan memberikannya pada Dinda. Dinda berlalu setelah menerima jam tangannya kembali. Aku sungguh tidak mengerti kenapa dia semarah itu padaku.


Sampai jam pulang pun Dinda tidak menyapaku. Kami benar-benar tidak saling bicara selain waktu istirahat yang sebentar itu. Saat bel berbunyi Dinda berlalu meninggalkanku. Aku tidak bisa mencegahnya lagi. Dia mungkin masih panas. Aku berharap esok akan kembali normal.


Aku berjalan lemas. Sama sekali aku tak menyangka hari ini bakal menjadi hari yang menyedihkan. Satu-satunya sahabatku di sekolah ini mulai menjauhiku. Aku harus intropeksi diri. Mungkin aku melakukan kesalahan fatal tanpa kusadari. Dan hingga kini belum kuketahui dengan pasti.


"Rosa!" Aseseorang memanggilku dari samping.


Dia berdiri di sana. Dia menatapku datar. Apa yang akan dia lakukan padaku? Kenapa tiba-tiba dai menghampiriku padahal dia sendiri yang ingin menjauhiku.


"Clara"


"Kamu tidak tahu?"


"Aku tidak mengundangmu. Bahkan untuk undangan warna biru pun aku tidak memberikan untuk kamu. Kamu beruntung karena teman satu kelasmu waktu itu nggak masuk, makanya kamu kebagian undangan"


Oh, jadi itu kesalahan. Aku memang tidak di undang. Sejauh itu dia bertindak.


"Jadi bagaimana bisa kamu dapat undangan? Warna silver lagi? Kamu merencanakan sesuatu?" Lanjutnya.


"Jadi kamu nggak tahu siapa yang kasih undangan itu ke aku? Kenapa kamu nggak tanya sama orang yang nyetak undangan itu? Siapa yang bikin undangan itu? Itu untuk tamu spesial kan? Yang bakal dapat doorprise dengan harga mahal? Undangan biru hanya dapat voucher cafe, ya kan? Menurutmu siapa yang membedakan undangan biru dan silver? Menurut kamu aku ngemis undangan ke keluarga kamu begitu?"


Rania tampak bingung dengan jawabanku yang berani, bahkan lebih berani dari biasanya. Dia seakan mundur selangkah. Dia kecolongan pasti.


"Well...well...anak ini pasti sudah nipu Mama kamu Cla...." Beberapa siswi tiba-tiba muncul entah darimana asalnya. Yang jelas mereka teman satu genk.


"Mana jam tangan kamu yang dari Jepang itu?" Salah seorang mengambil lenganku.


"Tadi aku lihat Dinda yang sekelas sama dia memakai jam tangan itu. Jadi jelas dia pinjam dari temannya itu untuk meninggikan harga dirinya" Salah seorang lagi berbicara.


"Wow, itulah makanya Mama kamu nganggap ini anak anaknya orang kaya makanya dikasih undangan warna silver" Yang lainnya turut berkomentar.


"Ih gak adil tahu Cla, kita aja yang satu genk sama kamu cuma dapat voucher makan gratis, lah ini anak malah dapat grand prize" Kata yang lain.


"Jadi udah jelas anak ini penipu. Kamu harus bilang sama Mama kamu Cla"


Clara diam saja dengan tatapan mata sinis padaku. Aku tahu dia ingin menjauh padaku. Tapi dia terlalu bodoh dengan menantangku seperti ini. Teman-temannya tentu akan mencari tahu identitasku, latar belakangku dan apapun tentangku untuk dapat dijadikan bahan pembullyan semacam ini. Itu justru mendekatkan mereka pada kebenaran. Apa hal semacam ini tidak dia pikirkan?


"Hahaha....cuma karena jam tangan pinjaman kamu mimpi jadi anak berkelas kayak kita???" Satu dari mereka mentertawakanku.


"Rosa!!" Tiba-tiba saja Dinda datang dari arah lain.


"Ya Ampun Ros, ini jam mahal, malah ditinggal di toilet lagi. Nih, hati-hati kalo naruh. Limited edition nih" Kata Dinda


Tentu saja Clara and the genk saling pandang. Mereka kecewa dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Eh iya...untung kau temuin" Kataku ragu-ragu.


Dinda tiba-tiba berubah. Dia menyelamatkanku. Aku tahu dia pasti mendengar cemoohan dari teman-teman Clara.


"Kita tuh pesennya rebutan, datangnya lama lagi. Sekarang giliran udah dapet malah ceroboh naruh di toilet" Lanjut Dinda.


"Eh Clara selamat ya atas pembukaan Cafe nya. Kita duluan ya" Kata Dinda sambil menggelandang tanganku.


Dinda. Bagaimana bisa kamu sekuat itu melawan mereka. Kaku benar-benar cerdik. Aku tersenyum. Jadi kenapa kamu marah Din. Kamu membuat aku stress kalau begini. Terima kasih, Dinda.


***