My Name Is Rose

My Name Is Rose
Pesangon



Pandan Resto.


Pernah bangga menjadi bagian dari tempat ini. Siapa yang tak membusungkan fada bekerja di resto bergengsi seperti ini. Aku harus berterima kasih pada Teh Atih, rekan kerjaku yang memberikan informasi padaku tentang resto ini beberapa jari setelah aku dipecat dari pekerjaan pertamaku. Aku pernah menikmati bertemu orang-orang penting, pernah mendapat tip lumayan, pernah pila berfoto dengan artis tanah air. Semua itu adalah pengalaman berharga yang gak bisa dinilai dengan uang.


Aku berdiri di depan Resto penuh keraguan. Apakah aku sanggup bertemu kembali dengan mereka. Mengingat kembali bagaimana tatapan mereka terhadapku yang dituduh mencuri. Bagaimana anggapan mereka terhadapku yang dicap sebagai pencuri.


Aku melangkah masih penuh keraguan. Seorang waiters menyambut kedatanganku. Mungkin dia anak baru sehingga tidak mengenalku.


"Selamat datang Kak, bisa saya bantu carikan kursi? Untuk berapa orang Kak?" Tanya waiters itu yang sepertinya sudah terlatih.


"Ehm, saya mau bertemu dengan...Pak Manajer" Kataku tenang meski dalam hatiku bergemuruh.


"Oh, iya baik, mau melamar kerja?" Tanya waiters itu.


"Ehm, ada urusan sedikit" Kataku.


"Baik, silahkan"


Aku menunggu di ruangannya yang adem karena ac. Tempat ini tak banyak berubah. Hanya pot bunga plastik yang berada di sudut meja sebagai pemanis. Loker itu masih berantakan dengan berkas yang kurang tertata. Jaket Pak Manajer masih tetap sama, tergantung di belakang kursi. Semua masih sama.


Krek...pintu terbuka, dan Pak Manajer masuk menemuiku.


"Rosa" Panggilnya.


Aku mengangguk.


"Surprise saya melihat kamu di sini. Ada yang bisa saya bantu? Tapi maaf, posisi kamu sudah ada yang ngisi" Kata Pak Manajer.


"Oh ndak Pak, saya todak sedang berbicara dengan topik itu. Sayaa..."


Kuserahkan rekaman video Mbak Susi yang mengakui perbuatannya karena suruhan seorang perempuan. Pak Manajer tampak menyaksikan dengan seksama. Dahinya berkerut, cukup membuktikan bahwa dia sedang menangkap isi video itu dan berupaya memasukkannya dalam otak.


"Rosa, ini sudah tiga bulan yang lalu jadi...lebih baik tidak perlu kita bahas lagi" Kata Pak Manajer.


"Bapak benar, peristiwa sudah lampau seharusnya kita tutup, jangan lagi dibuka...tapi apakah predikat sebagai pencuri sudah lepas dari diri saya Pak? Apa Bapak bisa menjamin kalau mereka sudah tidak lagi menganggap saya pencuri?"


Pak Manajer tampak berpikir. Kedua jemari tangannya menyatu.


"Lalu apa yang kamu inginkan Rosa?" Tanya Beliau kemudian.


"Saya ingin Bapak meluruskan masalah ini entah bagaiamana caranya, saya mau semua karyawan tahu bahwa saya tidak mencuri kala itu. Terserah bagaimana teknisnya. Saya juga tidak ingin Mbak Susi terkena hukuman lagi. Penurunan posisi audah cukup mengurangi gajinya"


"Hanya itu?"


"Ada lagi Pak"


"Apa lagi?"


Aku mengeluarkan slip pesangon yang kuterima kala itu.


"Bapak masih ingat ini? Saya menerima pesangon lima puluh persen karena saya dipecat sebab sebuah kesalahan. Tapi setelah saya membuktikan bahwa saya tidak bersalah, saya rasa saya berhak untuk minta lima puluh persennya lagi"


Pak Manajer tampak mengingat-ingat sesuatu.


"Rosa, bukankah kita sepakat bahwa masalah ini tidak perlu kita bahas lagi?"


"Hei..hei...hei... Tunggu dulu. Kenapa mesti diposting sih?" Pak Manajer sidah mulai panik.


"Saya hanya ingin membersihkan nama saya. Dengan begini, nama baik saya kembali. Bapak tinggal pilih, apakah dengan cara intern atau ekstern seperti saya tadi"


"Andi!!" Pak Manajer memanggil salah satu staff nya.


Orang yang dipanggil Andi kemudian muncul di antara kami. Sesaat setelah Andi datang, Pak Manajer menyobek sebuah slip, menuliskan sesuatu, lalu menandatanganinya.


"Serahkan ini sama bendahara" Kata Pak Manajer.


"Baik Pak" Jawab Andi.


Kemudian aku berdiri dan memberi hormat.


"Terima kasih Pak. Resto ini akan selalu menjadi kebanggaan Jakarta" Kataku.


Sesat setelah berjabat tangan dengan Manajer, aku segera beralih ke ruang bendahara.


***


Hari ini belum selesai. Aku masih punya rencana lain. Aku mendatangi tempat les Clara. Aku dengar Clara mengikuti les di sebuah lembaga bimbingan belajar yang bonafit. Aku sengaja datang ke tempat itu karena sidah sangat sore. Aku bahkan ijin sejati demi dapat bertemu Clara. Tidak ada yang mengenaliku dan tidak ada yang peduli juga. Aku menunggu tepat di teras depan.


Tak berapa lama Clara muncul. Kali ini dia sendiri tanpa teman-temannya. Mungkin memang hanya dia yang les di sini. Aku berdiri menyambutnya.


"Ngapain lu di sini?" Taya Clara ketus seperti biasa.


"Santai aja Cla, tidak ada teman lo kan di sini. Lo gak perlu ketus sama gue"


Aku mendekatinya.


"Lo gak perlu nyembunyiin rasa kangen lo ke gue. Gue tau dalam hati kecil lo, ada gue yang ingin lo raih dengan kedua tangan lo itu, ada saudara semasa kecil lo yang ingin lo temui setiap hari. Dan lo sangat menyayangkan kalo orang yang lo cintai ternyata justru mencintai saudara lo itu. Itulah sebabnya lo begitu benci ke gue" Bisikku.


"Lo mau bersaing sama gue? Gak level!!"


"Hmmm terserah deh. Gue kesini cuma mau nunjukin ini"


Kuberikan rekaman video pengakuan Mbak Susi. Clara tampak terkejut dan marah. Tapi dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Hanya alisnya yang naik turun menandakan emosinya yabg sedang membumbung di kepala.


"Trus kenapa? Memangnya di video ini dia nyebut nama gue? Gak kan?" Kata Clara.


"Ya sih, jadi bukan kamu ya orangnya? Syukur deh!" Kataku.


Clara tidak menjawab, hanya cemberut dengan mata yang tajam.


"Lo jangan senang dulu, Alanta itu pangeran. Di masa muda dia akan ginta ganti pasangan, tetapi jodohnya sudah ditentukan. Lo pasti paham kan soal itu. Jadi...nikmati aja waktu lo itu, sambil siap-siap bakalan nangis karena kalian gak level" Kata Clara kemudian.


Ya, aku sudah memikirkan hal itu. Kami masih muda. Bisa saja aku adalah sebagian kecil perempuan yang dekat dengan Alanta. Bisa jadi di Malaysia sana dia sudah memiliki incaran baru. Atau Bu Mariana sedang menyeleksi calon istri dari Alanta. Orang sekaya itu, tidak mungkin begitu mudahnya menerima orang lain sebagai bagian dari keluarganya. Tentu mereka akan menyeleksi bibit bobot dan bebetnya.


Mungkin benar apa yang dikatakan Clara. Aku harus siap dengan itu. Tapi jujur, saat ini cintaku begitu dalam untuk Alanta. Aku berharap waktu berjalan melambat agat aku bisa menikmati waktuku dengan Alanta lebih banyak.


Hapeku berdering. Alanta. Baru saja aku merindukannya dia sudah menelepon. Jakarta Kuala Lumpur, terpaut waktu satu jam. Kuterima telepon itu. Seperti yang Alanta katakan, waktu belajarnya sangat padat, jadi ketika dia menelepon, berarti ada waktu kosong meski sedikit. Dan aku, sebaiknya tidak menyia-nyiakan waktu itu.


***