
Aku datang menemui Om Banu. Memang suatu keputusan yang konyol ketika aku mengunjunginya di penjara. Maka sengaja aku merahasiakannya dari siapapun. Polisi juga mempertanyakan maksud dan tujuanku menemuinya. Sebab yang kutemui bukan sembarang orang.
Kulihat wajah yang berewokan itu duduk terpekur di sudut jeruji besi. Tatapannya kosong. Dia bukan lagi pria perkasa yang menyanderaku malam itu. Dia bukan pria tampan yang mengantar Mama pulang setiap hari. Dia bukan lagi pria bringasan yang mengancamku di outlet. Dia sama sekali berbeda.
"Om Banu" Panggilku lirih.
Dia melihatku sekilas lalu kembali pada pandangannya yang kosong. Aku berjongkok demi merendahkan tubuhku sejajar dengannya. Aku tidak tahu bagaimana bisa semua kemarahanku lebur seketika. Karena Silvi. Orang di depanku ini adalah belahan jiwa Silvi.
"Ngapain kamu kesini? Senang melihat saya seperti ini?" Kata Om Banu kesal.
" Silvi pindah Om. Ke Batam" Kataku mengawali. Aku tidak tahu kalimat apa yang bisa menarik perhatian Om Banu agar mau berbicara denganku. Akhirnya aku memutuskan untuk menyebut nama Silvi.
Benar saja. Om Banu terkejut. Mungkin Silvi tidak memberitahunya. Dia tidak berpamitan dengan Papanya.
"Silvi nggak ngasih tahu Om?" Tanyaku.
Om Banu tidak menjawab. Dia menangis. Laki-laki perkasa jika sudah menitikkan air mata pertanda dia sedang hancur.
"Bagaimanapun, Silvi masih mencintai Om. Masih besar seperti sebelumnya" Kataku.
Om Banu masih tidak menjawab. Dia masih menangis sesenggukan. Kubiarkan dia meluapkan rasa sedihnya sampai mereda.
"Bolehkah saya bertanya satu hal Om?"
Om Banu memberikan gestur mengiyakan.
"Apakah benar Mama saya menjual saya pada Om?"
Om Banu terkekeh ringan disela-sela tangisnya.
"Mama kamu...sama bodohnya dengan saya..... Kami dijebak...kami ini hanya alat" Kata Om Banu.
Sama seperti ucapannya ketika ditelepon. Om Banu mengaku dijebak.
"Siapa Om?"
"Jack" Katanya lirih
"Jacob?"
"Kamu tahu Jacob?"
"Anak buahnya beberapa kali mendatangi rumah kami. Mereka memeras Mama"
"Dia dalang dari semua ini. Gadis-gadis itu adalah tawanan Jack. Aku dijebak seolah aku yang menculik mereka"
"Katakan itu pada polisi Om"
"Ah polisi mana ada yang percaya"
"Coba saja Om"
"Kamu yang harus membuktikan!!" Kata Om Banu dengan wajahnya yang menggebu-gebu.
"A...aku?"
"Kamu sahabat Silvi kan? Kamu menyayangi Silvi? Bantu dia, bantu Om. Cari bukti bahwa Jack adalah dalang dari semua ini"
Aku tercengang. Bagaimana aku bisa mengungkap kebenaran. Aku hanyalah remaja yang lemah. Aku tidak memiliki kekuatan seperti Alanta. Aku tidak memiliki kekuasaan. Aku hanyalah aku. Remaja kecil yang bertahan hidup.
Saat aku keluar dari ruang tahanan. Kulihat Mama duduk berhadapan dengan seorang polisi. Masih menyisakan pertanyaan apakah Mama benar terlibat dalam kasus penculikanku? Lalu untuk apa dia kesini. Apakah untuk menemui Om Banu yang selama ini menjadi kekasih gelapnya.
"Mama" Panggilku
Mama berdiri kemudian. Kami bertemu, berhadapan. Ada sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini tatapan matanya begitu lembut.
Mama sudah berjalan beberapa langkah menjauh dariku.
"Mama, bolehkah aku bertanya?" Aku mencoba menghentikan langkahnya
Mama berhenti dan berbalik arah.
"Aku hanya ingin memastikan. Mereka bilang Mama menyerahkanku pada Om Banu. Apakah...itu benar?" Tanyaku.
Mama tidak menjawab. Mama hanya menangis dan menunduk. Mama berbalik arah kembali dan meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan yang belum sempat terucap. Tapi dengan gestur tubuhnya, tampaknya memang benar bahwa Mama menjualku pada klompotan Om Banu.
***
"Pa ....mau sholat sekarang apa nanti habis makan?" Tanyaku dari dapur.
Tidak terdengar Papa menjawab.
"Papa....sholat sekarang aja gimana?" Aku mengulangi.
Sama. Tidak ada jawaban. Aku mencoba melihat keadaan Papa. Papa tertidur di kursi roda. Pantas daja dia tidak menjawab. Tetapi ada yang aneh dengan tidurnya. Mulutnya menganga. Tak biasanya Papa tidur model begitu.
"Pa...sholat isya dulu Pa..." Aku menggoyangkan ringan tubuhnya.
Papa tidak menyahut. Tangan kirinya tiba-tiba terjatuh dari pegangan kursi roda. Kupegang tangannya. Dingin. Aku segera memeriksa dada. Kutempelkan telingaku pada dadanya. Tak ada detak yang terdengar. Oh tidak. Aku segera keluar mencari pertolongan.
"Tolong....Pak ..Buk ..tolong!!" Aku berteriak pada tetangga.
Ada beberapa orang yang sedang nongkrong di sebuah gazebo. Mendengar teriakanku, mereka bubar dan segera datang memenuhi panggilanku.
"Tolong Papa saya tidak bisa dibangunkan" Kau panik.
Orang-orang itu segera memeriksa ke dalam.
"Wah kayaknya udah nggak ada nih" Celoteh salah seorang di antara mereka.
"Jangan bilang gitu dulu Pak. Tolong periksa yang bener" Pintaku panik.
"Anu aja Mbak, dibawa ke rumah sakit aja" Kata salah seorang yang lain.
"Ya udah ... Tolong ya Pak"
Salah satu tetangga meminjamkan mobilnya. Dan yang lain membopong Papa ke mobil. Sepanjang jalan aku berdoa. Aku tidak menangis. Waktuku akan habis sia-sia jika aku menangis. Aku terus berusaha membangunkan Papa sambil terus merapalkan doa-doa.
Aku tidka punya pilihan. Aku menelpon Mama begitu sampai di rumah sakit. Setengah jam kemudian Mama tiba bersama keluarga besar. Hanya Monica dan Bulik Farida yang tidak ikut serta. Kehadiran mereka cukup menguatkanku. Karena aku tahu aku tidak menghadapi ini sendiri.
Papa masih di ruang ICU unyuk ditangani dokter. Sementara kami menunggu di luar. Kulirik Mama yang panik sama sepertiku. Kakek duduk bersila dengan tatapan mata pada satu arah. Namun tatapan itu tajam. Sedang Nenek mondar-mandir mencari ketenangan.
Dokter keluar dari ruang ICU. Dan disambut oleh keluarga besar Mama. Tentu saja mereka menanyakan keadaan Papa.
"Mohon maaf Bapak Ibu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin" Kata Dokter.
Kau tahu artinya? Papa tidak bisa diselamatkan. Mama jatuh tersungkur. Dia menangis sejadi-jadinya. Nenek menenangkan di sampingnya. Kakek menunduk. Dan yang lain segera membantu mengurus jenazah Papa. Sementara aku seperti seseorang yang kehilangan jiwa. Aku berdiri mematung tak tahu arah. Aku tidak menangis, karena untuk memeras air mata saja aku tak kuat. Aku lemas.
Jenazah Papa dibawa ke ruangan lain untuk dirawat. Mama dan yang lain seger mengikuti jenazah Papa. Sementara aku terduduk lemas. Kakiku mendadak tidak bisa digerakkan. Kubiarkan jenazah Papa berlalu meninggalkanku.
Papa...
Begitu cepat Papa meninggalkanku. Ya Allah...Papa... Aku hanya bisa memanggilnya dengan lirih. Aku sendirian. Benar-benar seorang diri. Aku selalu yakin Papa akan sembuh. Dengan segala perawatan yang kulakukan dia pasti akan sembuh seperti sedia kala. Namun kenyataannya begitu pahit kurasakan. Papa benar-benar meninggalkanku. Papa ...
"Rosa!!" Aku mendengar suara Alanta dari kejauhan. Tapi aku tak mampu menjawab sepatah katapun. Hanya isak tangis yang mampu keluar dari mulutku. Menolehpun aku tak sanggup.
Dia memelukku dan membiarkan kepalaku bersandar di dadanya. Semakin keras tangisku, semakin bergetar bibirku. Tanpa sadar tanganku meremas begitu keras pada jaketnya. Aku menangis sejadi-jadinya
***