My Name Is Rose

My Name Is Rose
Terjaga



"Kamu sehat?" Aku bertanya sungguh-sungguh pada gadis remaja cantik di depanku.


Gadis itu tidak menjawab. Dia justru mendekapku erat. Entah apa yang dia rasakan sampai memelukku seerat itu. Dia seperti sedang mengalami tekanan. Dia tertekan oleh sesuatu yang tak bisa kutahu. Dia tak mengatakan apapun. Hanya memeluk dan sedikit mengeluarkan air mata. Dia menangis. Aku tahu dari ******* nafasnya yang tidak normal. Sudahlah. Aku tak ingin bertanya kenapa. Biarkan dia menikmati kenyamanannya di pelukanku. Begini saja aku sudah sangat senang.


"Ada....yang mau aku omongin" Katanya lirih.


Aku mengangguk. Karena pertemuan kami memang tentang membahas. Membahas banyak hal. Ya, aku mempersilahkan dia mengatakannya padaku.


"Kamu jangan marah ya" Lanjutnya.


Aku kembali mengangguk. Memangnya kenapa aku harus marah.


"Mamaku....sudah tahu kalau aku menjalin hubungan lagi sama kamu" Ucapan Rania tersendat-sendat.


"Lo, tapi gak papa kan, kan aku bilang teman sekolah kamu" Kilahku.


"Mama ngecek ke sekolah Ros, dan gak ada yang namanya Rosa di sana"


"Trus?" Aku berharap berita baik mengikuti berita buruk ini.


"Mama ngelarang aku hubungi kamu lagi"


Berita apa ini? Aku seperti sedang divonis hukuman mati. Rania tidak bisa bertemu lagi denganku. Bahkan tidak boleh menghubungiku.


"Ta..tapi kita kan bisa telepon, bisa ..."


"Gak bisa Ros, Mama pasti akan tahu juga. Maaf Ros, aku tidak bisa lagi berteman kayak dulu"


"Jangan gitu dong Ran, aku nyari kamu susah payah sampai berdarah-darah Ran!"


"Aku juga nyari kamu Ros!! Kamu pikir aku diam saja!!"


"Kamu ngertiin perasaanku dong Ran. Bertahun-tahun Ran....."


"Kamu yang ngertiin aku!! Bagaimana dengan masa depanku? Impianku masih banyak. Kalau sampai Mama tahu, aku bakal kehilangan semuanya"


Aku terdiam. Aku tercengang. Ya, dia benar. Satu-satunya alasannya mau diadopsi orang kaya adalah untuk masa depan yang cerah. Tapi dia lupa, dia sudah mengambil alih posisi temannya. Aku yang seharusnya di posisi itu. Tapi sudahlah. Aku tak menginginkannya. Rania jauh lebih berharga dari posisi itu. Tapi hal yang sangat berharga dalam hidupku sebentar lagi akan hilang. Untuk selamanya.


"Sebaiknya kita jalani hidup kita masing-masing. Kamu dengan keluarga barumu, aku dengan keluarga baruku. Masa lalu kita, mari kita simpan rapat dalam hati masing-masing"


Aku sudah tidak mampu menjawab apa-apa lagi. Aku pasrah. Dia pun sudah menyerah. Aku tidak punya kalimat lagi untuk menjawab Rania. Semua yang ia katakan benar. Kami bukan keluarga sedarah, semua itu hanya predikat yang kami buat sendiri. Dia berhak menentukan hidupnya tanpa tergantung padaku.


Jadi seperti inilah akhir dari perjuanganku yang berdarah-darah. Berpindah-pindah tempat, rela bertahan hidup dengan ibu angkat yang keras, rela dikurung beberapa hari sampai hampir mati, rela berpindah-pindah sekolah. Semua itu ini ujungnya. Inikah harta karun yang dicari-cari sampai mempertaruhkan nyawa. Realita yang tak seindah ekspektasi.


Puncak Monas. Tempat yang kuimpikan bersama Rania. Di sini aku ingin mengukir cita-cita kami berdua. Menyusun rencana masa depan. Melihat kota Jakarta dari atas puncak Monas, bukankah itu menyenangkan? Tapi lihatlah kini, berdiri di sini sendirian seperti narapidana yang siap menghadapi vonis mati. Aku kini berada di tempat ini. Seorang diri. Dia tak ada di sampingku. Dia menolak, dia tak ingin lagi seiring sejalan denganku seperti dulu.


Lalu untuk apa aku bertahan di kota ini? Tujuanku sudah jelas, itu Rania. Jika tujuanku sudah jelas tidak mampu kuraih lalu apa gunanya aku tinggal di sini. Bukankah lebih baik aku pulang kembali ke panti, seperti yang sebagian orang inginkan. Mungkin di sana aku jauh lebih baik. Di sana semua pengasuh menyayangiku, kebutuhanku terpenuhi, aku juga dilindungi, kenapa aku tidak kembali saja?


Rania. Dunia mengubahmu menjadi orang yang berbeda. Mereka menjadikanmu putri yang tak pantas berhubungan dengan orang sebiasa diriku. Kamu berbeda. Benar-benar berbeda. Semakin berani, semakin berkilau. Padahal dulu dia berlindung di balik punggungku. Dia bukanlah siapa-siapa sebelum diadopsi keluarga konglomerat. Aku lebih suka dia yang dulu. Yang menjadikanku pahlawan di setiap langkahnya. Yang polos tanpa polesan. Yang menyayangiku. Yang baik padaku.


***


Hmmm ada bau tumis di dalam rumah. Mama masak?? Tumben sekali. Mungkin dia kelaparan dan tak sabar menungguku pulang. Ah yang benar saja, apa tadi tidak mampir makan waktu ke Dufan? Hemat atau irit itu namanya? Keterlaluan.


"Sudah pulang Ros??" Papa muncul dari arah dapur.


Oh, yang masak Papa.


"Papa? Papa masak?"


"Hahaha....ada kangkung di kulkas, tiba-tiba saja Papa pengen tumis kangkung. Ayo makan. Cobain masakan Papa" Papa menarik kursi untuk kududuki.


"Mama?"


"Oh, Mama ke Semarang. Mendadak tadi Nenek telepon ada acara penting di sana" Jelas Papa sambil menyendok nasi ke piring kami.


"Ke Dufannya?"


"Gagal lah"


Terselip rasa senang di benakku ketika Mama tidak di rumah untuk beberapa hari ke depan. Setidaknya aku benar-benar menjadi seorang anak selema beberapa hari. Seorang anak yang nonton televisi, yang main, yang tidur siang, yang punya waktu untuk belajar.


Ingat Rosa, kau sudah bertekad untuk pulang ke panti. Kenyamanan ini hanya sesaat. Beberapa hari lagi Mama akan pulang dan keadaan akan kembali seperti semula. Siksaan, tekanan, cacian akan kembali hadir. Sadar Rosa, sadar!!


Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Mumpung Mama tidak di rumah. Aku harus bicara dengan Papa. Ah tidak. Papa tidak akan memperbolehkanku pergi. Dia punya prinsip yang kuat. Tidak mudah untuk mengubah pendiriannya. Kabur. Aku memikirkan ide itu. Ya, sepertinya kabur adalah jalan terbaik. Tapi bagaimana jika mereka lapor polisi atas kehilangan seorang anak? Ah, surat. Seperti yang ada di sinetron. Kabur dengan meninggalkan sepucuk surat.


Malam hari saat Papa sudah tertidur lelap, aku mengemasi barang-barangku. Aku tidak bisa membawa banyak. Hanya rapor, buku sekolah dan beberapa berkas juga sedikit baju ganti. Aku hanya bisa membawa satu koper. Tenagaku tak akan cukup. Lagipula itu akan memperlambat langkahku.


Aku tak sabar menunggu pagi. Sudah kurencanakan saat Papa berangkat ke kantor, aku akan keluar dari rumah. Aku masih belum pham betul jalur mana yang akan kutempuh setelah dari terminal. Tapi aku yakin akan menemukan jalan. Satpam, petugas keamanan atau sopir bus tentu bisa dimintai informasi. Aku tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Aku harus sigap. Surat perpisahan sudah kutulis. Tinggal beraksi esok pagi. Ah, aku takut apakah akan berhasil. Bagaimana jika panti asuhan mengirimku kembali ke sini. Atau panti asuhan sudah pindah tempat? Ah mustahil jika begitu.


Aku tak bisa tidur. Aku menunggu pagi. Menunggu saat aku terbebas dari keluarga ini. Aku menunggu takdir menjemputku. Aku tak bisa tidur. Tetap terjaga. Terus terjaga.


***