My Name Is Rose

My Name Is Rose
Undangan



Ujian nasional sudah datang, dan aku benar-benar break dengan Alanta. Semenjak itu pun aku tidak pernah mendengar kabar Vania, kecuali Dinda yang selalu memastikan Vania tidak menjadi gangguan hubunganku dengan Alanta.


Aku benar-benar fokus dengan ujianku. Dan seperti ujian-ujian sebelumnya di Bintang Harapan, anak-anak yang lain berusaha saling contek. Itu hal yang tidak aku suka dan aku belum berhasil mengubahnya. Tapi aku juga tidak bisa terlalu idealis ketika bersama mereka. Mau berusaha belajar saja sudah sangat bagus, daripada tidak sama sekali.


Hari-hariku masih berkutat dengan buku. Kembali pada masa dulu sebelum aku bertemu kembali dengan Alanta. Belajar belajar dan belajar. Membaca dan terus membaca. Berlatih sekian banyak soal. Hampir tak ada waktu untuk sekedar nonton drama korea.


Sampai saat itu tiba.


"Prom night? Aduh kayaknya nggak deh Din. Masak iya aku yang udah keluar dari First ikutan prom night disana?" Aku menolak ajakan Dinda untuk mengikuti perpisahan di First.


"Yah, lo kan tau gue gak punya teman deket. Apalagi pacar. Trus gue sama siapa dong kesana?" Kata Dinda memelas.


"Yah lo datang sendiri aja, ntar juga pasti ketemu sama teman-teman lo yang lain" Jawabku.


Datang ke First untuk merayakan prom night alias malam perpisahan menurutku adalah hal yang memalukan. Aku sudah keluar dari sana dan rasanya tidak pas jika aku bergabung dalam acara itu sekalipun aku mempunyai kartu masuk.


Siang itu cukup terik. Dengan seragam yang warna warni akibat corat coret masa kelulusan, aku dan Dinda duduk di sebuah tongkrongan pinggir jalan. Dengan menu bakso yang murah namun rasanya nggak murahan. Kami berbincang menikmati hari kebebasan. Ya, bebas dari ujian nasional yang benar-benar menguras tenaga kami. Dengan lahap kami habiskan bakso dengan kuah pedas, ditambah gorengan dan segelas es campur. Begitu nikmat rasanya.


Dari kejauhan aku melihat pemandangan yang tak terduga. Dua orang yang kukenal belakangan ini. Yang satu adalah perempuan dengan seragam putih abu-abu namun tertutup jaket cokelat yang elegan. Di sampingnya, seorang pria berbusana rapi ala kantoran. Pria itu menggendong balita laki-laki. Ketiganya tampak tertawa bahagia. Ya, mereka adalah Vania, Afrizal dan si kecil Ananta. Bagaimana mereka bisa bersama. Padahal sebulan yang lalu Vania masih memintaku untuk meyakinkan Alanta untuk bertanggung jawab terhadap apa yang dialami olehnya.


"Siapa cowok di sampingnya itu?" Tanya Dinda yang menyadari sesuatu di kejauhan yang sedang menarik perhatianku.


"Itu yang namanya Afrizal" Jawabku tanpa menoleh.


"Oh iya, baru ingat mukanya. Kok bisa barengan?"


"Kayaknya Vania udah nerima Afrizal" Kataku.


"Gak kebalik? Afrizal yang nerima Vania? Secara Vania kan sudah......"


"Sama aja. Yang penting keduanya sekarang menjalin hubungan" Jawabku sambil berbalik arah mengambil tasku di kursi warung.


Secepat itu semua berubah. Kenapa tidak dari dulu mereka bersama. Ananta akan punya ayah. Dia tak perlu lagi disembunyikan di rumah Mbok Sum. Kenapa baru sekarang. Bahkan hubunganku dan Alanta turut terkorbankan. Alanta. Bagaimana jika kamu tahu tentang ini? Apakah kamu menyesal memutuskan Vania? Setelah Vania bersama sepupumu, akankah kamu cemburu?


Setelah dikejutkan dengan Vania dan Afrizal yang bersama, aku kembali dikejutkan oleh seseorang. Setelah selesai dengan Dinda, aku pulang ke rumah. Di sanalah aku melihat mobil hitam yang familiar. Aku mendekat dan tidak ada orang. Kemana pemiliknya.


"Nyari siapa Neng?" Seseorang muncul di belakangku entah darimana datangnya.


"Ih kamu ngagetin ajah.... Kok bisa di sini?" Tanyaku.


"Aku masih pacar kamu kan?" Katanya.


Bagaimana aku menjawab. Akulah yang meminta break. Aku masih menelaah arti kata break. Apakah berarti hanya beristirahat ataukah berhenti. Sama persis seperti kata 'instropeksi'.


"Ayo masuk" Kataku.


Duduk berdua dengan Alanta untuk pertama kalinya setelah aku meminta break, rasanya canggung. Untuk beberapa saat kami hanya terpaku dalam diam. Keduanya saling menunggu siapa yang berbicara duluan.


"Aku minta maaf" Kata Alanta akhirnya.


Aku menoleh dan memutar badanku sembilan puluh derajat demi menghargai pembicaraannya.


"Banyak hal yang aku sembunyikan dari kamu tentang masa dulu. Tentang Vania, keluargaku, Afrizal....aku minta maaf" Lanjutnya.


"Itu adalah hal yang memang seharusnya dirahasiakan Alan. Itu bukan konsumsi publik. Dan aku tidak ingin tahu terlalu dalam sepanjang tidak berhubungan denganku. Jadi biarlah itu menjadi rahasia keluarga kalian" Jawabku memberikan ketenangan untuknya.


"Tapi biarkan aku jelasin satu saja yang mungkin akan mengubah pemikiran kamu" Lanjutnya.


Aku membiarkan.


Dahiku berkerut seketika. Bukan Alanta yang memutuskan Vania, tapi sebaliknya kah? Mana mungkin? Bukankah Vania waktu itu masih sangat menginginkan Alanta? Bukankah dia butuh sosok ayah untuk bayinya?


"Bagaimana menurut kamu, seseorang hamil hanya karena diperkosa satu kali? Menurutmu apa itu mungkin? Menurutmu, apakah mungkin pemerkosaan dilakukan di hotel?"


Aku masih berpikir apa maksudnya ini?


"Vania hamil dengan mantan pacarnya dulu. Menurutmu itu pemerkosaan?"


"Astaga...." Celutukku.


"Tidak mungkin mereka melakukan itu hanya sekali lantas Vania hamil. Pasti beberapa kali bukan? Dan setelah itu,. Dia minta putus,. Karena menurutnya, jika dia hamil, mantannya itu akan bertanggung jawab. Nyatanya malah kabur ke luar negeri"


"Lalu kenapa kamu masih....."


"Aku sedang berusaha untuk menolong dia yang sudah terpuruk. Orang tua nya saja sudah tidak mau ikut campur. Lalu siapa yang sudi nolongin dia kalau bukan aku?"


"Maaf Alan...untuk sejenak aku mikir yang enggak-enggak....setelah Vania datengin aku" Kataku dengan menunduk.


Alanta meraih tanganku, dan kubiarkan dia melakukan itu. Setelah aku melihat Vania bersama Afrizal, aku tidak punya alasan lagi untuk tetap break.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku" Katanya.


"Hm?"


"Kita masih pacaran kan?"


Aku mengangguk dan dia terlihat begitu bahagia dengan jawabanku.


"Okey...sekarang siap-siap....kita jalan ya" Katanya.


"Aduh, Alan aku baruuu aja pulang habis makan sama Dinda. Masak mau keluar lagi" Kataku.


"Waktu kita gak banyak. Lusa aku harus balik ke Malaysia. Ayok gih siap-siap"


"Dikit banget waktunya bang...kuraaang" Kataku memanja.


"Haisy...udah sana siap-siap" Alanta mendorong lembut tubuhku.


Kami menuju sebuah kafe. Untung saja di kafe, bukan di rumah makan. Perutku masih penuh dengan kuah bakso.


"Suka gak tempatnya?" Tanya Alanta.


"Suka. Musiknya gak terlalu keras dan anginnya gak terlalu kencang" Jawabku sambil melihat sekeliling.


"Oh iya, aku punya undangan ini" Kata Alanta sambil merogoh sakunya.


Undangan yang sama seperti yang ditunjukkan oleh Dinda.


"Aduh Alan, kayaknya nggak deh. Rasanya nggak pantes kalo aku ikutan acara itu. Aku kan keluar dari sana" Kataku.


"Aku juga keluar kan dari sana? It's okay...kita ikut ya" Pinta Alanta.


Aku masih enggan memberikan jawaban. Seperti yang ku katakan pada Dinda, rasanya kurang pas jika aku datang ke acara itu. Tapi jika Alanta sudah punya mau, bagaimana aku bisa menolaknya. Alasan apa lagi yang akan kuberikan.


***