My Name Is Rose

My Name Is Rose
Tepi Sungai Isar



"Saya tidak heran jika jamu protes. Sebagian besar mahasiswa Indonesia akan memprotes hal ini" Jawab Miss Rachel ketika aku menelepon


"Jadi gimana Miss, bisa kan diatasi?" Tanyaku memastikan.


Aku memprotes tentang Jack. Dia seorang mahasiswa asal Hamburg, Jerman. Namanya mengingatkanku pada seseorang yang membuatku kemari. Secara kebetulan kami sekamar. Tinggal sekamar laki-laki dan perempuan adalah hal biasa di Jerman. Sehingga tidak ada kebijakan menempatkan sesama jenis. Ini adalah hal yang tidak bisa kutoleransi. Aku tidak bisa tinggal sekamar dengan lawan jenis.


"Bisa, asalkan ada yang mau bertukar tempat" Katanya.


Apa? Jadi aku harus mencari dulu orang yang mau bertukar tempat denganku? Kenapa mereka tidak bisa mengatasi hal-hal sepele seperti ini? Berapa lama aku harus mencari sementara aku masih orang asing di negeri ini.


"I'm going out to meet my friends. Would you like to join? I'm sure it will be fun!" Kata Jack suatu pagi.


"No thanks" Jawabku.


Syukurlah dia akan have fun bersama teman-temannya. Sementara itu setidaknya aku bisa bernafas lega sambil terus mencari ide bagaimana mencari tempat yang baru. Apa aku menghubungi Bu Mariana saja? Ah tidak mungkin. Aku sudah berganti nomor dan semua yang ada di Indonesia sudah di block. Aku sudah seperti orang hilang sekarang. Selain Miss Rachel, aku harus menghubungi siapa?


Selagi Jack di liar, aku segera mandi, cuci baju, masak seadanya. Sebab jika Jack sudah kembali, aku tidak bisa leluasa melakukan itu. Bagaimanapun jika Jack lelaki normal, ia akan tergoda untuk ikut masuk ke kamar mandi. Atau hal seperti itu memang sudah biasa di Jerman ini. Maka benar jika tak ada pembatasan jender.


Aku bergidik ketika membayangkan itu. Kubayangkan aku sedang tertidur di kamar dan lupa mengunci pintu. Ketika tengah malam ia baru nonton film porno dan hatinya bergejolak, ia lantas masuk menyelinap ke dalam kamarku, ia melihat bajuku yang tersibak sehingga terlihat jelas anggota tubuhku yang selama ini kututup. Ia kemudian memelukku dari belakang, memaksaku berhubungan badan, dan aku tak berdaya karena tubuhnya yang kekar itu sulit untuk kulawan. Lalu aku sekuat tenaga melepaskan diri, aku keluar kamar dan meminta pertolongan, tapi semua pintu tertutup. Tidak ada satupun yang keluar dari kamar untuk membantuku. Lalu aku kembali ke kamar hendak mengambil barang-barang yang kubisa, dan Jack melihatku dengan tertawa. Ia mengatakan aku gadis kampungan karena hal seperti ini lumrah dan tidak akan ada orang yang menpermasalahkan.


Sepertinya aku memang harus bergerak sendiri. Aku sudah mengunduh aplikasi penerjemah bahasa jerman ke bahas inggris sehingga bisa berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sini. Aku sudah berdandan rapi dan hendak membuka pintu.


"Oh what's your name? Eh...Rose? Where will you go?" Jack tiba-tiba sudah di depan pintu hendak masuk.


"Oh yeah...i want to see my campus" Jawabku.


"Oh...would you mind if i accompany you?"


"Oh no, thanks. I can do it my self"


Aku segera keluar dari kamar. Aku tahu sebenarnya Jack bermaksud baik. Dia pun sepertinya menganggapku sebagai teman seatap selayaknya teman sekelas. Hanya saja aku harus lebih waspada pada orang asing apalagi lawan jenis. Ingat, jika laki-laki dan perempuan berdua, maka yang ketiga adalah syetan. Syetan itulah yang akan membuat laki-laki dan perempuan itu berbuat asusila dan mempengaruhi mereka bahwa asusila itu manusiawi.


Sejujurnya aku tidak tahu arah. Aku baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jerman. aku tidak tahu apa-apa dan tidak kenal siapa-siapa. Aku terus berjalan mengikuti langkah kakiku. Kurapalkan doa-doa yang kubisa, semoga Allah menuntunku ke tempat yang tepat.


Ciiiiiittttttt........brukkk


Sebuah mobil menyenggolku. Aku terjatuh. Sekali lagi kukatakan, mobil menyenggolku, bukan menabrakku. Aku memang terjatuh, dan memang sakit namun tak parah. Seseorang keluar dari mobil itu dan sekonyong-konyong memeriksa keadaanku.


"Verzeihung" Katanya berkali-kali.


Seorang ibu-ibu muda yang membawa banyak sekali sayuran di dalam mobil tuanya. Tampaknya ia takut jika disalahkan dan tentunya mendapatkan hukuman.


"Can you speak english?" Tanyaku.


"Ha? #&$@¢£¥£^" Dia berbicara panjang lebar tapi aku tak tahu artinya. Beberapa orang yang melihat kami pun berdatangan. Namun mereka sama bingungnya dengan ibu penilik mobil.


"Halo..wats is das?" Tanya seseorang yang baru datang setelah menyaksikan peristiwa ini.


"Oh, Herr...bitte hilf uns" Kata Ibu pemilik mobil kepada seorang pemuda yang baru datang.


Mereka berbicara cukup panjang. Lalu si penilik mobil mengambil sesuatu di dalam mobil dan memberikan sebuah kartu pada pemuda itu. Dan kemudian si Ibu pemilik mobil pergi meninggalkan kami.


"Im sorry let's go to clinic. I know you can not speak German labnguage" Kata pemuda itu.


Aku mendongak ke atas sambil menahan sakit di kakiku. Betapa terkejutnya aku melihat siapa yang sedang menolongku. Kami sudah sangat lama tidak bertemu tapi wajahnya masih tak berubah. Dia masih seperti dulu. Wajah teduh itu masih sama seperti dulu


"Kamu...dari Indonesia juga kan?" Tanyaku memastikan.


"Rosa" Panggilnya.


Benar. Dia orangnya. Dia masih mengingatku. Dibantunya aku berdiri dan dipapah menuju sepedanya. Berbeda dengan di Indonesia, sepeda di Jerman ukurannya lebih besar. Selama dua hari di Jerman aku belum melihat motor sama sekali.


"Di sini jarang yang punya motor. Sebab sudah banyak transportasi umum yang lebih nyaman" Katanya sambil mengayuh sepeda.


Beberapa tetes minyak digosokkan di kakiku. Lalu mulailah seorang perawat mengurut kakiku dengan lembut. Rasanya cukup sakit namun masih bisa kutahan. Mobil yang ditumpangi Ibu itu sudah mengerem dari jauh namun tidak cukup waktu untuk benar-benar berhenti. Sehingga kakiku tersenggol dan aku terjatuh. Aku tidak menyalahkan Ibu itu. Justru akulah yang kurang konsentrasi.


"Bagaimana kamu bisa sampai ke Jerman? Percaya nggak, kita bisa bertemu di sini?" Tanya pemuda itu.


Kami duduk di atas kursi di tepi sungai Isar. Banyak orang yang menikmati pemandangan di sekitar kami. Dan suhu yang dingin membuat mereka menyeduh kopi yang dibawa dari rumah. Kami menikmati mi cup, semacam pop mie di Indonesia. Teringat beberapa tahun silam saat masih SMP, beberapa hari sebelum aku pindah dari Semarang ke Jakarta, kami sempat duduk berdua di Kota Tua Semarang. Seperti ini posisi ya. Duduk berdampingan di atas kursi panjang memakan sesuatu. Ya, dialah Panji. Kakak kelasku di Cendekia, Semarang.


"Kamu kemana setelah waktu itu?" Dia bertanya seakan menagih janji.


"Aku pindah ke Jakarta Kak...orang tuaku di pindah kerja ke sana" Jawabku.


Kami terdiam oleh hembusan angin yang menggoyangkan syal kami.


"Kakak sendiri?" Giliran aku bertanya.


"Aku juga ke Jakarta, aku berharap bisa bertemu denganmu lagi...tapi ...."


***