
Sore selepas pulang kerja, kulihat ramai di rumah. Ada tamu menurutku. Bisa teman kantor Papa dulu, atau....ah jangan-jangan. Kau tahu apa yang kupikirkan? Kupikir sesuatu telah terjadi pada Papa dan tetangga sedang mengerumuninya. Aku segera berlari menuju rumah dan segera masuk rumah.
Dugaanku salah. Ternyata ada tamu dari Semarang. Keluarga besar Mama sedang berkunjung. Saat aku menampakkan diri di depan mereka, saat itu Mama sedang menyuguhkan teh. Mama melihat ke arahku dengan tatapan geram. Mungkin dia kesal aku tidak ada di rumah saat mereka datang. Sehingga Mama harus melayani mereka sendiri.
"Oh, Assalamualaikum Nek, Kakek, Bulik..." Aku menyalami mereka satu persatu.
Sebelum mereka berkomentar yang tidak baik, aku segera berlalu ke dapur. Aku akan menyiapkan makanan seadanya untuk mereka. Dengan bahan seadanya di kulkas. Biarlah Mama menemani mereka mengobrol.
Aku membuat gorengan sederhana dari tempe dan tepung. Ada caos sambal bisa untuk cocolan. Tak berapa lama Mama muncul di dapur.
"Duh, untung saja kamu cepet pulang. Kamu kemana aja sih?" Tanya Mama kesal.
"Kan aku kerja Ma" Kataku
"Ya kerja masak dari pagi sampek mau magrib begini"
"Masih mending sampai habis magrib. Daripada sampai habis subuh" Aku menggerutu.
"Apa kamu bilang?"
"Ehm...nggak Ma....Rosa nggak ngomong apa-apa...cuma...ini adonannya nggak jadi-jadi"
Nasib baik Mama tidak memperpanjang masalah. Jika tidak, akan terjadi perang di dapur ini. Mungkin dia menyimpan bara api di dadanya sebab dia harus menahan amarah karena kedatangan keluarga besarnya.
Beberapa tempe sudah jadi. Aku segera menyuguhkannya di depan. Kulihat Papa sedang mengobrol dengan seorang pria yang belum pernah kulihat. Mungkin sopir, mungkin keluarga yang lain yang belum pernah kukenal sebelumnya.
"Monggo ..Nek...Kakek ..monggo" Kataku mempersilahkan mereka untuk mencicipi masakanku.
"Kamu masih tinggal di sini rupanya?" Komentar Nenek.
"Iya Nek" Aku berusaha tersenyum meskipun aku tahu endingnya pasti tidak baik.
"Kenapa? Kenapa tidak tinggal di rumah kamu sendiri?" Tanya Nenek lagi.
"Ehm....aku..."
"Orang tua kamu belum pulang?" Giliran Kakek yang bertanya sambil menyeruput secangkir teh.
"Sebenarnya....."
Sontak semua mata memandang ke arahku. Mereka hendak mendengar sesuatu dariku yabg membuat mereka penasaran. Aku sidah tidak tahan lagi berbohong terus-terusan. Mereka harus tahu yang sebenarnya. Selanjutnya terserah mereka. Apapun keputusan mereka aku psarah.
Lain halnya dengan Papa. Lorik matanya mengisyaratkan agar aku tetap diam. Sebab jika mereka tahu siapa aku sebenarnya akan menjadi runyam urusannya.
"Sebenarnya...orang tua saya sudah meninggal" Jawabku akhirnya.
Mendengar itu mereka semua tercengang. Mama pun demikian. Dia kaget dengan kalimat yang kuucapkan dengan berani itu.
"Meninggal? Kapan?" Nenek penasaran.
"Belum lama ini Nek" aku tidak berani menatap wajah mereka. Aku hanya menunduk.
"Rin....apa nggak sebaiknya dia ini kita daftarkan di panti asuhan. Supaya mendapat perhatian dari pemerintah" Kata Nenek.
Perhatian dari pemerintah? Bilang saja supaya tidak menjadi beben keluarga putrinya.
"Ehm..."
"Kata Mama, di panti asuhan atmosfirnya tidak baik" Aku menyahut.
"Anak-anak panti asuhan akan membawa sial" Kataku. Entah setan mana yang sedang merasukiku sampai aku berani berbicara seperti ini pada orang tua.
"Siapa ngajari seperti itu" Kata Kakek sambil meletakkan cangkir di atas lepek.
Mendengar itu raut wajah Nenek berubah. Mungkin dia baru ingat, bahwa itu adalah doktrin darinya. Sebelum semuanya menjadi kacau, aku segera ke dapur untuk menenangkan diri. Aku tidak tahu kalimat mana dan dari mulut siapa yang menusuk jantungku begitu dalam. Sampai aku harus menitikkan air mata, merobohkan pertahananku yang selama ini sekuat tembok China.
"Ros .." Tiba-tiba saja Bulik Farida muncul di hadapanku.
Segera aku mengusap pipiku.
"Tempenya enak sekali...sini Bulik bantu" Katanya dengan senyum yang khas.
"Makasih Bulik"
Bulik memasukkan satu persatu tempe yang sudah dibalut tepung ke dalam wajan panas.
"Kamu ini masih remaja tapi masakanmu sudah enak banget" Puji Bulik.
Aku tidak bisa berkomentar apa-apa. Hanya tersenyum tersipu malu.
"Bulik sudah kasih kamu nomer telepon. Kenapa tidak menelepon Bulik?" Tanya Bulik.
Oh Gusti. Aku baru ingat akan hal itu. Bahkan ketika Mama ke Semarang dan tidak bisa dihubungi, seharusnya aku menelepon Bulik menanyakan keberadaan Mama. Duh, bodohnya aku.
"Maaf Bulik...gak kepikiran...saya lagi sibuk merawat Papa, Bulik"
"Oh iya, ndak Papa... Waktu Mbak Arini di rumah Semarang, dia banyak cerita tentang kepiawaian kamu mengurus Mas Har" Kata Bulik
"Oh ya Bulik? Trus Mama ngomong apa aja Bulik"
"Hehehe...sebenarnya Mama cerita nggak sama Bulik, tapi sama Nenek...Bulik cuma slenting-slenting aja"
Beberapa tempe siap disajikan lagi lengkap dengan lombok hijaunya.
"Sebenarnya ada seseorang yang sangat ingin bertemu dengan kamu Ros" Kata Bilik tiba-tiba
"Oh ya? Siapa Bulik?"
"Kakak perempuan saya. Dia terkesan dengan kisah kamu. Dia berpendapat, kamu adalah gadis yang tak biasa"
"Tak biasa? Gimana itu maksudnya Bulik!"
"Kamu itu beda dengan gadis seusiamu. Dia yakin gadis seperti kamu akan bisa sukses di masa depan"
"Amiiiin...tapi Kakaknya Bulik itu berlebihan...saya toh cuma lulusan SMP. Saya bahkan tidak bisa meraih nilai tinggi saat ujian kemarin" Sebenarnya aku sedang meluapkan kekecewaanku saja.
"Ndak masalah...ujian matematika bisa dimanipulasi. Tapi ujian hidup menentukan kualitas pemiliknya"
Itulah Bulik. Kalimatnya selalu membuat hati tentram l. Dia selalu memandang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dia bukan orang yang kolot. Juga bukan orang yang terlalu modern. Dia berbeda. Sungguh berbeda.
"Teleponlah Bulik kapan-kapan. Sak longgarmu"
Dua piring tempe balut tepung sudah siap. Kuantarkan cemilan itu ke depan. Tempat di mana para tamu sedang bercengkerama. Kulihat Papa tertawa renyah ketika sedang mengobrol meskipun tangan kirinya tidak mampu bergerak. Dia begitu menikmati suasana ini. Bagus, kurasa itu bagus untyk merefresh otaknya. Agar sarafnya bisa mengendur sedikit. Agar pikirannya bisa terhibur sedikit. Agar cepat pulih kembali.
Lain halnya dengan Mama. Doa bolak balik melihat jam di tangannya. Apakah dia dikejar waktu? Hari ini dia todak bekerja? Atau memang sedang libur? Ah, aku tidak pernah tahu jadwalnya. Dia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Bahkan Monica, putri kandungnya, yang selama ini dia tunggu kehadirannya, justru terabaikan. Dia lupa untuk siapa dan demi apa dia bekerja.
Hari semakin malam. Tak sengaja kulihat Mama sedang berbicara serius dengan Nenek. Dari raut wajahnya sepertinya mereka sedang berdebat ringan namun lirih. Entah apa yang mereka bicarakan tetapi aku merasakan atmosfir yang tidak begitu baik. Apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa mereka haris berbicara berdua di tempat sepi. Sementara itu, yang lain sedang menikmati malam dengan santai. Yang laki-laki menghisap rokok lintingan, yang perempuan sedang asyik menonton televisi. Monica ada di antara mereka.