My Name Is Rose

My Name Is Rose
Vania



Perumahan kumuh. Seperti yang kumimpikan malam tadi. Meski tidak sama persis tetapi sejenis. Tidak begitu kotor namun tidak bisa disebut rapi. Mobil berhenti di depan gang..karena tidak ada lahan yang cukup luas, mobil berhenti di teras orang. Kami terpaksa harus jalan kaki karena jalanan tidak cukup untuk dilalui mobil saking sempitnya.


"Lewat sini" Kata Rico mengarahkan.


Sepanjang jalan para emak emak memperhatikan kami. Tiga remaja yang dua masih berseragam sekolah dan yang satu berjaz almamater lewat rumah mereka. Rupanya jarak dari mobil terparkir dengan tujuan kami cukup jauh. Setelah berjalan cukup jauh, sampailah kami di sebuah rumah uang menurutku paling layak diantara yang lain.


Rumah itu memiliki pagar besi yang cukup tinggi sekira mampu menutupi hiruk pikuk di dalamnya. Aku masih belum paham ini rumah siapa. Saat kuberi gestur bertanya pada Dinda, dia pun mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti.


"Assalamualaikum!!" Sapa Rico.


Pintu pun terbuka dan seorang wanita tua muncul dari balik pintu. Rambutnya yabg sudah memutih menunjukkan bahwa usianya mungkin di atas enam puluh tahun.


"Oh Nak Rico, silahkan masuk" Katanya sembari membukakan dua pintu besi.


Rumah yang sederhana namun rapi. Rumah yang masih asli seperti bangunan jaman dulu, hanya saja lantainya sudah berganti marmer.


"Sebentar ya, dinikmati dulu" Kata perempuan itu sambil menyuguhkan teh hangat.


"Rico...." Aku memanggil Rico untuk meminta penjelasan.


"Dari sini semua berawal...kamu akan tahu"


Tidak berapa lama perempuan tua itu membawa balita laki-laki yang kira-kira usianya dua atau tiga tahun. Balita itu berjalan lincah menuju Rico dan memeluknya dengan senang.


"Sudah bisa ngomong "R" lo Nak Rico" Kata perempuan itu.


"Wah perkembangannya pesat sekali ya Bu" Komentar Rico.


"Kapan hari Mamanya telpon, dia mau ujian, minta doa katanya" Lanjutnya.


Perempuan tua itu masuk kembali ke ruangan yang lebih dalam. Mungkin beliau memang sengaja meninggalkan kami bersama balita itu.


"Anak ini namanya Ananta. Mirip kan dengan nama Alanta?" Kata Rico.


Rico kemudian berdiri dan mengambil pigura ukuran sepuluh sentimeter yang terpajang di sebuah tembok. Berani sekali dia ambil foto di rumah orang, pikirku.


"Nih, lihat" Kata Rico.


Rico memberikan foto itu padaku. Aku dan Dinda melihat dengan seksama. Ada tiga orang dalam foto. Alanta, Afrizal dan satu lagi perempuan. Alanta dan perempuan itu mengenakan seragam yang sama. Ya, aku hafal betul itu seragam First. Sementara Afrizal mengenakan baju bebas berjaket.


"Ini yang namanya Vania?" Aku bertanya pada Rico, dan dia mengangguk.


"Vania siapa?" Dinda satu-satunya yang tidak tahu di sini.


"Jadi, mereka bertiga ini sahabat dekat. Vania sekelas dengan Alanta waktu masih kelas satu, sementara Afrizal sudah kuliah. Afrizal ini sudah sejak awal menyukai Vania, tapi sayangnya, Vania sudah pacaran dengan Alanta"


Pantas, Vania cantik meski penampilannya sederhana. Itulah definisi cantik natural tanpa poles. Jika dibandingkan denganku, ah masih kalah jauh.


"Kemudian tersiar kabar bahwa Vania hamil...."


"Jadi....Ananta ini ....Astaghfirulloh"


Ananta anak dari Alanta dan Vania. Inikah yang dimaksud oleh Afrizal malam itu. Jadi Alanta sudah...oh ya Tuhan. Bagaimana peristiwa sebesar ini begitu rapat tersembunyi. Mereka begitu pintar menutupi ini. Sekarang bagaimana? Setelah terbongkar semua, bagaimana aku bisa menerima ini? Hatiku terlanjur dalam menaruh hati padanya. Dan sekarang....


"Kurang ajar juga temen lo itu Ric, dia bohongin temen gue" Kata Dinda kesal.


"Eh...sorry...sorry kalian salah paham" Kata Rico.


"Salah paham apanya, ini buktinya. Dari nama saja hampir sama" Kilah Dinda kesal.


Suasana hening. Adakah yang berubah setelah cerita selesai? Aku hampir saja keluar dari rumah itu dan berlari pulang jika saja Rico tidak meneruskan ceritanya sesegera mungkin.


"Vania hamil karena diperkosa. Semua orang menyangka Alanta adalah ayah dari bayi ini, Afrizal marah dan kecewa dengan Alanta. Meski sudah terbukti bahwa DNA mereka berbeda, Afrizal tetap kecewa. Sampai sekarang. Mereka terlihat akur, tapi sebenarnya tidak"


Aku berjongkok, dan meraih balita atas nama Ananta itu. Bayi yang tidak bersalah. Begitu polos dan lugu. Dia sedang memainkan mobil remote miliknya.


"Kehamilan Vania kami tutupi demi menjaga nama baik Vania. Setelah melahirkan, bayi itu dititipkan di sini, di rumah Mbok Sum. Sementara Vania kembali bersekolah namun tidak di First. Kamu tahu siapa yang membantunya? Alanta dan keluarganya. Demi menjaga kehormatan Vania dan masa depannya"


"Dimana Vania?" Tanyaku.


"Kita diminta untuk merahasiakan itu. Agar Vania tetap dikenal sebagai gadis perawan. Yang jelas, dia kembali bersekolah. Anak ini, dibiayai oleh keluarga Alanta"


Aku tidak bisa berkomentar apapun. Antara percaya dan tidak. Antara kasihan dan kesal. Ini seperti mimpi. Perempuan hamil karena diperkosa. Ah, bagaimana ia bisa melewati hidupnya. Hidupnya lebih berat dari yang kualami.


Kreek...pintu terbuka. Seorang perempuan cantik seusiaku berdiri di tengah pintu. Kami mengangguk sebagai sapaan.


"Rico....ini..." Perempuan itu terlihat bingung.


Sebelum Rico menjawab, Mbok Sum, perempuan tua yang menerima kami tadi muncul dari ruangan yang lebih dalam.


"Ee....Mama Nia datang...itu Anta.....Mamanya datang itu...." Kata Mbok Sum.


Itulah Vania. Secara kebetulan dia berkunjung disaat kami juga mengunjungi rumah ini. Kami bertemu secara kebetulan.


"Eh ..aku jelasin dulu Van..." Jawab Rico


Vania tak menjawab, ia menggendong putranya dan duduk diantara kami.


"Silahkan diminum" Katanya.


"Ini....yang namanya...Rosa" Kata Rico.


Vania tersenyum. Ada pendar kesedihan disaat dia melihatku. Melihat pacar baru mantan kekasihnya, tentu dia merasa tidak baik-baik saja. Aku mendekatinya.


"Ananta tumbuh menjadi anak yang lucu ya...." Kataku.


Vania masih diam dan enggan menjawab.


"Dia akan tumbuh menjadi pemuda yang kuat, yang akan melindungi Mamanya"


Vania seakan tak peduli.


"Aku janji akan merahasiakan ini" Lanjutku.


"Dulu Alanta juga janji begitu" Katanya.


"Van...suatu ketika kamu juga akan memperkenalkan Ananta pada dunia. Dan kamu harus siap dengan itu" Kataku.


Vania memandangku. Dia menunduk setelah beberapa saat.


"Terima kasih" Katanya kemudian.


Kami bertiga pulang setelah berpamitan. Menjadi Vania memang berat, masa depannya terancam suram setelah kehormatannya hilang. Tetapi ada yang lebih terluka dari Vania. Afrizal. Laki-laki itu bahkan tidak mendapatkan secuil saja cinta dari gadis pujaannya, tetapi dia harus menerima kenyataan bahwa kekasih hatinya telah mengandung anak orang lain. Dan dia menyalahkan Alanta atas itu semua.


Satu pertanyaan besar dalam benakku. Jika apa yang terjadi pada Vania amit-amit terjadi padaku, akankah Alanta meninggalkanku? Seperti yang ia lakukan pada Vania. Yah, meski Alanta mengusahakan penuh memberikan solusi untuk Vania, tapi kenyataannya mereka putus. Kenapa Afrizal tidak mengambil kesempatan menikahi Vania ketika tahu Alanta dan Vania putus?


***