My Name Is Rose

My Name Is Rose
Berantakan



"Orang tua kamu mana Rosa?" Tanya Wali kelas.


"Papa saya lumpuh Bu, jadi tidak bisa ke sekolah" Jawabku.


"Mama?"


"Hari-hari ini ada job di luar kota Bu"


"Sayang sekali"


"Tapi masih bisa saya ambil sendiri kan Bu?"


"Tidak bisa Rosa... bilang ke Mama kamu, setelah pulang dari luar kota supaya menemui Ibu ya"


"Begitu ya Bu, apa tidak bisa saya ambil sendiri"


"Itu sudah prosedur. Ibu tunggu nanti ya"


Raporku tidak bisa diambil. Papa tidak mungkin datang ke sekolah karena kondisinya. Mama apa lagi. Setelah dia dipanggil karena kasus Jessie, mana mungkin dia mau ke sekolah lagi. Meminta Mama datang sama halnya dengan menyerahkan nyawa. Dia pasti akan menghabisiku.


Hujan kembali mengguyur First School. Seperti biasa aku menunggu hujan reda di teras. Tak banyak siswa yang tersisa. Sebagian besar siswa sudah pulang dijemput oleh sopir pribadi, sebab rata-rata adalah anak orang kaya. Hanya beberapa yang masih tersisa. Tetapi guru dan karyawan masih lengkap. Entah apa yang mereka kerjakan, para guru punya waktu lebih panjang di sekolah di banding para siswa. Itulah tuntutan pekerjaan.


Alanta berlari menerjang hujan gerimis. Dengan berpayungkan jaket dia menutupi kepalanya. Sampailah dia di sampingku. Entah sengaja atau tidak, dia kini berteduh bersamaku di teras. Aku manatapnya. Sesaat setelah melepas jaketnya dia pun menatapku. Mata kami bertatapan dengan sejuta kalimat kerinduan. Namun itu tak lama. Segera kami beralih pandang.


"Alan...." Panggilku.


"Clara sudah pulang, jangan khawatir" Sambungnya sebelum aku meneruskan.


"Terima kasih"


Suasana mendadak menjadi kaku. Lama kami tak bertemu menjadikan hubungan kami tak seakrab dulu. Rasanya setiap kalimat yang keluar dari mulut kami ditata dengan rapi, bukan bergulir begitu saja seperti dulu.


"Ros..."


"Alan..."


Kami mengucap nama bersamaan. Lalu kami menunduk bersamaan. Semua serba canggung.


"Aku...boleh minta tolong" Malu rasanya aku mengatakan ini. Sudah kali ke berapa aku meminta bantuannya. Bahkan setelah memutuskan hubungan kami, aku masih saja minta bantuannya? Bukankah itu memalukan.


"Hm?"


"Orang tuaku tidak datang untuk ambil rapor"


"Ya, aku paham. Papa kamu tidak mungkin datang. Tunggu sebentar"


Alanta berlari bahkan sebelum aku mengatakan permintaanku. Dia tahu bagaimana kondisi Papa. Dia juga tahu hubunganku dengan Mama tidak begitu baik. Aku menunggu. Tetu saja dengan sejuta perasaan campur aduk. Apakah aku tidak sedang memanfaatkan Alanta? Apakah tindakanku terlalu manja? Apakah aku tidak menyalahi aturan?


"Panggilan...untuk Rosa Nirwasita supaya menuju Biro Administrasi...Sekali lagi...."


Namaku dipanggil melalui mikrofon. Alanta untuk ke sekian kalinya berhasil membantuku. Aku menuju ruangan yang dimaksud. Di sana ada petugas administrasi. Wali kelasku tidak ada. Entah tidak sedang di ruangan ini, atau memang sudah pulang.


Aku masuk ruangan dengan ragu-ragu. Seseorang memberikan surat serah terima padaku untuk kutanda tangani.


"Silahkan tanda tangan di sini" Katanya.


"Jadi rapor saya boleh saya ambil sendiri?" Aku bertanya memastikan tidak terjadi masalah jika kutanda tangani surat itu.


"Iya bisa, sudah ada jaminan"


Ah, pasti Alanta yang menjamin. Aku tidak tahu bagaimana sistem di sekolah ini berjalan. Segalanya tampak tegas. Namun ketika berhubungan dengan keluarga Yayasan atau orang-orang yang berpengaruh, semua tampak berubah. Seperti hari ini. Prosedur bisa dengan mudah berubah oleh Alanta, anak ketua Yayasan.


Aku melihatnya di tangga saat aku hendak turin. Dia duduk sendiri di sana. Menyadari ada seseorang di belakangnya, ia pun menoleh. Lalu begitu tahu siapa yang ada di belakangnya, dia tersenyum dan berdiri menyambutku. Kuacunhkan rapor di tanganku. Dia kembali tersenyum.


Aku turun tangga sejajar dengannya. Kini kami berhadapan. Kembali dia tersenyum. Begitu senangnya dia bisa membantuku.


"Never mind"


***


Buru-buru aku membuka pagar rumah. Akan kutunjukkan pada Papa, berapa nilaiku dan kutunjukkan bahwa lagi-lagi aku mendapat peringkat pertama di kelas. Artinya, beasiswa ku terus berjalan.


"Pa....Papa...." Panggilku.


Di sana sini basah oleh hujan. Kuambil alat pel lalu kubersihkan air yang menggenang di teras. Selesai mengepel aku segera masuk ke dalam.


"Papa....Pa...." Kembali kupanggil Papa.


Beberapa kali kupanggil tapi Papa tidak menjawab. Rumah ini sepi. Suara Monica pun tidak ada.


"Papa...."


Aku terkejut melihat situasi di depanku. Kursi roda Papa sudah terguling. Lalu di mana Papa. Aku semakin panik.


"Papa...." Panggilku.


Segala ruangan kuperiksa, tetapi tidak ada. Aku menuju ruang belakang, dan kudapatkan Papa tergeletak di sana. Bagaimana bisa Papa lepas dari kursi rodanya. Apakah Papa sedang belajar berjalan. Tapi kenapa kursi rodanya terguling.


"Papa...Ya Allah Pa....Papa!!"


Aku segera membantu Papa yang sudah tidak sadarkan diri. Tetapi Papa begitu berat untuk seorang remaja sepertiku.


"Mama!!!....Monica....."


Kemana semua orang. Bahkan Monica pun tidak di rumah. Satu yang membuatku curiga. Rumah berantakan. Benda-benda berserakan dimana-mana. Guci di ruang tengah terguling dan pecah. Apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ada maling masuk dan Papa memergokinya. Ah aku tidak mau menganalisis apapun. Sekarang yang terpenting adalah kondisi Papa. Aku segara keluar meminta bantuan tetangga.


"Tolong.....tolong...."


Syukurlah banyak tetangga yang mendengar. Beberapa orang membopong Papa, beberapa lagi menyiapkan kendaraan. Seseorang berbaik hati meminjamkan mobilnya untuk membawa Papa ke rumah sakit.


"Terima kasih ya Pak" Kataku begitu Papa ditangani oleh dokter.


"Kamu gak papa sendirian?" Tanya Pak RT.


"Nggak papa Pak, terima kasih sudah membantu saya"


Lidahku kelu ketika mereka bertanya di mana Mama. Sebab aku sendiri tidak tahu. Teleponku juga tidak tersambung. Monica juga tidak ada di rumah.


"Nanti kalau Mama pulang, tolong kasih tahu ya Pak" Pintaku.


"Ya"


Papa masih berada di ruang ICU. Kondisinya masih ngedrop akibat benturan karena jatuh.aku menunggu dengan perasaan tak karuan. Kondisinya sangat rawan. Orang yang sudah punya gejala stroke sangat bahaya jika terjatuh. Apakah karena rumah bocor sehingga ada air di lantai, sebab tadi hujan deras. Ah otakku serasa berhenti bekerja. Aku tidak bisa berpikir jernih lagi.


"Suster bagaimana Papa saya?" Aku bertanya pada perawat yang baru saja keluar dari ruangan Papa.


"Masih dalam observasi, Pak Hari belum sadar, berdoa saja ya"


Aku tidak bisa tenang sebelum Papa melewati masa kritisnya. Tetapi aku tidak bisa memaksa keadaan. Biarkan Papa berjuang, sedang tugasku adalah berdoa. Apalagi. Hanya itu yang bisa kulakukan.


***


Aku pulang terlebih dahulu untuk mengambil beberapa perlengkapan. Aku semakin terkejut karena melihat rumah yang lebih berantakan dari sebelumnya. Ini jelas maling. Dia pasti sedang mencari sesuatu. Ah uang pesangon. Aku menuju kamar untuk memeriksa. Tetapi uangku masih utuh. Syukurlah. Atau jangan-jangan uang Mama. Kuperiksa kamar Mama juga berantakan. Lemari dan laci terbuka semua.


Aku segera melapor pada keamanan. Keamanan memeriksa kamera cctv. Terekam jelas ada beberapa orang yang masuk ke rumah selagi aku membawa Papa ke rumah sakit. Orang-orang itu berpenampilan seperti preman. Ada sekitar enam orang. Siapa mereka.


***