
"Ini....cuma kecil...semoga kamu suka ya" Kuberikan kado itu pada akhirnya.
"Thanks ya"
Alanta hendak membuka kado itu tapi buru-buru aku cegah.
"Eh...nanti aja bukanya...pas di kamar sendirian" Kataku.
"Kenapa?"
"Ya...ya pokoknya ntar aja" Aku tidak punya alasan.
Alanta tetap membuka kado itu saat aku menoleh ke arah lain.
"Wah cakep ni" Komentar Alanta.
Sesaat aku kecewa karena Alanta tidak menuruti permintaanku. Aku yakin dia pasti menerima apapun yang kuberi, tapi bagaimana dengan orang tuanya, apakah bisa menerima seperti Alanta?
"Aduh Bunda jadi nostalgia ni...dulu waktu masih pacaran ,hadiah pertama yang Bunda kasih ke Ayah, sebuah topi soalnya Ayah suka main badminton, biar gak kepanasan" Komentar Bu Mariana.
"Betul itu. Topinya sampai sekarang masih Ayah simpan" Sahut Om Ibra.
Aku tersenyum. Lega rasanya mendengar komentar itu.
"Terkadang banyak orang berfikir, bahwa ulang tahun itu kado yang istimewa adalah kado yang mahal. Tapi seharusnya bukan itu. Tapi kado yang sangat bermakna. Seperti yang Ayah kasih ke Alanta tadi. Coba Alan, tunjukkan isinya" Kata Om Ibra
Alanta melakukan apa yang diminta Ayahnya. Lalu ia tunjukkan padaku.
"Test masuk perguruan tinggi di Malaysia" Katanya.
"Kamu nggak kuliah di First?" Sontak aku bertanya secara spontan.
"Saya rasa Alanta perlu belajar di tempat lain agar tidak mendapatkan perlakuan istimewa dari guru-gurunya" Kata Om Ibra.
Menurutku pemikiran itu kontroversial. Bisa jadi orang yang mendengarnya beranggapan bahwa itu pemikiran yang bagus, untuk mendidik anak menjadi lebih mandiri dan tidak menggantungkan siapapun. Tapi bagi sebagian yang lain, mengirim anak ke tempat lain sama halnya meragukan kualitas pendidikan sendiri.
"Bunda.....mana kadonya?" Ledek Alanta.
Bu Mariana tampak terkejut dengan pertanyaan putranya. Sambil mengunyah kue ia kelabaan menjawab.
"Jadi Bunda harus kasih kado juga?" Tanya Bu Mariana.
"O iya dong" Jawab Alanta.
Tampak sejenak Bu Mariana berpikir. Cukup lama kami menunggu. Sejenak beliau memejamkan mata sebelum kemudian menjawab.
"Baik...kata Ayah tadi, kado istimewa adalah kado yang bermakna. Dan kado Bunda, mungkin adalah salah satu kado yang sangat Alan inginkan"
Kami semua mendengarkan. Bu Mariana kemudian meminum air putih.
"Bunda...memberi ijin, memberi restu...untuk Alan...dengan Rosa" Kata Bu Mariana
"Serius Bunda?" Alanta memastikan.
Bu Mariana mengangguk tenang.
"Yes!!!!" Alanta berdiri dengan mengangkat kedua tangannya dan kepala menengadah ke atas.
Aku pun tak bisa menahan rasa gembiraku. Tanpa kusadari air mataku turut hadir dalam momen ini. Aku tersipu, mungkin pipiku sudah memerah dibuatnya. Suasana menjadi lebih hangat dari sebelumnya.
"Alan akhirnya punya pacar!!" Komentar Alanta dengan konyolnya.
Aku tertawa kecil. Alanta kemudian duduk melihatku. Dengan cepat dia mencium pipiku.
"Eeeeeh" Kata Bunda.
"Sekali doang Bun" Kata Alanta.
Jadi ini hadiah Tuhan untukku yang bersabar dengan hinaan malam itu. Aku direstui. Orang tua Alanta telah membuka pintu untuk kami. Ini bukan perkara menang kalah dari Clara. Tapi setidaknya, dia tidak akan bisa berkutik lagi.
***
"Jadi kamu pilih mana? Ke Malaysia atau di First?" Tanyaku pada Alanta suatu hari.
"Entahlah Ros, aku juga bingung. Di Malaysia lumayan bagus. Tapi kita gimana?"
Aku menepuk tangannya.
"Kamu jangan khawatirkan aku. Kalo memang kamu suka Universitas di Malaysia, gak papa ambil aja. Kita LDR an dulu gak papa" Jawabku.
"Serius?"
"O ya, aku dapat undangan ini" Kata Alanta sambil menunjukkan sebuah undangan warna tosca.
Kubuka undangan itu. Clara Britania Putri. Dia akan menyelenggarakan birthday party di kafe miliknya.
"Trus?" Tanyaku.
"Kita datang" Jawab Alanta.
"Gila kamu, nggak ah" Sahutku.
Alanta menggenggam tanganku.
"Kita datang. Ya!"
Aku menggeleng. Datang ke acara Clara akan menambah musuh.
"Kalo kamu gak mau, berarti aku juga gak datang" Kata Alanta.
"Kenapa kamu mau ajak aku?"
"Karena kamu pacar aku, aku mau nunjukin ke semua orang, hubungan kita sudah direstui oleh Bunda" Katanya lirih.
Aku berpikir sejenak, apa manfaatnya membawaku kesana, sementara aku tidak diundang. Lalu apa pula gunanya kami menunjukkan hubungan kami ke semua orang. Bukankah itu hanya akan membawa permusuhan.
"Nggak. Aku tetep nggak" Kataku.
Sekali lagi Alanta menggenggam tanganku.
"Ros, kapan lagi coba memukul mereka? Terlalu banyak yang mereka lakukan ke kamu, kamu gak mau menunjukkan kemenanganmu ke mereka?"
Aku berpikir sejenak. Apa iya harus dengan cara seperti ini?
"Sudahlah. Datang. Ya?"
Aku tak punya pilihan. Kayaknya balas dendam dikit bolehlah.
Pada hari yang ditentukan. Pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengan Alanta. Pesta ulang tahun kamu borjuis pasti mewah, maka aku pun mengenakan gaun simple namun elegan. Bahkan aku merogoh kocek cukup banyak deni gaun ini.
Aku gugup saat mobil sudah berhenti di depan kafe. Sesaat aku ragu apakah benar caraku ini. Apakah memang seharusnya aku kesini? Apa yang akan terjadi di dalam sana? Alanta menggenggam tanganku dengan kuat untuk mengurai gugup. Dia memandangku sebentar.
"Siap?"
Aku mengangguk. Huft. Aku harus tenang. Aku yakin pria di sampingku ini akan melindungiku.
"Janji ya, jangan tinggalkan aku barang sedetik pun" Kataku.
"Janji!"
Kami berdua memasuki pintu kafe dengan bergandengan tangan. Alanta menggenggam tanganku erat seolah tak ingin aku lepas. Benar-benar mewah. Lihat saja dekorasinya yang minimalis namun elegan, kostum yang dipakai para tamu pun terlihat menunjukkan siapa pemakainya. Persis seperti dalam film yang kulihat selama ini.
"Hai Kak Alan, akhirnya datang juga" Stella menyambut kedatangan kami.
Stella kemudian terkejut dengan kehadiranku di samping Alanta.
"Oh ya selamat ya atas kelulusannya, saya dengar Kakak mau ikutan tes masuk perguruan tinggi di Malaysia ya?" Sambung Hana.
"Ya, doain aja" Jawab Alanta singkat.
"Wuih keren..ayo Kak silahkan, Clara sudah nunggu di depan. Kakak langsung ke depan ajah udah disiapin kursi tuh di depan" Lanjut Hana.
Sesaat Alanta memperhatikan arah yang ditunjukkan oleh Hana. Namun kemudian ia melihatku.
"Ok thanks" Kata Alanta.
Kami melangkah masuk namun tidak ke kursi yang sudah ditunjukkan, kami justru ke meja paling pojok. Yah, Alanta memang mencarikanku tempat yang paling nyaman.
"Di sini oke kan?" Tanya Alanta.
Alu mengangguk mengiyakan. Baru semenit kami duduk, Nyonya Hamdani datang menghampiri kami.
"Alanta..seneng akhirnya kamu datang. Udah lama?" Tanya Nyonya Hamdani.
"Barusan Tante" Jawab Alanta.
"Oke, eh Tante bisa ngomong sebentar?"
Tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Alanta dan membawanya ke depan. Kejadian itu sangat cepat sampai Alanta tidak bisa mengelak dan aku tidak bisa mencegah. Jadilah aku sendirian di meja itu. Padahal dia sudah berjanji tidak akan meninggalkanku barang sedetikpun. Ini adalah kandang macan bagi kelinci kecil sepertiku.