My Name Is Rose

My Name Is Rose
Kevin



Dari kejauhan Panji berlari ke arahku. Aku baru saja akan pulang dengan sepedaku, tapi Panji berteriak menggantikan ku. Dari raut wajahnya, seperti ya ada kabar baik.


"Ada apa Kak?" Tanyaku penasaran.


"Selamat ya. Kamu diterima" Katanya to the point.


"Diterima? Diterima apa Kak?" Aku masih belum paham.


"Nih, baca sendiri" Katanya dengan menyodorkan selembar kertas


Kuraih selembar kertas itu dan kubaca dengan teliti. Rumah sakit di Munchen yang kemarin membuka magang bagi mahasiswa kedokteran menerimaku sebagai pesertanya. Dengan magang itu mahasiswa akan melihat secara langsung proses pelayanan pasien dan membantu dokter melakukam tugasnya. Tidak banyak yang diterima. Ada sekitar dua belas orang.


"Kakak gimana? Jadi daftar kan?" Tanyaku penasaran.


"No 7" Jawabnya dengan menunjukkan jari telunjuk.


Benar saja. Namanya ada di nomor 7.


"Oh iya. Selamat ya Kak"


"Kamu juga"


Entah karena memang peminatnya yang sedikit atau karena nilai ujianku di semester sebelumnya yang menyebabkan ku diterima oleh rumah sakit itu. Yang jelas, aku harus bersiap untuk magang di rumah sakit. Pertama tentu aku harus mengundurkan diri dari kafe. Dan kurasa itu tidak mudah. Aku sudah sekitar tiga tahunan bekerja di sana. Tentu untuk mundur harus ada penggantinya. Bisa jadi aku harus mencari sendiri penggantinya atau pihak kafe akan membuka lowongan terlebih dulu. Aku hanya berharap semoga waktunya cukup untuk itu semua.


Ketika aku menoleh sebelah kanan, kulihat dari kejauhan Claire menatapku seperti waktu itu. Pandangan yang menakutkan itu kembali ia tujukan padaku. Atau mungkin hanya pikiranku saja. Tapi tampak sekali seperti tertuju padaku.


"Kak, coba deh lihat sebelah kiri Kakak. Claire ngelihat aku lagi kayak waktu itu" Kataku berbisik.


Panji menuruti ucapanku. Ia menoleh ke arah kirinya dan tampak sedang mencari-cari sesuatu.


"Mana?" Tanya Panji.


"Pakek baju hitam Kak, rambutnya diurai" Kataku dengan sedikit takut.


"Tidak ada Rose. Coba kamu lihat" Kata Panji


Aku menggeleng kuat karena takut.


"Coba dulu, lihat, mana? Gak ada"


Aku terpaksa menoleh ke kananku. Benar. Dia tidak ada. Apakah tadi hanya bayanganku? Ah tidak mungkin. Aku belum pernah berhalusinasi. Tidak ada masalah dengan itu. Tidak mungkin. Tapi bagaimana dia bisa cepat menghilang seperti itu? Aku melihat sekeliling barangkali ia masih di sekitar sini. Tak ada. Kemana dia?


***


Pagi-pagi betul aku sudah berangkat. Ini hari libur kuliah. Rumah sakit sengaja mengumpulkan kami di hari libur agar bisa leluasa menyampaikan tata cara plus tata tertib saat magang. Dua belas orang sudah berkumpul bahkan sebelum jam tujuh pagi. Kami dikumpulkan di suatu ruangan. Bangga rasanya memakai jaz khusus mahasiswa magang. Yah, meski bukan jaz putih ala dokter tapi setidaknya posisi kami hampir ke arah itu.


Banyak hal yang kami peroleh dari pertemuan ini. Kami bahkan ditunjukkan ruangan-ruangan yang akan kami kunjungi setiap harinya, sampai pada kamar mayat. Dua belas orang akan diterjunkan dengan tugas masing-masing. Semua berdasarkan spesifikasi masing-masing.


Aku? Aku bagian pelayanan masyarakat. Tugasku adalah bagian rawat inap dengan kategori penyakit ringan. Panji di bagian operasi. Kadang aku iri dengan Panji. Posisi itu yang banyak memberikan pengalaman. Tapi aku bersyukur. Aku juga menyadari, bahwa aku masih tingkat tengah, bukan seperti Panji yang sebentar lagi akan wisuda.


Pulang dari rumah sakit tidak terlalu malam, sekitar jam 7 lebih sedikit. Besok dan seterusnya akan menjadi hari yang sangat sibuk, maka aku harus menata ulang waktuku sebaik mungkin. Pagi kuliah, sore sampai malam berjaga di rumah sakit. Wow, bukankah itu keren.


Ada whatsapp masuk saat perjalanan pulang. Dari Claire. Katanya dia pulang ke rumah hari ini, dan menginap di sana. Okelah. Jadi malam ini aku akan sendirian di kamar.


Aku berjalan pelan sambil berharap dia tidak menungguku, tapi bisa jadi menunggu penghuni kamar lain. Tapi ketika aku mulai mendekat dengan kamarku, dia berdiri seakan menyambut. Aku takut. Sungguh. Tapi dari penampilannya dia bukan tergolong pria jahat atau anak jalanan. Tapi diapa yang menjamin. Bukankah penampilan orang jaman sekarang tidak menunjukkan hatinya yang sebenarnya.


"Helo" Sapanya.


"Ya? Who are you?" Tanyaku


"I'm Kevin"


Jantungku berdetak kencang saat ia menyebutkan namanya. Ini adalah orang yang menghajar Claire waktu itu. Benar, penampilan seseorang tidak bisa mencerminkan bagaimana orang itu. Penampilannya rapi tapi kelakuannya tidak bisa diampuni.


"Ya, what can i do for you?" Tanyaku berusaha tenang.


"Saya mencari Claire. Apakah dia di dalam? Atau kapan dia pulang?" Tanya Kevin.


"I'm sorry, say tidak kenal Claire" Jawabku singkat. Aku berbohong untuk melindungi Claire dari kekasihnya yang arogan.


"No way. Dia tinggal di kamar ini. Aku tahu itu. Dia masuk ke kamar ini" Kilahnya.


Jelas, dan di dalam Kevin menghajar Claire sampai babak belur. Cih.


"Im sorry, saya tidak kenal" Aku mencoba cuek dan mencoba segera masuk ke dalam kamar. Tapi cepat-cepat Kevin menarik tanganku mencegahku masuk ke dalam kamar padahal pintu sudah terbuka.


"Kasih tahu aku di mana Claire?" Tanya Kevin sedikit memaksa.


Uh, kudorong tepat di dada Kevin sehingga dia terpental ke belakang meski tidak sampai jatuh. Aku segera berlari pergi meninggalkan kamarku yang sudah terbuka. Kevin tentu saja mengejarku. Alu berlari lebih kencang lagi. Aku menuruni tangga dengan cepat, dan dia masoh mengejarku. Aku kembali berlari sekencang-kencangnya dengan nafas ngos-ngosan. Lalai sedikit saja aku bisa mati dihajar olehnya.


"Herr...Hilfe...hilfe....!!" Aku berteriak meminta tolong pada satpam di depan yang kebetulan masih berjaga.


Satpam itu tentu saja terkejut dengan tingkahku. Seketika Kevin berhenti mengejarku. Ia berhenti tepat di depan aku dan satpam itu. Ia tampak ketakutan. Ternyata pria jahat juga bisa takut dengan petugas keamanan.


"Pak, tolong, saya dibuntuti sama laki-laki ini" Kataku takut.


"Who are you?" Tanya Satpam itu.


"Sorry...sorry... Saya tidak bermaksud jahat. Saya hanya mencari Claire. Sejak tadi saya menunggu tapi Claire belum terlihat" Kata Kevin mencoba menjelaskan.


"Saya sudah bilang saya tidak kenal Claire tapi dia memaksa Pak" Aku berkilah.


Satpam itu melihat ke arahku, dia tahu aku berbohong. Dia pasti juga hafal nama-nama penghuni kos kosan ini. Aku memberi kode padanya agar menurut dengan apa yang kukatakan. Dan tampaknya satpam itu pun mengerti maksud dan tujuanku berbohong.


"Oh iya, tidak ada penghuni bernama Claire di sini" Kata satpam akhirnya.


"Oh benarkah begitu? Aku ingat betul Claire masuk kamar itu" Kata Kevin masih mencari tahu.


"Saya katakan tidak ada yang bernama Claire di sini. Silahkan anda pergi atau kami memaksa anda keluar" Kata satpam dengan tegas.


Kevin kalah telak. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.


***