My Name Is Rose

My Name Is Rose
Rebecca



"Nih" Panji memberikan sebuah brosur yang tidak terlalu lebar padaku.


"Apa ini?" Aku bertanya.


"Les bahasa Jerman bagi mahasiswa Indonesia. Kupikir kamu membutuhkan ini" Katanya.


"Ya, aku butuh banget ini. Tapi biayanya?"


"Sudah ditanggung oleh komunitas" Jawabnya.


"Komunitas?"


Panji bilang ada semacam perkumpulan mahasiswa Indonesia uang ada di Jerman. Sejauh ini aku belum tahu jika ada perkumpulan itu. Aku senang mendengar ini. Artinya, mahasiswa seperti aku tidak sendiri. Kami bersama-sama menuntut ilmi dan saling memberi solusi maupun bantuan ketika dibutuhkan. Tapi aku tidak tahu jika komunitas juga membiayai hal semacam ini.


Aku harus bersyukur karena sebagian besar perkuliahan dilakukan dengan menggunakan bahasa inggris, yah, mungkin memang kampusku ini adalah kampus berbasis Internasional sehingga banyak mahasiswa dari luar yang kuliah di sini. Tapi tak jarang juga yang menggunakan bahasa Jerman sebagai pengantar.


Dari kursus itu aku kemudian bertemu dnegan banyak mahasiswa dari Indonesia. Aku tidak tahu dengan tempat kursus lain, tapi tempat kursusku ini sebagian besar pesertanya adalah mahasiswa dari Indonesia.


"Dari komunitas mahasiswa juga?" Tanyaku pada salah seorang peserta.


"Oh iya, kamu juga?" Dia bertanya balik.


"Aku belum resmi masuk, tapi aku kepengen masuk. Kalo udah longgar aku daftar deh" Kataku.


Dan orang yang kutanya itu tampak senang bertemu denganku. Ia juga tampak puas mendengar jawabanku yang sebentar lagi akan masuk dalam komunitas yang ia ikuti pula.


"Kamu dibiayai komunitas juga?" Aku bertanya lagi.


Tampak dia seakan sedang mengingat-ingat apakah dibiayai komunitas atau tidak.


"Oh enggak, biaya sendiri"


Oh dia pasti anak orang kaya.


"Sampek berapa?"


"200"


"Dua ratus ribu?"


"Dia ratus euro lah"


Dua ratus euro, sekitar tiga juta lebih jika dikonversikan ke dalam rupiah. Wah komunitas mahasiswa ini kuat juga membiayai kursus ini. Oh aku hampir lupa, mahasiswa di siji sudah pasti anak orang berduit semua, kecuali aku yang secara penuh dibiayai oleh First.


***


Sekarang sedang musim dingin, salju mulai turun sejak dua hari lalu. Suasana seperti membuat orang tidak ingin mandi. Aku menatap jendela bersama teman sekamarku, Rebecca. Kopi susu diseduh dengan air mendidih, ditemani roti pumpernickel, roti khas Jerman yang terbuat dari gandum hitam. Karena har ini libur, dan aku sedang malas. Aku hanya berbincang dengan Rebecca sekedar melepas penat setelah sepekan penuh bergelut dengan banyak tugas.


"Kenapa kamu memilih kedokteran?" Tanya Rebecca dalam bahasa Jerman.


"Hmmm karena...bagi saya dokter itu keren... Dokter sangat dibutuhkan untuk sekarang ini" Aku pun menjawab dengan bahas Jerman yang tertatih-tatih, tapi syukurlah dia mengerti.


Jawabanku itu, sebenarnya kurang lengkap. Alasanku yang sesungguhnya adalah tujuanku setelah Rania dan Alanta. Orang tua. Setidaknya aku tahu bagaimana menemukan mereka dengan cara yang lebih intelek. Dengan DNA, atau tes genetik lainnya yang hanya bisa diketahui oleh orang yang memiliki ilmunya.


"Sejujurnya aku kecewa" Kata Rebecca.


"Kenapa?"


"Aku senang kamu di sini, tapi aku sedih Alice tinggal di sana"


Aku menunduk. Pernyataan itu serasa menampar diriku. Benar kan, aku mengorbankan Alice demi kepentinganku sendiri. Aku malu pada biarawati di sampingku ini.


"Why?" Aku bertanya dengan ragu.


"Alice tinggal serumah dengan seorang pria"


"Ya, aku tahu. Tapi itu kemauannya"


Biarawati ini mungkin sudah mengenal Alice sangat lama, sehingga ikatannya cukup erat. Rebecca memikirkan bagaimana Alice tinggal dengan pacarnya seperti tinggal dengan suami sahnya di hadapan Tuhan. Tidak mungkin jika mereka hidup biasa-biasa saja. Tentu getarannya sangat kuat dan pastilah **** bebas itu terjadi dan itu adalah privasi yang tidak boleh di utak atik orang lain.


"Im sorry Re ..." Kataku lirih


Rebecca tersenyum. Sungguh dia tidak menyalahkanku atas semua ini. Fia juga paham aku berusaha melepaskan diri dari lingkaran kehidupan yang tidak baik, termasuk tinggal sekamar dengan lawan jenis. Pemikirannya sama denganku. Aku juga kecewa karena akhirnya Alice yang berada di posisiku. Demi menyelamatkanku, dia dengan senang hati bertukar tempat. Dan aku membiarkan dosa bergulir. Rebecca juga memiliki pemikiran seperti itu.


Dok..dok .


Seseorang mengetuk pintu dari luar. Rebecca membukanya dan berteriak riang. Alice datang mengunjungi kami. Panjang umur sekali dia. Baru saja kai membicarakannya, dia muncul di hadapan kami.


"Hai...." Alice menyapaku.


Tiga perempuan muda dari negara yang berbeda, kini duduk bersama seakan sudah kenal lama. Pumpernickel dan koipi susu yang sedari yadi kami nikmati, kini tersaji di meja tamu. Kutambahkan dengan keripik singkong khas Indonesia. Aku membelinya di supermarket dengan harga yang mahal. Oh bukan aku yang membeli, Panji yang membelinya kapan hari. Mereka menyukainya. Rasanya gurih dan membuat mereka tidak berhenti mengunyah.


"Oh, aku punya kejutan buat kalian" Kata Alice dalam bahasa Jerman.


"Apa?" Tentu saja kami penasaran.


Alice kemudian berdiri dan membuka atasannya setengah badan. Ia menunjukkan sesuatu di tubuhnya.


"What is that?" Tanyaku.


"Main magen" Jawab Alice. Ia menyuruhku melihat perutnya. Oh, perutnya sedikit membuncit.


"Kamu hamil?" Tanya Rebecca.


Alice mengangguk dengan senangnya. Dan apa reaksi Rebecca? Dia menunduk dengan membentuk salib di dadanya. Apa uang ia takutkan, juga kutakutkan, akhirnya terjadi. Alice memamerkan perutnya yang mulai membesar dengan senangnya. Dia tidak tahu bahwa kami justru tidak menyukai hal itu.


"Gucklich" Aku memberi selamat lirih. Rebecca memandangku dengan cepat. Mungkin ia terkejut aku memberi selamat atas kehamilan di luar nikah itu. Aku tidak punya pilihan. Aku tidak enak dengan Alice yang terlihat gembira.


Di Jerman, atau negara dengan kehidupan bebas lainnya, kehamilan adalah suatu hal yang membanggakan manakala ayah sang janin menerimanya dan mau mengakuinya. Mereka akan bersedih dan merasa kehamilannya adalah hukuman, manakala ayah sang janin tidak peduli atau bahkan tidak mengakuinya. Masalah nikah atau tidak, tak jadi soal.


"Apa kau akan menikah dengan Jack?" Tanya Rebecca.


"Tentu" Jawab Alice.


Rebecca terlihat lega mendengar itu.


"Setelah kami lulus"


Rebecca berubah mimik wajah. Setelah lulus? Artinya beberapa tahun lagi. Gila, kenapa tidak sekarang sebelum bayinya lahir? Mereka menyepelekan masalah pernikahan.


"Im Sorry Re..." Kataku kembali pada Rebecca setelah Alice pulang.


"Itu pilihannya, kita manusia bisa apa?" Jawabnya dengan tersenyum.


Seharusnya aku lega Rebecca tidak lagi kecewa, tapi bukan hanya masalah itu saja. Karena aku memberi jalan, Alice pun hamil.


"Kamu pernah mendengar Nabi Muhammad?" Tanya Rebecca tiba-tiba.


Tak kusangka pembicaraan kami sampai harus menyentuh hal sensitif.


"Tentu saja" Jawabku.


"Kamu pasti juga pernah dengar bagaimana beliau berdakwah pada masyarakat, namun pamannya sendiri menentang?"


Rebecca begitu nekat membahas masalah agama.


"Paman Abu Tholib ?"


"Ya...jika manusia sesuci itu saja tidak berhasil berdakwah pada pamannya, sekalipun sang paman begitu sayang padanya, bagaimana dengan kita yang begitu kotor"


Rebecca, kamu seorang biarawati, tapi kamu tak segan memuji Nabi Muhammad. Sedang aku yang beragama islam tulen, kurang memujinya. Oh, Gusti, engkau sandingkan aku dengan biarawati ini adalah untuk menyadarkanku?? Begitukah??


***