
"Sudah aku bilang lomba itu selain menguras pikiran juga menguras duit ..duit Ros...duit....darimana kita bisa beli bahan-bahan itu" Salah seorang siswa berkelakar.
"Siapa bilang kita beli? Kita bisa kok menggunakan barang-barang yang tidak perlu beli" Jawabku.
"Barang yang bagaimana maksudnya?" Tanya yang lain.
"Barang bekas"
"Emang bisa?"
"Kita tidak akan tahu kalo kita tidak mencoba"
"Setuju!! Kita coba dulu, asal kagak keluarin duit.....ya kan Kak Alanta" Kata Bella dengan gayanya yang genit.
"Ya udah...sekarang tugas kita semua adalah mengumpulkan semua barang bekas di rumah masing-masing dicuci bersih lalu bawa ke sini. Setelah itu kita pikirkan penggunaannya"
"Untuk isinya kita serahkan ke Nova saja, dia pinter bikin kata-kata" Usul yang lain.
"Bagus sih, tapi aku pengen mengangkat hal yang khas dari sekolah kita" Kataku.
"Misalnya?" Tanya Dafa.
"Kalian"
"Kita? Apa khasnya dari kita?" Tanya Dafa kembali.
"Kalian beda dengan pelajar kebanyakan. Jika para pelajar sibuk dengan belajar, kerjakan tugas, main, nongkrong, tapi kalian justru berkutat dengan waktu untuk membantu ekonomi keluarga" Jelasku.
"Maksud kamu, kami ini miskin?" Tanya Soni yang sensitif.
"Nggak...nggak gitu... Kalian ini secara tidak langsung tertempa oleh keadaan. Secara tidak langsung kalian telah mengembangkan keterampilan kalian. Lihat aja si Adi, masih remaja sudah bisa benerin kipas angin. Dewi bisa membuat variasi cilok yang bermacam-macam, Eni juga. Rita, sudah bisa mendesain baju sederhana. Jadi kalian ini memiliki bakat masing-masing yang secara tidak langsung, diajarkan oleh orang tua kalian"
Yang lain manggut-manggut. Mereka tampak bangga dengan apa yang kukatakan tadi. Aku sedang tidak merayu. Aku berbicara apa adanya. Seiring berjalannya waktu, mereka membuatku kagum. Ada hal yang tidak kutemukan di sekolah sebesar First, tetapi kudapatkan di sini.
Hari berikutnya, seperti yang kami bahas hari sebelumnya, anak-anak membawa barang bekas dari rumah masing-masing. Adi membawa kipas angin bekas, dan beberapa onderdil elektronik, ada yang membawa kompor bekas, ban bekas, botol-botol aqua dan masih banyak yang mereka bawa.
Dafa dan Adi mahir dalam bidang rakit merakit. Tugas membuat rakitan kuserahkan pada mereka. Nova membuat profil anak-anak dibantu Bella dan aku sendiri. Hiasan dari kain flanel dikerjakan oleh Rita dan Devi. Kami bekerja sama bahu membahu. Ini pun tak kudapatkan di First Internasional School yang cenderung individual.
***
Hampir satu bulan kami mempersiapkan mading ini. Dan hari ini adalah saatnya bertanding. The Lixury Hall adalah tempat kami berlomba. Ada puluhan SMA yang ijut berlomba di sini, salah satunya First Internasional School. Ketika mereka memasuki pintu Hall, seketika teman-temanku di Bintang Harapan berdecak kagum. Dari jalannya saja sudah elegan dan menyita banyak perhatian. Satu diantara mereka adalah Clara. Dia akan bertanding melawanku. Oh, ternyata di barisan akhir ada Dinda. Dia akan ikut lomba pula.
Alanta membalik badanku agar aku tidak melihat mereka. Melihat mereka sama halnya dengan membuka lukaku karena sabotase yang mereka lakukan. Aku memandangnya dengan senyum untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Sungguh aku merasakan dilindungi olehnya. Dia begitu memahamiku.
Acara belum dimulai. Semua anak sedang riuh mempersiapkan mading masing-masing. Sebagian yang lain berkeliling melihat mading kreasi lawannya. Begitupun aku. Kulihat mading First sedang kosong. Dan kebetulan hanya ada Dinda dan satu anak lainnya. Kuberanikan diri mendekatinya
"Din" Kataku.
"Hai.....gimana, kamu ikutan juga?" Dinda surprise dengan kehadiranku.
"Punyaku ada di ujung sana" Kataku.
"Waw, ntar aku kesana juga ya" Kata Dinda.
"Eh bentar, ini lukisan kamu?"
Dinda mengangguk dengan percaya diri.
"Sekarang aku sudah nggak pakek inisial lagi. Lihat deh terpampang jelas namaku di situ" Kata Dinda.
"Waaah, sudah dapat lampu ijo rupanya"
Dinda tampak bangga dengan dirinya sendiri meski caranya dulu adalah salah tapi dia sudah berhasil.
"Ntar ngobrol lagi ya" Kataku pada Dinda dan segera pergi sebelum semuanya menjadi lebih parah.
Tak berapa lama acara dimulai. Beberapa tamu penting sudah hadir. Termasuk Wakil Wali Kota. Dan hadir di antara mereka, Bu Mariana Hartanti. Bu Mariana menjadi tokoh penting setelah menjabat menjadi direktur First, sebab sekolah yang dipimpinnya tersebut telah menjadi sekolah favorit dan terbaik selama sepuluh tahun terakhir ini.
"Baik anak-anak semua, silahkan bersiap-siap karena juri akan berkeliling untuk mewawancarai kalian" Kata pemandu acara.
Kami bersiap untuk menyambut juri dan menunjukkan kelebihan mading uang kami buat di antara yang lain. Aku dan Alanta mewakili sekolah untuk menjadi juru bicara. Uang lain bersiap membantu jika diperlukan.
"SMA Bintang Harapan ya" Kata Juri.
"Benar Pak" Jawabku
"Sekolah baru ga? Saya belum pernah dengar"
"Oh nggak Pak. Sudah lama berdiri, cuma baru kali ini ikut lomba" Jawab Alanta.
"Oke mengusung tema apa ini?"
"Tema pejuang harapan Pak...ini adalah kami yang berpredikat sebagai pejuang. Kami adalah pejuang. Pejuang mengentaskan garis kemiskinan. Sebagian besar dari kami mengasah keterampilan kami sedari masih kecil. Kami tidak menggunakan waktu dengan menganggur, melainkan dengan berjuang. Kami membantu ekonomi keluarga sambil mengasah keterampilan kami. Bisa dilihat hasilnya, berbagai kreasi kami torehkan salam mading ini"
Para juri mencatat dan terlihat manggut-manggut. Aku yakin sekali kami akan menang dalam mading ini. Tapi aku juga tidak boleh lupa. First Internasional School adalah lawan kami. Sekolah itu sulit dikalahkan. Mereka pasti mengeluarkan biaya yang besar demi menciptakan mading yang spektakuler.
Setelah sekian lama menunggu, saatnya pengumuman. Aku gugup. Sepanjang aku mengikuti lomba, baru kali ini aku gugup dengan akan disampaikannya pengumuman pemenang. Pasalnya, aku membawa kepercayaan teman-temanku. Susah payah aku meyakinkan mereka agar mau mengikuti lomba ini. Jika hasilnya buruk, kepercayaan diri mereka juga akan tumbang.
"Baik juara harapan 3 diraih oleh SMA N 43 Jakarta!!"
Yang disebut namanya bersorak sorai.
"Juara harapan 2 diraih oleh SMA Al Hasan"
Jantungku semakin berdegup kencang. Tangan Alanta meraih pundakku untuk menenangkan. Percayalah, aku semakin gugup.
"Juara harapan 1 diraih oleh SMA Samudera"
Ah sepertinya sangat jauh dari harapan.
"Yuk kita pulang aja yuk, sudah ada Pak Yogi, nanti beliau pasti ngabarin kita. Yuk!!" Ajakku.
"Eh mau kemana?? Ini pengumuman ayo kita lihat sampai akhir" Kata Rita.
"Gue...gak yakin" Kataku ragu.
"Lah...elu yang kemarin bujuk kita supaya ikutan. Sekarang malah gak yakin. Sudah kita pasti menang. Yakin!!"
Duh, aku semakin lemas mendengar harapan Rita yang begitu besar.
"Juara 3 oleh SMA Taruna Bangsa"
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku yakin nama sekolah kami tidak akan disebut. Kami masih pertama kali mengikuti ajang sebesar ini. Jadi pengalaman kami sangat kurang. Aku sadar itu.
"Juara 2 diraih oleh....pendatang baru ini ya, SMA Bintang Harapan!!"
Seketika kami berjingkrak kegirangan. Pertama kalinya kami mengikuti lomba mading dan langsung mendapatkan juara 2. Ini adalah prestasi pertama kali ya g diraih oleh SMA Bintang Harapan. Sungguh belum pernah kurasakan bahagia seperti ini. Meski hanya juara 2 tapi kami begitu bangga.
"Dan juara pertama...masih sama, SMA First Internasional School"
Tak apa. Aku kalah dengan Clara. Tapi aku bangga karena mengangkat derajat suatu sekolah yang selama ini nol.
***