My Name Is Rose

My Name Is Rose
Break



"Aku perlu bicara" Kataku di telepon.


"Apa? Aku perlu pulang?" Tanya Alanta.


Dia di Malaysia, bukan sekedar di Bogor, Bandung atau Yogyakarta. Pulang hanya untuk membahas Vania, rasanya tidak pas. Tapi berbicara di telepon juga tidak bisa leluasa.


"Kamu kapan libur?" Tanyaku akhirnya.


"Akhir bulan"


Akhir bulan masih dua minggu lagi. Apakah aku bisa menunggu selama itu.


"Alan....jika sesuatu terjadi padaku...apakah kamu akan....." Aku ragu membahas itu karena aku takut mengganggu psikisnya dan mempengaruhi studinya.


"Akan apa? Tinggalin kamu? Pertanyaan macam apa itu Ros?" Alanta terdengar masih santai.


"Hm" Jawabku.


"Hehehe kamu kesambet apa sih sayang?"


"Soal Vania. Aku gak perlu tanya alasanmu putusin dia, tapi gimana dengan janji kamu bakal jagain dia"


"Ros!! Kamu belum paham betul kondisi kami waktu itu. Kalau bukan karena solusi yang aku berikan, dia gak mungkin bisa sekolah lagi seperti sekarang" Dari dini Alanta terdengar kesal.


Mengungkit masa lalu, menjelaskan hal yang sudah lalu, mengulik peristiwa masa lampau adalah hal yang sangat menyebalkan. Aku paham itu. Aku tidak akan membahas ini jika tidak terlibat dalam persoalan mereka.


"Bukan itu maksudku Alan.... Vania datangin aku" Kataku lirih.


"What? Dia ngomong apa?"


"Kayaknya urusan kalian belum selesai"


"Itu sudah tiga tahun lalu, menurutmu apa itu belum selesai?"


Benar juga. Jika memang belum selesai tidak mungkin Vania diam saja. Dia pasti sudah menuntut sejak lama. Kenapa bari sekarang.


"Alan...kita break dulu aja" Kataku akhirnya.


"Break? Kamu serius? Kamu nyadar sedang ngomong apa?" Tanya Alanta terkejut.


"Alan...aku mau ujian, aku butuh waktu sendiri. Sementara itu, kamu selesaikan dulu urusan kamu dengan Vania maupun Afrizal, setelah itu kita pikirin lagi arah kita mau kemana" Kataku lirih.


"Kalau kamu mau fokus ujian aku bisa ngerti tapi jika ini masalah Vania apalagi Afrizal, rasanya kamu berlebihan sayang. Tidak seharusnya orang lain ikut campur dalam hubungan kita. Seharusnya kamu lebih berpihak padaku daripada mereka"


"Aku percaya. Aku yakin kamu sudah melangkah dengan benar. Tapi tidka mungkin jalan kita akan mulus jika masih ada yang mengganjal bukan? Sudah Alan, kita break sampai ujian selesai"


Telepon kututup. Entah apa yang akan dilakukan Alanta di negeri seberang sana. Aku mungkin salah telah mengganggu studinya. Pernyataanku tentang kalimat 'break' itu pasti cukup mengganggunya. Apakah dia sedang membanting atau bahkan memukul sesuatu? Ah, aku benar-benar telah salah.


Aku tidak bisa mengganggu kuliah Alanta hanya demi memastikan siapa yang akan ia pilih. Kadang aku berpikir, kenapa aku mesti memenuhi permintaan Vania. Dia bukan siapa-siapaku. Aku mengenal dia setelah Rico membawaku kesana. Kenapa aku mesti dipusingkan soal Vania.


Pulang sekolah.


"Oh, nggak dulu En, lagi banyak kerjaan"


"Uluh uluh... Yang lagi sibuk kerja. Eh, gua juga kerja bantuin Nyak Babe, tapi urusan belajar mah kudu tetep didulukan. Kan gitu yang kamu bilang dulu"


Aku merasa bangga ketika Eni bilang seperti itu. Arti ya semangatnya belajar sekarang sedang membumbung. Upayaku u tuk menyadarkan mereka bahwa belajar nomor satu ternyata tak sia-sia.


"Oke...janji deh besok ikutan, hari ini jangan dulu ya" Kataku membuat dia puas, lalu kembali ke kelas.


Sebenarnya alasan utama aku tidak mengikuti les yang diberikan Pak Yogi secara gratis adalah, karena aku sedang ingin sendiri. Urusan Afrizal, Alanta dan Vania cukup membuatku pusing. Aku harus berpikir keras untuk keluar dari circle mereka. Seharusnya aku tidak terlalu terlibat dalam urusan mereka bertiga. Tapi menjadi terlibat lantaran Rico membawaku kesana.


Dari kejauhan kulihat seseorang duduk di bangku bambu dekat pintu gerbang samping. Seorang perempuan. Ia mengenakan jaket warna cokelat uang elegan. Telinganya mengenakan headset, entah apa yang ia dengarkan. Sepatunya warna putih bersih. Sudah kuduga itu pasti sepatu mahal. Rambutnya diurai bebas namun rapi. Vania. Setelah tahu dimana rumahku, sekarang dia tahu dimana aku sekolah.


"Vania" Panggilku


"Hai" Jawabnya.


Kami mengobrol di bawah pohon trembesi di suatu tempat tak jauh dari sekolah. Dua cewek berseragam sekolah sedang berperang dengan elegan.


"Alanta sudah menunjukkan tanggung jawabnya meskipun sebenarnya dia tak perlu lakukan itu" Kata Vania.


Aku mendengarkan dengan menunduk.


"Dia yang memberi nama Ananta pada bayiku. Agar aku mudah mengingat dirinya. Dia cinta pertama dan terakhirku. Sampai Anta berusia dua tahun, aku belum bisa move on dari dia" Lanjutnya.


Aku menoleh padanya.


"Jadi sebenarnya, urusan kalian sudah selesai bukan?" Tanyaku menyela.


"Secara teknis iya, tapi secara hati belum. Aku masih membutuhkan dia dan masih mencari cara untuk bisa kembali dengannya"


Oh God. Selama beberapa hari aku tidak bisa tidur, kupikir memang urusan mereka belum selesai sampai sekarang. Kupikir Alanta lari dari tanggung jawab. Kupikir dia meninggalkan Vania ketika berada di titik terendah. Rupanya aku salah. Vania dan Alanta menurutku sudah menyatakan sepakat untuk berpisah. Hanya saja Vania yabg masih menyimpan rapat nama Alanta di hatinya. Bagaimana aku bisa sebodoh itu.


"Van, aku perihatin dengan kondisi yang kamu alami. Aku juga kepengen kamu dan Ananta bahagia. Tapi bukan berarti membuka kembali sesuatu yang sudah selesai. Akan menguras tenaga jika kamu lakukan itu" Aku mencoba memberikan nasehat.


"Maksud kamu apa....kamu gak mau..." Vania mulai cemas.


"Okey gini deh. Aku sudah break sama Alanta. Silahkan kalian selesaikan urusan kalian. Saya harap, saya tidak perlu lagi berada ditengah-tengah urusan kalian"


"Rosa....aku...."


"Aku beri kalian waktu untuk membahas soal ini. Tapi Van, sebenarnya ada seseorang yang pasti akan menerima kamu dalam kondisi terpuruk seperti ini. Dan pasti akan membahagiakan kamu. Kamu tahu kok orangnya siapa"


Aku meninggalkannya dengan memberi sebuah nomor yang tertulis pada secarik kertas. Itu nomor Afrizal. Barangkali ia ingin menggunakannya. Dua orang yang sedang kesepian menurutku pantas bersama. Afrizal memiliki perasaan sejak awal dan Vania membutuhkan sosok seorang ayah bagi anaknya. Beda soal jika Vania masih menginginkan Alanta. Kupikir itu egois bagi dirinya sendiri juga bagi anaknya. Aku berharap dia bisa berpikir jauh.


Setelah ini aku tidak ingin lagi berhubungan dengan Vania. Ujian nasional sudah sangat dekat. Aku harus fokus demi mencapai tujuanku. Dahulu tujuanku adalah Rania. Setelah Rania berubah drastis menjadi Clara, maka tujuanku selanjutnya adalah orang tua kandungku. Ibuku. Jika aku punya uang lebih aku akan dengan mudah menyewa detektif dan mencari Ibuku. Jika aku sukses dan punya banyak kenalan aku akan dengan mudah memperoleh informasi.


***