
Warung-warung ini berjajar di sepanjang sungai Isar. Memang tak banyak. Hanya beberapa namun ditata sedemikian rupa sehingga tampak seperti kafe dengan sungai buatan. Sharmale yang kami pesan rupanya cukup mengenyangkan. Dipadu dengan minuman jeruk manis, rasanya begitu sempurna.
"Kaka tadi mau ngomong apa? Dilanjut Kak" Kataku.
"Oh, itu, keluargaku memintaku untuk pulang, karena ada rumah sakit yang butuh dokter, menurutnya aku cocok di sana" Katanya kemudian setelah menggigit daging sharmale.
"Trus pendidikan Kakak?"
"Itu dia, aku sudah setengah jalan masak mau berhenti gitu saja"
"Tapi sayang juga sih, ada lowongan soalnya"
"Ah, aku tahu sebenarnya ada alasan lain di balik itu" Kata Alanta dengan nada menyelidik.
"Apa?"
Panji tersenyum. Ia meneguk segelas jeruk manis yang kami pesan sebelum ia meneruskan.
"Ada dokter muda yang menurut Mamaku cocok denganku"
Aku terbatuk-batuk mendengar itu. Jadi intinya, Panji dijodohkan dengan dokter di Indonesia. Nice.
"Oya? Cantik? Sudah beneran dokter? Atau masih pendidikan? Atau koas?"
"Tunggu deh, kok jadi kamu yang kepo"
Iya juga. Aku terlalu penasaran dengan perempuan yang dipandang cocok dengan Panji. Kurasa perempuan itu pasti sempurna dalam segala hal. Pendidikannya, intelektualnya, penampilannya, latar belakang keluarganya, semuanya.
"Sorry Kak, penasaran"
Kulihat raut wajah Panji bukan seperti orang uang sedang kasmaran. Lebih cenderung datar dan biasa saja, seakan ini bukan kali pertama ia dijodohkan.
"Tapi kayaknya Kak Panji kurang sreg deh" Aku menebak-nebak.
Panji tersenyum dengan sedikit cibiran di bibirnya. Kurasa tebakanku benar.
"Aku masih belum mapan untuk dijodohkan Ros" Jawabnya.
"Yakin itu satu-satunya alasan?" Tatapanku menyelidik dan Panji membalas dengan picingan mata yang misterius.
"Menurut kamu?"
"Kak Panji sudah punya pacar" Sekali lagi aku menebak dan aku takin tebakanku benar.
Panji tersenyum kembali, dan sepertinya memang benar.
"Yes, aku benar kan?" Sekali lagi aku memastikan.
"Emmm bukan pacar sih, masih deket aja"
Sejujurnya aku penasaran tipe cewek seperti apa yang Panji suka. Selama ini aku belum pernah melihat dia sedang berkencan dengan perempuan. Bertelepon dengan lawan jenis saja belum pernah kudengar. Jadi perempuan mana yang sedang ia dekati?
***
Semenjak telepon dari Alanta beberapa bulan lalu, aku tidak pernah menerima telepon lagi darinya. Bodohnya aku saat itu tidak meminta nomer hapenya atau memberikan nomer hapeku padanya. Komunikasi yang hanya beberapa kali itupun melalui kantor kedutaan, kenapa kami tidak mencari celah dari sana. Sekarang kami benar-benar kehilangan jejak.
Aku pernah kehilangan seperti ini sebelumnya, dengan orang yang sama. Seakan aku melambung ke awang-awang, lalu jatuh ke dasar lautan. Bagaimana manusia lemah sepertiku akan bangkit kembali setelah benar-benar berada di dasar lautan. Sekarang aku tahu lebih berat menahan rindu daripada putus cinta.
"Rose....cepat ke ruang emergency" Dokter Bryan memanggilku membuyarkan lamunanku.
"Okay" Jawabku sigap.
Para perawat segera berdatangan menuju ruang emergency. UGD jika di Indonesia. Ada banyak orang berjubel di ruangan ini. Tampaknya pasien yang datang tidak hanya satu orang. Aku mengikuti dr. Bryan. Seorang laki-laki muda yang sudah tidak sadarkan diri. Kepalanya penuh darah. Tangan kirinya mengalami robekan, serta lutut yang tergores.
Para perawat segera membersihkan darah laki-laki itu. Begitu bersih, dr. Bryan segera memasang alat bantu pernafasan, memeriksa denyut nadi dan jantungnya dan memutuskan untuk operasi bagian kepala yang terbentur.
"Rose, atasi pasien lain, saya akan melakukan operasi dibantu oleh dr. Panji." Kata dr. Bryan.
"Aduh....sakit...aw....sakit" Seseorang mengerang dengan menggunakan bahas Indonesia. Jadi jelas dia asal Indonesia. Mungkin mahasiswa.
Aku membuka tirai penutup. Dia mengeluhkan bagian tangan kirinya yang bersih tanpa luka. Jadi pasti retak atau patah tulangnya.
"Saya periksa ya mbak" Kataku.
Sedari tadi perempuan itu menutup wajahnya dengan lengan sebelah kanan karena menahan sakit. Begitu dia memindahkan lengannya, terlihatlah wajahnya dengan jelas. Satu lagi orang lama kembali hadir dalam hidupku.
"Bella!!" Panggilku.
Siapa sangka teman lama semasa di Bintang Harapan bertemu di negara yang jauh ini yang kusangka tak seorangpun dari Indonesia yang dulu kukenal akan hadir di sini.
"Ro...Ros...Rosa ..tanganku Ros...." Keluh Bella.
Kulihat tangan kirinya, tak ada luka apapun, dan kuangkat pelan-pelan. Nampaknya tidak ada yang patah karena terangkat sempurna. Tapi Bella meringis kesakitan. Pasti terjadi sesuatu pada tulangnya.
Bella segera kami bawa ke ruang radiologi untuk melihat adakah sesuatu yang terjadi pada lengan kirinya itu. Sebelumnya tentu saja tangannya kami perban demi mengurangi rasa sakitnya. Benar dugaanku, tangannya mengalami keretakan, tetapi tidak terlalu parah. Dia harus segera menerima tindakan operasi.
"Dokter...sorry...pasien atas nama Bella?" Seorang laki-laki tampak tergopoh-gopoh menemuiku.
Siapa laki-laki itu? Apakah pacarnya? Atau bahkan suaminya?
"Tangan kirinya mengalami keretakan Mas. Untung Anda segera datang, tolong tandatangani persetujuan operasi ya" Kataku dalam bahasa Indonesia.
"Oke" Tanpa banyak bertanya ia langsung menandatangani surat persetujuan tindakan.
"Terima kasih"
"Dokter" Laki-laki itu menghentikanku.
"Kita sama-sama berdarah Indonesia, tolong selamatkan saudara sebangsa Anda" Katanya dengan ekspresi khawatir.
Aku tersenyum.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin. Kami tidak hanya sebangsa, kami kawan lama" Jawabku.
Aku senang laki-laki itu mencemaskan kondisi Bella, artinya dia memiliki perhatian yang maksimal pada Bella. Aku semakin yakin jika dia adalah kekasih Bella. Beruntungnya Bella mendapatkan laki-laki semacam itu. Oh, atau mungkin mereka sudah menikah dan sedang bulan madu ke Jerman? Atau si laki-laki ini bekerja di sini?
Ini pertama kalinya aku membantu tindakan operasi. Aku seorang dokter magang di rumah sakit ini. Kurang beberapa bulan saja aku lulus kedokteran. Dan untuk bisa bekerja pada sebuah rumah sakit masih ada tahapan-tahapan lain. Dan selama menunggu itu, aku magang di rumah sakit ini untuk menambah pengalamanku sekaligus mempermudah pekerjaanku kelak.
Sebelumnya aku berada di bagian emergency. Tugasku adalah membantu penanganan awal pada pasien. Kali ini, karena pasien adalah kawan lamaku, aku mengikuti sampai tindakan operasi. Aku melihat bagaimana dokter merekatkan tulang yang retak itu. Memang hanya retak tapi jika tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan penekanan pembuluh darah dan itu mengancam jiwa.
Dua jam lebih operasi berjalan, Bella dikembalikan ke ruang perawatan. Lali-laki itu mengikuti dengan setia. Semenjak operasi mulai dilakukan sampai pasien dipindahkan ke ruang perawatan, ia tetap di sana.
"Dokter..." Panggilnya.
Aku berhenti untuk memenuhi panggilannya.
"Bagaimana Bella?"
"Operasi sudah dilakukan. Memang butuh waktu untuk bisa normal seperti sedia kala, tapi 99% aman" Jawabku.
"Oh syukurlah"
"Maaf, anda ini...."
Tampaknya dia paham apa yang hendak kutanyakan.
"Oh saya Bram...Bella itu karyawan saya. Kami datang ke Jerman untuk mendesign sebuah restoran uang akan dibuat ala Indonesia. Saat dia perjalanan ke tempat kerja dia mengalami kecelakaan. Saya nyesel, harusnya saya dampingi dia"
Ups, rupanya aku salah. Dia atasan Bella, bukan kekasih Bella. Atasan seperhatian itu, kurasa memang hanya ada di Indonesia.
***