
"Polisi woey!! Sial!!" Umpat salah satu penjaga.
Mendengar suara sirine polisi membuat mereka gentar. Sejenak mereka panik. Aku mengambil kesempatan untuk berlari. Namun sepertinya mereka sangat profesional. Mereka kemudian menyadari bahwa mereka harus segera bergerak cepat. Dengan sigap mereka menangkapku dan membawaku masuk ke dalam mobil. Itu mobil yang sama yang digunakan untuk menculikku. Salah satu membungkam mulutku dengan tangannya yang besar. Otomatis aku tidak bisa bersuara.
Benar saja. Polisi benar-benar datang. Ada tiga mobil polisi dan beberapa motor gede yang masuk pekarangan rumah ini. Ini bukan rumah. Ini adalah villa. Dan yang mengejutkan adalah, ini villa milik keluarga Silvi. Polisi turun dari mobil dan mengacungkan pistol ke arah para penjaga. Terjadilah adu peluru di antara mereka..pra penjahat yang menyekapku pun memiliki senjata laras panjang.
Suara deru tembak pun memekakkan telinga. Para penjahat ini jumlahnya cukup banyak. Ada lebih dari sepuluh orang. Polisi pun kuwalahan menghadapi mereka. Namun yang kulihat, para penjahat ini sebenarnya juga ketakutan. Mereka kemudian membawaku turun dari mobil dengan mengacungkan pistol kecil tepat di kepalaku. Ini persis seperti di film laga. Mereka menggunakanku untuk menghentikan aksi polisi.
"Letakkan senjata atau gadis ini akan mati di tempat!!" Ancam penjahat.
Polisi pun pelan-pelan meletakkan senjatanya sesuai permintaan penjahat. Salah seorang menyalakan mobil. Begitu mobil siap, mereka memasukkanku kembali ke dalam mobil. Mobil melaju dengan kencang menerobos semak-semak di depan. Polisi dengan cepat mengejar kami. Terjadilah kejar-kejaran di antata mereka. Satu di antara polisi yang mengendarai motor gede adalah Alanta. Aku bisa melihat sorot matanya melalui celah helm yang ia pakai.
Mobil melaju sangat kencang. Setelah cukup lama kejar kejaran, sampailah kami di sebuah hutan atau danau, entahlah. Yang jelas di sini sepi. Mobil memasuki gerbang besar yang dijaga oleh sekawanan penjahat yang sama.
"Ada polisi!!! Tolong bantu!!" Kata sopir yang mengemudikan mobil yang membawaku.
"La trus ngapain kesini goblok!! Big Bos bisa ketahuan!!" Kata penjaga gerbang.
"Trus gimana dong!!"
"Putar balik, arahkan ke tampat lain!!"
"Oke!!"
Namun sebelum berputar, motor Alanta sudah sampai. Alanta tidak sendiri. Dia bersama beberapa orang lagi yang menurutku bukan polisi, tetapi teman-teman Alanta. Kemudian terjadilah pertarungan antara mereka. Saling pukul dan saling hantam, namun tidak menggunakan senjata api. Sementara mereka bertarung, salah seorang membawaku keluar dari mobil dengan maksud membawaku masuk ke dalam lokasi untuk disembunyikan kurasa.
Menyadari bahwa aku akan dipindahkan, aku tidak boleh tinggal diam. Kugigit tangan orang yang membawaku sampai dia meringis kesakitan. Seperti dalam film yang kilihat, kuinjak kuat kakinya dan diapun mengaduh. Tak berhenti di itu, kupukul kepalanya dnegan kedua tangan yang disatukan. Lantas aku berlari menuju Alanta.
Salah satu teman Alanta tahu aku berhasil melepaskan diri. Dia lantas pasang badan untuk melindungiku sementara Alanta masih bertarung. Teman Alanta kemudian membawaku pada Alanta. Jadilah kami semua berkumpul. Kekuatan akan semakin besar jika berkumpul.
Pertarungan masih berlangsung sampai polisi datang. Jalan uang bergelombang dan berliku membuat mobil melambat sehingga baru datang setelah sekian lama mereka bertarung. Namun ternyata polisi yang datang kali ini jauh lebih banyak dari sebelumnya. Tempat ini telah terkepung.
Polisi kemudian mengamankan kami yang bukan anggota polisi. Kami hang masih remaja tidak cukup kuat melawan mereka. Kami dibawa agak menjauh dari lokasi. Polisi bahkan sudah menyediakan ambulance untuk memeriksaku secara medis.
Alanta memberikan jaketnya padaku. Teman-teman Alanta segera merebahkan diri di papan yang dibawa oleh polisi. Terlihat sekali mereka lelah melawan para preman. Alanta menenangkanku dengan tepukan di bahuku.
"Kamu gak papa kan?" Tanya Alanta.
Aku mengangguk. Sebotol air mineral dia berikan padaku. Segera kuteguk air itu dengan nikmatnya.
Alanta menatapku nanar. Terlihat betapa dia begitu miris menyaksikan kondisiku. Akupun demikian. Begitu miris dengan nasibku sendiri. Apa jadinya jika mereka tidak datang. Apa jadinya jika Alanta tidak menolongku.
"Makasih ya....Alanta....terima kasih" ucapku sambil sesenggukan.
Alanta memelukku erat. Seolah tak ingin melepasku sedetikpun. Tak ingin membiarkanku melangkah sendirian. Bisa kudengar isak tangisnya. Laki-laki perkasa ini menangis. Laki-laki ini menitikkan air matanya.
"Janji, jangan minta aku menjauh lagi ya!! Janji!!!" Kata Alanta.
Aku menatapnya. Bagaimana bisa aku menjauh setelah menyadari bahwa aku memang membutuhkannya. Menjauh darinya ternyata menyiksaku.
"Ros, janji!!!" Alanta mengulangi.
Aku mengangguk. Kembali Alanta memelukku dan jadilah aku menangis meraung raung di dadanya. Kutumpahkan segala kemarahanku, kesedihanku, rasa nelangsa dan banyak hal di sana. Malam menjadi sangat dingin sesaat setelah semua berakhir.
***
"Saudari Rosa tidak ingin dirawat secara medis terlebih dahulu?" Tanya seorang polisi.
"Tidak Pak, Papa saya sedang dirawat di rumah sakit, saya harus segera kesana. Jika diijinkan sekarang juga saya ingin menemui Papa saya" Jawabku.
"Baik. Nanti sewaktu-waktu saya akan meminta keterangan saudari"
Aku mengangguk. Alanta mengantarkanku ke rumah sakit, tempat Papa mendapat perawatan. Aku langsung menuju ruang ICU di mana Papa terbaring.
"Sudah dipindahkan Mbak, silahkan tanya ke ruang perawat" Kata salah seorang perawat.
Syukurlah Papa sudah dipindahkan, artinya dia sudah melewati masa kritisnya. Setelah kudapatkan informasi selanjutnya, aku segera menuju ruang dimana Papa dipindahkan. Kulihat Papa memang masih terbaring, matanya tertutup rapat. Tetapi mengetahui bahwa dia sudah melewati masa kritisnya membuatku lega.
Kupegang tangannya. Hangat. Dia masih hangat. Aku bertambah lega. Sesat kemudian jemari Papa bergerak. Aku segera mendekat saat kudengar Papa berbicara lirih.
"Ro....Ro...sa..." Kata Papa dengan susah payah.
"Iya Pa, Rosa di sini" Jawabku.
"Su....surat ...rumah"
"Surat? Surat rumah? Kenapa?"
"Mamamu.....huhuhu" Lalu Papa menangis.
"Husss....Papa jangan nangis Pa..."
"Su....surat...ru...mah"
Aku mendengarkan.
"Di...ambil ... Ma....mamu"
Surat rumah diambil Mama. Untuk apa?
"Di simpan Mama?" Aku bertanya.
Papa kemudian bercerita meski terbata-bata. Dia menceritakan bahwa Papa memergoki Mama yang menggeledah lemari Papa. Di sana Mama menemukan surat rumah. Kemudian keduanya cekcok. Dan sudah kuduga, Mama entah sengaja atau tidak telah menggulingkan kursi roda Papa sehingga Papa jatuh.
Untuk apa Mama melakukan ini? Bukankah Mama begitu mencintai Papa sehingga ketika Nenek menyarankan untuk berpisah, Mama justru mempertahankan rumah tangganya. Tetapi ah, jika Mama begitu mencintai Papa tidak mungkin menduakannya dengan Om Banu.
Aku mengecas hape yang sudah padam karena kehabisan baterai. Sembari kunyalakan untuk memeriksa telepon maupun SMS. Diantara telepon yang masuk, ada telepon dari Pak RT. Aku kemudian memeriksa SMS yang masuk. Salah satunya dari Pak RT.
Mamamu sudah pulang Mbak Rosa, diantar sama keluarganya tadi sore.
Begitu isi pesan Pak RT.
***