
"Baik kita masih berdiskusi terlebih dahulu. Kita break sepuluh menit" Kata pembawa acara.
Suasana menjadi riuh ramai. Mereka mempertanyakan aturan yang memperbolehkan penonton naik ke podium. Banyak yang menghujat tapi juga banyak yang melihat ini sebagai perubahan baru.
"Baik semua hadirin. Kita lanjutkan perlombaan kita hari ini. Kita putuskan, Rosa diperbolehkan ikut seleksi" Lanjut pembawa acara.
Suara tepuk tangan penonton mula bergemuruh. Sebuah meja lengkap dengan bel disediakan untukku.
"Soal kesepuluh" Kata pembawa acara.
Mendadak suasana menjadi tegang.
"Diberikan empat titik pada satu lingkaran..."
Aku pernah mengerjakan soal semacam itu. Tapi apakah sama dengan soal ini. Aku tidak bisa gegabah.
"87"Clara menjawab.
"Ya benar" Kata pembawa acara.
Clara bisa menjawab? Apakah dia benar menghitung atau...
"Soal berikutnya...pada sebuah bidang datar terdapat 16 titik..."
"117" Aku menjawab setelah yakin dengan jawabanku.
"Benar"
Penonton bertepuk tangan. Pasalnya aku adalah peserta tambahan. Diantara mereka ingin membuktikan bahwa aku pantas menjadi peserta tambahan. Dan diantara mereka ingin melihatku malu karena tidak mampu menyamai peserta yang lain.
"Soal selanjutnya...misalkan x,y,z bilangan real positif...."
"3 pangkat min 8" Aku sudah tidak ingin basa basi lagi. Aku juga tidak ingin memberi kesempatan siapa-siapa lagi. Aku hanya ingin menggunakan hakku selama menjadi peserta tambahan.
"Luar biasa, kita masuk ke babak selanjutnya" Kata pembawa acara.
Aku sedikit melirik Clara dan timnya. Clara terlihat kesal. Sementara Alanta tersenyum padaku. Alanta memberikan kode bahwa dia akan mengalahkanku di babak selanjutnya. Kuberikan balasan bahwa aku siap menerima tantangannya.
"Untuk babak selanjutnya ini akan dikerjakan secara individu atau perorangan" Kata pembawa acara lagi.
Pengumuman ini membuat penonton menjadi ribut. Pasalnya, semua peserta tidak lagi bekerja dalam tim. Pembawa acara juga menegaskan bahwa hal ini untuk memperoleh tiga peserta terbaik untuk mewakili sekolah dalam olimpiade DKI Jakarta.
"Soal pertama..."
Kulihat Clara masih tenang dalam mengikuti perlombaan. Setiap jawaban ya juga selalu benar. Di babak ini kami menjawab dengan menulis di papan jawaban dan menunjukkan pada juri.
"Soal selanjutnya....diberikan persegi ABCD...."
Kami mengejar waktu untuk mampu menjawab yang tercepat.
"Clara menjawab akar pangkat dua, Alanta menjawab akar pangkat dua minus satu, Rosa juga menjawab akar pangkat dua minus satu dan yang lain belum menjawab" Kata pembawa acara menyebutkan.
"Dan jawaban yang benar akar pangkat dua. Dengan demikian Clara mendapat nilai 100" Kata pembawa acara.
Aku memeriksa kembali jawabanku berikut pengerjaannya. Jawabanku benar aku yakin. Apakah ini uang dimaksud Bu Sarah, kesalahan dalam soal seleksi.
"Instruksi Bu!!" Aku mengacungkan tangan. Dengan cepat kamera mengarah ke wajahku. Sehingga wajahku terpampang di layar.
"Ya Rosa"
"Jawaban yang benar akar pangkat dua minus satu. Coba dicek kembali" Kataku.
"Bagaimana dewan juri?" Tanya pembawa acara.
"Semua yang ada di tangan saudara pembawa acara sudah fix dan diperiksa oleh kami. Jadi rasanya tidak mungkin terjadi kesalahan" Jawab Bu Yuni.
"Maaf Bu, jika diijinkan saya ingin menjelaskan jawaban saya sekaligus menunjukkan kesalahan jika jawabannya akar pangkat dua saja" Aku memberanikan diri mengusulkan.
Namun kemudian Mr. Jhon, salah satu juri dari luar negeri berbicara dengan beliau dalam bahasa inggris.
"Baik, silahkan Rosa" Kata Bu Yuni dengan ekspresi terpaksa.
Alu maju dan menuliskan pengerjaanku di papan yang disediakan.
"Letak kesalahannya ada di bagian ini jika jawaban akhirnya akar pangkat dua. Jadi menurut saya jawaban yang benar adalah akar pangkat dua minus satu" Kataku di akhir penjelasan.
"Saya juga sepakat. Jawaban dan cara pengerjaan saya persis seperti itu" Alanta menyambung.
"Bagaimana dewan juri?" Tanya pembawa acara.
"That's right" Jawab Mr. Jhon.
Semua penonton memberikan standing aplause untuk aksiku membenarkan jawaban. Suasana menjadi ramai oleh tepuk tangan penonton.
"Sayang sekali pertanyaan di tangan saya sida habis. Dan kita sudah bisa mengetahui empat peserta dengan nilai tertinggi. Yaitu Alanta, Clara, Rosa dan Firman"
Penonton kembali ramai memberikan tepuk tangan. Kulihat Dinda dan Silvi bertepuk tangan dengan begitu antusias untukku. Kulambaikan tanganku untuk mereka berdua, dan mereka membalas dengan mengacungkan jempol.
"Ikuti pengumumannya besok siang ya jangan lupa" Kata pembawa acara menutup acara.
***
Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di sekolah. Buka karena aku ingin melihat pengumuman pemenang lomba. Toh pengumuman akan dilaksanakan di atas jam 10 siang. Aku datang lebih awal karena Bu Sarah yang meminta. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin beliau akan membahas soal olimpiade kemarin.
"Kamu udah datang? Yuk ikut aku" Kata Alanta yang menunggu di dekat gerbang.
"Kemana? Aku ada janji dengan Bu Sarah" Kataku menolak.
"Aku bawa kamu ke Bu Sarah" Kata Alanta tanpa melihatku.
Alanta berjalan lebih cepat dariku sampai aku harus mengimbangi dengan sedikit berlari. Begitu cepat langkahnya, cocok sebagai anggota organisasi. Alanta berhenti di ruang rapat dewan pendidikan. Entah kenapa aku harus ke sini.
"Bu Sarah ada di dalam" Kata Alanta.
"Kira-kira ada apa ya? Feelingku gak enak" Tanyaku.
"Para pahlawan dulu untuk mencapai kemerdekaan pasti melalui perjuangan yang gak sepele. Kau juga" Kata Alanta.
Aku masih tidak mengerti apa maksudnya. Apa hubungannya kemerdekaan dengan posisiku saat ini.
"Masuk, aku tinggu di sini" Kata Alanta dengan duduk di kursi kayu dekat dengan ruangan.
Aku masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan sudah menunggu sekitar sepuluh sampai lima belas orang. Mereka semua para petinggi yayasan First Internasional School.
"Nah ini dia sudah datang, ini anak yang saya ceritakan Bapak Ibu sekalian" Kata Bu Sarah memperkenalkanku.
Aku menunduk.
"Ibu Ketua Yayasan ingin melihat anak ini bukan? Sekarang saya hadirkan di hadapan Ibu" Lanjut Bu Sarah.
"Silahkan duduk, Rosa" Kata Ketua Yayasan.
Aku duduk di kursi paling ujung berhadapan dengan mereka semua. Kulihat Ketua Yayasan yang merupakan ibu dari Alanta. Cantik, anggun dan tampak cerdas. Kini aku berhadapan dengannya.
Satu di antara mereka berdiri dengan sikap tidak suka. Dan aku tahu siapa yang sedang berdiri. Seseorang yang sangat membenciku. Nyonya Hamdani.
"Maaf Bu Ketua Yayasan. Saya kenal betul anak ini. Dia anak yang bermasalah di sekolah sebelumnya. Jadi mana mungkin dia justru mendapat nilai tertinggi dalam olimpiade" Kata Nyonya Hamdani.
"Saya setuju. Dia sudah melukai anak saya sampai anak saya masuk rumah sakit. Berdasarkan data BP, dia juga sering membuat keributan maupun melanggar peraturan sekolah. Apa tidak sebaiknya kita pertimbangkan kembali keputusan Yayasan untuk memasukkan anak itu menjadi peserta olimpiade dari kontingen FIS" Kali ini Mama Jessie berbicara.
Aku hanya bisa diam. Aku tak ingin melawan mereka. Biar saja mereka berbicara semaunya. Aku hanya bisa diam. Dan menghibur diri dengan caraku sendiri.
***