
"Rosa!!" Seseorang memanggilku dari belakang.
Rupanya Silvi, cewek seangkatan dengan Alanta yang tempo hari meliput berita tentangku. Dia juga yang meliput tentang bakat lukis Dinda.
"Hai" Sapaku.
"Teman kamu mana? Itu Dinda?" Tanya Silvi.
"Oh gak tahu, belum datang mungkin, ada apa?"
Silvi kemudian berjajar di sampingku. Kami jalan bersama.
"Aku mau ngucapin makasih banget sama kamu dan Dinda. Berkat gambaran anime Dinda, artikelku diterima masuk tabloid Remaja" Kata Silvi dengan gembira.
"Oh ya? Congratulation ya!" Ucapku.
"Makasih...eh aku mau dong kapan-kapan ngajakin kalian hang out bareng sambil bikin artikel" Kata Silvi.
"Boleh. Udah lama banget aku main sama Dinda"
"Wah seneng banget aku. Makasih ya ntar aku kabarin ya" Kata silvi sambil berlari menuju kelasnya.
Tampaknya Silvi bisa menjadi teman kami. Semoga saja Dinda juga berpikiran sama. Dengan begitu kami bertiga bisa berteman baik. Melihat sikap Silvi tadi, dunia semakin cerah. Meski ada genk yang membenciku, nyatanya ada pula anak yang justru mau berteman denganku.
"Eh sini lo!!"
Tak tahu kapan dan dari mana datangnya, tiba-tiba saja Clara dan teman-temannya mengelilingiku. Mereka kemudian menarik tanganku dan membawaku ke toilet bawah. Toilet yang jarang digunakan karena lokasinya dekat parkir jauh dari kelas. Di depan toilet ini ada lorong sempit. Di sanalah mereka membawaku.
"Jangan mentang-mentang lo kemarin dibelain sama Kak Alanta ya, lo pikir bisa lepas dari kita" Kata Stella.
Alanta menekan tubuhku dengan kedua tangannya. Sekuat tenaga aku mendorong kembali kedua tangan Stella. Akhirnya aku bisa kembali berdiri tegak.
"Dengar ya, aku nggak pernah punya masalah dengan kalian. Tapi kalianlah yang selalu bikin masalah denganku" Aku memberanikan diri melawan.
"Apa? Gak pernah. Nih" Clara menunjukkan beberapa foto waktu aku bersama Alanta fi Kota Tua. Entah kapan dia mengambil gambar kami. Apakah mungkin dia mengikuti kami?
"Kamu masih saja deketin Alanta. Jangan sampai ya masalah ini terdengar oleh keluarga kami" Ancam Clara.
"Aku nggak pernah minta Alanta buat nganterin aku pulang, ngajakin aku jalan atau apalah. Alanta sendiri yang inisiatif" Aku membela diri.
"Alah alesan. Bilang aja lo demen kan diajakin" Sahut Jessie.
"Kenapa kalian gak ngomong langsung aja sih sama orangnya. Beraninya keroyokan" Kataku.
"Ooooo ngelunjak ni anak ya" Kata Clara.
"Hajar aja Cla" Usul Hana.
Aku mengingatkannya pada masa lalu kami. Dulu Rania tidak punya keberanian. Setiap ada anak yang menggodanya, dia selalu meminta bantuanku, bersembunyi di balik badanku. Sekarang, apakah dia masih sama atau justru sebaliknya.
"Berani ya lo" Stella angkat bicara.
Clara masih melihat sana sini. Aku yakin dia tidak berani.
Plak .... Clara menamparku setelah beberapa kali teman-temannya mendorongnya untuk menghajarku. Aku membalas dengan mendorong tubuhnya. Dan teman-temannya pun menyoraki. Seakan kami tontonan yang apik.
"Dasar cewek gatel. Bisanya deketin cowok kaya. Persis Ibu lo, makanya lo dibuang ke panti. Karena lo anak haram" Teriak Jessie.
Kalimat inilah yang menyulut kemarahanku. Aku berganti menyerang Jessie. Jessie menjambak rambutku. Kubalas dengan perbuatan yang sama. Kami saling dorong dan saling tampar. Teman-teman Clara justru menyoraki kami. Mereka menyuruh Jessie untuk memukulku lebih keras. Aku tak mau kalah. Aku marah semarah-marahnya. Kudorong kuat tubuhnya sampai dia terjatuh. Dan akibatnya kepalanya membentur pot bunga. Keningnya berdarah. Jessie melihat ada darah di keningnya. Dia panik lalu pingsan.
Teman-teman Clara hanya bisa diam menyaksikan temannya hilang kesadaran. Hana kemudian mencari bantuan. Tak perlu waktu lama untuk membawa semua orang ke sini. Jessie lalu dibawa ke UKS. Dan kami semua mengikuti dari belakang.
Aku takut. Aku takut luka Jessie parah, dan yang pasti aku akan menjadi tersangka. Busa jadi beasiswaku dicabut, atau aku dikeluarkan dari sini. Duh, aku salah. Seharusnya aku lebih bisa menahan diri. Aku lupa jika aku adalah orang kerdil di sekolah ini. Meski aku berada di pihak yang benar, aku bisa saja berbalik menjadi pihak yang salah. Pasalnya aku melukai seseorang jingga pingsan. Bagaimanapun aku tetap akan disalahkan. Aku tidak bisa mengontrol diri.
Banyak siswa sedang berkerumun di depan UKS untuk melihat bagaimana kondisi Jessie. Beberapa anggota Osis meminta kami untuk kembali ke kelas, tapi banyak yang tidak menggubris. Kami masih saja berdiri di depan UKS.
Dari arah kanan, Alanta berlari ke arahku. Dia bersama beberapa temannya.
"Lan...please kamu harus percaya padaku Lan...mereka yang...." Aku berusaha menjelaskan.
"Sudah..sudah stop dulu. Yang penting Jessie aman dulu" Kata Alanta.
Berarti Alanta sudah tahu apa yang terjadi. Sesaat kemudian Dinda datang.
"Ros, Jessie pingsan, bener? Katanya tadi berantem sama lo?" Tanya Dinda.
Aku mengangguk. Aku takut.
"Kok bisa? Dimana emang?"
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa merapal doa agar Jessie baik-baik saja. Agar masalah ini tidak berlarut-larut. Beberapa saat kemudian anggota PMR datang dengan membawa tandu. Kenapa? Kenapa memakai tandu? Apa Jessie dipindahkan? Kemana?
"Minggir...minggir ..semua minggir" Salah seorang guru memerintahkan.
Beberapa saat kemudian Jessie keluar dengan ditandu. Ada yang bilang Jessie harus dibawa ke rumah sakit karena khawatir ada luka yang parah. Darah di keningnya masih mengalir namun tak terlalu banyak. Di belakang tandu Jessie, ada Clara yang mengikuti. Saat melewatiku, Clara menatapku tajam.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Jessie, lo gue tuntut" Katanya.
Aku takut. Sungguh. Ambulan sekolah membawa Jessie ke rumah sakit terdekat. Barulah kerumunan siswa bisa terurai. Semua kembali ke kelas masing-masing. Sejauh ini masih aman. Para guru masih menyangka Jessie jatuh sendiri. Atau mereka sedang fokus dengan kondisi Jessie terlebih dulu sebelum mengusut tuntas kasus ini. Seharian aku juga tidak bertemu Alanta. Apakah dia juga disibukkan dengan kasus ini mengingat dia adalah anggota Osis?
Sampai pada bel pulang berbunyi, tidak ada kabar apapun. Alanta juga tidak memberi kabar apa-apa. Aku juga tidak melihat Clara dan teman-temannya. Mungkin mereka ikut ke rumah sakit. Para guru bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Aku berharap Jessie bisa sadar dan semua berjalan dengan baik. Meskipun aku yakin setelah sadar dia akan kembali menyerangku.
Dengan ditemani Dinda, aku menunggu tukang ojek. Dinda tahu bagaimana perasaanku setelah kuceritakan apa yang terjadi sebelum Jessie pingsan. Dinda pun ikut takut. Dia takut terjadi hal yang lebih serius dengan Jessie sehingga aku akan menerima hukuman yang lebih berat. Meski demikian, dia percaya padaku. Dia percaya aku tidak akan melakukan hal sekejam itu jika tidak dimulai. Tapi apa gunanya, kebanyakan orang tidak akan percaya pada pihak yang menyebabkan terluka. Yang terluka akan selalu benar. Yang tidka terluka akan menjadi pihak yang salah.