My Name Is Rose

My Name Is Rose
Sepeda Baru



Aku sudah naik ke kelas enam. Kelas yang akan menguras tenaga dan pikiranku. Aku bakalan tersibukkan dengan berbagai bimbingan belajar untuk menghadapi Ujian Nasional. Sama seperti Alanta, aku akan pulang sore setiap hari karena pelajaran tambahan dari sekolah.


Aku ditempatkan di kelas 6A, kelas unggulan di mana para bintang kelas berkumpul untuk bersaing. Kelas yang serem kata temanku. Memasuki kelasku membuat bulu kuduk merinding. Bukan karena suasana mistisnya, tapi karena aura jenius dari para penghuninya. Kelas yang tentunya tak ada sedikitpun waktu untuk bermain-main. Sembilan puluh persen waktunya adalah untuk membaca, belajar, membaca lagi, belajar lagi, dan seterusnya. Dan aku salah satunya.


Aku naik kelas sebagai peringkat pertama dari kelas sebelumnya. Jadi wajar kalau Papa memberiku hadiah sebagai penghargaan. Sebuah sepeda, seperti yang dijanjikan berbulan-bulan lalu. Sepeda itu sudah ada di rumah saat aku pulang sekolah. Sepeda mini warna pink dengan kombinasi ungu. Persis seperti sepedaku di panti dulu.


"Gimana, kamu suka?" Tanya Papa.


Aku mengangguk semangat.


"Dicoba dong" Kata Papa


Aku bergegas menaiki sepeda baruku. Awalnya agak kaku, hampir tiga tahun tidak naik sepeda. Tapi ternyata aku masih bisa naik sepeda dengan lancar.


"Aku keliling kompleks ya Pa" Ijinku.


Tanpa mempedulikan apapun jawaban Papa aku meluncur keluar dari pagar rumah. Aku berkeliling kompleks dengan sepeda baruku. Aku pernah bersepeda seperti ini dengan Alanta. Meluncur, melesat, berbelok dengan cepat, sampai rambutku bergoyang karena menabrak angin. Alanta, kemarilah, bersepeda denganku, aku sudah punya sepeda baru. Aku tidak minta bonceng lagi. Kayuhanmu tidak akan berat lagi. Ayolah.


Ciittttt.... Sepedaku berhenti tepat di pintu gerbang rumah. Kuparkir sepedaku di garasi. Papa sudah tidak di halaman rumah. Aku segera masuk ke dalam untuk minum. Aku bahkan belum berganti seragam sekolah. Tasku juga masih berada di punggung.


"Trus kalau kita mau keluar mau pake apa??" Suara Mama marah-marah dari dalam ruang kerja Papa.


Ada apa lagi, sudah beberapa kali aku mendengar mereka bertengkar karena masalah yang aku tidak tahu. Apakah orang dewasa memang seperti itu.


"Sudah tidak ada jalan lagi Ma, kecuali kalau Mama mau pinjamkan surat tanah Monica" Kata Papa.


Aku masih menguping. Hobiku adalah menguping.


"Apa? Apa yang Papa pikirkan sampai tega menggadaikan surat tanah dari Ibuku untuk Monica. Itu milik Monica Pa, untuk masa depan Monica" Kata Mama terdengar jengkel.


Oh, jadi waktu itu, Nenek memberikan surat tanah untuk Monica. Pantas saja mereka sampai mengambil ruang hanya berdua. Beruntungnya Monica, masih bayi sudah punya tanah sendiri. Masa depannya cerah. Dia akan menjadi wanita yang sukses. Andai akulah Monica, andai aku bukanlah anak angkat keluarga ini. Aku ingin seperti Monica. Aku ingin seberuntung dia.


"Ya sudah sabar, Papa akan cari cara untuk beli lagi. Saya cuma minta Mama sabar" Kata Papa mulai melemah.


"Mau ngutang siapa lagi? Orang tuamu? Mana peduli dia dengan kita. Mana punya duit mereka. Tidak seperti orang tuaku, Monica masih bayi, sudah dipikirkan masa depannya. Coba dengan orang tuamu Mas, apa uang mereka kasih untuk kita" Keluh Mama.


Kali ini tidak terdengar jawaban apapun dari Papa. Justru yabg kudengar, ada suara langkah kaki menuju pintu. Aku segera pergi ke dapur.


Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Ngutang, kenapa Papa sampai berhutang. Bukankah karirnya bagus. Lalu kenapa Papa belikan aku sepeda jika ekonominya sedang ambruk. Ups, Papa masuk ke dapur. Aku pura-pura sibuk. Sibuk minum, sibuk makan sibuk lain-lain.


"Kamu sudah selesai keliling?" Tanya Papa.


"Sudah Pa" Jawabku sedikit bergetar karena takut.


"Oh, oke, sudah makan?"Tanya Papa lagi.


Papa melihatku seolah curiga. Dia tahu aku takut atau dia tahu aku menguping? Papa berlalu dengan pelan-pelan sambil sesekali melihatku. Aku berpura-pura sibuk sekali lagi. Aku tidak ingin Papa membahas apapun denganku. Aku masih takut tentu saja.


***


Seperti konsekuensi yang sudah kami bicarakan, mulai hari ini, aku berangkat sekolah dengan sepeda baruku. Kata Papa jarak rumah ke sekolah sekitar 3 kilometer. Tidak jauh sih, tapi juga tidak bisa dikatakan dekat. Mengayuh sepeda sepanjang itu, ah aku pasti bisa.


Aku tak sendiri. Alanta dulu juga begitu. Dia juga naik sepeda ke sekolah. Tapi rumah Alanta dekat. Tak sejauh rumahku. Selain Alanta ada beberapa juga yang naik sepeda. Tapi sekali lagi, rumah mereka dekat dengan sekolah. Tapi ah, aku tidak boleh manja. Orang jaman dahulu berangkat sekolah dengan jalan kaki. Aku jauh lebih beruntung dari itu. Bukankah bersepeda adalah hobiku dulu. Oke, aku melesatkan sepedaku menuju tempat mencari ilmu.


Aku tidak lagi pulang sore. Karena aku tidak perlu lagi menunggu Papa menjemput. Jam satu siang aku sudah pulang. Sambil sesekali melihat bukit-bukit kota Batu, aku tidak perlu terlalu kencang mengayuh sepedaku. Panas menang, tapi sejuk karena angin yang berhembus menerpa tubuhku. Aku senang bersepeda. Setidaknya untuk hari ini.


Sampai di rumah.


Kulihat Monica mendorong kursi plastik di teras. Dia sudah mulai berjalan. Monica memiliki perkembangan yang cepat. Aku tersenyum melihatnya. Aku teringat anak-anak seusianya di panti. Mereka menggemaskan, menyenangkan, tak bosan aku memandangi Monica yang sedang berjalan sempoyongan.


Bruk, dia terjatuh ke tangga karena terlalu kiat mendorong. Aku segera berlari menolongnya. Dia menangis tentu saja.


"Cup..cup sayang" Kataku sambil membangunkannya.


Mama sekonyong-konyong datang melihat apa yang terjadi. Dia menatapku tajam dan segera merebut Monica dari tanganku.


"Kamu apakan adikmu?" Bentak Mama.


Sungguh baru kali ini Mama membentakku. Aku tahu sejak kehamilannya Mama mengesampingkan aku. Tapi tak kusangka ia akan membentakku hari ini.


"Eng..enggak Ma, tadi Monica...."


Belum selesai aku berbicara Mama menyelaku.


"Mulai sekarang jangan sentuh Monica" Kata Mama dengan nada tinggi pula.


Lantas Mama masuk ke rumah membawa Monica meninggalkanku sendirian di teras. Dia tidak tahu yang sebenarnya. Mungkin memang salahku yang terlalu terlena melihat lucunya Monica. Andai saja aku menjaganya, dia tidak akan terjatuh ke tangga. Yang jelas, Mama begitu marah padaku padahal belum tentu aku yang bersalah. Itu artinya, dia membenciku tanpa alasan.


"Non...Non....sini" Ada suara dari samping.


Aku menoleh, itu adalah Mbak Yanti. Aku segera mendekat. Kenapa dia berbisik begitu sambil mengayunkan tangan padaku.


"Nyonya sedang stress, banyak pikiran. Jadi jangan buat dia marah. Ayo ke dapur lewat sini" Kata Mbak Yanti.


Dari ucapan Mbak Yanti aku menyimpulkan sendiri, Mama tidak membenciku. Hanya saja dia sedang banyak pikiran sehingga semua akan terlihat salah di matanya. Tapi kenapa sampai stress, mungkinkah karena waktu itu bertengkar dengan Papa. Apakah memang hidup sebagai orang dewasa seperti itu? Selalu bertengkar, berbeda pandangan, banyak masalah yang berdatangan. Jika ya, maka akupun akan mengalaminya kelak.


***