
"Indonesia. Dari Indonesia" Suara Claire berbicara manis dengan resepsionis.
"Oh Im sorry, tidak ada" Jawab resepsionis.
Aku lega. Resepsionis itu menjawab sesuai permintaanku. Tidak ada hal yang lebih melegakan selain bebas dari maut.
"Oh thank you" Kata Claire diikuti langkah kaki. Dia sudah pergi.
Aku keluar dari persembunyianku. Membungkukkan badan untuk rasa terima kasih dan membalik badan hendak pergi. Namun ternyata Claire kembali dari balik pintu kaca.
"Oh sayang. Ayo kita pulang" Katanya.
Dia bersandiwara seperti sebelumnya. Resepsionis itu tampak bingung melihat kondisi yang baru saja terjadi. Aku takut dia beranggapan sama dengan gerombolan pemuda yang nongkrong di jalan itu. Aku mengambil langkah cepat untuk berlari. Tentu saja Claire mengejarku. Aku mencari tempat untuk sembunyi.
Aku naik ke tangga dan dia tetap mengejarku. Pekerja hotel yang lalu lalang pun terkejut ada dua orang yang berkejaran. Akhirnya aku menemukan sebuah gudang penyimpanan bahan makanan yang memunculkan bau yang khas. Aku bersembunyi di sana. Kenapa aku memilih tempat itu? Karena tertulis sedang proses pengecekan barang. Claire mungkin akan berpikir banyak orang di dalamnya dan aku tak mungkin masuk.
Ada satu ruangan kecil di dalam ruang penyimpanan bahan makanan. Aku masuk ke dalamnya. Aku takut. Claire benar-benar nekat. Sebelumnya kami tidak pernah punya masalah. Kenapa dia ingin melukaiku? Apa salahku? Dia tidak pernah mengatakan apapun tentang kesalahan yang kulakukan. Jadi Claire juga yang telah melukai Rebecca?
Brukk.....brukk...
"Rose ...Rose....ayo pulang" Katanya melembut tapi terdengar seperti bujukan kepada anak kecil.
Alu menahan nafas sebisa mungkin agar ia tidak mendengar apapun.
Brok brok brok brok.....
"Rose....keluar!!!!" Dia mulai marah.
Aku semakin ketakutan dengan gebrekan yang ia lakukan. Aku kaget dan hampir saja teriak, namun buru-buru kubungkam mulutku sendiri.
"Hai...apa yang kamu lakukan di sini? Ruangan ini khusus karyawan" Seseorang tampak sedang bertanya di luar.
Claire terdengar sedang berbicara dalam bahasa Jerman dan aku tidak begitu jelas mendengar.
"Aaakkh...." Seseorang itu kemudian berteriak.
Ada apa? Apa jangan-jangan Claire melukai orang itu? Teriakan itu membuatku keluar dari persembunyianku. Aku berusaha mengintip. Dan kulihat dari celah jendela kaca, ada dua orang karyawan hotel sedang menghadapi Claire yang membawa sebilah pisau lipat. Keduanya tampak ketakutan.
Claire mengambil tindakan nekat. Salah satu karyawan itu ia rangkul dan diancam dengan pisau di tangannya. Tentu saja karyawan yang lain mencoba menolong namun tidak berdaya. Keduanya hanya bisa berteriak dan memohon.
Dan kali ini pun aku mengambil tindakan yang jauh lebih nekat dari Claire. Aku menggoyang-goyangkan gagang pintu sehingga mengecoh perhatian Claire. Berhasil. Claire melepaskan perawat itu dan kini Claire tahu ada sesuatu di dalam ruangan ini. Aku kembali bersembunyi. Aku tak yakin kali ini dapat bersembunyi dengan baik.
Benar saja. Claire menemukanku di antara tumpukan kardus-kardus yang masih berisi bahan makanan kaleng. Dia tersenyum saat pertama kali menemukanku. Senyumnya begitu puas dan rakus.
Kali ini aku berpura-pura tidak takut sama sekali. Aku berganti tersenyum menghadapinya. Percayalah, aku sedang gemetar. Manusia mana yang tak gemetar ketika sedang berada pada bayang-bayang kematian.
"Ini aku. Cukup jangan melukai orang lagi. Kamu mau aku pulang bersamamu? Ayo" Kataku.
"Ya. Itu yang kumau" Katanya.
Aku tak percaya dia semudah itu luluh dengan rayuanku. Dia menggandeng tanganku dan kami berjalan berdua persis dua saudara yang sedang dalam perjalanan pulang. Percayalah, aku masih takut dan gemetar.
Kami sudah sampai di pintu lobi hotel. Di sanalah mobil polisi sudah berjaga-jaga. Aku yang menelepon 112 namun tidak sampai selesai harus kututup karena Claire tiba-tiba muncul. Dan aku harus segera bersembunyi.
"Claire....sebaiknya menyerah, dan ikut dengan kami" Suara polisi dari balik microfon tampak tenang dan datar.
Tentu saja kehadiran polisi membuat Claire terkejut. Ia berpikir keras mengatasi kondisi ini. Dan langkah gila yang ia ambil adalah dengan mengancamku sama seperti yang ia lakukan pada karyawan hotel itu. Bahkan ujung pisaunya sudah menempel pada leherku sebelah kanan. Lengah sedikit saja leherku akan tertusuk.
"Stop. Jangan berani maju!" Kata Claire setengah berteriak.
Tamatlah riwayatku. Polisi tidak mungkin mundur, dan Claire tidak mungkin melepasku. Dan kemungkinan terburuk adalah mati di tempat. Minimal terluka seperti Rebecca.
"Claire..." Kevin keluar dari salah satu mobil polisi.
"Kevin??? You???" Claire tampak terkejut laki-laki itu muncul bersama para polisi yang mengancam dirinya.
"Claire...please...come with me" Kata Kevin membujuk Claire.
Dari cara Kevin berbicara, tampaknya benar dia dan Claire ada hubungan keluarga. Tapi sayangnya, Claire tidak ingin melepasku begitu saja. Ia menempelkan ujung pisau lebih lekat lagi sehingga aku bisa merasakan sedikit perih. Oh, bisa saja ujung pisau itu sudah membuat kulitku berdarah.
"Mundur....atau..." Teriak Claire.
Polisi mengarahkan pistol pada Claire, namun Kevin berusaha mencegah mereka melepaskan peluru pada adiknya itu. Claire semakin panik. Tampak jelas pada sikapnya yang terus bergerak mencari cara. Dan......
Dorrrr.....terdengar suara tembakan. Aku memejamkan mata kuat-kuat. Aku tidak tahu siapa yang terkena sasaran peluru. Saat aku membuka mata, kulihat Claire jatuh tersungkur. Ada darah mengalir di betis sebelah kirinya. Kevin serta merta merangkul adiknya. Claire meringis kesakitan dan sekarang giliran Kevin yang tampak panik.
***
Rumah sakit kota Munchen.
Aku duduk termenung. Aku sendirian. Aku menunggu polisi memperbolehkanku pergi. Claire sedang berada di ruangan khusus untuk diberikan perawatan media sekaligus dijaga ketat. Orang tuanya turut hadir di runah sakit. Ini kali pertama aku melihat keluarga Claire. Mereka tampak elegan. Dengan mantel hitam branded dan tas mahal, Ibu Claire berbicara dengan polisi. Sementara ayahnya menelepon seseorang. Jadi benar, Kevin adalah kakak dari Claire. Tampak ia ikut mengobrol serius dengan polisi.
"Miss Rose" Panggil Polisi.
Aku berdiri memenuhi panggilan polisi sebagai pihak yang berwajib atas perkara ini.
"Mari kita duduk" Katanya.
Aku menurut.
"Keluarga Fleischer cukup terpandang di Kota ini. Dengan kasus anaknya ini, mungkin akan mencoreng nama baik mereka. Oleh karena itu, mereka meminta Anda untuk tidak menuntut lebih dalam" Katanya.
"Oh tidak Pak. Saya hanya ingin Claire bisa disembuhkan sehingga tidak membahayakan orang lain" Kataku.
"Oh Danke" Kata polisi lagi.
Meski dia telah mengancam nyawaku, tapi dia temanku. Teman yang berawal dari pandangan tajam, dan ternyata memiliki sisi gelap yang tidak kuketahui. Multiple personality disorder. Kepribadian ganda atau bipolar. Kurasa itu yang ia alami. Terkadang ia baik, manis, terkadang ia tega melakukan hal yang tak terduga. Penderita kepribadian ganda juga cenderung menyakiti diri sendiri. Jadi kala itu, apakah dia memukul dirinya sendiri dan mengatakan bahwa Kevin yang melakukannya? Dan dia berbohong bahwa Kevin adalah pacarnya demi memenuhi hasratnya?
***