My Name Is Rose

My Name Is Rose
Lumpuh



Selang kencing sudah dipasang. Baju sudah berganti dengan seragam operasi. Rambut sudah dibungkus dengan penutup plastik. Jadwal Papa yang semula masih minggu depan diajukan hari ini. Cukup membuat kami terburu-buru. Aku menunggui Papa di ruang tunggu operasi. Sedang Mama mengurus administrasi. Hanya aku dan Mama yang menunggu di rumah sakit. Sementara Monica di rumah dengan Bik Sul.


Tak berapa lama Mama datang bersama para perawat rumah sakit. Papa siap untuk di bawa masuk ke ruang operasi. Dia akan dibius total nantinya. Kami berdua menunggu di luar dengan perasaan tak karuan. Kulihat Mama begitu cemas. Bibirnya kering matanya sembab. Tetapi dia berusaha menutupinya dengan make up. Meskipun Mama sering jutek dengan Papa, kurasa dia menyimpan cinta yang begitu dalam. Itulah mengapa Mama mau menjalani hidup dengan Papa yang pasang surut dalam hal ekonomi.


Kriing


Hapeku berdering. Dinda menelepon.


"Ada apa Din?" Tanyaku.


"Ros kamu dicariin Bu Ana" Kata Dinda.


"Bu Ana?"


"Petugas administrasi. Kamu diminta segera datang katanya. Ada apa sih?" Dinda belum tahu perihal formulir semester genap yang belum kukumpulkan.


"Oh itu, gampang. Besok aku urus semuanya. Eh tapi surat ijinku sudah kamu buat kan?"


"Sudah, itu sudah beres. Tapi apa gunanya, nama kamu kan belum masuk absensi"


Benar juga. Tapi tak apa, itu bisa menjadi bukti jika aku sudah masuk ke absensi nanti.


"Udah gak papa, thanks ya"


"Oke"


Hari ini adalah hari terakhir pengurusan semester genap. Seharusnya aku di sekolah membayar registrasi dan mengumpulkan berkas formulir. Tapi Papaku membutuhkan dukunganku sekarang. Aku harus mengatur waktu dengan baik. Besok akan kuurus semuanya sampai beres.


Berjam-jam kami menunggu dengan berdebar-debar. Papa sedang menjalani operasi bagian kaki di dalam sana. Kulihat Mama menundukkan kepala sembari mulutnya komat kamit membaca doa. Sesekali kuelus pundaknya untuk menenangkannya. Aku harus tetap di sini sampai Papa keluar dari ruang operasi. Dalam situasi seperti ini bukan hanya Papa yang membutuhkan dukungan, Mama juga.


Setelah menunggu sekian lama, Papa keluar dari ruang operasi. Aku dan Mama segera mengikuti Papa yang dipindahkan ke ruang rawat inap. Papa masih belum sadar. Butuh waktu selama satu sampai dua jam untuk Papa bangun dari biusnya. Begitu penjelasan perawat.


"Ibu Arini!" Panggil salah seorang perawat.


"Iya saya sus" Jawab Mama.


"Bisa ke ruang dokter sebentar Bu?"


"Oh iya sus..."


Mama segera keluar ruangan setelah berpesan agar aku menjaga Papa selama Mama di ruang dokter. Aku menuruti pesan Mama. Kulihat wajah pahlawanku, matanya tertutup rapat. Selama satu jam ke depan dia akan menutup matanya seperti itu.


Kamar ini hening. Tanpa suara. Hanya ada suara detak jarum jam dan suara kantong kresek karena aku sedang merapikan barang-barang Papa di laci. Sepi. Bahkan nafas Papa pun hampir tak terdengar. Kuperhatikan dadanya yang masih kembang kempis. Artinya masih ada tanda-tanda kehidupan.


Cukup lama Mama belum kembali. Perasaanku menjadi tidak enak. Apa uang mereka bahas sampai memakan waktu sebegini lamanya. Seorang perawat datang untuk memeriksa. Saat itulah aku mengambil kesempatan.


"Suster, alam kondisi kayak gini Papa bisa ditinggal sebentar?" Tanyaku.


"Oh terima kasih sus"


Aku segera mencari ruang dokter bedah, dokter yang menangani operasi Papa. Aku sudah menemukannya, tetapi sebelum masuk, kuintip dulu apakah Mama ada di dalam atau tidak. Siapa tahu Mama sudah keluar dan mengurus sesuatu. Yup, Mama masih di dalam. Aku segara masuk untuk menemani Mama.


"Siang dok" Sapaku.


"Ini anak saya dok"


Betapa bahagianya aku mendengar pengakuan itu. Di depan dokter Mama mengakuiku sebagai anaknya.


"Ehm bagaimana Papa saya dok?" Aku langsung bertanya begitu melihat Mama yang menangis.


"Jadi, adek dan Mamanya harus ekstra menjaga Papanya ya, sebab hasil pemeriksaan, Papa adek tidak hanya cedera tulang saja, tetapi sudah sampai ke saraf"


Aku masih belum paham apa maksudnya. Aku hanya diam mendengarkan sampai aku menemukan kesimpulan yang inti.


"Kami menyesal harus menyampaikan ini. Pak Hari, kami nyatakan lumpuh seumur hidup. Hanya keajaiban yang bisa membuatnya mampu berjalan lagi"


Sungguh rasanya seperti petir menyambar tubuh kami berdua. Lumpuh seumur hidup. Lebih mengerikan dari hukuman penjara. Dosa apa yang telah kami perbuat sampai Papa harus menanggung akibatnya.


Mama mulai menangis sesenggukan. Aku sekuat tenaga menahan tangis. Kupeluk tubuh Mama untuk pertama kalinya. Mama merangkulku kuat. Dia sedang mencari pelampiasan dalam pelukanku. Ditumpahkannya segala tangisnya di sana. Segala gundahnya, sedihnya, susahnya, dia hempaskan segalanya di pelukanku.


Aku menahan kuat agar air mataku tidak jatuh. Mama sudah rapuh, aku tak mau menambah rapuhnya hatinya. Aku hanya mampu berdiri di sampingnya, menjaga tubuhnya agar tidak ambruk.


"Apapun yang terjadi Papa jangan sampai tahu hal ini" Kata Mama sambil sesenggukan.


"Iya Ma" Jawabku.


"Bagaimana jika Papa bertanya?"


"Kita harus memberi dia semangat Ma. Bilang saja memang butuh waktu untuk sembuh total" Jawabku meski aku sangat ragu dengan ide itu.


"Aku gak kuat!!.....aku gak kuat!!!" Mama berteriak dalam pelukku membuat tubuhku ikut bergetar.


"Mama harus kuat Ma. Jika Mama nggak kuat, bagaimana Mama bisa menguatkan Papa?"


Mama tidak menjawab. Ia hanya menangis dalam pelukku. Dia meraung seakan meratapi nasibnya yang tak disangka tak dinyana berubah seperti ini. Sungguh kami sedang berada di titik terendah. Roda dunia sekarang sedang membawa kami pada putaran paling bawah. Kami terpuruk. Satu-satunya kekuatan keluarga kami sedang ambruk. Lalu bagaimana kami mampu bertahan dengan keadaan ini.


Aku ke kamar mandi saat Mama sudah mulai tenang. Mama sedang menjaga Papa yang belum sadarkan diri karena bius operasi. Kulihat sekeliling kamar mandi sepi. Di situlah kutumpahkan semua isi kepalaku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku sama rapuhnya dengan Mama. Yang kulakukan tadi adalah berpura-pura kuat demi menguatkan Mama. Yang sebetulnya adalah aku rapuh, sama atau bahkan lebih rapuh dari Mama.


Rasanya hidupku sudah tidak bersemangat lagi. Mungkin juga ini yang dirasakan oleh Mama. Orang yang melindungiku selama ini perlu perlindungan. Yang menguatkanku perlu dikuatkan, yang menopang hidupku kini memerlukan topangan dari orang lain. Bagaimana nasib keluarga kami kelak. Aku berjanji akan bekerja demi menghidupi keluarga. Tapi kerja apa. Apakah selamanya aku akan membimbing Dinda? Dan apakah selamanya Tante Santi memberiku imbalan yang fantastis. Pikiranku berkecamuk di antara semua pertanyaan itu. Buntu. Pikiranku buntu. Tak tahu jalan mana yang akan kutempuh untuk mengentaskan kami dari ujian yang pelik ini.


Kulihat Mama tertidur di sofa ruang Papa di rawat. Wajahnya tampak begitu lelah. Dia lelah menjaga Papa. Lelah mengeluarkan tenaga demi menangisi hidupnya. Lelah menjalani ujian bertubi-tubi. Kubiarkan dia tertidur lelap di sana. Dia harus kuat setelah bangun nanti. Biarlah dia beristirahat sejenak sebelum mengarungi ujian ini lagi.


***