My Name Is Rose

My Name Is Rose
Kacung



"Hm....malam..." Sapaku di telepon.


Sebulan ini dia tidak pulang ke tanah air. Tumben. Mana betah dia jauh begitu lama dariku. Ups.


"Iya, super ketat banget soalnya" Katanya.


"Fokus...jangan mikirin yang di sini. I'm okay" Kataku setiap kali dia menelepon.


Malam ini tidak begitu panas karena hujan gerimis datang. Namun suasananya hangat karena telepon dari Alanta. Ditemani secangkir kopi susu, rasanya beban di pundakku ini kuletakkan sementara. Kusandarkan badanku di sofa. Bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore, ternyata cukup melelahkan.


"Kapan tes nya?" Tanya Alanta tiba-tiba.


"Tes apaan?" Kataku sambil menyeruput kopi susu.


"Kedokteran First"


"Kapan emang pendaftarannya?"


"Kamu belum tahu?"


"Aduh, akhir-akhir ini aku sibuk banget di kantornya Pak Hamdani"


Aku benar-benar disibukkan oleh program event Batik For Adult. Sampai aku kurang update soal pendaftaran kuliah. Bagaimanapun aku harus tetap kuliah meski dengan jurusan biasa, bukan jurusan yang lagi trend. Meski jurusan dokter masih menjadi cita-citaku. Kadang aku berpikir. Aku sudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji fantastis untuk orang kecil sepertiku. Kenapa aku harus capek-capek kuliah. Padahal toh setelah lulus kuliah ujung-ujungnya juga cari kerja. Ah, akhirnya aku sampai pada pemikiran ini.


"Tapi kalo kamu nyaman di kantor dulu juga gak papa"


"Masalahnya beasiswa itu berlalu sampai kapan?"


"Iya juga"


"Lewat dari setahun udah hangus kayaknya"


Di saat jauh, Alanta masih memikirkan masa depanku. Hal yang belum tentu kudapatkan dari orang lain. Bahkan juga orang tua asuhku kala itu. Masalahnya adalah, apa yang harus kuambil? Tetap bekerja di kantor namun mungkin saja aku akan kehilangan beasiswa itu, dan tentu akan dipertanyakan riwayat pendidikanku. Atau harus berhenti kerja dan mengambil beasiswa itu, tapi resikonya, aku kehilangan pekerjaan karena tidak mungkin sambil kuliah. Lalu biaya hidup, mau darimana?


Di kantor.


Ada pemandangan yang berbeda di kantor hari ini. Mendadak semua karyawan memakai batik. Kurasa ini batik produk perusahaan ini. Hanya aku yang memakai blazer. Kenapa aku tidak tahu? Padahal aku aktif di kantor ini, dan tidak pernah mengambil cuti atau pulang lebih awal. Bagaimana aku sampai ketinggalan info.


"Mbak Rosa, sst...sst" Seseorang memanggilku dari samping. Rupanya dari meja resepsionis. Aku segera mendekat padanya.


"Hari ini launching event, semua pakek baju batik. Ini dari Pak Agung. Suruh pakek sebelum naik ke atas" Kata resepsionis itu.


Pak Agung adalah salah satu karyawan senior yang bersamaku memprogramkan event 'Batik For Adult'. Aku segera memakai batik titipan Pak Agung itu. Sesegera mungkin aku naik ke atas, ke aula bersebelahan dengan ruanganku. Informasi itu kudapat dari resepsionis tadi.


Di aula sudah banyak orang berbaju batik, balon-balon sudah terpasang. Makanan dan minuman sudah tersaji di meja masing-masing. Acara sebesar ini aku bahkan tidak tahu menahu? Kapan mereka merencanakan ini?


"Pak Agung" Aku menghampirinya.


Pak Agung sedang minum secangkir kopi bersama senior lainnya.


"Saya nggak tahu menahu kalo ada acara ginian" Bisikku.


"Pemberitahuannya lewat group, kamu tidak dimasukkan di sana" Jawan Pak Agung dengan berbisik pula.


"Loh ada Pak?" Aku terkejut.


"Sudah kuduga kamu nggak tahu. Lebih tepatnya nggak diberi tahu" Jawab Pak Agung.


Aku melongo untuk kesekian kalinya. Diskriminasi. Mereka berupaya mendiskriminasi diriku. Aku bersyukur Gusti Allah selalu mengirimkan orang-orang baik di sekelilingku. Jika saja tak ada Pak Agung maka hari ini akan menjadi awal buruk bagiku di kantor ini.


"Siap-siap, siapkan pidato singkat" Kata Pak Agung lagi.


"Untuk apa Pak?"


"Dengan tidak diberitahunya kamu, berarti kamu dijebak supaya tidak bisa persiapan menyambut launching. Kita yang memprogramkan ini, maka kita juga harus bisa memberikan gambaran ide itu. Siap-siap saja" Jawabnya.


Huft aku sedikit gugup. Pidato itu apakah sama dengan presentasi kemarin? Ah menurutku sama saja hanya lebih singkat dan lebih padat. Kira-kira begitu.


"Sst....sudah datang" Kode Pak Agung.


Pak Hamdani sekalian tiba dengan suara sepatu Nyonya Hamdani yang elegan. Dan di antara mereka ada para senior, salah satunya yang memujiku waktu itu. Siapa dia? Yang jelas Nyonya Hamdani segan padanya. Sesaat setelah kedatangan mereka, acara dimulai. Ditandai dengan semua hadirin duduk di kursi yang disediakan. Aku duduk satu meja dengan timku, termasuk Pak Agung.


"Inilah...event terbaru kita...Batik For Adults" Kata pembawa acara. Bersamaan dengan itu tirai di belakang panggung terbuka dengan perlahan dan tampak di sana foto Pak Hamdani beserta istri terpampang di banner.


Aku bersiap untuk maju. Sebentar lagi namaku akan dipanggil. Jujur saja aku gugup tak karuan. Yang hadir hari ini tiga kali lipat dari presentasi waktu itu.


"Kami persilahkan kepada yang terhormat Bapak Hamdani selaku pemrakarsa event ini, untuk memberikan sambutan"


Pak Hamdani? Dia yang diakui sebagai pemrakarsa acara itu. Padahal itu kerja kerasku bersama tim. Kupikir gambar di banner itu karena dia pemimpin perusahaan ini. Ternyata karena pemrakarsa event itu. Lebih tepatnya mengklaim sebagai pemrakarsa.


"Pak Agung...kok ...." Aku hendak berbincang dengan Pak Agung mengenai masalah ini tapi ternyata Pak Agung sudah tidak ada di kursinya. Kemana beliau.


Di ujung pintu aku melihat seseorang baru saja keluar. Kurasa itu Pak Agung. Aku segera berdiri dan menuju keluar mengikuti Pak Agung. Aku tidak mempedulikan Pak Hamdani yang sedang berorasi. Aku juga tahu, dia melihatku keluar ruangan. Benar saja, Pak Agung keluar dari aula menuju jendela besar di salah satu sisi kantor. Dari jendela itu ia bisa melihat pemandangan di luar. Pelan-pelan aku mendekatinya. Berbagai spekulasi berputar di kepalaku.


"Pak...." Panggilku.


"Ternyata sama saja" Katanya. Rupanya dia menyadari keberadaanku. Tangan Pak Agung menggenggam kuat seperti seseorang yang memendam dendam. Bahkan otot-ototnya mencuat keluar membentuk peta-peta timbul.


"Tadinya aku pikir benar-benar ada perubahan di kantor ini setelah anak muda seperti kamu masuk. Ternyata kita hanya kacung. Dan tetap akan menjadi kacung"


Pak Agung adalah karyawan senior. Tentu dia tahu seluk beluk perusahaan ini. Minimal dia tahu bagaimana perusahaan ini berjalan dari tahun ke tahun. Yang di atas semakin jaya, yang di bawah terus bekerja. Entah apakah Pak Agung yang kurang bersyukur dengan gaji yang sebanyak itu, atau memang pemimpin perusahaan ini memeras tenaga mereka untuk memperkaya diri. Atau justru dua duanya.


"Bapak ingin saya lakukan apa?" Aku menawarkan.


"Tidak perlu. Tidak akan bisa. Mereka berkuasa jauh seperti yang kita bayangkan" Pak Agung berbalik, ia tersenyum, lalu mengajakku kembali ke dalam.


***