My Name Is Rose

My Name Is Rose
Arsip



"Kira-kira masih berlaku tidak ya?" Aku bertanya kepada petugas pendaftaran First University.


"Masih, bahkan tahun depan masih berlaku. Tetapi ada bedanya. Jika tahun ini mendaftar maka akan bebas tes tulis. Hanya tes wawancara saja. Kalau tahun depan harus dua duanya. Karena ilmu itu setiap tahunnya kan berkembang" Jelas petugas pendaftaran.


"Oh iya, yang tercover dalam beasiswa apa saja ya?"


"UKT, praktikum dan praktek lapangan, di luar itu, biaya sendiri, termasuk beli peralatan kesehatan secara pribadi"


Lumayan lah. Tapi jika aku tidak bekerja, darimana bisa memenuhi semuanya. Alat-alat kesehatan juga mahal. Atau aku ganti jurusan saja? Jurusan yang tidak banyak praktek. Pendidikan misalnya? Kalaupun praktek tidak membutuhkan alat-alat yang mahal, atau jurusan MIPA? Bukankah aku mumpuni di bidang itu. Akan kupikirkan dulu.


"Kalau boleh tahu ini pendaftaran sampai kapan ya..." Aku bertanya.


"Satu minggu...oh kurang dari satu minggu sudah kami tutup. Tanggal 12 besok kami tutup" Jawabnya.


Beasiswaku masih berlaku, karena memang berlakunya setelah lulus SMA. Aku juga tak menyangka jika pendaftaran di First University masih terbuka. Masih ada beberapa hari lagi sebelum aku memutuskan untuk mendaftar tahun ini atau tahun berikutnya. Apakah tetap kedokteran atau yang lain.


Aku harus cepat-cepat kembali ke kantor sebelum Pak Hamdani datang lebih dulu di kantor. Supaya lebih cepat, aku mengambil jalur yang lebih pendek menuju parkiran. Siapa sangka aku bertemu dengannya. Awalnya aku ragu, sebab hanya bisa melihatnya dari belakang. Kali ini ia mengenakan kerudung panjang yang dibalutkan di kepalanya. Saat dia melihat ke samping, tampak jelas bahwa ia mengenakan kacamata hitam. Aku tidak yakin, tapi postur tubuhnya sangat kukenal.


"Tante....!!!" Panggilku.


Dia menoleh kemudian mempercepat langkahnya seakan tidak ingin bertemu denganku. Bunyi langkah kakinya menciptakan nada yang harmonis meskipun monoton.


"Tante Santi!!!! Tunggu Tante" Aku mengejarnya.


Meskipun langkahnya dipercepat secepat mungkin, tetap saja aku bisa mencapainya dengan cepat. Bagaimanapun kekuatanku yang lebih muda tentu lebih kuat darinya.


"Tante ternyata masih di Jakarta, aku pikir sudah ke luar negeri nyusulin Papanya Dinda" Aku basa basi.


"Sorry Rosa Tante buru-buru" Kata Tante Santi sambil terus berjalan. Aku tak mau melewatkan begitu saja, sebab aku sudah kehilangan jejak mereka sebulan lebih.


"Oke Tante saya ngerti, tapi saya minta nomor barunya Dinda ya Tante soalnya aku hubungin bolak-bolik nggak bisa. Aku coba cek di sosmednya juga gak aktif" Pintaku.


"Rosa please, Tante mohon sama kamu berhenti cari tahu tentang keluarga kami. Kamu pasti sudah dengar berita kan, rumah Tante terbakar habis. Untung Tante sudah pindah dari sana. Kamu tahu kenapa? Kamu. Karena kami dekat dengan kamu. Jadi Tante mohon jangan dekati kami, jangan hubungi Dinda, biarkan kami hidup tenang" Kata Tante Santi.


Selepas itu Tante Santi berlalu, dan aku tak berniat mengejarnya. Aku terpaku dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Kebakaran itu karena aku? Karena dekat denganku? Aku teringat peliknya cerita dalam drama korea. Anya sampai beberapa episode aku sudah tidak tahan. Kehidupanku serasa seperti itu. Siapa yang melakukan ini? Menyerang bukan pada sasarannya, tapi pada sekelilingnya yang kemudian menghancurkan sasaran aslinya. Mereka sungguh melakukan itu. Siapa dia?


***


"Pagi Pak Agung...." Sapaku dengan ramah.


Pak Agung mengangguk seperti biasa. Dia selalu serius dalam bekerja. Komputer di hadapannya masih tipe lama, tetapi dia begitu nyaman dengan benda tua itu. Sudah berapa tahun dia setiap pada perusahaan, tapi posisinya masih tak ada perubahan. Sebagian rambutnya sudah beruban, kumisnya pun demikian. Tapi otaknya masih cemerlang.


"Bapak masih kecewa dengan launching kemarin?" Tanyaku.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Jadi terima saja"


Pak Agung berhenti bekerja, ia melihatku, lalu menghembuskan nafas berat.


"Aku pikir, nama kita akan tercantum dalam daftar pemrakarsa, lalu bonus itu aka menjadi milik kita, karena kita yang merancang semuanya dari perencanaan, jumlah dana sampai teknis pelaksanaan kita yang bikin. Sekarang, sepeserpun kita tidak dapat, kecuali hanya ini" Pak Agung melempar sebuah amplop coklat di atas meja.


Kubaca tulisan luarnya. Bonus program hanya senilai dua juta rupiah untuk ide yang menghasilkan ratusan juta bahkan bisa mencapai milyaran. Aku bisa merasakan betapa semua ini sia-sia bagi senior seperti Pak Agung. Tapi bagi karyawan amatiran sepertiku nilai ini sungguh fantastis.


"Kira-kira aku juga dapat?" Tanyaku.


"Cek saja di Wenny"


Aku segera ke ruangan Wenny. Wenny adalah staf keuangan yang menangani gaji dan bonus karyawan dengan perintah direktur.


"Silahkan dicek" Katanya dengan memberikan amplop cokelat yang sama dengan yang di berikan pada Pak Agung. Bonusku sedikit di bawah Pak Agung. Aku tidak protes. Dia lebih berhak mendapatkan bonus yang lebih tinggi dariku.


"Oh ya Mbak, saya boleh lihat dokumen atau arsip apa saja berkenaan gaji Papa saya semasa kerja di sini? Sekitar tiga tahun lalu" Pintaku.


"Oh maaf itu rahasia perusahaan. Hanya direktur dan pemilik saham lainnya yang boleh memeriksa. Kecuali jika ada keperluan audit"


Yah, sudah kuduga pasti tidak diijinkan. Masalah keuangan adalah masalah sensitif. Tidak semua orang diperbolehkan mengetahuinya. Mempertanyakan itupun dinilai kurang pantas. Entah mengapa aku tiba-tiba penasaran saja dengan itu. Setelah mengetahui kenyataan dari Pak Agung, bahwa seringkali Pak Hamdani mengkamuflase keadaan, akupun berpikir, bisa jadi itu terjadi padaku saat ini.


"Kalau mau tahu, silahkan cari sendiri di arsip milik Pak Har, itupun kalau masih ada ya" Usulnya.


Ah kenapa aku tidak terpikirkan itu. Aku segera kembali ke ruanganku untuk mengecek lemari tua milik Papa. Arsip sepenting itu pasti ada di bagian laci. Ah, kuncinya sudah berkarat. Tapi aku bersyukur lemari Papa meski sudah berdebu dan usang, tidak dipindahkan ke gudang. Mungkin karena tidak ada yang menempati posisi ini setelah Papa.


"Cari apa? Tanya Pak Agung.


Pak Herman pun yang satu ruangan denganku turut hera melihatku yang membongkar isi lemari tua milik Papa.


"Ada arsip penting yang harus saya cari" Jawabku tanpa menoleh sedikitpun.


"Arsip apa?" Tanya Pak Agus g dengan nada kesal.


"Gaji Papa. Aku pikir gajiku saat ini tidak sesuai dnegan gaji Papa waktu dulu" Kataku blak blakan.


"Ah, kupikir kamu santai-santai saja. Rupanya kamu juga mengejar itu. Heh..." Pak Agung menertawakanku.


"Pak Har itu sudah canggih dalam bidang digital. Jadi arsip apapun pasti dia simpan dalam bentuk file. Karena dia tahu benda apapun bisa hancur oleh waktu" Timpal Pak Herman.


Ah itu juga bisa jadi. Aku segera membuka laptop yang kupakai bekerja setiap hari. Aku juga tidak memikirkan itu. Sebulan lebih bekerja dengan komputer ini tapi aku sama sekali tidak pernah membuka semua file di sini. Aku tidak tahu pasti apa yang kucari. Aku hanya butuh membuka-buka. Semoga saja menemukan sesuatu.


***