
Aku sudah turun dari bus kota. Aku segera berjalan lebih cepat dari biasanya. Claire sudah di kamar. Setidaknya aku bisa memperingatkannya bahwa Kevin sedang berupaya mencarinya beberapa hari ini. Sejenak aku berhenti. Tiba-tiba saja aku berpikir, bagaimana jika Kevin. Yang berbohong. Bagaimana jika ini hanya akal-akalan Kevin saja?
Oh aku lupa Rebecca menunggu di apartemen. Dan dia bersama Clare. Ucapan Kevin beberapa saat tadi membuatku khawatir. Bagaimana jika itu benar. Entah kenapa ada perasaan tidak enak yang menyeruak keluar dari dada. Aku mempercepat langkahku.
Nafasku ngos-ngosan ketika sampai di deretan apartemen yang kutempati. Aku membuka pintu sedikit keras. Dan kulihat Rebecca sedang mengobrol dengan Claire.
"Hay Rose!!" Sapa Rebecca dengan gembira. Kami memang sudah lama tidak bertemu, tentu saja kami saling merindukan. Meski berbeda keyakinan, tapi kami akrab satu sama lain. Aku nyaman dengannya dan diapun senang bersahabat denganku. Kami berpelukan.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanyaku.
"Oh no, kami baru saja kenal" Jawab Claire.
"Nice. Claire teman yang manis. So sweet" Komentar Rebecca.
Aku tersenyum. Aku lega Claire tidak seperti dugaanku. Mungkin Kevin yang mengada-ada demi mencapai tujuannya. Sepanjang tinggal bersama satu kamar, Claire tampak manis tak seperti yang Kevin ceritakan. Aku duduk bersama mereka.
"Kopi?" Claire menawarkan.
"Boleh" Jawabku.
Claire pergi ke dapur meninggalkan kami berdua. Kembali jami saling berpelukan. Dilihat dari penampilannya sepertinya dia resmi menjadi biarawati.
"Congrats ya, aku dengar kami diterima magang di rumah sakit" Kata Rebecca.
"Oh yeah, benar, aku harap itu bisa memberikan pengalaman berharga untukku" Kataku.
"Of course"
Claire kembali dari dapur.
"Rose, kopi habis, saya ke minimarket dulu ya" Katanya.
"Oh biar aku saja. Aku juga mau beli beberapa cemilan" Aku menawarkan.
Kenapa aku bersedia. Aku ingin Claire tetap ada di dalam kamar. Setidaknya dia tidak akan hilang lagi seperti yang dikatakan Kevin. Meski aku sendiri masih bimbang antara percaya atau tidak.
Kopi susu sachet sudah kubeli berikut beberapa cemilan. Karena sedang ada tamu, rasanya lebih pantas jika menyuguhkan cemilan. Ketika aku sampai di lorong menuju kamarku, mendadak lantai sangat kotor. Berbeda dengan ketika aku turun untuk membeli kopi di minimarket tadi. Saat ini sangat kotor, seperti tanah, air, ada sedikit warna merah.
Alu sampai di depan kamarku dan ternyata pintunya terbuka. Mataku terbelalak melihat pemandangan seperti kala itu. Kursi-kursi berantakan, gelas pecah, vas pecah, bunga plastik berserakan. Apakah Kevin tadi datang kesini dan melakukan hal yang sama?
"Aaaakhhhhh" Aku berteriak sekencang-kencangnya.
Pemandangan mengerikan di hadapanku. Seseorang tergeletak bersimbah darah di dapur. Dia bergerak-gerak seakan meminta tolong. Rebecca.
"Re!!!" Aku bingung bagaimana menolongnya. Aku takut bantuanku justru menyakitinya. Aku kemudian berlari mencari bantuan. Kebetulan satpam sedang berada di lantai ini mengantar seorang tamu.
"Herr....hilfe...hilfe....seseorang terluka di kamar saya" Kataku gelagalapan.
Satpam segera berlari menuju kamar yang ku tunjukkan. Dia pun terkejut dengan darah yang berceceran dimana-mana. Satpam menelepon untuk meminta bantuan polisi dan tenaga medis.
Semua orang berdatangan setelah Rebecca dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Para wartawan memotret dari berbagai sisi. Pengelola apartemen pun turut memberikan keterangan.
"Rose" Panji pun turut datang.
"Kak Panji" rasanya air mataku hampir saja tumpah namun sebisa mungkin kutahan.
"Sudah tenang. Semua sudah ditangani polisi. Rebecca ada di rumah sakit tempat kita magang" Kata Panji.
"Rebecca nggak apa-apa kan Kak? Dia masih bisa diselamatkan kan?" Aku gugup.
Aku memeluknya mencari perlindungan. Aku sangat takut. Aku takut Rebecca tak tertolong, aku takut pelakunya datang lagi dan aku menjadi target selanjutnya, aku takut orang lain yang tidak tahu menahu menuduhku sebagai pelakunya, karena di Indonesia sering terjadi seperti itu. Aku takut. Benar-benar takut.
"Kamu mau ke rumah sakit?" Panji menawarkan.
Aku mengangguk kuat. Panji kemudian berbicara dengan polisi lalu kembali lagi padaku.
"Polisi akan meminta keterangan lagi nanti. Sekarang kita diperbolehkan ke rumah sakit untuk melihat Rebecca" Kata Panji.
Rumah sakit Munchen.
Malam ini seharusnya kami bekerja sebagai mahasiswa magang di sini. Namun karena kejadian ini kami harus absen dahulu. Panji me datangi resepsionis dan tampak melakukan tanya jawab. Lima belas menit kemudian dia kembali padaku.
"Okey kita sudah diijinkan absen satu hari. Sekarang kita ke ruang operasi. Rebecca sedang ditangani" Kata Panji.
Dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa berpikir sama sekali. Pikiranku buntu. Panji yang dominan bertindak saat ini. Kami bergegas menuju ruang operasi. Di atas pintu ruangan tertulis 'In Betrieb' yang artinya sedang operasi.
Kami menunggu di luar ruangan dengan perasaan campur aduk. Sekonyong-konyong seorang perempuan bertubuh sedikit gemuk dan berkacamata tebal datang setengah berlari diantar oleh seorang satpam rumah sakit. Aku tahu dia. Aku pernah melihatnya, dia adalah Ibu angkat Rebecca, yang kemudian mengarahkan Rebecca agar menjadi biarawati seperti halnya dirinya.
"Where is Rebecca?" Tanya perempuan itu.
"Masih ditangani" Panji yang menjawab. Dia tahu saat ini lidahku pun kelu meski hanya mengeluarkan satu huruf saja.
"Oh" Perempuan itu menutup wajahnya dengan kedua telapaknya. Tampak kesedihan menyelimutinya saat ini.
Perempuan itu hanya melihat Panji. Sedari tadi ia kurang memperhatikanku. Dan sekarang ia melihatku.
"Mom..." Sapaku untuk turut bersedih atas kejadian ini.
Melihatku ia kemudian menangis lebih keras lagi. Kembali ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Panji kemudian membawanya duduk di antara kami.
"Dari awal aku sudah mencegahnya. Aku sudah melarang dia ke apartemen itu. Lebih aman tinggal di gereja. Apalagi berteman dengan kamu. Muslim!!" Perempuan itu meluapkan amarahnya meski hanya secara verbal tanpa menyentuh sedikitpun.
Sama seperti belahan dunia lainnya, masih banyak yang beranggapan negatif terhadap keyakinanku. Rebecca pasti cerita jika teman sekamarnya adalah seorang muslim dari Indonesia. Dan itulah mungkin alasan utama ibu angkatnya itu tidak menyukaiku sejak awal.
Operasi masih belum selesai. Padahal kami menunggu hampir dua jam. Separah apakah lukanya hingga memakan waktu sebegitu lama untuk melakukan operasi. Polisi mendatangi kami yang sedang duduk menunggu.
"Miss Rose?" Tanya Polisi.
"Yeah Herr" Jawabku.
"Bisa ikut kami sebentar?"
Aku menurut. Kami memasuki sebuah ruangan kecil yang memang disediakan oleh runah sakit untuk keperluan penyidikan berbagai kasus yang melibatkan medis.
"Apakah ini milik anda?" Polisi menunjukkan sebuah pisau buah.
"Yes. Ini milik saya" Jawabku.
"Pisau ini ditemukan di tkp. Dan ada sidik jari anda di dalamnya"
"No Herr, saya sedang kelu saat itu, dan ketika kembali Rebecca sudah tergeletak begitu saja" Aku membela diri.
"Tenang dulu. Kami tidak mengatakan andalah pelakunya, bisa jadi ada tidak sengaja menyentuh barang ini saat kejadian itu. Tapi sampai penyidikan selesai, anda tidak diperbolehkan bepergian bahkan untuk urusan pekerjaan maupun kuliah anda"
Ketakutanku terjadi
***