My Name Is Rose

My Name Is Rose
Jacob



Aku terus menerus menelepon Alanta tetapi tidak dijawab. Mungkin dia sedang sibuk mengurus Neneknya yang sedang dirawat di rumah sakit.


"Pak berhenti di sini. Saya ada perlu" Kataku sedikit tegas.


Namun sopir tetap tak bergeming. Aku yakin sekali dia salah orang. Dia bukan sopir yang mengantarku tadi.


"Pak berhenti saya bilang. Kalau tidak, saya telepon polisi" Aku sedikit membentak, namun tak ada perubahan, sopir itu tetap diam bahkan aku bisa melihat dari kaca, dia tersenyum sinis. Seakan dia puas jika aku panik.


Aku mencoba membuka paksa pintu mobil, tetapi terkunci. Aku mencoba beberapa kali namun gagal. Saat itulah aku menyadari bahwa aku sedang dijebak. Entah oleh Nyonya Hamdani atau orang lain. Aku mencoba menelepon Alanta tetapi tidak diangkat. Tak berapa lama, mobil berhenti di sebuah jalanan yang sepi dan dipenuhi semak belukar di kanan kiri. Sopir itu membuka pintu mobil. Ia menarik tanganku tanpa mempedulikan apakah aku bersedia atau tidak.


Di luar sudah ada beberapa orang menanti. Satu menggelandang tanganku, dua orang berjaga-jaga, satu lagi membawa mobil entah kemana. Gawat, hapeku masih ada di mobil itu. Mereka membawaku masuk ke dalam hutan. Aku tidak tahu ini dimana, yang jelas bukan jalan menuju Pekalongan.


"Ikat" Perintah sopir yang membawaku kemari.


Mendengar perintah itu, yang lain seera mengikat tanganku. Kemudian sopir itu melepas topinya. Begitu topi dilepas, ia seakan sengaja menampakkan wajahnya padaku.


"Masih ingat saya?" Tanya sopir itu.


Aku mencoba mengingat-ingat tapi tak berhasil. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Karena itu aku menggeleng.


"Oh ..iya aku lupa ...kita belum pernah bertemu langsung ..tapi aku mengenal siapa kamu....tampaknya kalian berbeda. Jangan-jangan kalian bukan sedarah" Kata sopir itu.


Aku mendongakkan kepala demi mencari tahu apa yang dia maksud dengan sedarah.


"Kamu lebih....manis..hehehe..." Katanya sambil menyenggol pelan pipiku. Dan denhan cepat aku mengacuhkan pandangan. Orang seperti itu hanya akan melecehkanku saja.


"Tapi aku tidak yakin dia ibu kandungmu. Ibu kandung tidak akan menjual anak kandungnya" Lanjutnya.


Mendengar kalimat itu aku terperangah. Ibu kandung. Dua kata yang menusuk jantungku. Jadi peristiwa ini ada hubungannya dengan Mama yang beberapa tahun ini tidak ada kabar, dan aku pun tak ingin mencari tahu tentang dia. Orang ini mengenal Mama.


Penjahat berkedok sopir itu kemudian menyalakan rokok dan menikmatinya sebelum kembali padaku dengan senyum sinisnya. Sementara dua orang di sampingku menjagaku seolah tak berkedip.


"Jangan takut, akan kulepaskan setelah kamu jawab pertanyaanku. Ingat, jangan coba-coba bohongi saya jika ingin selamat" Katanya setengah berbisik.


Dia menghisap rokoknya lagi dan menghembuskan asapnya tepat di depan wajahku. Aku terbatuk-batuk seketika. Dan sekali lagi dia tersenyum geli melihatku terbatuk.


"Ada dua orang yang kucari. Mama kamu, dan keluarga Banu. Di mana mereka sekarang?" Tanya Sopir itu.


Aku diam saja. Karena aku memang tidak terlalu fokus dengan pertanyaan yang diajukannya. Sampai dia mencengkeram pipiku dengan geram. Sakit.


"Katakan dimana Emak lu??" Tanya si sopir.


"A.....aku...ti...tidak tahu" Jawabku tersendat-sendat karena sakit.


"Hah!!!....mustahil kamu tidak tahu!!" Katanya dengan marah.


Sungguh aku takut kali ini. Aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Hapeku tertinggal di dalam mobil yang sekarang entah kemana. Orang-orang di sekitarku ini tampaknya bukan orang bodoh yang gampang dikelabuhi. Mereka selalu berwajah serius. Dari situ tampaklah bagaimana karakter mereka. Bengis, waspada dan licik.


"Seperti yang anda bilang tadi, dia bukan Ibu kandung saya, jadi kami berpisah" Jawabku lirih.


"Oh hahahaha...."


Plak...satu tamparan di pipiku. Dia masih sangat geram melihat wajahku.


"Jangan coba-coba membohongi saya!!" Dia membentakku.


"Setelah kejadian itu ditangani polisi, Mama kabur sehingga saya pun harus mencari tepat tinggal lain" Jawabku tenang.


"Menarik. Kabur kemana?"


"Semarang"


Dia kemudian berpikir sambil menginjak puntung rokok dengan sepatunya.


Sopir itu kembali mengangguk tanda mengerti.


"Oke...oke...kamu akan ikut saya. Tunjukkan di mana rumah orang tuanya. Setelah itu baru kamu kubebaskan" Katanya.


"Saya tidak bisa menunjukkan. Sudah lama saya tidak kesana. Terakhir kali adalah saat saya masih SD. Jadi saya tidak bisa menjadi penunjuk arah" Jawabku.


Plak...satu tamparan lagi. Sakit.


"Kurang ajar!!!"


Aku yakin dia tidak marah padaku, tapi marah pada keadaan, di mana dia tidak bisa menemukan Mama.


"Apa hubungan anda dengan Mama?" Kuberanikan diri bertanya.


Dia melirikku dan kembali menyulut rokok, lalu menghembuskan asapnya ke atas.


"Tampaknya kamu memang belum pernah melihat saya...."


Satu kepulan asap rokok kembali membumbung di udara sebelum sopir itu kembali berbicara.


"Mama kamu punya bisnis dengan saya,. Tapi bisnis belum kelar, dia gak bertanggung jawab. Dia malah nyeleweng sama rekan bisnis saya, si Banu"


Aku mendongak dan memandang wajahnya lekat. Ya, sekarang aku tahu siapa dia.


"Jacob" Panggilku.


"Cerdas" Komentarnya tetap dengan senyum sinisnya.


"Saya tidak berhubungan lagi dengan Mama. Anda salah jika menggunakan saya untuk memancing Mama keluar. Dia tidak akan peduli" Kataku tetap tenang.


"Aku tidak perlu memancing dia. Aku cukup mencari tahu dimana dia. Gila, wanita itu benar-benar licik. Dia membawa uangku" Katanya dengan geram.


Beberapa saat kami terdiam. Tampak masing-masing dari kami sedang berpikir.


"Bos, bagaimana dengan Banu?" Tanya salah seorang yang berbeda.


"Oh iya. Sementara Banu di penjara, keluarganya mengambil alih" Gumam Jacob.


Jacob kemudian memandang ke arahku dengan tatapan menyelidik.


"Kalau itu kamu pasti tahu kan? Dimana keluarganya sekarang?" Tanya Jacob pelan namun terdengar mengancam.


"Aku...tidak tahu" Jawabku.


Plak ....tamparan mampir ke sekian kalinya. Sakit. Sungguh. Dia menampar di tempat yang sama. Sekarang pipiku pasti sudah memerah.


"Yang ini mustahil kamu tidak tahu. Saya tahu anaknya adalah teman dekatmu bukan? Jadi pasti kamu tahu sekarang mereka di mana?" Jacob mencengkeram pipiku.


"Aakh..." Aku mengeluh kesakitan.


Dengan eranganku itu, Jacob melepaskan tangannya dari pipiku. Dia terlihat sangat kesal karena belum mendapatkan jawaban yang ia cari dariku.


"Yang aku tahu...dia sudah tidak lagi di Jawa" Jawabku lirih.


Mendengar jawabanku, dia berbalik arah menghadapku. Dengan posisi jongkok ia menempatkan mukanya di depan wajahku. Terlihat begitu jelas ia penasaran dengan kelanjutan ucapanku.


"Setelah kasus itu terkuak, mereka pergi jauh. Ke...pulau lain, tapi ..aku tidak tahu kemana" Jawabku menunduk.


Sungguh aku harus berhati-hati dalam memberikan jawaban. Aku tidak ingin melibatkan siapapun dalam masalahku. Aku juga tidak mau jika Silvi dan Ibunya terkena masalah karena aku. Mereka tampak menelisik. Beberapa bahkan berbisik-bisik seakan sedang menyusun rencana.


Mereka kemudian meninggalkanku sendirian di sebuah ruangan dari kayu. Di bawahku terserak jerami menumpuk. Seperti inilah yang kerap kulihat di film action. Agar mudah dibakar, mereka memasang jerami kering. Mereka akan membakar ruangan ini untuk menghilangkan jejak. Seperti itulah analisaku.