My Name Is Rose

My Name Is Rose
Pertemuan



Pagi di pinggiran kota Jakarta. Memang benar kata orang, Jakarta memang tidak pernah tidur. Subuh tadi sudah ada yang jualan di depan penginapan, menjelang pagi banyak orang sudah berangkat kerja, juga muda mudi yang sedang lari pagi. Jakarta tidak pernah sepi.


Pukul 06.30 Wib kami sudah sarapan. Pak Arif yang membelikan nasi untuk kami. Nanti sekitar pukul 8 kami sudah bertolak ke Semarang. Dua hari kami menginap di sini. Hari pertama untuk acara Pak Hamdani, hari kedua memuaskan nafsu belanja Mama. Monas tidak lagi menjadi daftar kunjungan kami. Lagipula aku sudah tidak begitu berselera. Aku ke Monas untuk bertemu dan menghabiskan waktu dengan Rania. Tapi kondisi sekarang ini tidak mendukung.


"Kamu yakin kita gak ke Monas dulu? Kita bisa lo cari tahu tentang Rania, Pak Arif kenal banyak orang di sini" Kata Papa sembari beres-beres perlengkapan Monica.


"Nggak Pa, soalnya mmm Rania sudah pindah ke Sumatera" Jawabku asal-asalan.


"O ya, kok kamu gak cerita ke Papa? Jadi kami sudah bisa hubungi Rania?" Tanya Papa penasaran.


"Sudah Pa"


"Ke nomer siapa?"


"Ehm...Rosa dapat nomernya dari teman, trus Rosa hubungi dia" Lagi-lagi aku menjawab sekenanya.


"Oh..syukurlah, kamu lega sekarang?"


Aku mengangguk.


"Nanti kalau ekonomi kita sudah mapan, Papa pasti sempatkan waktu ngantar kamu ke Sumatera" Kata Papa tiba-tiba.


Aku tidak bisa berkomentar. Aku takut salah bicara. Aku harus selalu ingat, Papa tidak boleh tahu tentang Clara. Karena nasib Papa juga dipertaruhkan di sini.


"Halo....oh iya betul, iya .iya ..ada sebentar ya...." Papa mengangkat telepon.


"Ros, ada telepon untuk kamu, nih" Papa memberikan hapenya padaku. Siapa yang menelepon sepagi ini.


"Ha..halo..." Ucapku...


"Ros... Kamu beneran pulang hari ini?" Itu suara Rania.


"I....iya Ran..sampai jumpa lain waktu"


"Ini nomer pengasuhku, kamu bisa telepon ke nomer ini tapi sms dulu sebelumnya"


"Oh..oke Ran"


"Kamu...bisa sms kan alamat penginapanmu? Aku kesana, ini sudah perjalanan"


Apa? Dia mau kesini? Kesabaranku membuahkan hasil. Akhirnya kami bisa bertemu.


"Oke. Aku sms kan ya"


Benar saja, Rania benar-benar datang. Mobilnya berhenti di ujung penginapan. Aku segera datang menyambutnya. Dia turun dari mobilnya dengan seragam sekolah. Dia tersenyum memandangku. Dalam setiap tatapannya sangat jelas betapa dia merindukan momen ini.


Kami berpelukan. Lama sekali. Seolah kami tidak ingin melepaskan pelukan ini. Bertahun-tahun lamanya kami saling merindukan. Hari ini kami dipertemukan dengan kondisi yang menyenangkan. Hari kemarin sudah kami lupakan, dimana ada batasan diantara kami.


Kami duduk di dinding jembatan kecil. Sengaja aku tidak membawa Rania ke penginapan karena khawatir akan menimbulkan banyak pertanyaan.


"Kamu sudah ke Monas?" Tanya Rania.


Aku menggeleng.


"Kenapa?"


"Buat apa kesana tanpa kamu" aku memandangi tubuhnya dari rambut hingga mata kaki. Benar-benar sudah menjadi anak orang kaya. Tubuhnya terawat, pakaiannya bermerk, sepatunya terlihat mahal


"Nanti kalau kamu sudah pindah ke Jakarta, kita kesana sama-sama ya" Ajak Rania.


"Aku lega, sekarang kamu memiliki keluarga" Kata Rania.


"Satu-satunya alasanku untuk mau diadopsi adalah...kamu" Jawabku.


"Aku?"


"Karena jika hanya di panti, aku tidak bisa mencari kamu"


"Maaf ya Ros, aku tidak bisa memegang janji. Karena aku butuh keluarga"


"Sudahlah Ran....yang penting aku bisa ketemu lagi sama kamu"


"Dan terima kasih, karena waktu itu kamu pura-pura nakal, sehingga Mama memilih aku"


Ya, itu memang benar. Kala itu keluarga Pak Hamdani hendak mengadopsiku. Aku masih ingat akan janji kami. Kami tidak ingin siapapun mengadopsi kami. Kami ingin selamanya bersama sampai kami menikah nanti. Demi mewujudkan itu, aku pura-pura manja dan nakal. Dan esoknya, mereka datang kembali. Rania yang mereka pilih. Yah, aku tahu, Rania memang manis. Rania penurut, dan fisiknya cocok sebagai anak orang kaya.


"Oh itu, dah lah, semua sudah terjadi, kita harus melangkah ke depan bukan"


Rania tersenyum.


"Kamu masih bercita-cita jadi dokter?" Tanya Rania.


"Masih, kamu?"


"Aku ..akan meneruskan bisnis Papa Mamaku, jadi sepertinya aku tidak boleh punya cita-cita lain"


Entah ini hal baik atau buruk. Rania tidak bisa memilih hidupnya sendiri. Dia berada pada garis pasti yang tak bisa ditawar. Dia seperti robot, digerakkan oleh remote bernama 'pewaris'.


"Tapi kamu happy kan?"


"Yah, aku belajar untuk menerima segala aturan yang ada di rumahku. Sebagai gantinya, aku mendapatkan apapun yang aku mau. Sekolah bagus, baju bagus, kendaraan, pelayan, keliling dunia, semua aku dapat"


Jujur aku iri dengan nasibnya yang berbanding terbalik denganku. Rania benar-benar menjadi putri raja, sedang aku? Statusku hanyalah di atas kertas. Kenyataannya aku tak lebih dari sekedar pembantu.


"Aku senang, kamu punya keluarga yang sangat sayang sama kamu" Kataku.


"Ah, kamu juga begitu, aku lihat orang tua asuhmu juga sayang sama kamu"


Kamu gak tahu Ran, bagaimana aku tersiksa menghadapi Ibu asuh yang begitu keras. Aku hanya mengangguk. Aku tidak ingin merusak suasana haru ini dengan kabar buruk. Biarlah Rania tahu aku baik-baik saja. Tuhan maha adil. Dia tau mana yang diberi kemudahan dan mana yabg diberi rintangan bertubi-tubi. Karena sejatinya, yang harus melewati rintangan adalah mereka yang punya kekuatan lebih.


Rania anak yang lemah. Dulu dia sering dijahilin kakak kelas waktu di TK. Dan akulah yang setia di sampingnya menghalau setiap anak yang mencoba menyakitinya. Kini dia aman, berada di keluarga yang sempurna yang memberikan segala kemudahan.


Terkadang aku berfikir, mungkin hanya aku yang kuat menghadapi sifat Mama. Karen, aku punya kekuatan lebih. May be like that.


"Ingat ya Ros, di depan orang lain, panggil aku Clara. Dan kita berteman sejak pesta ulang tahunku. Ingat itu ya"


"Oke...ini rahasia kita berdua"


"Ya, rahasia kita berdua"


Kami mengaitkan jari kelingking sebagai bukti janji. Tenang saja Ran, aku kuat memegang rahasia, sekalipun kamu sudah mengkhianati janji kita dulu. Tak apa.


Pertemuan pagi ini serasa hangat. Sehangat mentari pagi di ufuk timur. Sahabat lama yang hilang bertahun-tahun, sekarang ada di depan mataku. Menggenggam jariku, memandang wajahku, dan memanggil namaku. Dia tetaplah Rania. Rania yang lemah, yang manis, yang lembut, dan yang kuanggap seperti saudara kembarku. Dia tetaplah Rania meski telah berubah menjadi Clara. Dia tetap gadis panti mesti tinggal di istana. Dan tetap saudaraku meski harus dibatasi oleh ruang dan waktu.


Pertemuan pagi ini, adalah hal terindah dalam hidupku. Dia alasanku ikut dengan keluarga Pak Hartono. Dia alasanku sampai ke Jakarta ini. Rania, Clara, siapapun namamu, engkau tetaplah saudaraku.


***