My Name Is Rose

My Name Is Rose
Peristiwa di Depan Mading



"Oh, ini anak cerdas yang mendapat beasiswa di SMP favorit?" Tiba-tiba saja Mama menyambutku dengan statement seperti itu saat aku pulang dari sekolah.


Aku hanya bisa menunduk. Dari nada bicaranya, terlihat sekali dia sedang marah.


"Bisa nyuci nggak? Bisa pakek mesin cuci nggak? Tahu nggak cara nyalakan?"


Oh aku tahu, soal cucian yang menumpuk.


"Oh, itu Ma, mesin cucinya kayaknya rusak deh Ma. Soalnya gak bisa muter, cuma terdengar suara nyala aja, kayaknya perlu diservis deh" Aku membela diri.


Aku tidak berbohong, memang itulah kenyataannya.


"Rusak? Yang rusak mesin cucinya apa otak kamu? Sini!!" Mama menggelandang lenganku menuju tempat cucian. Sakit, tapi aku tak berani mengaduh.


"Lihat ini" Mama memutar tombol mesin cuci, dan seketika mesin menyala dengan normal. Aku juga heran, mesin itu tidak berputar sama sekali tadi pagi meskipun kucoba berulang kali. Tapi sekarang, sekali tombol langsung menyala seperti biasa.


"Tapi ..tadi pagi macet Ma, cuma ada suara aja, nggak muter" Aku masih mencari pembenaran.


"Jangan sombong jadi anak unggulan di Cendekia. Di sekolah kamu mendapat perlakuan istimewa. Tapi di rumah jangan harap. Kamu tetap lakukan tugasmu kalau masih mau tinggal di sini. Dengar ya. Aku tidak bangga dengan anak pintar kayak kamu. Apa pintarmu bisa ngasilin duit??" Selepas berkata demikian Mama berlalu meninggalkanku sendirian.


Cucian menumpuk di depanku harus segera kubereskan sebelum Mama mengamuk lebih parah. Sungguh aku lelah. Pekerjaanku jauh lebih banyak dibanding seorang pembantu rumah tangga. Aku masih berusia 13 tahun, tentu tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan orang dewasa. Aku tak selihai pembantuku di Malang dulu. Aku belum bisa bekerja cepat seperti dia.


Cuci baju, cuci piring, jemur baju, menyapu rumah, menyapu halaman sampai bakar sampah harus kubereskan sebelum berangkat sekolah. Mama tidak peduli apakah aku terlambat datang ke sekolah atau tidak. Yang ia tahu hanyalah pekerjaan beres dan rumah bersih. Aku masih beruntung karena tidak disuruh memasak. Mungkin karena takut masakanku tidak bisa dimakan. Masak memasak dikerjakan oleh Mama sendiri itupun hanya sesempatnya. Papa lebih sering beli nasi bungkus di warung.


Belum berhenti sampai di sini. Pulang sekolah tugasku adalah mengangkat jemuran, melipat sekalian, jaga Monica, dan malam harinya menyetrika baju. Lalu kapan waktuku untuk belajar?


"Ros, kamu nggak usah nyuci, sepertinya mesinnya eror, biar cuciannya Papa bawa ke laundry sambil ke kantor " Kata Papa suatu subuh.


Yes!! Aku sumringah mendengar itu. Paling tidak aku punya waktu lebih longgar untuk sekedar sarapan atau membawa bekal. Kadang-kadang kerusakan seperti ini membawa berkah untukku. Rusak saja terus biar aku punya banyak waktu. Ups.


"Iya Pa, kemarin gak bisa muter, trus tau-tau normal lagi, habis itu macet lagi" Kataku menambahi.


"Makanya nanti Papa panggilkan tukang servis, sementara bajunya Papa laundry saja"


Aku tahu sebenarnya Papa tahu bagaimana Mama memperlakukanku di rumah ini. Tapi Papa juga tidak mampu membelaku. Papa tipe orang yang tidak mau ribet. Sehingga di menurut saja apa kata Mama. Yang bisa Papa lakukan adalah meringankan bebanku. Apapun itu, aku bersyukur, ada orang yang mempedulikanku sekuat tenaga.


"Nanti malam juga nggak perlu nyetrika Pa??" Sambungku.


"Nggak dong, sekalian setrika di laundry"


Yess. Malam ini aku punya waktu lebih untuk belajar. Semua PR selama seminggu akan kukerjakan semua meskipun bukan jadwalnya. Lembar kerja akan kubabat habis malam ini, karena besok belum tentu aku punya waktu seperti malam nanti.


***


"Sekian untuk hari ini, jangan lupa tugasnya dikerjakan, besok dikimpulkan" Bu Susi, wali kelasku mengakhiri pelajaran pagi ini.


"Bu....Bu Susi...." Sejenak kuhentikan langkahnya.


"Ya...Rosa ."


"Soal mading Bu"


"Sudah Bu"


"Oke langsung saja dipasang di mading ya, sudah lama mading itu tidak diisi tulisan siswa. Biasanya cuma pengumuman dan brosur saja" Jelas Bu Susi.


Mading terletak di depan perpus. Lumayan jauh dari kelasku. Kelasku berada di lantai tiga sedang perpustakaan ada di lantai dasar, itupun di blok lain.


Mading ini memang hanya terisi brosur. Brosur Tour, brosur bimbel, brosur pelatihan sampai brosur alat-alat sekolah. Tulisan siswa yang sudah memudar yang kulihat beberapa waktu lalu, sekarang sudah tidak ada. Siapa tahu tulisanku akan menjadi pancingan buat yang lain.


Aku masih berdiri memaku di depan mading, pasalnya kaca mading ini terkunci. Lalu bagaimana aku bisa memasang tulisanku?


"Ehm..ehm..." Seorang cowok tidak tahu kapan datangnya, tiba-tiba saja berdiri di sampingku.


"Ada yang bisa dibantu?" Tanya cowok itu.


"Oh iya... Saya mau pasang ini, tapi kok dikunci ya" Kataku.


"Sudah bilang ke Siska?"


"Siska?"


"Anggota osis yang bertugas mengurus mading"


"Oh, tadi Bu Susi kok gak bilang gitu ya, katanya suruh pasang langsung"


"Oh Bu Susi, ya sudah sini biar aku yang pasang"


Kuserahkan naskahku pada cowok ini. Dia mengamati tulisanku sejenak, lalu memasangnya di samping sebuah brosur.


"Seharusnya dikumpulkan dulu ke ruang osis, diseleksi, dikoreksi, kalau lolos baru dipasang" Kata cowok itu.


Seleksi? Koreksi? Kenapa Bu Susi tidak bilang begitu. Malah suruh memasang sendiri. Yang benar yang mana. Huft.


"Mengatasi stress saat menstruasi?? Cokelat?? Yakin??" Cowok yang menurutku kakak kelas itu mencermati tulisanku yang sudah terpasang di mading


"Iya Kak, cokelat mampu mengurangi kadar hormon stres kortisol. Dia juga menurunkan tekanan darah sehingga membuat kita yang menstruasi menjadi tenang. Kakak tentu pernah dengar kalau orang lagi mens pasti bawaannya emosian. Karena hormon kortisolnya meningkat, untuk menurunkan itu, cokelat salah satu solusinya" Aku mencoba menjelaskan dengan penuh percaya diri yang entah bagaimana tiba-tiba saja muncul.


"Hmm kamu sidah menstruasi??"


"Hmm belum sih, tapi aku suka baca tentang itu. Nih ada rujukannya jadi aku nggak ngarang"


Cowok itu manggut-manggut. Baguslah. Sepertinya dia mulai tertarik dengan tulisanku. Jika 50 persen saja di sekolah ini membaca tulisanku seperti cowok ini, maka aku bisa terkenal, tulisanku semakin banyak, dan tidak menutup kemungkinan aku bisa menerbitkan buku. Ups.


"Panji.." Cowok itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya.


"Rosa" Kujabat tangannya.


Aku masih beberapa minggu di sekolah ini, aku sudah menemukan teman baru yang menurutku sefrekuensi. Jika dia menyukai tulisanku, maka bisa jadi kami punya minat yang sama tentang ilmu. Disinilah awal persahabatan kami. Persis seperti saat aku berkenalan dengan Alanta. Aku tidak sedang menggantikan posisi Alanta. Aku hanya menambah ruang baru untuk Panji. Suatu ketika aku berharap menemukan kembali Alanta, dan tentunya, Rania. Sementara itu, biarlah Panji menjadi sahabatku. Berbagi ilmu, berbagi pengalaman, berbagi macam hal.


***