
"Kenapee....murung lagi...?" Tanya Abang tukang ojek.
"Bang cariin kerjaan dong" Kataku.
"Lah, elu masih bocah, mau kerja apa? Lagian elu kan punya bapak lagi sakit, kalo ditinggal kerja siapa yang jagain?"
Iya juga. Siapa yang menjaga Papa jika aku terus terusan keluar rumah. Sekolah, bimbing Dinda, kerja, bisa-bisa aku pulang malam. Lalu bagaimana makannya Papa, bagaimana juga jika Papa ke toilet untuk sekedar buang air. Aku harus berpikir lagi.
"Coba dulu aja Bang. Abang pokoknya cariin info kerjaan ya!" Pintaku.
"Itu mah gampang. Yang penting lu pikirin dulu Bapak lu kayak gimana ntar"
Benar saja, saat aku pulang Papa ke dapur sendirian dengan kursi roda. Di dapur semua berantakan. Gelas piring sendok berceceran di meja meski tak ada yang pecah. Air dari wastafle muncrat kemana-mana. Tapi Papa duduk tenang di atas kursi sambil makan.
"Ros...sudah pulang?" Tanya Papa.
"Papa ini kenapa berantakan begini?" Tanyaku begitu Papa bertanya padaku.
"Ini Papa coba ambil makan sendiri...tapi ini lo tangan kiri Papa tidak bisa digerakkan. Makanya jadi berantakan begini, sulit ambilnya" Tanya Papa.
"Kok bisa Pa? Coba Ros lihat" Aku memeriksa lengan kiri Papa. Tak ada respon sama sekali ketika aku mencubitnya. Dia tidak merasa sakit sama sekali. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Apakah patah? Apakah Papa habis jatuh? Tapi dia tidak merasa sakit sama sekali.
Aku membawanya ke dokter. Papa masih menyimpan uang di lokernya. Uang itu uang kami gunakan. Beberapa kubawa, sisanya tetap di dalam loker.
"Bapak Hari mengalami gejala stroke" Begitu kata dokter.
"Stroke dok? Kok bisa... Usia Papa saya kan masih relatif muda dok?"
"Bisa jadi karena pikiran, atau karena cedera sehingga sampai ke saraf"
Stroke. Mungkin karena pikiran. Papa memikirkan Mama yang tak kunjung pulang. Aku yakin itu penyebabnya. Atau bisa juga dia memikirkan fisiknya yang sudah tidak sempurna lagi. Tapi kenapa baru sekarang efeknya.
"Bersyukurlah, karena Pak Hari hanya stroke ringan. Hanya tangannya yang lumpuh, tetapi otaknya tidak. Dia juga masih bisa bicara. Dengan pengobatan rutin, masih bisa disembuhkan" Kata dokter dengan senyumnya yang menenangkan.
Secepat-cepatnya penyembuhan stroke, tetaplah butuh waktu tahunan untuk bisa normal kembali. Sungguh bebanku semakin berat. Entah apa yang Tuhan sedang berikan untukku. Apa hikmah di balik semua ini. Kenapa harus Papa, orang yang begitu baik versiku.
"Papa harus kuat. Papa harus semangat. Ingat apa kata dokter kan? Bisa disembuhkan" Kataku menghibur.
"Maafkan Papa Ros....Papa menjadi beban buat kamu"
"Sudahlah Pa, kita adalah keluarga, tak peduli rahim mana yang mengandungku, keluarga ini tetaplah keluargaku"
***
"Bang...anterin Rosa dong!" Kataku pada Abang tukang ojek. Kali ini aku punya uang, makanya aku berani meminta jasa tukang ojek langgananku.
"Wuih, gaya lu Ros, ayok!"
Jarak tempat si Abang mangkal sekitar lima kilometer dari rumah. Sejauh itu tentu akan membuat kaki patah jika jalan kaki. Tapi justru aku sering melakukannya. Karena apa? Karena aku tak punya uang untuk membayar ojek, kendaraan umum, len, mikrolet atau apalah.
"Ros lu jadi kagak cari kerjaan?" Tanya Abang tukang ojek.
"Jadi dong"
"Ini ada nih, jaga outlet, minuman susu begitu. Dari siang sampek jam 8 malem. Lu bisa kagak model begitu?"
"Boleh juga tuh Bang. Bisa hubungkan saya sama pemiliknya Bang?"
Penjaga outlet minuman sejenis susu. Lumayan lah. Tapi dari siang sampai jam 8 malam, apakah aku sanggup. Padahal aku punya orang tua yang sedang sakit di rumah. Dan lagi, bagaimana bimbingan untuk Dinda.
Sampai di rumah, kulihat Papa sedang duduk di teras di atas kursi rodanya. Dia sedang menungguku pulang. Aku senang melihat dia berwajah segar seperti ini. Beda jauh dengan waktu itu, saat Papa mulai menyerah dengan hidupnya. Aku segera menghampirinya dan mencium tangannya. Kusempatkan waktu untuk duduk di sampingnya.
"Ros, Papa sepertinya harus belajar lebih mandiri lagi. Kamu bisa kan bantu Papa?"
Aku tersenyum mendengar ini. Cahaya Papaku sudah mulai kembali. Semangat ya sudah mulai tumbuh. Aku mengangguk kuat. Kupegang tangannya yang mulai berkeriput karena sakit. Kuyakinkan dia bahwa kita bisa melakukannya tanpa Mama. Juga tanpa Bik Sul. Karena tak ada gunanya pula mengharapkan sesuatu yang sulit terjadi. Itulah kenapa manusia harus belajar survive. Karena tidak selamanya orang-orang yang kita sayangi akan berada di sisi kita.
Papa hari ini belajar mengambil makanan sendiri. Dia berjalan dari kamar menuju dapur dengan kursi rodanya. Ia mengambil piring, mengambil makanan di meja dan belajar melahap sendiri makanannya tanpa disuapi. Seminggu berjalan, banyak sekali perkembangan Papa. Dia bahkan belajar melipat jemuran. Kurasa ini cukup membantu. Memasukkan pakaian ke mesin cuci juga sudah terampil. Dia benar-benar melakukannya sendiri.
Kami menyempatkan waktu makan malam bersama. Hal yang sudah jarang kami lakukan karena kesibukanku. Aku membuat nasi goreng kesukaan Papa. Nasi goreng dengan taburan bawang goreng, daun bawang, dan saus pedas. Kamu duduk berdampingan di meja makan.
"Kapan jadwal Papa kontrol?" Tanya Papa
Aku senang dengan pertanyaan ini, karena menandakan semangatnya untuk sembuh dengan jalan berobat ke dokter.
"Tiga hari lagi Pa"
"Papa jual raket Papa. Lumayan buat bayar taksi kan" Kata Papa.
"Dimana Papa jualnya?"
"Tukang ojek yang biasa antar kamu yang beli"
Si Abang? Dia membelinya karena hobi atau karena kasihan?
"Oya Pa, Rosa mau kerja Pa, gimana menurut Papa?"
"Kerja!!!" Mendengar ucapanku Papa terkejut sampai meninggikan suaranya.
"Ya soalnya kita memang butuh penghasilan Pa"
Brakk..dengan satu tangannya Papa menggebrak meja. Raut wajahnya pun tampak sedang marah. Ini kali pertama Papa membentakku. Sekian tahun aku diadopsinya, ini yang pertama kualami. Tentu aku shock dan tergelak.
"Kerja....kerja....kerja!! Tugas kamu itu belajar...bukan kerja!!!" Bentak Papa.
"Tapi kita butuh uang Pa, buat makan, buat sekolah, buat berobat Papa....."
"Biaya sekolahmu itu tanggungan Papa. Bukan kewajiban kamu!!! Tunggu sebentar lagi Mamamu pasti pulang bawa uang. Mamamu sedang kerja!!"
Apa yang ada di pikiran Papa. Bagaimana bisa Papa berpikir bahwa Mama sedang bekerja seperti orang merantau. Bagaimana dia begitu yakin kalau Mama akan pulang. Aku masih terdiam melihat sikap Papa yang tiba-tiba berbeda.
"Papa masih sanggup biayain kamu!!! Papa yang akan kerja!!! Kamu mau buat Papa kamu ini nggak berguna??? Lihat Papa masih kuat. Papa masih bisa kerja. Masih bis biayain keluarga"
Selesai berbicara Papa menuju kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.
"Paa.....Papa.....mari kita bicara dulu Pa...dengerin dulu penjelasan Rosa Pa..." Aku menggedor-gedor pintu kamar Papa tetapi tak ada jawaban dari dalam. Meski begitu aku yakin Papa mendengarkan aku bicara.
"Pa...Rosa minta maaf kalau Rosa salah ngomong. Rosa tidak menganggap Papa lemah. Rosa hanya ingin membantu keluarga kita Pa. Rosa hanya ingin meringankan beban Papa....Paaa.....buka pintunya"
Aku sadar telah menyakitinya. Aku telah melukai relung hatinya. Tak kusangka dia sesensitif ini. Dia marah untuk pertama kalinya padaku. Dan ini pun menghancurkan hatiku. Pahlawanku yang sangat kusayangi sedang terluka olehku.
Kupeluk tubuhku sendiri. Mencercap pedih malam sunyi ini. Meratap dalam nasib diri. Merindukan sesuatu yang entah apa itu.
***