
Hampir satu bulan kami tinggal di Semarang, rumah orang tua Mama. Beberapa hari lagi, sesuai kesepakatan, kaimi harus keluar dari rumah ini. Bukan karena rumah ini tak mampu menampung kami, tapi karena harga diri Papa sebagai kepala keluarga yang selalu didengungkan oleh keluarga besar Mama. Waktu tinggal beberapa hari, tapi Papa belum juga mendapat pekerjaan.
Bagaimana nasib kami selanjutnya. Akankah Kakek mengijinkan kami untuk tinggal lebih lama lagi? Atau kami harus tetap hengkang dari sini. Setiap kali memikirkan masalah yang menimpa keluarga kami, aku selalu berpikir, bahwa semua terjadi karena aku. Sejak kehadiranku, masalah demi masalah bermunculan. Sulit dipercaya, aku tidak melakukan apa-apa mana mungkin aku menjadi penyebab semua ini. Namun kenyataannya demikian.
Sungguh batinku tidak enak jika mengingat ini. Tengah malam aku terjaga. Aku tidak bisa tidur. Aku yakin Papa pun sepertiku, belum mampu memejamkan mata. Pasti Papa masih terjaga dengan segala macam pikiran di kepalanya. Dia adalah seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup kami. Dia sedang berpikir keras seorang diri.
Aku berdoa. Aku bersujud. Aku memohon jalan terbaik. Ustadzah di sekolah pernah mengajari kami, bahwa salah satu adab berdoa adalah dengan meminta jalan terbaik, bukan meminta sesuatu yang kita inginkan. Sebab Allah lebih tahu dari kita. Aku berharap mampu membuktikan itu. Aku berharap Allah memberi kami jalan, sebab pikiran kami sudah benar-benar buntu.
Seringkali terbersit di benakku, bahwa aku bukan anak baik, bukan anak suci. Aku sering berbuat nakal, sering menguping pembicaraan orang dewasa, sering jahil dengan kakak senior, sering membantah perintah. Apakah doaku akan dikabulkan? Pantaskah?
Tapi ah, bukankah Tuhan maha besar? Sebesar apapun dosaku bukankah pengampunan Tuhan lebih besar dari itu?. Aku masih bersujud. Untuk Papa. Untuk kami.
***
Kami sedang sarapan. Sekitar jam tujuh pagi kulihat. Suasana tak lagi hangat setelah Bulik Farida ke Banyumas. Jelas, meja makan ini penuh kebencian. Kakek dan Nenek tidak menyukai Papa, Mama sendiri jengkel karena Papa belum bisa membuktikan tanggung jawabnya. Dan aku? Aku hanya noktah kecil yang tak terlihat di antara mereka.
"Maaf ndoro, ada tamu" Kata seorang pembantu tergopoh-gopoh.
Dengan kehadiran simbok pembantu ini, tentu saja kami berhenti mengunyah.
"Siapa?" Tanya Kakek.
"Mencari Pak Har" Jawab simbok.
"Oh iya Mbok, terima kasih" Sahut Papa.
Siapa tamunya? Tamu ini akan membawa berita gembira atau justru membawa masalah? Sudah cukup Ya Allah....kasihan Papa, bisik batinku. Papa beranjak dari duduknya, meninggalkan kami semua dengan kebisuan selama sarapan. Tak ada pembicaraan di antara kami semua. Mereka semua asyik melahap menu sarapan, karena memang beginilah tradisinya.
Hampir lima belas menit, tapi Papa belum juga kembali. Sisa nasi sarapan masih banyak di piringnya. Tak hentinya aku berdoa dalam hati agar Papa baik-baik saja. Agar tak ada masalah lain lagi, karena dia sudah membawa beban masalah seorang diri.
"Mbok, itu bekasnya Pak Har dibuang saja, nanti dia biar ambil lagi di dapur, sekalian buatkan minum untuk tamunya Pak Har" Kata Nenek.
Segera kuselesaikan sarapanku dan menuju ke dapur. Kidapati para pembantu sedang sibuk jni dan itu di dapur. Salah seorang sedang menyeduh teh manis. Aku yakin teh itu untuk tamunya Papa. Aku segera mendekat.
"Ini untuk tamu di depan?" Kuberanikan diri bertanya.
"Injih ndoro" Jawab simbok itu.
"Biar saya yang bawa" Aku menawarkan diri.
"Ndak papa Mbok, saya kan anak perempuan, harus terampil kata Nenek" Kataku yang membuat simbok mau memberikan nampannya untukku
Sengaja aku menawarkan diri untuk menyuguhkan teh manis untuk tamu di depan. Aku ingin tahu apakah aku kenal tamu itu, apakah dia membawa masalah atau tidak. Yah, aku tahu aku tidak akan bisa melakukan apapun. Aku hanyalah anak kecil. Tapi entahlah, aku ingin menjaga Papa angkatku meski hanya dengan memastikan dia baik-baik saja.
"Tehnya Om" Kataku menyuguhkan.
"Ini anak saya" Papaku mengenalkan ku sebagai putrinya, apa dia lupa bahwa kami ada di rumah Nenek? Bagaimana jika kayu penyangga rumah ini melapor pada Nenek?
"Oh, begitu, sudah besar ya" Komentat salah satu tamu.
Basa-basipun terjadi sebentar sebelum mereka pamit pulang setelah menyeruput teh manis yang kusuguhkan. Mereka mengendarai mobil putih yang terparkir di halaman rumah. Aku turut mengantar kepulangan mereka. Papa merangkul pundakku seperti anaknya sendiri. Bagaimana jika ada yang melihat dan curiga. Tapi ah, bukankah wajar orang dewasa memperlakukan anak kecil seperti ini?
Tamu sudah pulang, dan tampaknya tidak ada masalah dari tamu itu. Kulihat Papa bersemangat masuk ke dalam rumah. Syukurlah, kurasa tamu itu adalah teman lama Papa. Begitu tahu Papa ada di Semarang, mereka datang untuk berkunjung. Meski hanya sebuah kunjungan biasa, tapi jika membuat Papaku bersemangat seperti ini, aku pun ikut senang.
Tiba-tiba saja Papa berhenti disaat kami sudah hampir memasuki Bale. Dia melihatku dengan senyumnya. Ada apa lagi? Apakah benar ada masalah dan dia berusaha menenangkanku? Papa lantas berjongkok dan memegang pundakku.
"Tadi malam Papa lihat anak Papa ini sedang sholat. Rosa doakan Papa?" Aku tidak tahu ini pertanyaan atau permintaan.
Aku mengangguk pelan.
"Doa anak solihah ini dikabulkan, Papa mendapat panggilan kerja Nak" Kata Papa dengan nada tercekat. Antara haru dan bahagia kurasa.
"Beneran Pa? Dimana?" Aku pun ikut bersemangat.
Papa berdiri dan duduk di celundak teras depan.
"Jadi perusahaan di Jakarta membuka cabang baru di Semarang, dan Papa diminta bergabung. Salah satu tamu Papa tadi adalah teman Papa waktu kuliah, dia yang merekomendasikan Papa" Jelas Papa.
Meski bukan di Jakarta, aku cukup lega. Sekarang bukan tentang apa posisi Papa dan dimana Papa akan bekerja. Mendapat pekerjaan saja kami sudah sangat senang. Ini bukan soal penghidupan kami. Uang simpanan Papa masih cukup untuk beberapa bulan lagi. Tapi ini tentang harga diri Papa sebagai seorang laki-laki dan seorang kepala keluarga.
Aku bersyukur. Terima kasih ya Allah. Ustadzah benar. Jika kita meminta jalan terbaik, Allah akan memilihkan yang terbaik untuk kita. Jika kita meminta apa yabg kita mau, belum tentu itu yang terbaik untuk kita. Begitulah kira-kira.
Papa menunjukkan berkas-berkas yang harus ditandatangani. Meski aku tak tahu menahu tentang berkas itu, aku antusias melihatnya. Persyaratan, persetujuan dan berbagai hal tentang kontrak kerja ada di berkas itu. Papa membolak balikkan kertas sambil terus tersenyum. Harapan itu tersungging di bibirnya. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dialah sosok seorang Ayah yang baik. Apakah ayah kandungku juga seperti ini. Atau justru sebaliknya? Jika dia seperti Papa angkatku ini, kenapa aku dititipkan ke panti? Kenapa dia tidak mencariku?
***